Tampilkan postingan dengan label TBY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TBY. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2019

Tribut untuk Joko Pinurbo Dua Pekan Lalu

Hujan masih belum rutin mengunjungi Yogyakarta hingga hari ini. Namun, Rabu malam dua pekan lalu (13/11/19), hujan sempat hadir biarpun sebentar. Hari itu Jogja berduka lantaran kehilangan salah satu tokohnya. Beberapa saat sehabis hujan reda, A Tribute to Joko Pinurbo dipentaskan di gedung sositet TBY. Butet Kartaredjasa tetap hadir membaca dua buah puisi Jokpin, padahal baru saja melepas kepergian selamanya adik tercinta. Ternyata beliau mengamalkan ajaran bapaknya, "Dalam situasi apa pun, tugas kesenian yang sudah disanggupi harus dijalankan. Seniman harus tetap menjadi manusia yang bertanggung jawab." Salut untuk Mas Butet. 

Beberapa artis membawakan karya Jokpin dengan gayanya masing-masing, termasuk sang penyair sendiri yang membaca puisi Satu Celana Berdua - yang pernah ditulisnya untuk Butet dan Djaduk Ferianto. Oppie Andaresta tampil terakhir menyanyikan sejumlah lagu yang merupakan musikalisasi puisi Joko Pinurbo, di antaranya Baju Bulan, Kepada Uang, Pacarkecilku, dan Hati Jogja. Diiringi oleh Bagus Mazasupa dkk dengan musiknya yang apik, beraneka rasa ditaburkan oleh Oppie. Ada yang syahdu, sendu, dan bahkan lucu sebagaimana puisi Jokpin. Salut dan terima kasih untuk Mbak Oppie dan semua yang mampu mewujudkan sebuah acara berkesan malam itu.

Setelah acara rampung kusalami Mas Bagus temanku di atas panggung. Sebelum pulang aku mendekati sang penyair untuk meminta tanda tangan beliau di buku Surat Kopi. Sebagai penggemar karyanya, memang baru lima buku Jokpin yang kumiliki. Hanya setidaknya ada satu di antaranya yang bertanda tangan penulisnya. Matur nuwun, Mas Jokpin.  

Kamis, 31 Oktober 2019

Sepekan Terakhir di TBY


Dalam sepekan terakhir, lima hari di antaranya aku berada di TBY. Tiga kali menjalani latihan bersama anak asuh Pak Sigit sebagai persiapan awal pementasan operet November mendatang.  Sabtu (26/10) siang lebih dulu kutemui Latief untuk mengambil hadiah dari Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta dan @yogya.kata Terima kasih atas kaus baru yang kudapatkan di hari Sabtu yang bertepatan dengan Hari Bersastra Yogya.

Siang itu kuikuti Sarasehan Komunitas Sastra DIY dan malamnya aku kembali di ruang seminar guna menyimak Bincang-Bincang Sastra Edisi 169. Ada sejumlah teman kusapa di tempat itu. Menjelang tengah malam aku baru pulang sehabis diajak panitia mencicipi nasi tumpeng. Selamat ulang tahun untuk SPS. Semoga panjang umur dan terus mewarnai dunia sastra maupun kesenian di Yogyakarta. 


Selasa (29/10) dan Rabu (30/10) malam aku menyaksikan Parade Teater Linimasa #2 "Toleransi & Regenerasi" di concert hall. Pada hari pertama yang menampilkan Dag-Dig-Gerr..!! (PMY) dan Mak Comblang (Teater Bosa), kursi penonton cukup banyak yang kosong. Namun, pada hari kedua yang menampilkan Cinta Dalam Sepotong Tahu (Kelompok QQ) dan Cintraka (Roemah Kreatif Sastro Mbeling), penonton memenuhi gedung pertunjukan. 

Selasa, 30 Juli 2019

Pentas AFC TBY di TMII Diliput KR


Pementasan operet Putri Air persembahan AFC (Art for Children) TBY di Anjungan Jogja TMII Jakarta pada Minggu (28/7/19) diliput oleh Kedaulatan Rakyat dan diberitakan pada edisi Senin (29/7/19).



Kamis, 06 Oktober 2016

Desaku (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak "Desaku" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal (asuhan Pak Sigit) dengan diiringi anak-anak ensembel musik (asuhan Mas Ghana dan Mbak Dewi) dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Konsep Art for Children TBY

Konsep AFC (Art for Children) meletakkan seni bukan semata-mata sebagai ekspresi estetika, tetapi seni sebagai media pembelajaran bersama. Seni sebagai jalan untuk menemukan potensi lain yang ada pada anak. Pendekatan pembelajaran semacam itu, akan menekankan pada proses belajar melalui seni. Seni adalah cara membuka kemungkinan-kemungkinan bagi tumbuh kembangnya pribadi anak yang unik. Sesuatu yang murni ekspresi anak-anak. Oleh karena itu, tidak ada tempat bagi penyeragaman berekspresi. 
Metode pembelajaran mengedepankan partisipasi anak secara maksimal. Pembimbing bukan sebagai guru, melainkan sebagai teman bermain bersama. Dalam proses bermain bersama-sama itulah, pembimbing membuka katup-katup ekspresi kreatif anak-anak. Pembimbing memberikan dasar-dasar berolah seni sebagai cara membuka katup-katup itu. Di mana akhirnya anak-anak diantarkan pada keunikan masing-masing dalam berekspresi.
Cara-cara di atas ditempuh agar AFC tidak saja berbeda dengan sanggar-sanggar seni yang lain. Sanggar-sanggar yang semata-mata memberikan keterampilan teknis dalam berekspresi. Lebih penting dari itu, AFC memilih menyemai, memupuk, dan merawat bibit-bibit yang kelak diharapkan tumbuh menjadi tanaman yang beraneka. Demikianlah pembelajaran seni yang diangankan AFC. 

Seni vokal memiliki mekanisme dan tahapan pembelajaran yang telah digariskan. Anak-anak harus menguasai teknik pernafasan dan teknik vokal yang benar sebelum menyanyi. Anak-anak juga harus mampu melakukan interpretasi terhadap lagu agar makna lagu terjaga. Artikulasi dan pembawaan mendapatkan prioritas agar penampilan terjaga. Melalui pembelajaran semacam ini, secara tidak langsung anak-anak mengenal karakter suaranya. Memupuk empati ketika bersentuhan dengan lirik dan nada-nada yang diekspresikan.

Seni menjadi sebuah cara mengenal yang tersimpan dalam setiap anak. Termasuk dalam memupuk kepekaan dan keterampilan mengolah unsur-unsur visual. Sejak awal telah diangankan bahwa pembelajaran seni di AFC menolak penyeragaman. Seni rupa dapat di jadikan contoh tentang penolakan penyeragaman dengan cara mengenal, merespon, mengeksplorasi, dan mengkreasikan bermacam-macam media. Proses pembelajaran seni rupa menanamkan sejak dini, bahwa seni rupa memiliki lingkup yang luas.

(Nanang Arizona dalam "Art for Children : Merawat Dunia Seni Anak-Anak")

Rabu, 10 Agustus 2016

Garuda Muda (Konser Musik Anak & Remaja "Save Our Children")



Lagu anak-anak "Garuda Muda" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh Sasana Adisvara, PS SD Joannes Bosco, Art for Children, dan seluruh artis pendukung, dengan diiringi Ansamble Anak Nusantara asuhan Dwipa Hanggana Prabawa, dalam Konser Musik Anak & Remaja "Save Our Children" pada Sabtu, 30 Juli 2016 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh Ira Pisundra.

Selasa, 26 April 2016

Ke Sekolah (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak "Ke Sekolah" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal (asuhan Pak Sigit) dengan diiringi anak-anak ensembel musik (asuhan Mas Ghana dan Mbak Dewi) dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Menyanyi dan Menari (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak berjudul "Menyanyi dan Menari" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Sabtu, 19 Maret 2016

Liburanku (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak "Liburanku" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal (asuhan Pak Sigit) dengan diiringi anak-anak ensembel musik (asuhan Mas Ghana dan Mbak Dewi) dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Bermain (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak berjudul "Bermain" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Sabtu, 06 Februari 2016

Jingle AFC (Art for Children) Taman Budaya Yogyakarta



Lagu "Jingle AFC TBY" karya Dwipa Hanggana Prabawa dan Dewi Kurniawati, dinyanyikan oleh anak-anak vokal (asuhan Pak Sigit) dengan diiringi anak-anak ensembel musik (asuhan Mas Ghana dan Mbak Dewi) dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Jumat, 29 Januari 2016

Ruang Alternatif Anak-anak Berkesenian

AFC (Art for Children) digagas sebagai ruang alternatif bagi anak-anak untuk kembali menemukan dunianya. Semacam ruang dimana terdapat mata air kecil bagi anak-anak membasuh diri agar memperoleh sedikit kejernihan dan kesejukan. Ruang di mana anak-anak bergembira dan nyaman mengekspresikan dirinya melalui media seni. Anak-anak dituntun pulang ke dalam dirinya untuk merawat kembali imajinasinya. 
(Nanang Arizona dalam "Art for Children : Merawat Dunia Seni Anak-anak")

Selasa, 26 Januari 2016

Sekuntum Mawar (Nadine dkk/Operet "Bumiku Indah" AFC TBY)



Lagu "Sekuntum Mawar" karya AT.Mahmud; dinyanyikan oleh Nadine Nabila, Aya, Naya, dan Zahra dalam operet "Bumiku Indah" di acara Pekan Seni AFC (Art for Children) 2015 pada 11 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi (ayah Nadine).

Hanya Satu (Eben/Operet "Bumiku Indah" AFC TBY)




Lagu "Hanya Satu" (Mocca) dinyanyikan oleh Eben Valentino Manalu dalam operet "Bumiku Indah" di acara Pekan Seni AFC (Art for Children) 2015 pada 11 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh Jeksen Manalu (ayah Eben).

Selasa, 12 Januari 2016

Burung Kenari (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak berjudul "Burung Kenari" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Riang-Riang (Art for Children TBY)




Lagu anak-anak berjudul "Riang-Riang" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam pentas musik Pekan Seni AFC  2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pekan Seni Anak AFC Awal Oktober 2014



Penampilan bersama anak-anak musik dan vokal AFC di TBY (6/10).

Operet "Pinokio" di Concert Hall TBY (7/10).

Penampilan anak-anak vokal dalam operet "Cindelaras" di Concert Hall TBY (7/10).

Kolaborasi anak-anak teater, tari, dan vokal dalam operet "Cindelaras".



Para pengajar AFC : Pak Sigit, Mbak Yayuk, Mbak Tere, Mbak Utik, saya, dan Mas Broto.
Foto-foto karya M. Jauhar Al Hakimi.

Senin, 10 Desember 2012

Semaraknya ‘Gelar Seni Anak 2012 - Art for Children’ di Taman Budaya Yogyakarta


Pekan terakhir bulan November 2012 menjadi saat yang mengesankan bagi anak-anak dan remaja peserta program Art for Children (AFC). Taman Budaya Yogyakarta (TBY) telah menggelar Gelar Seni Anak 2012 pada 25 - 30 November 2012. Kegiatan yang merupakan puncak acara program AFC tersebut melibatkan lebih dari 200 peserta. Program AFC bertujuan agar anak bisa bekerja sama, mengenal toleransi, dan kritis. Pendidikan kesenian dan pengalaman berkesenian sangat penting untuk pertumbuhan yang sehat bagi anak-anak, baik pertumbuhan mental maupun jiwa. Sri Eka Kusumaningayu -sebagai ketua panitia- menjelaskan acara ini digelar untuk lebih menciptakan ruang ekspresi dan kreativitas anak-anak di Yogyakarta.

Karya seni rupa anak-anak AFC (jogjanews.com).
Gelar Seni Anak program AFC ini diisi dengan berbagai acara, yaitu : workshop dolanan anak, lomba pidato bahasa Jawa, lomba dolanan bocah, dan lomba membaca aksara Jawa, yang merupakan kerja sama TBY dengan pihak swasta yang peduli kepada anak-anak dan kebudayaan Jawa. Pentas musik dan paduan suara menjadi acara pembukaannya, sedangkan operet anak 'Petuah Sang Garuda' menjadi puncak acaranya. Sementara itu di lobi concert hall dipamerkan hasil karya seni rupa dari anak-anak AFC.

Pentas Musik dan Paduan Suara AFC
Pentas musik dan paduan suara AFC diselenggarakan pada Minggu sore, 25 November 2012 di concert hall. Sesi pertama dan ketiga menampilkan paduan suara AFC di bawah pimpinan R.Sigit Eko Riyanto membawakan sejumlah lagu bertema nasionalisme, yaitu : Di Timur Matahari, Indonesia Subur, Garuda Pancasila, Pada Pahlawan, Bangun Pemudi-Pemuda, Berkibarlah Benderaku, dan Maju Tak Gentar. Musik yang mengiringinya adalah musik yang telah diprogram (MIDI) dengan apik oleh Haryo yang pernah belajar di Jurusan Musik UNY. Beberapa puisi yang dibawakan oleh empat remaja peserta teater AFC menjadi semacam pengantar untuk lagu-lagu patriotik, yang diharapkan mampu menggugah kembali semangat dan cinta kita kepada tanah air Indonesia.  

Pentas musik dan paduan suara AFC di concert hall (jogjanews.com).
Setelah itu ansambel musik AFC yang diasuh oleh Dewi Kurniawati (sebagai dirigen), Dwipa Hanggana, dan Adi Dharmawan membawakan sejumlah lagu secara instrumentalia, yaitu :  Anak Gembala, Paman Datang, Papaya Chacha, Beautiful, Rasa Sayange, Ambilkan Bulan, dan Medley Transportasi (Becak, Delman, Kereta Api). Sesi terakhir, dengan seluruhnya diiringi musik orkestra, disenandungkanlah lagu Untuk Mama dan Laskar Pelangi yang dinyanyikan secara solo oleh M.Talza Prayoga dan Josi Aspratiwi. Selanjutnya lagu-lagu nasional : Satu Nusa Satu Bangsa, Dari Sabang Sampai Merauke, dan Indonesia Pusaka dinyanyikan oleh paduan suara, serta Meraih Mimpi yang dinyanyikan oleh Gabriela Vibra menjadi lagu penutupnya.

“Kami cinta kau, kami cinta kau sepanjang umur, ya umur.” (Indonesia Subur – Moh.Safei)


Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (Pritameani).
Operet AFC ’Petuah Sang Garuda’
Pementasan operet kolaborasi anak 'Petuah Sang Garuda' yang menampilkan sekitar 150 anak peserta program AFC digelar pada Jumat malam, 30 November 2012 di concert hall. Untuk mementasakan operet tersebut, mereka telah berlatih bersama selama satu bulan di TBY. Operet merupakan hasil kerja sama para peserta seni tari, seni vokal, dan seni drama. Broto Wijayanto, sang sutradara operet menjelaskan bahwa selain untuk menguji mental anak didik AFC, operet tersebut juga sebagai ruang berapresiasi kepada masyarakat. 


Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (jogjanews.com).
Operet yang berlangsung sekitar 40 menit ini mengisahkan tingkah laku para hewan di hutan yang sudah saling tidak rukun. Bermula dari kawanan singa yang lcik, sombong, dam mulai bertindak kasar terhadap hewan lain yang mereka anggap lemah. Lalu ketika singa mengalami kesusahan, hewan-hewan lain tidak ingin membantunya karena merasa dendam. Mereka pun akhirnya adar dan bersedia membantu singa terlepas dari masalahnya. Pesan dari kisah 'Petuah Sang Garuda' adalah jangan sombong dan suka menang sendiri, lantaran kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang/makhluk lain.

Selain tema ceritanya yang mendidik, ada sejumlah adegan yang menimbulkan riuh rendah suara penonton. Seperti halnya ketika bocah-bocah cilik yang memerankan kawanan tikus tiba-tiba datang mengikuti si tikus wirog (diperankan oleh Pak Broto) untuk membantu membebaskan singa dari perangkap. Tingkah laku mereka yang susah diatur dan spontan membuat para penonton tertawa. Lagu-lagu yang mewarnai operet (Lagu Sunyi, Garuda Muda, Kancil dan Singa, Belajar dari Air, Setia pada Janji, Nyanyian Binatang, dan Kupu-kupu) diciptakan oleh Pak Sigit (berperan sebagai sang garuda), kecuali Gembira Berkumpul yang menjadi lagu pembuka sekaligus penutup operet. Yang jelas, semua pihak akhirnya merasa puas dan gembira, baik kami yang tampil di panggung dan berada di belakang layar, orang tua serta keluarga anak-anak AFC, serta semoga demikian pula segenap penonton yang hadir malam itu.

"Burung Garuda pemersatunya, dengan semboyan saktinya. Bhinneka Tunggal Ika bunyinya, meski berbeda satu jua. Marilah kawan, bergandeng tangan. Kita menjaga kerukunan." (Garuda Muda - Sigit ER)

# Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.
Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (jogjanews.com).

Jumat, 12 Oktober 2012

Rangkuman Aktivitas Seni di Yogyakarta Tahun 2012

Selama tahun 2012 saya lebih banyak mengutip pernyataan sarat makna dari sejumlah seniman dan budayawan. Itulah salah satu wujud apresiasi saya terhadap mereka. Namun sekarang saya mencoba merangkum kegiatan kesenian di Yogyakarta yang saya ikuti perkembangannya, sebagai wujud apresiasi jua, seperti halnya yang pernah saya tulis pada tahun-tahun sebelumnya.

Selama Agustus-September 2012 ada cukup banyak pertunjukan impresif yang saya hadiri.
Pada Sabtu (25/8) saya mengikuti acara Bincang-bincang Sastra yang bertema ‘Membaca Rendra’ di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Terdapat pembacaan puisi oleh Hari Leo, Dinar S, Latif, dan Novi, musikalisasi puisi oleh Untung Basuki, serta testimoni dari Fajar Suharno (murid dan sahabat Rendra). Sayangnya acara tersebut hanya berlangsung selama satu jam, terlalu singkat rasanya untuk membaca Rendra - sebagaimana judul acara itu. Apalagi jika mengingat bahwa setahun sebelumnya, acara mengenang wafatnya Rendra di Karta Pustaka berlangsung beberapa jam hingga lewat tengah malam.

Pada 27-31 Agustus 2012 berlangsunglah acara Festival Teater Jogja dengan tema ‘Pahlawan Kampung’ di Gedung Sositet TBY. Saya selalu tidak kebagian kursi ketika tiga kali menjadi penontonnya, yaitu pada hari Senin (27/8) ‘Nggoleki Jimate Basiyo’ dari Teater Kandang Jaran, Selasa (28/8) dengan lakon ‘Move On’ dari Teater Rock n’ Roll, dan Jumat (30/8) ‘Pak Dalang’ dari Behind Teater (BETA). Ketiga pentas teater tersebut sangat berbeda satu sama lain. Teater Kandang Jaran menyajikan lakon dalam bahasa Jawa, Teater Rock n’ Roll menampilkan drama musikal, sementara BETA memilih pendekatan komedi, menggunakan properti wayang raksasa, dan sempat melibatkan penonton pula dalam pertunjukannya.

Pertunjukan Teater Boneka Pappermoon : Mwathirika

Sebagai selingannya, saya melihat Pertunjukan Teater Boneka Papermoon, dengan judul lakon ‘Mwathirika’ di Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo (PSBK) Kasihan Bantul pada hari Kamis (29/8). Cerita berlatar belakang tragedi 1965 tersebut menjadi acara pamitan sebelum grup Pappermoon pentas di Amerika Serikat, sekaligus penggalangan dana untuk Pesta Boneka #3 yang rencananya diadakan pada Desember 2012 nanti.

Bulan September 2012 diawali dengan nonton aksi gitaris Balawan (yang diiringi komunitas Jazz Mben Senen) di Museum Benteng Vredeburg pada Selasa (4/9), Jazz Mben Senen edisi Ismail Marzuki pada Senin (10/9) di Bentara Budaya, serta Gelar Eksperimentasi Karya Seni. Acara yang diselenggarakan oleh TBY itu menampilkan eksperimentasi seni musik ‘Kulon Kangin’ dari Bayu Citra Raharja dengan BCR Project pada Selasa (11/9), eksperimentasi karya seni karawitan ‘Kebar Pradangga’ dari Anon Suneko, Tulus Widodo, dan Welly Hendratmoko pada Kamis (13/9), dan ketoprak (yang tidak saya saksikan) pada Sabtu (15/9) di Gedung Sositet TBY. 

BCR (Bayu Citra Raharja) Project : Kulon Kangin di Sositet TBY

Penampilan Bayu Citra Raharja dkk bukan sekadar pentas musik, melainkan pertunjukan multimedia yang menarik. Tersebutlah kisah ‘Petualangan Sang Cahaya’ yang dibawakan oleh seorang narator yang teatrikal (dibawakan dengan atraktif oleh Rocy Marciano) mengiringi lagu demi lagu, yang sesekali dihiasi tarian dari WE Dancer. BCR Project sendiri terdiri dari beberapa pemain yang memainkan alat musik internasional (drum, keyboard, gitar, bass, saxophone), lalu beberapa alat musik etnis (kendang, suling, gamelan Bali), dan marimba/vibraphone yang dimainkan sendiri oleh Bayu selaku sang komponis. Pada hari Kamis, seusai melihat karawitan eksperimental di sositet, saya bersama penonton lainnya beranjak menyaksikan pertunjukan lain yang rupanya sedang berlangsung di Amphitheater TBY. Ada sebuah seni tradisi dari sebuah daerah di Indonesia (maaf, entah dari mana - saya kurang informasi) yang sangat bersemangat menari diiringi musik tambur. Setelah itu kami menonton pentas teater kolaborasi ‘Pak Tani dan Iblis’ dari para seniman Indonesia-Thailand-Myanmar. Unik sekali karena mereka berkomunikasi dengan bahasanya masing-masing plus bahasa Inggris. Sebagai penutup, tampillah sebuah kelompok teater dari Kulon Progo yang menceritakan keresahan mereka terhadap penambangan pasir besi di daerahnya.

Jogja International Street Performance di TBY 

Akhirnya pada Jumat (28/9) saya menonton Jogja International Street Performance (JISP), sebuah acara yang menampilkan seniman jalanan dari beragam negara. Penonton yang hadir sangat banyak membuat Gedung Sositet TBY sesak sekali. Bahkan saya sendiri melihat aksi para artis dari Indonesia, Spanyol, Belanda, India, dan Jepang itu tepat di pintu samping selatan dengan berdesak-desakan. Acara serupa tahun lalu diadakan di Concert Hall, antusiasme penonton pun mendapat tempat yang memadai. Sayangnya, ruang pertunjukan terbesar di TBY tersebut sedang dalam proses renovasi, sehingga tidak bisa digunakan untuk sementara waktu. Pada tanggal 29-30 September dan 1 Oktober 2012 sebenarnya masih ada pertunjukan menarik Jogja International Art Performances Festival (JIPA) di TBY dan ISI Yogyakarta, tapi saya tidak bisa menghadirinya.

Sebelumnya, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) edisi tahun ini saya absen nonton, setelah selama empat tahun berturut-turut (2008-2011) selalu menyaksikannya di Concert Hall TBY. Faktor tempat pertunjukan yang dipindah ke Pusat Kebudayaan Prof.Koesnadi Hardjasoemantri (Purna Budaya) menjadi salah satu alasannya. Sementara itu pameran seni ART JOG 2012 yang mengubah wajah TBY selama beberapa pekan di bulan Juli 2012 menjadi sesuatu yang berkesan bagi saya. Sampai dua kali saya menyimak karya-karya spektakuler yang dipamerkan. 


ART JOG 2012 di TBY

Acara lain yang menarik di bulan Juli, yaitu pentas band ’Angin Timur’ yang beraliran rock progresif dan dalam beberapa lagunya dibantu kesenian Didong dari Aceh di Auditorium Pascasarjana ISI serta Jagongan Wagen menampilkan ’Maya Dance Theater’ dari Singapura dan pertunjukan musik etnik garapan pemuda-pemudi kreatif Jogja di PSBK Kasihan Bantul. Sementara itu ketika Juni 2012 saya sempat menyimak aksi dan kisah hidup dari gitaris Jubing Krsitianto di Bentara Budaya Yogyakarta.