Jumat, 07 Februari 2025
Senin, 19 Desember 2022
Musik adalah Ideologi
Musik bukan hanya sesuatu yang menenangkan ataupun mengganggu kita, melainkan jauh melebihi itu musik adalah ideologi. Kau dapat menilai seseorang dari jenis musik yang mereka dengar.
(Paulo Coelho dalam novel Sang Penyihir dari Portobello)
Kamis, 13 Oktober 2022
Kekuatan Budaya Pop
Musik sebagai bagian dari budaya pop kini memang tak sekadar tontonan, tapi adalah kekuatan. Dunia hari ini tak hanya dibentuk oleh budaya pop, tapi juga digerakkan olehnya. Dalam konteks itu, sesungguhnya musik tidak semata berhenti sebagai sebuah proses kapitalisasi modal. Maka sebuah band (mestinya) tak hanya berorientasi melahirkan lagu-lagu hits yang akan menghasilkan keuntungan karena disukai khalayak ramai, tetapi lagu yang akan menjadi sejarah. Karena di situlah sesungguhnya tersimpan kekuatan budaya pop : kemampuan persuasinya melebihi indoktrinasi ideologi.
(Agus Noor dalam esai "Antara Lagu Slank dan Lagu Presiden" yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia Edisi 100 - Agustus 2013)
Senin, 19 September 2022
Rabu, 07 September 2022
Selasa, 14 Juli 2020
Tidak Bisa Hidup Tanpa Pola
(Haruki Murakami dalam IQ84 Jilid 3)
Jumat, 03 Juli 2020
Musik Media Pendidikan
Minggu, 30 Juni 2019
Musik Itu Berbagi
Senin, 27 Februari 2017
Menghadiri MocoSik Dua Pekan Lalu
Menjelang Magrib saya pulang setelah sempat berbincang dengan keponakan saya, sehabis dia tampil sebagai salah salah satu pengisi acara. Ada lebih dari 100 judul buku yang bisa dipilih untuk menjadi tiket menonton pertunjukan musik dan talk show selama tiga hari. Sebuah buku tiket seharga 50 ribu akhirnya saya beli demi menyaksikan penyanyi favorit saya beberapa jam kemudian. Judul buku itu "Menulis Itu Indah - Pengalaman Para Penulis Dunia", diterbitkan oleh Octopus, diterjemahkan oleh Adhe Ma'ruf, dan penyuntingnya Dewi Kharisma Michellia. Kebetulan, hari itu saya berkali-kali berpapasan dengan sang penerjemah, sementara sang editor pernah saya temui bertahun-tahun lalu. Saat ini dia sudah menjadi penulis muda yang memiliki reputasi cemerlang di khazanah sastra Indonesia. Saya berencana membeli kumpulan cerpen terbarunya yang baru terbit dan berjudul "Elegi".
Malamnya saya datang lagi untuk menyaksikan secara langsung performa Tompi dan Glenn Fredly. Sejumlah lagu yang karib di telinga dibawakan oleh mereka dalam dua sesi berbeda. Keluar dari tempat pertunjukan, hujan ternyata tengah deras mengguyur Jogja. Namum, kaki saya sudah telanjur menginjak aspal halaman JEC, maka saya beranjak pergi saja dari tempat itu dengan menggunakan jas hujan. Berhubung hujan sudah berkurang kadar derasnya menjelang sampai tujuan, sepeda motor saya bawa belok kanan ke Jalan Tamansiswa, lalu saya pun singgah di warung dekat kampus FH UII untuk memesan teh panas (dengan sedikit gula) dan mie godhog. Cukuplah hari itu menjadi hari yang terasa berbeda dan menghadirkan impresi tersendiri. Tak masalah ketika hanya sehari saya mengikuti MocoSik karena adanya kesibukan di hari lainnya. Moga-moga acara serupa bisa hadir lagi di masa mendatang, baik di Jogja maupun di kota-kota lainnya.
Jumat, 12 Oktober 2012
Rangkuman Aktivitas Seni di Yogyakarta Tahun 2012
![]() |
| Pertunjukan Teater Boneka Pappermoon : Mwathirika |
![]() |
| BCR (Bayu Citra Raharja) Project : Kulon Kangin di Sositet TBY |
![]() |
| Jogja International Street Performance di TBY |
![]() |
| ART JOG 2012 di TBY |
Acara lain yang menarik di bulan Juli, yaitu pentas band ’Angin Timur’ yang beraliran rock progresif dan dalam beberapa lagunya dibantu kesenian Didong dari Aceh di Auditorium Pascasarjana ISI serta Jagongan Wagen menampilkan ’Maya Dance Theater’ dari Singapura dan pertunjukan musik etnik garapan pemuda-pemudi kreatif Jogja di PSBK Kasihan Bantul. Sementara itu ketika Juni 2012 saya sempat menyimak aksi dan kisah hidup dari gitaris Jubing Krsitianto di Bentara Budaya Yogyakarta.
Kamis, 17 Juli 2008
YGF 2008 : Warga Dunia Bersatu Lewat Gamelan
Pada 10-12 Juli 2008 lalu telah berlangsung Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), sebuah pergelaran seni gamelan bertaraf internasional yang berlangsung untuk ke-13 kalinya di Yogyakarta. Sebagai warga Jogja, tentu aku sudah sering mendengar keberadaan ajang tersebut di tahun-tahun sebelumnya. Tapi entahlah, sepertinya dulu aku kurang tertarik untuk menyimaknya. Bahkan untuk melihat salah satu pentasnya pun seingatku belum pernah. Tapi tahun ini ternyata ada hasrat yang berbeda. Aku malah akhirnya bisa menyaksikan YGF 2008 dalam dua kali pertunjukan yang berlangsung di concert hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Jumat (11/7) dan Sabtu (12/7) lalu. Semula memang tak menjadi rencanaku. Kebetulan Jumat sore itu, setelah rampung bertugas ada rapat kecil yang kuikuti di TBY. Pak Agus menginformasikan padaku bahwa malam itu di concert hall ada acara YGF. Aku kok terus jadi penasaran ya? Maka aku beranjak menuju tempat acara itu diselenggarakan dan sudah begitu banyak calon penonton yang hadir. Yang menarik, sebelum masuk ke gedung pertunjukan, kita bisa melihat dokumentasi YGF dalam bentuk pameran foto dan rekaman audio pentas-pentasnya dahulu. Wah, aku jadi semakin tertarik untuk mengikuti acara itu !
Pertunjukan hari Jumat diawali grup D'lima dari Taman Budaya Jawa Timur yang terdiri dari beberapa lelaki berjubah merah. Nomor-nomor yang dibawakan berirama dinamis, jadi penonton semangat mengikutinya. Ada seorang perempuan dan dua laki-laki (bajunya seperti orang mau ronda) masuk di tengah salah satu lagu dan menambah meriah pertunjukan. Selanjutnya Alex Dea dari Amerika Serikat bersama KPH 8 membawakan komposisi yang panjang dan susah untuk dinikmati. Salah satunya diciptakan untuk mengenang guru gamelan Pak Alex yang telah wafat. Memang nada kesedihannya terasa sekali dalam komposisi yang dimainkan malam itu. Ada beberapa orang kulit putih di antara orang-orang Indonesia yang tergabung dalam kelompok KPH 8. Yang juga menarik, selalu ada diskusi antara Sapto Raharjo, direktur YGF 2008 sekaligus pembawa acara, dengan wakil dari setiap kelompok yang tampil. Penampilan terakhir adalah grup Gamma Rays dari Singapura, yang selain terdiri dari pemain gamelan, juga membawa pemain drum, bass, dan kibord. Hebatnya, grup ini didominasi anak-anak muda yang multiras. Ada orang India yang memainkan suling dengan beberapa wajah oriental yang tatanan rambutnya funky dan anak muda banget, selain ada orang Melayunya pula. Semua nomor yang dibawakan secara instrumentalia memadukan suara gamelan dan band mewujudkan harmoni yang asyik disimak, termasuk dua gending klasik Jawa : Suwe Ora Jamu dan Gambang Suling. Setelah ngobrol sebentar dengan ibu pimpinan grup dari Singapura, para pengisi acara lalu melakukan jam session dengan komandannya Pak Sapto yang memainkan kendang. Entah mereka latihan dulu atau tidak, yang jelas lagu pamungkas yang dimainkan keroyokan itu terdengar enak juga dan akhirnya mengundang tepuk tangan panjang dari penonton.
Di pementasan hari berikutnya dibuka oleh gamelan plesetan, yang ternyata merupakan komposisi kontemporer dan eksperimental hasil kerja sama dosen-dosen dari California bersama salah satu muridnya dari Korea dan Sapto Raharjo. Lalu ada Vincent McDermot dari Amerika yang kelompoknya juga hasil kerja sama orang asing dan Indonesia. Bahkan Singgih Sanjaya, dirigen top Indonesia yang sering membuatkan aransemen lagu untuk Twilite Orchestra ikut tampil sebagai dirigen dan memainkan saxophone. Ada banyak pendukungnya, termasuk paduan suara dan beberapa penari yang memainkan bagian dari opera Matahari. Ada banyak kejutan saat para penari tampil, mulai dari sang Matahari yang menari bersama sang Ratu Kidul, lalu dia melepas kostum penari Jawanya dan menari erotis dengan busana minimalis. Yang paling membuat penonton riuh rendah ketika beberapa penari laki-laki serta merta melepas kain yang dipakainya, hingga sekilas mereka seperti telanjang bulat ! Wah, salut banget untuk kerja keras Mister Vincent dan rombongannya. Selanjutnya kelompok Kito Siopo yang terdiri dari orang Inggris, Jepang, dan Australia(kalau tidak salah). Komposisi yang dibawakan relatif njelimet juga. Tapi pas Sapto Raharjo ngobrol dengan mereka, malah jadi seperti nonton dagelan Mataram. Lucu banget soalnya, hehe… Kelompok LOS dari Surakarta menjadi penampil terakhir dengan nomor Majemuk. Untuk memperlihatkan kemajemukan, para personel grup yang mayoritas anak muda itu berkostum macam-macam, dari seragam SMA, pramuka, pegawai negeri, hansip, sampai baju cah dolan dan orang mau tidur. Menurut pimpinannya, dalam komposisinya itu ada sentuhan gamelan gaya Bali, Sunda, dan lain-lain yang menjadi harmoni yang menarik disimak. Bahkan bagi penonton ada kesan irama pengiring barongsainya, ketika dua pemain memainkan gong yang diletakkan di lantai. Akhirnya ada jam session lagi yang tak kalah asyiknya ketimbang malam sebelumnya.
Sejumlah pelajaran berharga kubawa pulang sehabis melihat dua kali pementasan YGF 2008. Gamelan ternyata bisa menjadi ajang bertemunya orang-orang dari beragam penjuru dunia. Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa musik adalah bahasa dunia. Berbanggalah kita bahwa musik tradisional Indonesia ternyata bisa menyatukan warga dunia. Memang hanya segelintir orang, tapi tetap saja istimewa. Sementara banyak orang Indonesia di mana-mana sering ribut dan saling bertikai, di Yogyakarta ada orang Amerika, Inggris, Jepang, Korea, Australia, Singapura, bersama orang Indonesia yang semuanya pasti cinta damai, justru bekerja sama dan bersinergi mampu mewujudkan harmoni yang dapat dinikmati banyak orang. Dan melalui seni gamelan mereka mampu bersatu dalam berbagai keragaman dan perbedaan masing-masing.
Ada beberapa sastrawan terlihat di antara penonton, seperti Mustofa W.Hasyim dan Herlinatiens. Yang mungkin juga unik, mayoritas penonton adalah anak-anak muda. Semoga mereka tak puas hanya sebagai penonton yang apresiatif, tapi akan lebih banyak berpartisipasi memainkan dan mengembangkan gamelan pula di masa depan.












