Tampilkan postingan dengan label Agus Noor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agus Noor. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2025

menulis dan piano

 

"Menulis bagiku adalah cara membebaskan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu."

(Agus Noor dalam cerpen "Gerimis dalam E Minor")

Senin, 23 September 2024

menulis dan piano

 

“Menulis bagiku adalah cara menghindarkan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu.”

“Apakah hal itu yang terjadi padamu?” tanya temanku lagi.

“Kalimat itu bukan milikku, melainkan kubaca dalam cerpen 'Gerimis dalam E Minor' karya Agus Noor. Aku sungguh merasa terwakili dengan apa yang dia suratkan dalam cerpen itu.”


( dikutip dari cerpen nomor 200 )

Kamis, 13 Oktober 2022

Kekuatan Budaya Pop


Musik sebagai bagian dari budaya pop kini memang tak sekadar tontonan, tapi adalah kekuatan. Dunia hari ini tak hanya dibentuk oleh budaya pop, tapi juga digerakkan olehnya. Dalam konteks itu, sesungguhnya musik tidak semata berhenti sebagai sebuah proses kapitalisasi modal. Maka sebuah band (mestinya) tak hanya berorientasi melahirkan lagu-lagu hits yang akan menghasilkan keuntungan karena disukai khalayak ramai, tetapi lagu yang akan menjadi sejarah. Karena di situlah sesungguhnya tersimpan kekuatan budaya pop : kemampuan persuasinya melebihi indoktrinasi ideologi.

(Agus Noor dalam esai "Antara Lagu Slank dan Lagu Presiden" yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia Edisi 100 - Agustus 2013)

Selasa, 02 November 2021

Pikiran Seragam

Semua pikiran harus seragam. Apalagi di tengah situasi wabah seperti ini. Tak boleh ada yang membuat bingung. Meski pada kenyataannya justru pemerintah sendirilah yang kerap membuat bingung, bukan?

(Agus Noor dalam Kisah-Kisah Kecil & Ganjil) 

Minggu, 10 November 2019

Penulis Itu Cinta Keras Kepala

Saya percaya ketika ada yang mengatakan menjadi penulis itu bukan "profesi-karier", tetapi lebih pada cinta yang keras kepala, tetapi tak sia-sia. Ini seperti pejalan sunyi yang mesti sanggup menaklukkan kebosanannya sendiri, membuat proses menulis bukan sebagai sesuatu yang rutin, melainkan juga harus tetap disiplin. 

(Agus Noor)

Minggu, 04 Februari 2018

Rangkuman Apresiasi Januari 2018

Senyampang baru melewati satu bulan di tahun 2018 ini, aku ingin mulai membuat rangkuman tentang hal-hal baik yang kulewati sepanjang Januari kemarin. Apa yang tersurat di sini menjadi wujud apresiasi yang -setidaknya- bagiku pribadi mampu menjadi inspirasi dan menghadirkan motivasi dalam melanjutkan proses kreatif dalam menjalani kehidupan. Hari pertama 2018 kulewati dengan beberapa jam berada di acara Tahun Baru di JBS. Selain mengikuti dua sesi diskusi sejumlah buku, aku berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa orang, seperti Ibed Surgana Yuga, Eka Nusa Pertiwi, Andika Ananda, Gunawan Maryanto (Cindhil),  Latief S. Nugraha, dan Kris Budiman. Menyenangkan rasanya untuk sesaat berada di situ. Kubawa pulang buku-buku baru, yang dua di antaranya mendapat tanda tangan penulisnya yang kutemui di tempat itu.


Pementasan "Dongeng Prajurit" oleh Gunawan Maryanto dkk di Teater Garasi.
Teater Garasi/Garasi Performance Institute mengadakan acara Buka Studio 7 Hari 7 Malam : Jalan Tikus. Acara yang berlangsung 14-20 Januari 2018 tersebut menandai dibukanya studio baru TG/GPI yang baru selesai direnovasi. Aku hanya sempat dua kali hadir pada hari Rabu malam (17/1) dan Kamis sore (18/1). Yang pertama, Open Lab yang menampilkan "Macapatan Kontemporer" (Paksi Raras Alit) dan "Dongeng Prajurit" (Gunawan Maryanto, Prihatmoko Moki, dkk). Paksi adalah musisi Jogja yang sedang giat mengangkat sastra Jawa dengan medium musik modern. Pada masa sekolahnya di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa, dia pernah memenangkan lomba macapat dalam PORSENI. Setelah bertahun-tahun jadi anak band, dia ingin generasi muda saat ini mengenal karya luhur nenek moyangnya, apalagi dia pun pernah berkuliah di Sastra Jawa UGM. Apa yang ditampilkan dalam "Dongeng Prajurit" berawal dari proyek kerja sama Cindhil yang membuat puisi/narasi untuk komik prajurit kraton karya Moki. Keduanya merasakan kegelisahan yang sama melihat situasi Jogja yang tambah semrawut dengan menjamurnya hotel yang membawa dampak negatif lainnya. Kisah jatuhnya Kraton Yogyakarta di tangan Inggris pada masa pemerintahan HB II menjadi tema sentral pertunjukan, yang semula berwujud komik "Prajurit Kalah Tanpa Raja" yang sudah dipamerkan di Europalia Arts Festival 2017 di Belgia. Yang jelas, sepulang dari sana aku jadi penasaran dengan kisah tersebut dan lantas berkesempatan membaca buku "Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa" karya Tim Hannigan milik keponakanku yang penggemar sejarah. Sudah kubaca bagian jatuhnya Jogja di buku itu. 

Yang kedua, Blocknot Forum yang menampilkan peluncuran buku "Gentayangan" karya Intan Paramaditha. Ada acara ngobrol dengan penulisnya yang dipandu oleh Alia Swastika. Leilani Hermiasih dan Yudi Ahmad Tajudin ikut tampil membaca beberapa bagian dari karya terbaru Intan yang sudah mendapat penghargaan dari Majalah Tempo. Duet "Pemuda Setempat" yang terdiri dari Ugoran Prasad dan Yennu Ariendra membawakan beberapa lagu yang terinspirasi dari novel tersebut.

Bincang-Bincang Sastra edisi 148 yang berlangsung Sabtu (27/1) di Ruang Seminar TBY berbeda dari biasanya karena dihadiri oleh banyak orang. Dengan tema "Yogya yang Puitis, Yogya yang Prosais" BBS menampilkan Gunawan Maryanto dan Agus Noor sebagai pembicara, Latief S. Nugraha sebagai moderator. Andika Ananda membaca cerpen Agus Noor dengan kocak dan Dinar Setiyawan mendeklamasikan puisi Gunawan Maryanto dengan syahdu. Agus Noor merasakan banyak hal yang hilang di Jogja masa kini. Salah satu contohnya, jika dulu para mahasisiwa pendatang mengontrak sebuah rumah untuk menjadi ruang berkesenian, maka saat ini mereka mengontraknya untuk dijadikan tempat bisnis, entah kafe atau mungkin yang lain. Cindhil mengingatkan bahwa dari awal berdirinya Jogja memang penuh dengan dinamika dan hal itulah yang membuat inspirasi bagi seniman terus mengalir. Membicarakan Jogja dahulu dan saat ini menyadarkan kita bahwa sudah begitu banyak terjadi perubahan, baik maupun buruk. Ketika banyak hal hilang, maka ada hal-hal baru lainnya yang hadir.


Bincang-Bincang Sastra edisi 148 di TBY yang menarik perhatian banyak orang.
Senin malam (29/1) kudatangi dua kerumunan yang berbeda. Awalnya aku berada di Kafe Basabasi yang penuh sesak karena menghadirkan Sujiwo Tejo. Terus terang aku kurang jelas menyimak apa kata Mbah Tejo saking riuh rendahnya suasana. Maka aku lantas memutuskan beranjak ke Bentara Budaya Yogyakarta untuk menyaksikan Jazz Mben Senen yang sedang merayakan 8 tahun eksistensinya. Dulu aku sempat kerap menyaksikan acara tersebut, bahkan pernah sekali ikut tampil mengiringi seorang penyanyi remaja, yang entah sekarang dia masih suka bernyanyi atau tidak. Romo Sindhunata mengatakan bahwa Jazz Mben Senen bisa menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan sarana prasarana tidak membatasi ruang berkesenian. Djaduk Ferianto mengingatkan para seniman muda agar tetap rendah hati dan sabar dalam menjalani proses.

Oh ya, menghadiri acara mantunya Pak Tedjo Badut pada Minggu (21/1) di Pendopo SMKI (SMKN 2 Kasihan) menjadi sesuatu yang berkesan pula. Tidak seperti resepsi pernikahan umumnya, siang itu para tamu bagaikan menghadiri pesta kesenian rakyat yang begitu semarak dan menghibur tentu saja. Tempat mengisi buku tamu berbentuk ticket box. Seraya antre untuk menyalami kedua mempelai dan orangtuanya, kami bisa menyaksikan pertunjukan sulap, tarian humor, dan lain-lain. Panggung pelaminan dihias bagaikan panggung ketoprak/wayang orang. Lalu kursi untuk para tamu menikmati hidangan adalah bangku-bangku seperti di warung angkringan. Berada di situ, kendati sesaat saja menggembirakan jugalah rasanya. 

Foto : Akun Facebook Teater Garasi dan SPS Yogyakarta

Minggu, 31 Desember 2017

Buku Bertanda Tangan Penulis

Ada perubahan yang terjadi pada 2017 ketika dalam sejumlah buku yang kumiliki ada tanda tangan penulis buku-buku tersebut. Kesempatan pertama kuperoleh di Bentara Budaya Yogyakarta pada 4 April. Malam itu kubeli kumpulan cerpen terbaru Indra Tranggono (Menebang Pohon Silisilah) dan Yuditeha (Balada Bidadari) sekaligus mendapat tanda tangan mereka. Selanjutnya, Sapardi Djoko Damono menorehkan tanda tangannya dalam novel Hujan Bulan Juni di Gramedia Sudirman pada 26 Agustus. Terakhir, Agus Noor menandatangani Lelucon Para Koruptor di Kafe Basabasi pada Desember. 

Cuma sayangnya aku tidak mendapat tanda tangan Iman Budhi Santosa dan Sinta Ridwan ketika mereka berada tak jauh dariku sehabis kubeli Profesi Wong Cilik dan Perempuan Berkepang Kenangan. Rada kecewa, tapi tak apalah. Aku mendapat banyak ilmu dan wawasan baru ketika menyimak Pak Iman dalam acara pembahasan bukunya di Rumah Maiyah. Demikian pula saat aku melihat Sinta bercerita soal buku puisinya bersama penyair lainnya di acara Tahun Baru di JBS. Meskipun akhirnya yang kubeli lebih dulu adalah buku kumpulan cerpennya, bukan buku puisinya. Aku lebih tertarik menyimak cerpennya, selain karena aku juga penulis cerpen, juga lantaran sampul Perempuan Berkepang Kenangan berwarna biru, warna favoritku yang senada dengan warna jaket yang kukenakan sore itu.