Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2024

Sabtu, 27 April 2024

selamat jalan joko pinurbo


 



sebuah warta duka.joko pinurbo dikabarkan wafat pada sabtu, 27 april 2024 di rs panti rapih, yogyakata. penyair favorit saya itu meninggal dunia pada usia 61 tahun (lahir 11 mei 1962) setelah menderita sakit paru-paru sejak 2023.

selamat jalan joko pinurbo. 
semoga baik-baik hidupmu di sana. 
abadilah karyamu senantiasa.




Rabu, 01 Februari 2023

Membaca adalah Kebahagiaan

 

Membaca adalah kebahagiaan

walau tak ada yang bisa

mendefinisikan kebahagiaan


Berbahagialah

rumah yang dijaga

dan didoakan buku-buku


(Joko Pinurbo dalam puisi Rumah Buku)

Kamis, 17 November 2022

Mengenai Buku

 

Mengenai buku, tak ada jalan buntu

Ia selalu memiliki pintu, tempat

kita masuk dan keluar penuh tatu


(Kurnia Effendi dalam puisi "Boekenzolder")

Rabu, 28 September 2022

Pengadilan Bermetamorfosa Menjadi Kecoa


Di negeri yang tertawa

bagi segenap airmata,

pengadilan telah bermetamorfosa

menjadi kecoa. Berjuta-juta

merayapi piring, ranjang,

dan mimpi-mimpi kita.


(Agus R. Sarjono dalam puisi "Kafka") 

Selasa, 20 September 2022

Cinta Terasa Lebih Ramah


Di negeri yang warganya meninggalkan 

rumah ibadah, cinta terasa lebih ramah

Kepada pundak anak-anak mereka wariskan

kearifan memuliakan manusia, sebab

masa depan tak lagi milik orang tua


(Kurnia Effendi dalam puisi "Maarsenplein")

Senin, 22 Agustus 2022

Sejarah Melahirkan Kita

 

Sejarah telah melahirkan kita, dan kita

akan melahirkan sejarah. Namun sang pemberani

tak pernah kita tahu kapan diumumkan.


(Kurnia Effendi dalam puisi "Di Museum Bronbeek")

Sabtu, 06 Agustus 2022

Saat Teh Panas Habis di Gelas


Perjalanan

terasa masih di tempat bermula

saat teh panas habis di gelas

dan serbuk gula yang tersisa

menertawakan usia peminumnya


(Mustofa W. Hasyim dalam puisi "Tepus Gunungkidul")

Selasa, 02 Agustus 2022

Puisi Serupa Sketsa


Puisi, mungkin serupa sketsa bagi pelukis, saat ditulis awal. Menangkap kesan, menyerap dengan cepat, menggumuli dengan genangan pengalaman, lalu membariskan kata dan membaitkan baris. Impresi-impresi saat merasakan suatu tempat yang saya temui memberikan denyut baru pada nadi dan degup jantung.

(Kurnia Effendi dalam Langkah Awal buku kumpulan puisi "Mencari Raden Saleh") 

Senin, 15 November 2021

Jarak

                                                      puisi karya Gunawan Maryanto


jarak hanya bisa membuatmu melihat

jangan harap bisa terlibat

kebahagiaan--kesedihan berlangsung di kejauhan

--tak lagi mendebarkan

di tempat ini kau tak perlu jam tangan

hanya ingatan, sedikit ingatan


(Jogja, 2005)

Senin, 18 Oktober 2021

Yang Tepat Tak Pernah Ada

 

tapi yang tepat itu tak pernah ada, kan? dunia hanya 

menyediakan kira-kira. rangkaian kekeliruan demi

kekeliruan--dan kita selalu keliru menangkapnya.


(Gunawan Maryanto dalam puisi Cinta yang Mencurigakan)

Senin, 14 Desember 2020

Karya Serupa Tubuh


Karya serupa tubuh hidup,

sempurna jika ruh ditiup.

Bacakan sepenuh jiwamu,

getarkan seluruh ragamu

 

(Candra Malik)

Minggu, 26 Juli 2020

Puisi-Puisi Masa Bocah

Suasana di Kelasku yang ditulis 30-12-1987 mengawali "Kumpulan Karyaku kang 'ra ngerti sastra" berwujud notes berwarna coklat itu. Berikut ini sejumlah puisi yang dibuat bocah penggemar komik yang mulai suka baca serial Lupus pada 1987-1988.  

Suasana di Kelasku 

Kalau sedang tidak ada guru 
ramai nian 
suasana di kelasku 
Bagai pasar bursa menghadapi devaluasi dollar 
Ragam macam kegiatan dilakukan 
Saling lempar-lemparan, saling bincang berbincang, 
ngrasani, 
dan ada juga yang 
kerjakan PR 

Minggu Pagi 

Minggu pagi, 
engkau datang lagi 
menyambut ceria hati 
bersemi bersama sang mentari pagi  

bapak tani pergi ke ladang 
orang kaya pergi berenang 
Minggu pagi, 
selamat datang di bumi yang indah ini 

Zaman Teknologi Canggih 

Gatotkaca 
bersembunyi di balik mega 
ngeri melihat moncong rudal berkepala nuklir 
Putra Yama Widura 
yang telah berprestasi memantau Bharatayudha 
kalah melawan antena parabola 
Sang Wrekudara 
sudah tak ada guna lagi 
robot-robot sudah merajai dunia

Gumamku 

Telah lama berselang 
aku tak lagi mengarang 
mengarang puisi yang sekedar selingan 
untuk menuangkan imajinasi hati nurani 

Rupanya sudah sebulan 
aku tak menulis puisi 
tapi untunglah aku ingat 
dan kini mulai kurintis lagi 
mencurahkan bakat yang terlalu dibuat-buat 

Selamat Hari Puisi Indonesia.