Tampilkan postingan dengan label festival. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label festival. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Oktober 2012

Rangkuman Aktivitas Seni di Yogyakarta Tahun 2012

Selama tahun 2012 saya lebih banyak mengutip pernyataan sarat makna dari sejumlah seniman dan budayawan. Itulah salah satu wujud apresiasi saya terhadap mereka. Namun sekarang saya mencoba merangkum kegiatan kesenian di Yogyakarta yang saya ikuti perkembangannya, sebagai wujud apresiasi jua, seperti halnya yang pernah saya tulis pada tahun-tahun sebelumnya.

Selama Agustus-September 2012 ada cukup banyak pertunjukan impresif yang saya hadiri.
Pada Sabtu (25/8) saya mengikuti acara Bincang-bincang Sastra yang bertema ‘Membaca Rendra’ di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Terdapat pembacaan puisi oleh Hari Leo, Dinar S, Latif, dan Novi, musikalisasi puisi oleh Untung Basuki, serta testimoni dari Fajar Suharno (murid dan sahabat Rendra). Sayangnya acara tersebut hanya berlangsung selama satu jam, terlalu singkat rasanya untuk membaca Rendra - sebagaimana judul acara itu. Apalagi jika mengingat bahwa setahun sebelumnya, acara mengenang wafatnya Rendra di Karta Pustaka berlangsung beberapa jam hingga lewat tengah malam.

Pada 27-31 Agustus 2012 berlangsunglah acara Festival Teater Jogja dengan tema ‘Pahlawan Kampung’ di Gedung Sositet TBY. Saya selalu tidak kebagian kursi ketika tiga kali menjadi penontonnya, yaitu pada hari Senin (27/8) ‘Nggoleki Jimate Basiyo’ dari Teater Kandang Jaran, Selasa (28/8) dengan lakon ‘Move On’ dari Teater Rock n’ Roll, dan Jumat (30/8) ‘Pak Dalang’ dari Behind Teater (BETA). Ketiga pentas teater tersebut sangat berbeda satu sama lain. Teater Kandang Jaran menyajikan lakon dalam bahasa Jawa, Teater Rock n’ Roll menampilkan drama musikal, sementara BETA memilih pendekatan komedi, menggunakan properti wayang raksasa, dan sempat melibatkan penonton pula dalam pertunjukannya.

Pertunjukan Teater Boneka Pappermoon : Mwathirika

Sebagai selingannya, saya melihat Pertunjukan Teater Boneka Papermoon, dengan judul lakon ‘Mwathirika’ di Padepokan Seni Bagong Kussudiarjo (PSBK) Kasihan Bantul pada hari Kamis (29/8). Cerita berlatar belakang tragedi 1965 tersebut menjadi acara pamitan sebelum grup Pappermoon pentas di Amerika Serikat, sekaligus penggalangan dana untuk Pesta Boneka #3 yang rencananya diadakan pada Desember 2012 nanti.

Bulan September 2012 diawali dengan nonton aksi gitaris Balawan (yang diiringi komunitas Jazz Mben Senen) di Museum Benteng Vredeburg pada Selasa (4/9), Jazz Mben Senen edisi Ismail Marzuki pada Senin (10/9) di Bentara Budaya, serta Gelar Eksperimentasi Karya Seni. Acara yang diselenggarakan oleh TBY itu menampilkan eksperimentasi seni musik ‘Kulon Kangin’ dari Bayu Citra Raharja dengan BCR Project pada Selasa (11/9), eksperimentasi karya seni karawitan ‘Kebar Pradangga’ dari Anon Suneko, Tulus Widodo, dan Welly Hendratmoko pada Kamis (13/9), dan ketoprak (yang tidak saya saksikan) pada Sabtu (15/9) di Gedung Sositet TBY. 

BCR (Bayu Citra Raharja) Project : Kulon Kangin di Sositet TBY

Penampilan Bayu Citra Raharja dkk bukan sekadar pentas musik, melainkan pertunjukan multimedia yang menarik. Tersebutlah kisah ‘Petualangan Sang Cahaya’ yang dibawakan oleh seorang narator yang teatrikal (dibawakan dengan atraktif oleh Rocy Marciano) mengiringi lagu demi lagu, yang sesekali dihiasi tarian dari WE Dancer. BCR Project sendiri terdiri dari beberapa pemain yang memainkan alat musik internasional (drum, keyboard, gitar, bass, saxophone), lalu beberapa alat musik etnis (kendang, suling, gamelan Bali), dan marimba/vibraphone yang dimainkan sendiri oleh Bayu selaku sang komponis. Pada hari Kamis, seusai melihat karawitan eksperimental di sositet, saya bersama penonton lainnya beranjak menyaksikan pertunjukan lain yang rupanya sedang berlangsung di Amphitheater TBY. Ada sebuah seni tradisi dari sebuah daerah di Indonesia (maaf, entah dari mana - saya kurang informasi) yang sangat bersemangat menari diiringi musik tambur. Setelah itu kami menonton pentas teater kolaborasi ‘Pak Tani dan Iblis’ dari para seniman Indonesia-Thailand-Myanmar. Unik sekali karena mereka berkomunikasi dengan bahasanya masing-masing plus bahasa Inggris. Sebagai penutup, tampillah sebuah kelompok teater dari Kulon Progo yang menceritakan keresahan mereka terhadap penambangan pasir besi di daerahnya.

Jogja International Street Performance di TBY 

Akhirnya pada Jumat (28/9) saya menonton Jogja International Street Performance (JISP), sebuah acara yang menampilkan seniman jalanan dari beragam negara. Penonton yang hadir sangat banyak membuat Gedung Sositet TBY sesak sekali. Bahkan saya sendiri melihat aksi para artis dari Indonesia, Spanyol, Belanda, India, dan Jepang itu tepat di pintu samping selatan dengan berdesak-desakan. Acara serupa tahun lalu diadakan di Concert Hall, antusiasme penonton pun mendapat tempat yang memadai. Sayangnya, ruang pertunjukan terbesar di TBY tersebut sedang dalam proses renovasi, sehingga tidak bisa digunakan untuk sementara waktu. Pada tanggal 29-30 September dan 1 Oktober 2012 sebenarnya masih ada pertunjukan menarik Jogja International Art Performances Festival (JIPA) di TBY dan ISI Yogyakarta, tapi saya tidak bisa menghadirinya.

Sebelumnya, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) edisi tahun ini saya absen nonton, setelah selama empat tahun berturut-turut (2008-2011) selalu menyaksikannya di Concert Hall TBY. Faktor tempat pertunjukan yang dipindah ke Pusat Kebudayaan Prof.Koesnadi Hardjasoemantri (Purna Budaya) menjadi salah satu alasannya. Sementara itu pameran seni ART JOG 2012 yang mengubah wajah TBY selama beberapa pekan di bulan Juli 2012 menjadi sesuatu yang berkesan bagi saya. Sampai dua kali saya menyimak karya-karya spektakuler yang dipamerkan. 


ART JOG 2012 di TBY

Acara lain yang menarik di bulan Juli, yaitu pentas band ’Angin Timur’ yang beraliran rock progresif dan dalam beberapa lagunya dibantu kesenian Didong dari Aceh di Auditorium Pascasarjana ISI serta Jagongan Wagen menampilkan ’Maya Dance Theater’ dari Singapura dan pertunjukan musik etnik garapan pemuda-pemudi kreatif Jogja di PSBK Kasihan Bantul. Sementara itu ketika Juni 2012 saya sempat menyimak aksi dan kisah hidup dari gitaris Jubing Krsitianto di Bentara Budaya Yogyakarta.

Rabu, 05 Agustus 2009

Catatan Juli : YGF 2009



Setahun begitu lekas berlalu. Tahun 2008 lalu untuk pertama kalinya kusaksikan acara Yogyakarta Gamelan Festival di TBY. Dan tahun ini, pada 16-18 Juli 2009 silam sudah terselenggara kembali YGF untuk ke-14 kalinya. Yang tak kuduga, ternyata tahun lalu untuk pertama sekaligus terakhir kalinya kulihat kiprah Sapto Raharjo dalam YGF. Sekian bulan berselang beliau telah kembali ke haribaan Ilahi. Maka YGF 2009 adalah gawean besar pertama tanpa kehadiran sang pelopor dan dipersembahkan khusus untuk mengenang Sapto Raharjo (Tribute to Sapto Raharjo), sementara temanya adalah ’Gamelan Everywhere’.
Mas Jijit selaku pembawa acara –juga direktur YGF 2009- meminta para penonton yang memadati concert hall mengheningkan cipta sejenak untuk almarhum Mbah Sapto, menjelang kelompok pertama tampil. Yayasan Pamulangan Beksa Sasmita Mardawa menjadi pembuka pementasan hari pertama. Sebenarnya kelompok tersebut adalah komunitas tari dan semua yang tampil adalah para penari. Tapi mereka tak hanya menari, mereka juga memainkan gamelan, melantunkan tembang-tembang, dan sedikit berdrama pula. Penonton tampak terhibur dengan penampilan mereka dan ada dua orang yang kukenal di antara anggota kelompok tersebut. Kutiplak Ndang Tak menjadi artis kedua yang tampil. Keempat pemainnya tampil minimalis, baik secara kostum maupun alat musik yang dimainkannya. Awalnya mereka serius banget, apalagi kostumnya macam pertapa jaman baheula. Tapi sudah kuduga bahwa mereka bakal tampil kocak, seperti yang kubilang pada sepupuku yang nonton bersamaku. Akhirnya penonton tertawa melihat kepiawaian mereka mengeksplorasi tubuh dan suara. KPH 9 pimpinan Alex Dea menampilkan komposisi panjang, yang seperti ujian kesabaran bagi para penonton yang berusia muda, termasuk kami berdua. Agus Bing & Prabumi Ethnic Jazz Band kembali membangkitkan gairah penonton dengan nomor-nomor jazz. Nuansa etnik diwakili oleh suara kendang dan gender bonang, sementara ada pemain piano, bass, saxophone, dan drum di sisi lain. Penampilan selanjutnya dari Stupa, band campur gamelan lagi persembahan para mahasiswa UNY. Menarik juga. Ada jam session di akhir pertunjukan hari pertama. Mas Jijit menggantikan posisi Mbah Sapto sebagai komandan.
Hari kedua dibuka oleh Gita Rarya yang membawakan tembang dolanan anak dan dimainkan oleh mayoritas anak-anak dan remaja. Apa yang ditampilkan cukup mengundang senyuman para penonton. Kito Siopo menjadi artis berikutnya. Grup gamelan multinasional itu tampil lagi setelah tahun lalu, hanya personelnya sudah berubah. Alex Grillo & Friends tampil luar biasa dengan lagu-lagunya yang rancak. alex Grillo memainkan vibraphone dengan sangat lincah dan harmonis sekali dengan suara gamelan. Para pemainnya mayoritas adalah para kru yang biasanya mempersiapkan piranti musik. Mereka ternyata para pemusik sejati pula. Hebatnya, hampir setiap berganti lagu, para pemainnya berganti alat musik juga. Salut! Kelompok Singgayan dari Tolitoli Sulawesi Tengah menampilkan kesenian tradisionalnya yang ternyata menarik pula disimak. Sebagian besar pemainnya masih muda dan terlihat enerjik. Salah satu musisi seniornya juga tampil bersemangat mendampingi putra-putrinya.
Hari ketiga dibuka oleh permainan mengasyikkan Youngsters Gamelan 16 yang juga bertindak sebagai panitia YGF. Rene Lysloff dan dua kawannya membawakan gamelan eksperimental menggunakan komputer yang rada susah dinikmati, tapi tetap menarik. Kabud Hitam Percussions dari Pamekasan Madura sangat layak menjadi artis pamungkas. Dengan sebagian besar pemainnya memainkan alat perkusi, lagu demi lagu yang dibawakan selalu meningkatan semangat penonton. Lama-lama penonton tidak tahan juga, hingga akhirnya banyak yang maju ke depan panggung bergoyang mengikuti irama. Panitia yang masih muda-muda itulah yang menjadi pengompor penonton supaya lebih terlibat dalam acara dan tidak sekadar duduk manis. Selamat kepada Mas Jijit, Mas Joko, Mbak Amik, dan kawan-kawannya yang telah berhasil menyelenggarakan YGF edisi ke-14, kendati Mbah Sapto telah tiada. Dirgahayu untuk Yogyakarta Gamelan Festival !