Tampilkan postingan dengan label idul fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label idul fitri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2022

10 Hari Awal Mei


Dalam 10 hari awal Mei 2022 sejumlah kejadian berkesan telah dilewati. Hari pertama Mei 2022 adalah hari terakhir Ramadan 1443 H. Setelah buka puasa pamungkas, hujan turun sekejap pada malam takbiran. Pada hari berikutnya, untuk pertama kalinya kami kembali melaksanakan shalat Idul Fitri secara berjamaah di tanah lapang, setelah dua tahun masa pandemi kami melakukannya di rumah saja. Yogyakarta selama beberapa hari menjadi lebih sesak karena begitu banyak yang melakukan mudik tahun ini. Pertanda situasi dan kondisi bangsa ini sudah kian membaik sebenarnya. 

Kami berkesempatan berkumpul lagi dengan saudara-saudara, termasuk bertemu mereka yang sudah lama tidak pulang ke Yogyakarta. Pelbagai kisah pun dibicarakan. Beraneka ragam makanan dan minuman yang terhidang pun dinikmati bersama. Sukacita yang tercipta terasa berbeda. 

Berziarah ke makam orangtua dan para pamong di makam Karangkajen, TMP Kusumanegara, dan Taman Wijaya Brata kembali dilakukan tahun ini. Semoga mereka yang sudah tiada baik-baik kabarnya di alam sana. Semoga kami bisa tetap melanjutkan jejak-jejak kebaikan mereka di atas buana. Selagi waktu masih ada.

(LSP)



Rabu, 05 Juni 2019

Selamat Idulfitri 1440 H


Tinggi terbangnya si burung nuri
Sesekali ia hinggap di dahan
Saya mengucapkan Selamat Idulfitri
Segala kesalahan mohon dimaafkan


Kamis, 09 Oktober 2008

Memetik Hikmah dari Ki Slamet Gundono

Sepanjang Ramadhan lalu hanya ada sebuah pertunjukan seni yang kuhadiri. Jumat malam (26/9) aku di-sms Yoke sahabatku bahwa ada Slamet Gundono di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) saat itu. Langsung aku beranjak menuju daerah Kotabaru dan mengikuti acara bertajuk "Gusti Kang Maha Dalang, Musik Mistikal, dan Guyonan Pesantren" dengan artis Ki Slamet Gundono, dalang nyentrik asal Tegal bersama kelompok musiknya. Tampil pula Mbah Prapto, seorang penari yang sudah sepuh, tapi masih sigap gerakannya, dan Mas Miroto, seorang penari profesional dan aktor utama film “Opera Jawa” yang menjadi bagian dari pertunjukan. Selain membawakan beberapa lagu yang kadang disertai tarian, ada banyak hal yang disampaikan oleh ki dalang.

Ada sejumlah hikmah yang dapat kupetik dan sedikit yang kucatat di sini : Keindahan di dunia tidak terletak pada harta, benda, dan rupa. Keindahan dapat dirasakan pada kasih sayang Tuhan pada hamba-Nya, juga dapat dilihat pada kasih sayang serta keikhlasan ibu pada anaknya. Hanya orang yang tak pernah menyakiti orang lain yang boleh mengharapkan lailatul qadar. Memang tidak mudah untuk tidak pernah menyakiti, karena diam saja pun kadang bisa menyakiti orang lain. Idul Fitri adalah momentum luar biasa untuk dapat saling memaafkan. Entah siapa dulu yang menciptakan tradisi yang hebat tersebut, salut dan terima kasih untuknya.

Ada salah satu cerita lucu dari pesantren yang disampaikan ki dalang, yang ternyata ada hikmahnya pula. Saat itu Slamet Gundono dan teman-temannya di pesantren akan melakukan pertandingan sepakbola. Terinspirasi oleh pemain luar negeri yang merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhannya, Slamet pun meminta usul dari teman-teman setimnya. Ternyata ada salah satunya yang telah memiliki ide, tapi masih dirahasiakannya. Maka ketika gol tercipta, teman Slamet itu pun berlari ke pinggir lapangan, merayakan gol dengan berterima kasih pada Tuhan, dengan cara menjalankan shalat dua rakaat !
Akhirnya ada satu nasihat dari pak kiai -guru Slamet di pesantren- bahwa Islam adalah sesuatu yang tak perlu dipamer-pamerkan dan agama adalah sesuatu yang tidak untuk dipaksa-paksakan. Rasanya ada pencerahan dan kubawa hikmah pulang ke rumah dari BBY malam itu. Tak jadi masalah Yoke pulang mendahuluiku, lalu sempat kusapa Gunawan Maryanto dan Tomi Simatupang belaka seusai pertunjukan.