Rabu, 19 Juni 2024
Kamis, 13 Juni 2024
Minggu, 20 Maret 2022
Selasa, 06 April 2021
Selamat Jalan Umbu Landu Paranggi
Maka tanpa rikuh prekewuh dan ragu-ragu lagi masyarakat sastra Indonesia di Yogyakarta dan Bali menyebut Umbu Landu Paranggi : SANG GURU.
(Iman Budhi Santosa)
Setiap ingat Umbu, saya suka membayangkan sabana yang membentang antara tanah perbukitan dan laut yang batasnya cakrawala.
(Sapardi Djoko Damono)
Selamat jalan Sang Guru Umbu Landu Paranggi (10 Agustus 1943 - 6 April 2021).
Sabtu, 20 Maret 2021
Mengenang Sapardi : Kutipan Cerpen Joko Pinurbo
Mengenang Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020) :
Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan.
(Joko Pinurbo dalam cerpen Sebotol Hujan untuk Sapardi)
Rabu, 07 Oktober 2020
Adakah Takdir Buruk?
Apa gerangan beda antara nasib dan takdir? Kalau kita mengajukan pertanyaan itu ke Rama dan Rahwana, tentu jawaban mereka berbeda. Apalagi kalau mengajukan pertanyaan tersebut ke Laksmana atau Sita. Ada nasib buruk, ada nasib baik; tetapi adakah takdir buruk?
(Sapardi Djoko Damono dalam cerpen Dongeng Rama dan Sinta)
Kamis, 27 Agustus 2020
Mengenang Sapardi : Apa Sebenarnya Makna Sejarah
"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," ujar pemimpin negara waktu itu. Dan ia terguling. Apakah sebenarnya makna sejarah? Apa pula makna meninggalkan sejarah? Kita ini sedang menciptakan sejarah atau terbawa dalam arus? Yang sangat deras. Apakah orang bisa berada di luar sejarah agar bisa menciptakannya? Dengan kekerasan?
"Bangsa-bangsa primitif di dunia ketiga harus belajar," kata profesornya yang suka omong seenaknya itu. Yang suka menyulut ribut-ribut di ruang kuliah dan suka mengajaknya ngobrol di kafetaria kampus. Tapi belajar apa? Dan bagaimana? Masyarakat mana pun, yang sudah memiliki tata cara bertindak dan berpikir sendiri, untuk apa belajar dari orang bangsa lain? Pikirnya. Untuk apa mengukur semuanya berdasarkan konsep-konsep asing? Ia mendadak khawatir akan cara berpikirnya sendiri.
Pertama kali membaca Pengarang Telah Mati pada 2010, tak lama setelah membelinya bersama Pengarang Belum Mati dan Nokturno di Studio Teater Garasi. Itulah momentum pertama saya melihat Pak Sapardi hanya beberapa meter di depan mata. Kembali membacanya ketika sang pengarang telah tutup usia dan menemukan kalimat-kalimat mengesankan yang disuratkannya.
Jumat, 14 Agustus 2020
Percintaan Kemarau dan Penghujan
(Sapardi Djoko Damono dalam Pengarang Telah Mati)
Jumat, 24 Juli 2020
Sajak bagi SDD dan Sajak untuk AGS
Sajak karya Ags. Arya Dipayana bagi Sapardi Djoko Damono dimuat di buku Sehingga Kabut yang diterbitkan oleh Hutan Karet Depok (1990). Sang guru kemudian menulis Sajak untuk AGS yang menutup buku Tetapi Waktu, kumpulan tulisan tentang Ags. Arya Dipayana yang diterbitkan oleh Teater Tetas Jakarta (2011).
Maut, katamu, tak bisa sombong karena tak bisa lagi membunuhmu. Dan kau pun terus menyanyi tanpa berpikir tentang tepuk tangan dalam lakon yang kaupimpin sendiri tengah malam itu. Maka sempurnalah pementasan itu dalam sebuah nyanyian,
perjamuan telah digenapkan,
ke mana lagi kau harus menuju?
(dikutip dari bait terakhir Sajak untuk AGS)
Mengharamkan Kata 'Liyan'
(Sapardi Djoko Damono dalam novel Hujan Bulan Juni)
Kamis, 23 Juli 2020
Senin, 20 Juli 2020
Mengenang Sapardi : Kesederhanaan Sesuatu yang Indah
Meskipun sudah mengenal beliau sebagai penyair kondang, tapi buku karya beliau yang pertama kali saya miliki adalah kumpulan cerpen Membunuh Orang Gila. Saya membelinya di Gramedia Sudirman pada 2006. Setelah itu barulah saya mengoleksi Nokturno : Lirik Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Damono. Buku ini memuat puisi-puisi yang sangat dikenal publik, seperti Aku Ingin, Di Restoran, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta, dan Yang Fana Adalah Waktu. Saya membeli buku bersampul biru tersebut di Studio Teater Garasi pada 2010.
Mengutip kata pengantar dalam Membunuh Orang Gila : Lewat kata-kata dalam karya-karyanya, Sapardi bisa memainkan logika dengan amat piawai. Lebih dari itu, Sapardi telah membuktikan bahwa kesederhanaan masih tetap sesuatu yang indah, dan keindahan itu abadi.
Minggu, 19 Juli 2020
Mengenang Sapardi : 19-7-20
Hening adalah
ketika aku
tak lagi
mampu
mengeja
apa pun
yang baru saja
kuucapkan.
(Hening Gendis, halaman 19 Kitab Puisi Perihal Gendis) .
Penyair memilih kata-kata dan menyusunnya sedemikian rupa agar bisa menimbulkan perasaan tertentu bagi yang membacanya.
(Bagian Pertama, halaman 7 Bilang Begini, Maksudnya Begitu)
Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap, tetapi takdir harus ditandatangani di atas meterai dan tidak boleh diganggu gugat kalau nanti terjadi apa-apa, baik atau buruk. Kata yang ada di Langit sana, kalau baik ya alhamdulilah, kalau buruk ya disyukuri saja.
(Bab Dua, halaman 20 novel Hujan Bulan Juni)
Sugeng Tindak, Pak Sapardi
Sugeng tindak, Pak Sapardi. Matur nuwun untuk semua karya indah, inspirasi, dan pelajaran hidup yang Bapak bagikan selama ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi pahala yang tiada putusnya. Aamiin...
Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020)
Minggu, 31 Desember 2017
Buku Bertanda Tangan Penulis
Cuma sayangnya aku tidak mendapat tanda tangan Iman Budhi Santosa dan Sinta Ridwan ketika mereka berada tak jauh dariku sehabis kubeli Profesi Wong Cilik dan Perempuan Berkepang Kenangan. Rada kecewa, tapi tak apalah. Aku mendapat banyak ilmu dan wawasan baru ketika menyimak Pak Iman dalam acara pembahasan bukunya di Rumah Maiyah. Demikian pula saat aku melihat Sinta bercerita soal buku puisinya bersama penyair lainnya di acara Tahun Baru di JBS. Meskipun akhirnya yang kubeli lebih dulu adalah buku kumpulan cerpennya, bukan buku puisinya. Aku lebih tertarik menyimak cerpennya, selain karena aku juga penulis cerpen, juga lantaran sampul Perempuan Berkepang Kenangan berwarna biru, warna favoritku yang senada dengan warna jaket yang kukenakan sore itu.
Senin, 28 Agustus 2017
Berjumpa dengan Pak Sapardi
Senin, 19 Juni 2017
Menikmati AriReda yang Mendadak Konser di Jogja
Konser berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan materi album terbaru AriReda yang bertajuk Suara dari Jauh, yang merupakan musikalisasi puisi karya Goenawan Mohamad. Seluruh lagu dalam album (hampir semua gubahan M. Umar Muslim) dibawakan dengan syahdu, antara lain Lagu Hujan, Surat Cinta, Z, Sajak Anak-anak Mati, dan Quatrain About A Pot (satu-satunya lagu berbahasa Inggris). Sesi kedua menampilkan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono yang sebagian besar sudah dikenal oleh para penonton. Bahkan AriReda membawakan lagu-lagu tersebut berdasarkan permintaan para penggemarnya. Maka mengalunlah Nokturno, Hujan Bulan Juni, Di Restoran, Gadis Kecil, Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka, Kuhentikan Hujan, Pada Suatu Hari Nanti, Lanskap, dan Aku Ingin sebagai penutup konser. Lagu berjudul Lanskap sepertinya baru pertama kali saya dengar dan ternyata merupakan puisi karya Pak Sapardi pula.
Sejak nomor pembuka, denting gitar Ari dan suara bening Reda langsung membuai kalbu. Seluruh komposisi dimainkan dengan penjiwaan yang dalam dan hasilnya begitu indah. Hati pun rasanya tersentuh. Setiap lagu berakhir, duo artis berusia 50-an tersebut selalu menyunggingkan senyuman lebar yang menebarkan aura kehangatan dan kedamaian. Kata pengantar di antara lagu sesekali membuat penonton tertawa. AriReda tetap tampil maksimal kendati persiapan konser singkat dan mereka pun sedang batuk. Bahkan keduanya sempat ngemil kencur di sela-sela pertunjukan.



















