Segalanya menjadi mudah
dengan mudah-mudahan
(Joko Pinurbo)
Membaca adalah kebahagiaan
walau tak ada yang bisa
mendefinisikan kebahagiaan
Berbahagialah
rumah yang dijaga
dan didoakan buku-buku
(Joko Pinurbo dalam puisi Rumah Buku)
Mengenai buku, tak ada jalan buntu
Ia selalu memiliki pintu, tempat
kita masuk dan keluar penuh tatu
(Kurnia Effendi dalam puisi "Boekenzolder")
Di negeri yang tertawa
bagi segenap airmata,
pengadilan telah bermetamorfosa
menjadi kecoa. Berjuta-juta
merayapi piring, ranjang,
dan mimpi-mimpi kita.
(Agus R. Sarjono dalam puisi "Kafka")
Di negeri yang warganya meninggalkan
rumah ibadah, cinta terasa lebih ramah
Kepada pundak anak-anak mereka wariskan
kearifan memuliakan manusia, sebab
masa depan tak lagi milik orang tua
(Kurnia Effendi dalam puisi "Maarsenplein")
Sejarah telah melahirkan kita, dan kita
akan melahirkan sejarah. Namun sang pemberani
tak pernah kita tahu kapan diumumkan.
(Kurnia Effendi dalam puisi "Di Museum Bronbeek")
Perjalanan
terasa masih di tempat bermula
saat teh panas habis di gelas
dan serbuk gula yang tersisa
menertawakan usia peminumnya
(Mustofa W. Hasyim dalam puisi "Tepus Gunungkidul")
Puisi, mungkin serupa sketsa bagi pelukis, saat ditulis awal. Menangkap kesan, menyerap dengan cepat, menggumuli dengan genangan pengalaman, lalu membariskan kata dan membaitkan baris. Impresi-impresi saat merasakan suatu tempat yang saya temui memberikan denyut baru pada nadi dan degup jantung.
(Kurnia Effendi dalam Langkah Awal buku kumpulan puisi "Mencari Raden Saleh")
puisi karya Gunawan Maryanto
jarak hanya bisa membuatmu melihat
jangan harap bisa terlibat
kebahagiaan--kesedihan berlangsung di kejauhan
--tak lagi mendebarkan
di tempat ini kau tak perlu jam tangan
hanya ingatan, sedikit ingatan
(Jogja, 2005)
tapi yang tepat itu tak pernah ada, kan? dunia hanya
menyediakan kira-kira. rangkaian kekeliruan demi
kekeliruan--dan kita selalu keliru menangkapnya.
(Gunawan Maryanto dalam puisi Cinta yang Mencurigakan)
Karya serupa tubuh hidup,
sempurna jika ruh ditiup.
Bacakan sepenuh jiwamu,
getarkan seluruh ragamu
(Candra Malik)