Tampilkan postingan dengan label BBY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBY. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Februari 2020

Jazz Mben Senen 10 Tahun


Jazz Mben Senen pada malam itu (17/2/2020) terasa istimewa karena bertepatan dengan 10 tahun acara yang rutin berlangsung di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta tersebut. Begitu banyak artis yang tampil. Waktu masih menunjukkan kurang dari jam 9 malam ketika saya datang, tapi pertunjukan sudah berlangsung mungkin lebih dari satu jam. Mereka yang mengisi acara, antara lain Magnitudo, Ronarua (Richard Simanjuntak dkk), Everyday, Mokshanova, Berdua Saja, MUCHICHOIR, Tricodato, dan Jogja Collective Jazz Big Band. Jika biasanya jam 12 malam menjadi penanda akhir acara, tapi lantaran hajatan spesial maka menjelang jam 1 dini hari masih ada grup band dengan personel seabrek yang unjuk kebolehan dengan dominan brass section-nya.


Jumat, 12 Oktober 2012

Rangkuman Aktivitas Seni di Yogyakarta Tahun 2012

Selama tahun 2012 saya lebih banyak mengutip pernyataan sarat makna dari sejumlah seniman dan budayawan. Itulah salah satu wujud apresiasi saya terhadap mereka. Namun sekarang saya mencoba merangkum kegiatan kesenian di Yogyakarta yang saya ikuti perkembangannya, sebagai wujud apresiasi jua, seperti halnya yang pernah saya tulis pada tahun-tahun sebelumnya.

Selama Agustus-September 2012 ada cukup banyak pertunjukan impresif yang saya hadiri.
Pada Sabtu (25/8) saya mengikuti acara Bincang-bincang Sastra yang bertema ‘Membaca Rendra’ di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Terdapat pembacaan puisi oleh Hari Leo, Dinar S, Latif, dan Novi, musikalisasi puisi oleh Untung Basuki, serta testimoni dari Fajar Suharno (murid dan sahabat Rendra). Sayangnya acara tersebut hanya berlangsung selama satu jam, terlalu singkat rasanya untuk membaca Rendra - sebagaimana judul acara itu. Apalagi jika mengingat bahwa setahun sebelumnya, acara mengenang wafatnya Rendra di Karta Pustaka berlangsung beberapa jam hingga lewat tengah malam.

Pada 27-31 Agustus 2012 berlangsunglah acara Festival Teater Jogja dengan tema ‘Pahlawan Kampung’ di Gedung Sositet TBY. Saya selalu tidak kebagian kursi ketika tiga kali menjadi penontonnya, yaitu pada hari Senin (27/8) ‘Nggoleki Jimate Basiyo’ dari Teater Kandang Jaran, Selasa (28/8) dengan lakon ‘Move On’ dari Teater Rock n’ Roll, dan Jumat (30/8) ‘Pak Dalang’ dari Behind Teater (BETA). Ketiga pentas teater tersebut sangat berbeda satu sama lain. Teater Kandang Jaran menyajikan lakon dalam bahasa Jawa, Teater Rock n’ Roll menampilkan drama musikal, sementara BETA memilih pendekatan komedi, menggunakan properti wayang raksasa, dan sempat melibatkan penonton pula dalam pertunjukannya.

Pertunjukan Teater Boneka Pappermoon : Mwathirika

Sebagai selingannya, saya melihat Pertunjukan Teater Boneka Papermoon, dengan judul lakon ‘Mwathirika’ di Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo (PSBK) Kasihan Bantul pada hari Kamis (29/8). Cerita berlatar belakang tragedi 1965 tersebut menjadi acara pamitan sebelum grup Pappermoon pentas di Amerika Serikat, sekaligus penggalangan dana untuk Pesta Boneka #3 yang rencananya diadakan pada Desember 2012 nanti.

Bulan September 2012 diawali dengan nonton aksi gitaris Balawan (yang diiringi komunitas Jazz Mben Senen) di Museum Benteng Vredeburg pada Selasa (4/9), Jazz Mben Senen edisi Ismail Marzuki pada Senin (10/9) di Bentara Budaya, serta Gelar Eksperimentasi Karya Seni. Acara yang diselenggarakan oleh TBY itu menampilkan eksperimentasi seni musik ‘Kulon Kangin’ dari Bayu Citra Raharja dengan BCR Project pada Selasa (11/9), eksperimentasi karya seni karawitan ‘Kebar Pradangga’ dari Anon Suneko, Tulus Widodo, dan Welly Hendratmoko pada Kamis (13/9), dan ketoprak (yang tidak saya saksikan) pada Sabtu (15/9) di Gedung Sositet TBY. 

BCR (Bayu Citra Raharja) Project : Kulon Kangin di Sositet TBY

Penampilan Bayu Citra Raharja dkk bukan sekadar pentas musik, melainkan pertunjukan multimedia yang menarik. Tersebutlah kisah ‘Petualangan Sang Cahaya’ yang dibawakan oleh seorang narator yang teatrikal (dibawakan dengan atraktif oleh Rocy Marciano) mengiringi lagu demi lagu, yang sesekali dihiasi tarian dari WE Dancer. BCR Project sendiri terdiri dari beberapa pemain yang memainkan alat musik internasional (drum, keyboard, gitar, bass, saxophone), lalu beberapa alat musik etnis (kendang, suling, gamelan Bali), dan marimba/vibraphone yang dimainkan sendiri oleh Bayu selaku sang komponis. Pada hari Kamis, seusai melihat karawitan eksperimental di sositet, saya bersama penonton lainnya beranjak menyaksikan pertunjukan lain yang rupanya sedang berlangsung di Amphitheater TBY. Ada sebuah seni tradisi dari sebuah daerah di Indonesia (maaf, entah dari mana - saya kurang informasi) yang sangat bersemangat menari diiringi musik tambur. Setelah itu kami menonton pentas teater kolaborasi ‘Pak Tani dan Iblis’ dari para seniman Indonesia-Thailand-Myanmar. Unik sekali karena mereka berkomunikasi dengan bahasanya masing-masing plus bahasa Inggris. Sebagai penutup, tampillah sebuah kelompok teater dari Kulon Progo yang menceritakan keresahan mereka terhadap penambangan pasir besi di daerahnya.

Jogja International Street Performance di TBY 

Akhirnya pada Jumat (28/9) saya menonton Jogja International Street Performance (JISP), sebuah acara yang menampilkan seniman jalanan dari beragam negara. Penonton yang hadir sangat banyak membuat Gedung Sositet TBY sesak sekali. Bahkan saya sendiri melihat aksi para artis dari Indonesia, Spanyol, Belanda, India, dan Jepang itu tepat di pintu samping selatan dengan berdesak-desakan. Acara serupa tahun lalu diadakan di Concert Hall, antusiasme penonton pun mendapat tempat yang memadai. Sayangnya, ruang pertunjukan terbesar di TBY tersebut sedang dalam proses renovasi, sehingga tidak bisa digunakan untuk sementara waktu. Pada tanggal 29-30 September dan 1 Oktober 2012 sebenarnya masih ada pertunjukan menarik Jogja International Art Performances Festival (JIPA) di TBY dan ISI Yogyakarta, tapi saya tidak bisa menghadirinya.

Sebelumnya, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) edisi tahun ini saya absen nonton, setelah selama empat tahun berturut-turut (2008-2011) selalu menyaksikannya di Concert Hall TBY. Faktor tempat pertunjukan yang dipindah ke Pusat Kebudayaan Prof.Koesnadi Hardjasoemantri (Purna Budaya) menjadi salah satu alasannya. Sementara itu pameran seni ART JOG 2012 yang mengubah wajah TBY selama beberapa pekan di bulan Juli 2012 menjadi sesuatu yang berkesan bagi saya. Sampai dua kali saya menyimak karya-karya spektakuler yang dipamerkan. 


ART JOG 2012 di TBY

Acara lain yang menarik di bulan Juli, yaitu pentas band ’Angin Timur’ yang beraliran rock progresif dan dalam beberapa lagunya dibantu kesenian Didong dari Aceh di Auditorium Pascasarjana ISI serta Jagongan Wagen menampilkan ’Maya Dance Theater’ dari Singapura dan pertunjukan musik etnik garapan pemuda-pemudi kreatif Jogja di PSBK Kasihan Bantul. Sementara itu ketika Juni 2012 saya sempat menyimak aksi dan kisah hidup dari gitaris Jubing Krsitianto di Bentara Budaya Yogyakarta.

Kamis, 09 Oktober 2008

Memetik Hikmah dari Ki Slamet Gundono

Sepanjang Ramadhan lalu hanya ada sebuah pertunjukan seni yang kuhadiri. Jumat malam (26/9) aku di-sms Yoke sahabatku bahwa ada Slamet Gundono di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) saat itu. Langsung aku beranjak menuju daerah Kotabaru dan mengikuti acara bertajuk "Gusti Kang Maha Dalang, Musik Mistikal, dan Guyonan Pesantren" dengan artis Ki Slamet Gundono, dalang nyentrik asal Tegal bersama kelompok musiknya. Tampil pula Mbah Prapto, seorang penari yang sudah sepuh, tapi masih sigap gerakannya, dan Mas Miroto, seorang penari profesional dan aktor utama film “Opera Jawa” yang menjadi bagian dari pertunjukan. Selain membawakan beberapa lagu yang kadang disertai tarian, ada banyak hal yang disampaikan oleh ki dalang.

Ada sejumlah hikmah yang dapat kupetik dan sedikit yang kucatat di sini : Keindahan di dunia tidak terletak pada harta, benda, dan rupa. Keindahan dapat dirasakan pada kasih sayang Tuhan pada hamba-Nya, juga dapat dilihat pada kasih sayang serta keikhlasan ibu pada anaknya. Hanya orang yang tak pernah menyakiti orang lain yang boleh mengharapkan lailatul qadar. Memang tidak mudah untuk tidak pernah menyakiti, karena diam saja pun kadang bisa menyakiti orang lain. Idul Fitri adalah momentum luar biasa untuk dapat saling memaafkan. Entah siapa dulu yang menciptakan tradisi yang hebat tersebut, salut dan terima kasih untuknya.

Ada salah satu cerita lucu dari pesantren yang disampaikan ki dalang, yang ternyata ada hikmahnya pula. Saat itu Slamet Gundono dan teman-temannya di pesantren akan melakukan pertandingan sepakbola. Terinspirasi oleh pemain luar negeri yang merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhannya, Slamet pun meminta usul dari teman-teman setimnya. Ternyata ada salah satunya yang telah memiliki ide, tapi masih dirahasiakannya. Maka ketika gol tercipta, teman Slamet itu pun berlari ke pinggir lapangan, merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhan, dengan cara menjalankan shalat dua rakaat !
Akhirnya ada satu nasihat dari pak kiai -guru Slamet di pesantren- bahwa Islam adalah sesuatu yang tak perlu dipamer-pamerkan dan agama adalah sesuatu yang tidak untuk dipaksa-paksakan. Rasanya ada pencerahan dan kubawa hikmah pulang ke rumah dari BBY malam itu. Tak jadi masalah Yoke pulang mendahuluiku, lalu sempat kusapa Gunawan Maryanto dan Tomi Simatupang belaka seusai pertunjukan.