"Menulis bagiku adalah cara membebaskan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu."
(Agus Noor dalam cerpen "Gerimis dalam E Minor")
"Menulis bagiku adalah cara membebaskan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu."
(Agus Noor dalam cerpen "Gerimis dalam E Minor")
“Menulis bagiku adalah cara menghindarkan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu.”
“Apakah hal itu yang terjadi padamu?” tanya temanku lagi.
“Kalimat itu bukan milikku, melainkan kubaca dalam cerpen 'Gerimis dalam E Minor' karya Agus Noor. Aku sungguh merasa terwakili dengan apa yang dia suratkan dalam cerpen itu.”
( dikutip dari cerpen nomor 200 )
Musik sebagai bagian dari budaya pop kini memang tak sekadar tontonan, tapi adalah kekuatan. Dunia hari ini tak hanya dibentuk oleh budaya pop, tapi juga digerakkan olehnya. Dalam konteks itu, sesungguhnya musik tidak semata berhenti sebagai sebuah proses kapitalisasi modal. Maka sebuah band (mestinya) tak hanya berorientasi melahirkan lagu-lagu hits yang akan menghasilkan keuntungan karena disukai khalayak ramai, tetapi lagu yang akan menjadi sejarah. Karena di situlah sesungguhnya tersimpan kekuatan budaya pop : kemampuan persuasinya melebihi indoktrinasi ideologi.
(Agus Noor dalam esai "Antara Lagu Slank dan Lagu Presiden" yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia Edisi 100 - Agustus 2013)
Semua pikiran harus seragam. Apalagi di tengah situasi wabah seperti ini. Tak boleh ada yang membuat bingung. Meski pada kenyataannya justru pemerintah sendirilah yang kerap membuat bingung, bukan?
(Agus Noor dalam Kisah-Kisah Kecil & Ganjil)
![]() |
| Pementasan "Dongeng Prajurit" oleh Gunawan Maryanto dkk di Teater Garasi. |
![]() |
| Bincang-Bincang Sastra edisi 148 di TBY yang menarik perhatian banyak orang. |