Tampilkan postingan dengan label sapardi djoko damono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sapardi djoko damono. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 April 2021

Selamat Jalan Umbu Landu Paranggi



Maka tanpa rikuh prekewuh dan ragu-ragu lagi masyarakat sastra Indonesia di Yogyakarta dan Bali menyebut Umbu Landu Paranggi : SANG GURU. 

(Iman Budhi Santosa) 

Setiap ingat Umbu, saya suka membayangkan sabana yang membentang antara tanah perbukitan dan laut yang batasnya cakrawala. 

(Sapardi Djoko Damono) 


Selamat jalan Sang Guru Umbu Landu Paranggi (10 Agustus 1943 - 6 April 2021).

Sabtu, 20 Maret 2021

Mengenang Sapardi : Kutipan Cerpen Joko Pinurbo

Mengenang Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020) :

Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan. 

(Joko Pinurbo dalam cerpen Sebotol Hujan untuk Sapardi)


Rabu, 07 Oktober 2020

Adakah Takdir Buruk?

Apa gerangan beda antara nasib dan takdir? Kalau kita mengajukan pertanyaan itu ke Rama dan Rahwana, tentu jawaban mereka berbeda. Apalagi kalau mengajukan pertanyaan tersebut ke Laksmana atau Sita. Ada nasib buruk, ada nasib baik; tetapi adakah takdir buruk?

(Sapardi Djoko Damono dalam cerpen Dongeng Rama dan Sinta)

Kamis, 27 Agustus 2020

Mengenang Sapardi : Apa Sebenarnya Makna Sejarah


"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," ujar pemimpin negara waktu itu. Dan ia terguling. Apakah sebenarnya makna sejarah? Apa pula makna meninggalkan sejarah? Kita ini sedang menciptakan sejarah atau terbawa dalam arus? Yang sangat deras. Apakah orang bisa berada di luar sejarah agar bisa menciptakannya? Dengan kekerasan? 
"Bangsa-bangsa primitif di dunia ketiga harus belajar," kata profesornya yang suka omong seenaknya itu. Yang suka menyulut ribut-ribut di ruang kuliah dan suka mengajaknya ngobrol di kafetaria kampus. Tapi belajar apa? Dan bagaimana? Masyarakat mana pun, yang sudah memiliki tata cara bertindak dan berpikir sendiri, untuk apa belajar dari orang bangsa lain? Pikirnya. Untuk apa mengukur semuanya berdasarkan konsep-konsep asing? Ia mendadak khawatir akan cara berpikirnya sendiri. 

(Sapardi Djoko Damono dalam Pengarang Telah Mati) 



Pertama kali membaca Pengarang Telah Mati pada 2010, tak lama setelah membelinya bersama Pengarang Belum Mati dan Nokturno di Studio Teater Garasi. Itulah momentum pertama saya melihat Pak Sapardi hanya beberapa meter di depan mata. Kembali membacanya ketika sang pengarang telah tutup usia dan menemukan kalimat-kalimat mengesankan yang disuratkannya. 
Semoga Pak Sapardi baik-baik belaka hidupnya di alam sana. 

Jumat, 14 Agustus 2020

Percintaan Kemarau dan Penghujan

Kemarau memang tampaknya masih berkasih-kasihan dengan penghujan. Penghujan pun belum berniat meninggalkannya. Manusia tidak menyadari itu. Mereka menyebutnya pancaroba. Daun-daun belum menjadi kecoklat-coklatan lalu gugur. Pohon-pohon belum gundul. Burung-burung kecil kadang-kadang masih harus mencari tempat berteduh di bawah daunan yang rimbun. Cuaca yang terik bisa mendadak gelap dan muncul angin bertiup entah ke mana atau dari mana, berputar-putar seperti berniat menggugurkan daunan yang ngeri membayangkan bakal menjadi timbunan sampah. Itulah percintaan kemarau dan penghujan. Manusia tidak memahaminya, dan menyebutnya pancaroba, sumber berbagai penyakit terutama bagi anak-anak.

(Sapardi Djoko Damono dalam Pengarang Telah Mati) 

Jumat, 24 Juli 2020

Sajak bagi SDD dan Sajak untuk AGS


Sajak karya Ags. Arya Dipayana bagi Sapardi Djoko Damono dimuat di buku Sehingga Kabut yang diterbitkan oleh Hutan Karet Depok (1990). Sang guru kemudian menulis Sajak untuk AGS yang menutup buku Tetapi Waktu, kumpulan tulisan tentang Ags. Arya Dipayana yang diterbitkan oleh Teater Tetas Jakarta (2011). 

Maut, katamu, tak bisa sombong karena tak bisa lagi membunuhmu. Dan kau pun terus menyanyi tanpa berpikir tentang tepuk tangan dalam lakon yang kaupimpin sendiri tengah malam itu. Maka sempurnalah pementasan itu dalam sebuah nyanyian, 
perjamuan telah digenapkan, 
ke mana lagi kau harus menuju? 
(dikutip dari bait terakhir Sajak untuk AGS)

Mengharamkan Kata 'Liyan'

Selama mendengarkan khotbah di Masjid Gedhe ia tetap mendengar kata-kata Pingkan di sela-sela pengkhotbah untuk tidak memanfaatkan agama sebagai alat untuk mencapai apa pun, kecuali untuk mendekatkan diri dengan Allah. Itu perintah Allah, itu perintah Muhammad SAW, itu yang menjadi dasar keyakinannya sebagai orang yang harus menghargai keyakinan orang lain, yang selalu mengharamkan kata 'liyan' dalam cara berpikirnya. Biarlah kata itu tetap ada di kamus, tetapi tidak perlu digunakan untuk mencibir, apa lagi menyiksa orang lain.

(Sapardi Djoko Damono dalam novel Hujan Bulan Juni)

Senin, 20 Juli 2020

Mengenang Sapardi : Kesederhanaan Sesuatu yang Indah


Meskipun sudah mengenal beliau sebagai penyair kondang, tapi buku karya beliau yang pertama kali saya miliki adalah kumpulan cerpen Membunuh Orang Gila. Saya membelinya di Gramedia Sudirman pada 2006. Setelah itu barulah saya mengoleksi Nokturno : Lirik Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Damono. Buku ini memuat puisi-puisi yang sangat dikenal publik, seperti Aku Ingin, Di Restoran, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta, dan Yang Fana Adalah Waktu. Saya membeli buku bersampul biru tersebut di Studio Teater Garasi pada 2010. 

Mengutip kata pengantar dalam Membunuh Orang Gila : Lewat kata-kata dalam karya-karyanya, Sapardi bisa memainkan logika dengan amat piawai. Lebih dari itu, Sapardi telah membuktikan bahwa kesederhanaan masih tetap sesuatu yang indah, dan keindahan itu abadi.

Minggu, 19 Juli 2020

Mengenang Sapardi : 19-7-20


Hening adalah 
ketika aku 
tak lagi 
mampu 
mengeja 
apa pun 
yang baru saja 
kuucapkan.  
(Hening Gendis, halaman 19 Kitab Puisi Perihal Gendis) . 

Penyair memilih kata-kata dan menyusunnya sedemikian rupa agar bisa menimbulkan perasaan tertentu bagi yang membacanya.  
(Bagian Pertama, halaman 7 Bilang Begini, Maksudnya Begitu) 

Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap, tetapi takdir harus ditandatangani di atas meterai dan tidak boleh diganggu gugat kalau nanti terjadi apa-apa, baik atau buruk. Kata yang ada di Langit sana, kalau baik ya alhamdulilah, kalau buruk ya disyukuri saja.  
(Bab Dua, halaman 20 novel Hujan Bulan Juni)



Sugeng Tindak, Pak Sapardi


Sugeng tindak, Pak Sapardi. Matur nuwun untuk semua karya indah, inspirasi, dan pelajaran hidup yang Bapak bagikan selama ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi pahala yang tiada putusnya. Aamiin...

Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020)

Minggu, 31 Desember 2017

Buku Bertanda Tangan Penulis

Ada perubahan yang terjadi pada 2017 ketika dalam sejumlah buku yang kumiliki ada tanda tangan penulis buku-buku tersebut. Kesempatan pertama kuperoleh di Bentara Budaya Yogyakarta pada 4 April. Malam itu kubeli kumpulan cerpen terbaru Indra Tranggono (Menebang Pohon Silisilah) dan Yuditeha (Balada Bidadari) sekaligus mendapat tanda tangan mereka. Selanjutnya, Sapardi Djoko Damono menorehkan tanda tangannya dalam novel Hujan Bulan Juni di Gramedia Sudirman pada 26 Agustus. Terakhir, Agus Noor menandatangani Lelucon Para Koruptor di Kafe Basabasi pada Desember. 

Cuma sayangnya aku tidak mendapat tanda tangan Iman Budhi Santosa dan Sinta Ridwan ketika mereka berada tak jauh dariku sehabis kubeli Profesi Wong Cilik dan Perempuan Berkepang Kenangan. Rada kecewa, tapi tak apalah. Aku mendapat banyak ilmu dan wawasan baru ketika menyimak Pak Iman dalam acara pembahasan bukunya di Rumah Maiyah. Demikian pula saat aku melihat Sinta bercerita soal buku puisinya bersama penyair lainnya di acara Tahun Baru di JBS. Meskipun akhirnya yang kubeli lebih dulu adalah buku kumpulan cerpennya, bukan buku puisinya. Aku lebih tertarik menyimak cerpennya, selain karena aku juga penulis cerpen, juga lantaran sampul Perempuan Berkepang Kenangan berwarna biru, warna favoritku yang senada dengan warna jaket yang kukenakan sore itu.

Senin, 28 Agustus 2017

Berjumpa dengan Pak Sapardi


Entah sejak kapan persisnya saya mengenal karya-karya Sapardi Djoko Damono, tapi mungkin saya lebih dahulu mengenal musikalisasi puisi Aku Ingin. Lelaki yang melakukan alih wahana dari puisi menjadi lagu tersebut adalah Ags. Arya Dipayana, yang lebih saya akrabi sebagai Om Adji. Seingat saya, Om Adji pernah memberi kami sebuah kaset rekaman berisi Musikalisasi Puisi karya Sapardi Djoko Damono (SDD). Kaset itu tak bersampul, tapi rasanya saya pernah menyetelnya beberapa kali. Lantas, kaset itu tiba-tiba hilang entah berada di mana. Namun, ketika era kaset sudah berakhir, entah dari mana saya kemudian memiliki folder lagu MP3 yang isinya sama dengan kaset dari Om Adji yang dahulu hilang. Saya pun menjadi penggemar duo AriReda. Satu lagi yang juga saya miliki dan menjadi favorit saya adalah album Gadis Kecil (Dua Ibu Menyanyikan Puisi Sapardi Djoko Damono). Ketika komputer saya mengalami masalah besar tahun 2016 lalu dan setahun lebih saya tidak bisa memanfaatkannya, dua album tersebut untuk sementara hilang. Pada medio Agustus 2017 ternyata komputer saya bisa diaktifkan kembali dan dua album itu masih ada. Saya pun bisa mendengarkannya kembali dengan takzim.   

Sewaktu saya mulai menulis cerpen, saya jadi lebih mengenal karya-karya SDD yang ternyata tidak sebatas puisi. Buku pertama karya beliau yang saya miliki adalah kumpulan cerpennya yang berjudul Membunuh Orang Gila (2006). Hingga kini buku terbitan Penerbit Kompas Gramedia tersebut menjadi salah satu kumpulan cerpen favorit saya. Setelah itu saya pernah menyaksikan sebuah pertunjukan di Studio Teater Garasi pada tahun 2010, yang antara lain mementaskan karya SDD yang sudah beralih wahana. Seingat saya ada dramatic reading yang dibawakan oleh dua aktor Teater Garasi dan ada musikalisasi puisi pula pastinya. Beliau juga hadir di sana, tapi saya sebatas melihatnya dari jauh. Malam itu saya membeli buku Nokturno (lirik musikalisasi puisi), Pengarang Telah Mati, dan Pengarang Belum Mati. Dua buku terakhir merupakan bagian pertama dan kedua sebuah trilogi yang akhirnya diterbitkan sebagai sebuah buku berjudul Trilogi Soekram. Buku-buku beliau yang saya miliki selanjutnya adalah Pada Suatu Hari Nanti-Malam Wabah (kumpulan cerpen/2013), Hujan Bulan Juni (novel/2015), Bilang Begini, Maksudnya Begitu (apresiasi puisi/2015), dan Suti (novel/2016).  

Ketika beredar kabar Pak Sapardi akan berada di Gramedia Sudirman pada Sabtu petang (26/8/2017), tentu saya antusias ingin menghadirinya. Saya membawa novel Hujan Bulan Juni yang ingin saya mintakan tanda tangan beliau. Acara yang dipandu Tia Setiadi tersebut ternyata dimulai tepat waktu dan saya telat sampai di tujuan. Banyak orang berdiri -karena hanya sedikit kursi yang tersedia- di salah satu sudut lantai I toko buku terbesar di Jogja itu, tapi semua tampak bergembira menyimak obrolan sang idola bersama Kang Tia dan ketika menanggapi pertanyaan teman-teman. Saya merasa beruntung bisa ngangsu kawruh kepada beliau sore itu. Banyak hal yang menarik yang beliau sampaikan dengan serius tapi santai, bahkan beberapa kali mengundang gelak tawa. Seperti misalnya ketika beliau bercerita bahwa puisi Aku Ingin sering diklaim orang yang tidak paham sebagai karya Kahlil Gibran. Kemudian menurut beliau, cerita dan berita itu sebenarnya tidak jauh berbeda, bedanya satu huruf belaka (c dan b). Setelah acara ngobrol diakhiri, ada sesi penandatanganan buku dan foto bersama SDD. Semula saya agak ragu ingin mengikutinya, tapi akhirnya saya ikut antre dan menikmatinya belaka. Saya pun mendapat tanda tangan Pak Sapardi, berfoto berdua bersamanya, dan seraya mencium tangannya saya mengucapkan. "Nyuwun pangestu dan matur nuwun ya, Pak." Saya pun meninggalkan Gramedia Sudirman dengan sebuah rasa yang nyaman. Saya berharap memiliki spirit berkarya yang lebih segar setelah malam Minggu itu. Sekiranya Om Adji masih ada, saya pasti segera mengabarinya bahwa saya baru bertemu dengan salah satu kawan karibnya. Tentu saya juga akan tetap berdoa, semoga Pak Sapardi tetap sehat dan bersemangat di masa tuanya yang masih aktif berkarya.

Senin, 19 Juni 2017

Menikmati AriReda yang Mendadak Konser di Jogja

Sebuah acara yang relatif mendadak diselenggarakan ternyata tetap bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak. Demikianlah yang terjadi ketika AriReda (Ari Malibu dan Reda Gaudiamo) tampil dalam sebuah konser di Kedai Kebun Forum (KKF) Yogyakarta pada Minggu malam, 18 Juni 2017. Mereka sendiri mengistilahkan pertunjukan tersebut sebagai mendadak konser karena sebenarnya mereka berdua sedang berada di Jogja untuk proses rekaman album terbaru AriReda. Dari hasil perbincangan santai mereka tercetus kalimat, "Kayaknya asyik nih, kalau kita konser," dan terwujudlah pentas musik yang dipersiapkan hanya sekitar dua hari itu. Begitu mengetahui bahwa AriReda akan tampil, saya langsung berniat untuk menyaksikannya. Pada Mei 2016 mereka sempat konser di tempat yang sama, tapi tiketnya telah habis ketika saya bermaksud membelinya. Maka kesempatan kali ini tak boleh disia-siakan, apalagi konser di bulan Juni 2017 digelar secara gratis.


Konser berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan materi album terbaru AriReda yang bertajuk Suara dari Jauh, yang merupakan musikalisasi puisi karya Goenawan Mohamad. Seluruh lagu dalam album (hampir semua gubahan M. Umar Muslim) dibawakan dengan syahdu, antara lain Lagu Hujan, Surat Cinta, Z, Sajak Anak-anak Mati, dan Quatrain About A Pot (satu-satunya lagu berbahasa Inggris). Sesi kedua menampilkan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono yang sebagian besar sudah dikenal oleh para penonton. Bahkan AriReda membawakan lagu-lagu tersebut berdasarkan permintaan para penggemarnya. Maka mengalunlah Nokturno, Hujan Bulan Juni, Di Restoran, Gadis Kecil, Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka, Kuhentikan Hujan, Pada Suatu Hari Nanti, Lanskap, dan Aku Ingin sebagai penutup konser. Lagu berjudul Lanskap sepertinya baru pertama kali saya dengar dan ternyata merupakan puisi karya Pak Sapardi pula. 

Sejak nomor pembuka, denting gitar Ari dan suara bening Reda langsung membuai kalbu. Seluruh komposisi dimainkan dengan penjiwaan yang dalam dan hasilnya begitu indah. Hati pun rasanya tersentuh. Setiap lagu berakhir, duo artis berusia 50-an tersebut selalu menyunggingkan senyuman lebar yang menebarkan aura kehangatan dan kedamaian. Kata pengantar di antara lagu sesekali membuat penonton tertawa. AriReda tetap tampil maksimal kendati persiapan konser singkat dan mereka pun sedang batuk. Bahkan keduanya sempat ngemil kencur di sela-sela pertunjukan.

Suasana konser AriReda di KKF (18/6/17). Foto @masgufi.

Bagi saya pribadi, lagu Aku Ingin menjadi nomor yang paling emosional karena pencipta melodi lagu tersebut, Ags. Arya Dipayana, adalah paman saya yang sudah tutup usia pada 2011 lalu. Begitu lagu itu dilantunkan, saya sempat membayangkan bagaimana keadaan Om Adji ketika menyusun komposisi lagu dengan melodi dan akor yang tidak biasa itu hingga menjadi karya yang istimewa dan bahkan abadi. Menjadi kegembiraan dan kebanggaan tersendiri saat seusai konser saya membeli CD Suara dari Jauh, lantas meminta tanda tangan dari sang artis seraya memperkenalkan diri, "Saya keponakan Mas Adji." Mas Ari dan Mbak Reda pun menjabat tangan saya dengan erat. Saya sengaja tidak meminta foto bersama mereka karena saya tidak memiliki akun Instagram dan ponsel saya terlalu sederhana untuk bisa membuat foto yang berkualitas. Yang jelas, saya pulang dengan suasana hati nyaman dan mensyukuri salah satu berkah di malam Ramadan tersebut.

Selasa, 31 Juli 2012

Multitalenta Itu Bagus


Multitalenta itu bagus. Spesialisasi malah memperkerdil pengetahuan kita. Leonardo Da Vinci; selain pelukis, dia komponis (menulis opera, tragedi, komedi), ahli hidrologi, dan ahli kedokteran. Sutardji itu penyair yang bisa menyanyi. Sapardi itu penyair yang bisa bermain musik. 

[Remy Sylado – penulis ratusan buku (novel, drama, puisi, kamus, ensiklopedia), sutradara/pemain teater, aktor film/sinetron, pemain musik, menguasai sejumlah bahasa asing dan bahasa daerah]