Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2024

aturan abadi sastra

 

Aturan abadi sastra :

Penulis mesti memiliki kemampuan untuk mengisahkan cerita-ceritanya sendiri seolah-olah adalah cerita orang lain, dan mengisahkan cerita orang lain seakan-akan itu ceritanya sendiri, lantaran itulah sastra sejati. Tapi pertama-tama kita mesti menjelajahi cerita-cerita dan buku-buku orang lain.

(Orhan Pamuk - penulis Turki)

Senin, 20 Juni 2022

Membaca Karya Besar Sastra

 

Dia masih ingat, dalam kuliah, saya sering menekankan hubungan erat antara sastra, estetika, dan psikologi. Barang siapa banyak membaca karya-karya besar sastra, dengan sendirinya akan memiliki insting untuk mengetahui masalah kejiwaan lawan bicaranya.

(Budi Darma dalam cerpen Bukan Mahasiswa Saya)

Kamis, 24 Juni 2021

Karya Sastra yang Jujur dan Berambisi

Kalau kamu sering membaca karya sastra, kamu pasti merasakan mana karya sastra yang ditulis dengan jujur dan sepenuh hati dan mana yang berambisi untuk menjadi perintis atau pelopor. Karya yang baik tidak harus karya perintis atau pelopor itu. Pramoedya itu bukan pelopor, tapi siapa yang berani membantah bahwa karyanya baik. "Pulang" karangan Toha Mochtar tetap menyentuh, mengharukan, indah dan enak dibaca karena ditulis dengan jujur lebih dari 50 tahun lalu. "Mercy" tulisan pemenang Hadiah Nobel, Toni Morrison, yang berkisah tentang penderitaan warga kulit hitam di Amerika tidak membuat pembaca mengerutkan kening, begitu pula karya para pemenang Nobel lainnya.

(Sori Siregar dalam cerpen Saran Seorang Pengarang)


Selamat jalan untuk Pak Sori Siregar (12 November 1939 - 21 Juni 2021).

Minggu, 07 Maret 2021

Aturan Abadi Sastra

Aturan abadi sastra :

Penulis mesti memiliki kemampuan untuk mengisahkan cerita-ceritanya sendiri seolah-olah adalah cerita orang lain, dan mengisahkan cerita orang lain seakan-akan itu ceritanya sendiri, lantaran itulah sastra sejati. Tapi pertama-tama kita mesti menjelajahi cerita-cerita dan buku-buku orang lain.

(Orhan Pamuk - penulis Turki)

Rabu, 16 September 2020

Pepatah Bukan Sekadar Kembang Gula Susastra

Pepatah bukan sekadar kembang gula susastra. Dibutuhkan pengalaman pahit untuk memformulasikannya. Dibutuhkan orang yang setengah mati berakit-rakit ke hulu agar tahu nikmatnya berenang santai ke tepian. Dibutuhkan orang yang tersungkur jatuh dan harus lagi tertimpa tangga. Dibutuhkan sebelanga susu hanya untuk dirusak setitik nila. Dibutuhkan seorang Hera yang mencari Herman.

(Dee dalam cerpen Mencari Herman)

Senin, 04 November 2019

Ujung Tombak Budi Pekerti

Inilah harapanku : bahwa bahasa sastra seni adalah ujung tombak budi pekerti. Berbudi sekaligus berpekerti. Budi pekerti itu berwatak moral dan operasional sekaligus. Jadi dengan kesenian, seseorang tak hanya harus bisa hidup secara layak, tapi harus menjadi penggerak masyarakatnya. 
(Prie GS)

Selasa, 31 Oktober 2017

Hakikat Cerpen

Memakai atau tidak memakai formula, perlu diingat bahwa pada hakikatnya cerpen adalah strukturalisasi adalah karya sastra adalah fiksi adalah “Dunia yang Mungkin”; bukan fakta, jurnalisme, karya ilmiah atau esai filsafat.

(Kuntowijoyo dalam esai "Perihal Cerpen : Strukturalisasi Pengalaman, Imajinasi, dan Nilai")

Senin, 17 Oktober 2016

Menulis Itu Menghubungkan Berbagai Hal

Saya tidak dapat menganggap diri tahu bagaimana menulis itu sebaiknya dilakukan, atau tahu apakah kritik yang bijak memang bermaksud memperbaiki tulisan saya. Yang paling dapat saya lakukan adalah menghubungkan berbagai hal yang berkaitan dengan usaha-usaha saya sendiri.

(Bertrand Russel - filsuf Inggris, penerima Hadiah Nobel Sastra 1950)

Senin, 04 Juni 2012

Peranan Penting Pelajaran Sastra


Pelajaran sastra memiliki peranan penting dalam mengembangkan kecerdasan dan karakter siswa. Pelajaran sastra tidak dimaksudkan untuk menjadikan siswa sebagai sastrawan. Jadi sastrawan boleh, tapi kalaupun tidak, siswa minimal mampu merumuskan atau menyelaraskan pikiran untuk diucapkan atau dituangkan dalam tulisan. Pendidikan di Indonesia mestinya memasukkan sastra sebagai ilmu pengetahuan. 

(Putu Wijaya) 

Rabu, 12 Oktober 2011

Jalan Penulis adalah Kreativitas (SGA)


Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada. 
(Seno Gumira Ajidarma dalam ”Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”)

Senin, 17 Agustus 2009

Apakah Gunanya Pendidikan? (WS Rendra)



Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja,
ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

(dari “Sajak Seonggok Jagung” – WS Rendra)

Rabu, 14 Mei 2008

Sejumlah Pertunjukan Menarik



Selama kurun waktu dua minggu, pada bulan April hingga awal Mei 2008 lalu, sempat kusaksikan sejumlah pertunjukan seni yang menarik dan layak menjadi catatan tersendiri. Pentas Teater Tetas bertajuk ‘Republik Anthurium’ karya/sutradara Ags.Arya Dipayana di Gedung Sositet TBY merupakan pertunjukan pertama yang kulihat. Selama dua hari berturut-turut (22-23/4) kelompok teater dari Jakarta itu pentas di Jogja, setelah sebelumnya di Solo pun demikian. Dan selama dua hari itu pula, dengan setia aku selalu hadir. Selain sebagai penghormatanku pada sang sutradara, aku ingin menjalani pengalaman baru sebagai seorang penonton. Untuk itu, di hari pertama aku melihat pertunjukan dari salah satu sisi panggung. Jadi dapat kulihat kondisi para pemain sebelum tampil serta begitu hangatnya kebersamaan segenap pendukung pentas, termasuk kru panggung dan pemusik. Selama pentas jadi lebih kuhargai kerja keras para pemain, bagaimana ngos-ngosannya mereka setelah mengeluarkan banyak energi di atas panggung, kemudian mereka sejenak dapat mengatur nafas dengan tetap berkonsentrasi pada jalannya lakon, dan kembali tampil dengan energi yang tetap terjaga. Tidak sekadar mesti menghafalkan naskah, mereka juga harus memiliki kebugaran fisik yang luar biasa karena banyak koreografi yang mesti mereka tampilkan pula. Sang sutradara-yang sempat tampil hanya berolah gerak/tanpa dialog- kulihat dengan seksama terus-menerus mengikuti anak-anak asuhannya beraksi di sisi panggung yang lain. Perlu berbulan-bulan untuk mempersiapkan pementasan tersebut. Salut untuk kerja keras segenap awak Teater Tetas. Pada hari kedua kusaksikan pertunjukan dari balkon selatan bersama beberapa orang dan penonton lain yang mungkin mengisi 90% kursi yang tersedia di gedung tersebut. Kutemui hal-hal yang berbeda ketika kulihat pertunjukan seperti layaknya penonton biasa dari depan. Ada koreografi menawan yang lebih utuh kunikmati, juga penataan artistik dan cahaya yang minimalis, tapi enak diilihat. Yang jelas ada hikmah yang bisa dipetik dari pentas teater itu.
Minggu malam(27/4) kuikuti acara Bincang-Bincang Sastra di ruang seminar TBY yang menghadirkan pembacaan cerpen dan diskusi karya penulis Isti Wuryani. Yang menarik adalah saat acara pembacaan cerpen. Setelah penulisnya membaca cerpen pertama dengan cara konvensional, pada cerpen kedua seorang perupa bernama Bung Cokro tampil berbeda. Ia menafsirkan cerpen dengan membuat sebuah lukisan, dengan didampingi seorang model perempuan ayu bersahaja (yang katanya diambil spontan dari penonton) dan diiringi petikan gitar akustik. Seorang aktor (Dinar Setyawan) kemudian bermonolog menampilkan cerpen ketiga ‘Perempuan Bertato Naga’ dengan atraktif, interaktif, dan sangat menghibur. Salut untuk Isti Wuryani dan segenap pendukung acara malam itu. Selanjutnya Joni Ariadinata, sastrawan yang juga menjadi redaktur majalah sastra Horison mengulas karya-karya Isti diikuti acara dialog interaktif yang menambah wawasan berpikirku. Pernah menjadi niatku untuk menyapa Bung Joni jika bisa bertemu dengannya. Apalagi sesudah tempo hari cerpenku pernah dimuat di Horison. Maka seusai acara kusalami dia sembari memperkenalkan diri. Ternyata Bung Joni cukup mengingat sosokku yang fotonya terpasang di majalah yang ada cerpenku itu.
“Lho, kok kamu kelihatan beda ya? Aku pikir kamu itu orang PKS,” kata Bung Joni. Aku tersenyum dengan menjawab bahwa aku bukan seperti yang dipikirnya. Memang di foto aku tampil dengan potongan rambut cepak, jenggot tipis, dan kemeja yang dikancingkan sampai atas, ya pantas saja dikira aktivis partai Islam itu. Sementara malam itu rambutku rada berantakan, tanpa jenggot, serta berjaket hitam dan kaos saja.
“Ternyata orang PKS bisa bikin cerpen bagus juga ya?” canda Bung Joni sebelum kami berpisah. Yah, begitulah jika sudah menjadi penulis kawakan, dengan melihat foto saja sudah mengimajinasikan sebuah cerita sendiri. Sayangnya aku lupa minta nomor ponselnya karena bisa jadi ada seribu pertanyaan ingin kuajukan padanya.
Pertunjukan seni berikutnya adalah Pertunjukan Paduan Suara ‘Balada Pendidikan Nasional’ karya Ki Priyo Dwiarso di Balai Persatuan Tamansiswa Yogyakarta pada hari Sabtu, 3 Mei 2008. Acara tersebut dalam rangka memeringati Hari Pendidikan Nasional dan mengenang Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional, pendiri Tamansiswa, yang ternyata juga seorang seniman sejati. Kebetulan ada sejumlah orang yang kukenal terlibat dalam acara tersebut, antara lain mbakku yang menjadi salah satu pengiring lagu dan beberapa teman mudaku yang tampil menyanyi solo. Tiga kelompok paduan suara tampil memukau, demikian pula beberapa solis muda maupun yang dewasa. Dua ibu jari layak diacungkan pada Cindy yang begitu percaya diri, suaranya jernih, nada tingginya sempurna, penjiwaannya bagus, dan tampil cantik dengan kebaya hijaunya. Tyas dan Khaleydia, dua penyanyi muda lainnya juga tampil bagus, tapi masih di bawah Cindy yang mampu menunjukkan kedewasaannya malam itu.
Sumber foto : http://matanesia.net (karya Budi'Bobo'Irawan)