Segalanya menjadi mudah
dengan mudah-mudahan
(Joko Pinurbo)
Sekiranya aku tidak pernah mendapat pinjaman sejumlah buku dari dirinya, barangkali aku tidak pernah mengenal nama Paulo Coelho dengan karya fenomenalnya Sang Alkemis atau hanya mengetahui Jostein Gaarder sebatas Dunia Sophie. Bahkan jika belakangan aku menjadi pengagum puisi-puisi Joko Pinurbo dan mengoleksi buku-bukunya, hal itu jelas tak lepas dari kebaikan hatinya meminjamiku Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung.
(dikutip dari cerpen gadis yang suka meminjamkan buku - dimuat di kompas.id pada 2021)
Membaca adalah kebahagiaan
walau tak ada yang bisa
mendefinisikan kebahagiaan
Berbahagialah
rumah yang dijaga
dan didoakan buku-buku
(Joko Pinurbo dalam puisi Rumah Buku)
Latihan meditasi yang ditaja Mas Cindhil merupakan kombinasi latihan olah tubuh dan olah batin. Salah satu bentuk latihannya ialah melakukan percakapan dengan alam dan benda -misalnya langit, hujan (kalau ada), pohon, tanaman dalam pot, kursi, jam dinding- dan selanjutnya bercakap-cakap dengan diri sendiri melalui cermin. Tentu saja semua percakapan itu dilakukan secara bisu.
(Joko Pinurbo dalam novel Srimenanti)
"Ponsel, apa keinginanmu saat ini?"
Ponsel : "Aku ingin meledak supaya sepi hancur lebur dan kau tak lagi menjadi hambaku."
(Joko Pinurbo dalam novel Srimenanti)
Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu
yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada
di bingkai foto yang mulai kusam
(Joko Pinurbo dalam puisi Tiada)
Mengenang Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020) :
Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan.
(Joko Pinurbo dalam cerpen Sebotol Hujan untuk Sapardi)