Tampilkan postingan dengan label joko pinurbo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label joko pinurbo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2024

Sabtu, 27 April 2024

pengagum puisi joko pinurbo

 

Sekiranya aku tidak pernah mendapat pinjaman sejumlah buku dari dirinya, barangkali aku tidak pernah mengenal nama Paulo Coelho dengan karya fenomenalnya Sang Alkemis atau hanya mengetahui Jostein Gaarder sebatas Dunia Sophie. Bahkan jika belakangan aku menjadi pengagum puisi-puisi Joko Pinurbo dan mengoleksi buku-bukunya, hal itu jelas tak lepas dari kebaikan hatinya meminjamiku Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung.


(dikutip dari cerpen gadis yang suka meminjamkan buku -  dimuat di kompas.id pada 2021)

selamat jalan joko pinurbo


 



sebuah warta duka.joko pinurbo dikabarkan wafat pada sabtu, 27 april 2024 di rs panti rapih, yogyakata. penyair favorit saya itu meninggal dunia pada usia 61 tahun (lahir 11 mei 1962) setelah menderita sakit paru-paru sejak 2023.

selamat jalan joko pinurbo. 
semoga baik-baik hidupmu di sana. 
abadilah karyamu senantiasa.




Rabu, 01 Februari 2023

Membaca adalah Kebahagiaan

 

Membaca adalah kebahagiaan

walau tak ada yang bisa

mendefinisikan kebahagiaan


Berbahagialah

rumah yang dijaga

dan didoakan buku-buku


(Joko Pinurbo dalam puisi Rumah Buku)

Minggu, 06 Maret 2022

Percakapan dengan Alam


Latihan meditasi yang ditaja Mas Cindhil merupakan kombinasi latihan olah tubuh dan olah batin. Salah satu bentuk latihannya ialah melakukan percakapan dengan alam dan benda -misalnya langit, hujan (kalau ada), pohon, tanaman dalam pot, kursi, jam dinding- dan selanjutnya bercakap-cakap dengan diri sendiri melalui cermin. Tentu saja semua percakapan itu dilakukan secara bisu.

(Joko Pinurbo dalam novel Srimenanti)

Minggu, 06 Februari 2022

Apa Keinginan Ponsel


"Ponsel, apa keinginanmu saat ini?"

Ponsel : "Aku ingin meledak supaya sepi hancur lebur dan kau tak lagi menjadi hambaku."


(Joko Pinurbo dalam novel Srimenanti) 

Sabtu, 24 Juli 2021

Tiada Rumah Tak Merindukan Ibu


Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu

yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada

di bingkai foto yang mulai kusam


(Joko Pinurbo dalam puisi Tiada)

Sabtu, 20 Maret 2021

Mengenang Sapardi : Kutipan Cerpen Joko Pinurbo

Mengenang Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020) :

Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan. 

(Joko Pinurbo dalam cerpen Sebotol Hujan untuk Sapardi)


Rabu, 27 November 2019

Tribut untuk Joko Pinurbo Dua Pekan Lalu

Hujan masih belum rutin mengunjungi Yogyakarta hingga hari ini. Namun, Rabu malam dua pekan lalu (13/11/19), hujan sempat hadir biarpun sebentar. Hari itu Jogja berduka lantaran kehilangan salah satu tokohnya. Beberapa saat sehabis hujan reda, A Tribute to Joko Pinurbo dipentaskan di gedung sositet TBY. Butet Kartaredjasa tetap hadir membaca dua buah puisi Jokpin, padahal baru saja melepas kepergian selamanya adik tercinta. Ternyata beliau mengamalkan ajaran bapaknya, "Dalam situasi apa pun, tugas kesenian yang sudah disanggupi harus dijalankan. Seniman harus tetap menjadi manusia yang bertanggung jawab." Salut untuk Mas Butet. 

Beberapa artis membawakan karya Jokpin dengan gayanya masing-masing, termasuk sang penyair sendiri yang membaca puisi Satu Celana Berdua - yang pernah ditulisnya untuk Butet dan Djaduk Ferianto. Oppie Andaresta tampil terakhir menyanyikan sejumlah lagu yang merupakan musikalisasi puisi Joko Pinurbo, di antaranya Baju Bulan, Kepada Uang, Pacarkecilku, dan Hati Jogja. Diiringi oleh Bagus Mazasupa dkk dengan musiknya yang apik, beraneka rasa ditaburkan oleh Oppie. Ada yang syahdu, sendu, dan bahkan lucu sebagaimana puisi Jokpin. Salut dan terima kasih untuk Mbak Oppie dan semua yang mampu mewujudkan sebuah acara berkesan malam itu.

Setelah acara rampung kusalami Mas Bagus temanku di atas panggung. Sebelum pulang aku mendekati sang penyair untuk meminta tanda tangan beliau di buku Surat Kopi. Sebagai penggemar karyanya, memang baru lima buku Jokpin yang kumiliki. Hanya setidaknya ada satu di antaranya yang bertanda tangan penulisnya. Matur nuwun, Mas Jokpin.