Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2025

menulis dan piano

 

"Menulis bagiku adalah cara membebaskan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu."

(Agus Noor dalam cerpen "Gerimis dalam E Minor")

Senin, 24 Februari 2025

betapa mudah hancurkan sesuatu

 

"Tatkala menyaksikan para tukang merubuhkannya, saya sekadar membatin bahwa betapa mudahnya kita menghancurkan sesuatu, padahal ketika membangunnya tempo hari pasti dengan susah payah." 

( dikutip dari cerpen rumah belakang )

Senin, 03 Februari 2025

manusia memang aneh

 


Manusia memang aneh. Meski mengaku hamba Tuhan, terus saja berperilaku seperti tuan. Mereka bilang menirukan firman Allah, Tuhan menciptakan kita semata-mata untuk menyembah-Nya, sementara untuk urusan rezeki, Dia-lah yang menjamin. Namun rezeki yang sudah dijamin Tuhan diburu, penyembahan yang dituntut oleh-Nya diabaikan. 

(dikutip dari cerpen di jakarta karya gus mus) 

Senin, 20 Januari 2025

orangtua hanya ingin anaknya bahagia

 

”Sebenarnya semua orangtua hanya ingin melihat anaknya bahagia. Kadang mereka tak yakin dengan pilihan anaknya karena khawatir salah, padahal apa yang mereka pilihkan belum tentu juga menjadi sesuatu yang tepat,”

( dikutip dari cerpen bukan saudara kembar )

Senin, 09 Desember 2024

tetap tak mengerti

 Aku toh tetap tak mengerti, kapan akhir takdirku di muka bumi tiba.


(dikutip dari cerpen satu dekade berselang )

Senin, 28 Oktober 2024

semangat menjaga asa

 

Tak boleh hilang semangatku menjaga asa dan terus meyakini pertolongan Ilahi bakal hadir senantiasa. Hal-hal positif yang terjadi sehabis ibuku pergi menyadarkanku bahwa bisa jadi itulah jawaban Tuhan atas segala doa perempuan kesayanganku sepanjang hayatnya. 

(dikutip dari cerpen membaca jalan pikiran ibu )

Senin, 07 Oktober 2024

karya yang rumit bukan karya yang baik

 

Karya yang rumit dan sukar dipahami walaupun telah dibaca berkali-kali, bukanlah karya yang baik. Karangan itu rumit karena pengarangnya tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, karyanya juga keruh. 
Nah, sekarang ini banyak orang yang tidak lagi dapat berpikir jernih, termasuk pengarang, sehingga karangan-karangan yang super sulit sangat banyak beredar. Pesan moralnya tidak jelas dan apa sebenarnya yang diinginkan pengarang tidak ada yang tahu.

(Sori Siregar dalam cerpen "Saran Seorang Pengarang")

Senin, 30 September 2024

sebatas berdoa

 

Tentu aku sebatas mampu berdoa, agar memperoleh karunia panjang usia nan mulia dan menjalani sukacita hidup sejahtera. Aku toh tetap tak mengerti, kapan akhir takdirku di muka bumi tiba.


(dikutip dari cerpen satu dekade berselang )

Rabu, 25 September 2024

cerpen satu dekade berselang

 


Entah bagaimana caranya mengenyahkan kenangan tentang satu peristiwa yang telah berlangsung satu dekade silam? Apakah mesti kusimpan hal itu ke dalam memori otakku demi alasan tertentu? Namun, senantiasa terbit kegelisahan tertentu tatkala memikirkannya. Tampaknya cukup beralasan, lantaran berhubungan dengan kematian sejumlah orang yang seluruhnya kukenal dengan apik. Bahkan di antara mereka terdapat dua perempuan yang sungguh berarti dalam hidupku, Ibu dan nenekku. Baiklah, kuceritakan saja apa yang sejatinya terjadi, ketimbang sendiri belaka kutanggung seberkas beban. Siapa tahu langkahku selanjutnya di atas buana menjadi lebih ringan. Jadi, peristiwanya adalah mogoknya sebuah mobil di Magelang, ketika kami sedang beranjak pulang ke Yogyakarta dari Banjarnegara, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Apa yang terjadi jelas berada di luar kendaliku sebagai sang pengemudi.


Pada Minggu petang yang berteman gerimis, kendaraan roda empat milik keluarga kami untuk pertama kalinya mengalami masalah di tengah perjalanan. Mereka yang pergi bersamaku adalah Ibu, Eyang Putri, Eyang Rahmat, dan Pak Purwo. Awalnya, insiden tersebut terjadi di sebuah pertigaan lampu merah di tengah kota Magelang. Ketika lampu hijau menyala, mesin mobil justru mendadak padam.

”Sudah, biar saya yang turun dan mendorong mobilnya,” kata Eyang Rahmat yang semula duduk di sampingku mengambil inisiatif. Beruntunglah, dua orang pengamen berhati mulia serta-merta menghampiri dan bersedia membantu mendorong kendaraan kami. Mesin mobil pun sempat bisa kembali menyala setelah didorong oleh tiga orang berbelok ke arah kiri dari pertigaan lampu merah.

”Semoga mogoknya cukup sekali ini saja,” ujarku yang belum sepenuhnya merasa lega.

Sekitar dua kilometer kemudian, tak lama setelah perempatan lampu merah berikutnya, mobil itu mogok lagi. Aku meminta Eyang Rahmat yang berganti memegang kemudi, sedangkan aku bersama Ibu dan Pak Purwo yang turun untuk mendorong mobil. Ternyata hal itu tidak bisa menjadi solusi.

”Sebaiknya kamu memberitahu keluarga kita di Yogya. Semoga mereka bisa menolong kita,” usul Ibu yang tentu saja dengan selekasnya kulakukan.

Aku sudah menelepon kakakku dengan telepon seluler. Dia bersama suaminya akan berupaya datang ke Magelang dengan segera. Sehabis itu sempat gelisah menghunjam selama berjam-jam, sekadar menanti dalam ketidakpastian. Entah bagaimana caranya melanjutkan perjalanan, sedangkan langit sudah semakin kelam. Namun, pertolongan seketika datang tanpa terduga. Kebaikan hati sejumlah orang yang berdatangan ke arah mobil mogok kami menghadirkan secercah harapan. Mereka mencoba mendorongnya lagi, lalu ada yang mengecek mesinnya, tapi tetap tiada perubahan berarti. Kendaraan itu tetap terpaku, tak bisa dinyalakan mesinnya. Kakakku dan suaminya akhirnya datang dari Yogyakarta. Kehadiran mereka sedikit mengurangi beban kami, kendati mobil kami belum bisa diperbaiki. Mereka membawa nasi bungkus dan teh hangat yang segera dilahap bersama-sama.

Akhirnya aku berinisiatif meminta tolong Mas Pri, mantan kakak iparku yang tinggal di Semarang. Lelaki yang pernah menikahi mendiang kakak sulungku tersebut merupakan teknisi kendaraan bermotor yang memiliki bengkel mobil, jadi kuyakin ia mampu memberikan solusi. Mas Pri kebetulan sedang memiliki waktu luang hingga bersedia meninggalkan kotanya selekas mungkin. Setelah hampir dua jam menunggu kehadirannya, ayah dari keponakanku itu akhirnya menjadi malaikat penyelamat perjalanan kami. Cukup sekian menit ia mengotak-atik onderdil mobil, lantas menyemprotkan sesuatu, dan kendaraan itu mampu kembali menjalani takdirnya membawa kami pulang dengan selamat hingga tujuan. Syukurlah.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak peristiwa tersebut. Sepasang perempuan dan dua lelaki tua yang bersamaku menjadi penumpang mobil itu, telah pergi selamanya dari muka bumi kini. Yang pertama tutup usia adalah Eyang Rahmat, hanya sekitar tiga bulan setelah mobil kami mogok di Magelang. Beliau yang merupakan adik kandung nenekku lebih dahulu dirawat di rumah sakit selama sebulan, awalnya karena serangan jantung. Hampir saban hari aku mengantar jemput Ibu yang dengan setia menunggui paman tercintanya yang tidak berkeluarga, sebelum saudara-saudara beliau lainnya berdatangan dari luar kota. Kondisi kesehatannya berangsur menurun hingga mengembuskan napas pamungkasnya pada sebuah Minggu pagi nan sepi. Usianya waktu itu menjelang 70 tahun.

Sesudah itu giliran ibu kandungku padam nyawa tiga tahun kemudian. Semula Ibu mengalami gangguan jantung menurut diagnosa dokter, tapi ternyata salah satu ginjalnya tidak lagi berfungsi normal, berdasarkan pemeriksaan medis lanjutan. Masalah yang terjadi pada ginjal ibuku merupakan efek samping dari obat tekanan darah tinggi yang dikonsumsi Ibu sejak masih muda. Pada sore hari pertama sebuah tahun baru, perempuan yang melahirkanku itu meninggal dunia seusai menjalani cuci darah yang gagal di rumah sakit dalam usia hampir 63 tahun. Berselang tiga bulan kemudian, Eyang Putri pun menyusul putrinya menghadap Ilahi. Sejak ibuku tutup usia, nenekku ibarat kehilangan separuh jiwa dan semangat hidupnya. Justru sehabis merayakan 85 tahun usianya, beliau mesti dirawat di rumah sakit. Aku sempat menemui Eyang Putri -yang masih dalam kondisi sadar- menjelang wafatnya di Jakarta. Aku pun melepas kepergian perempuan yang melahirkan ibuku di tempat yang sama dengan pertama kalinya aku hadir di dunia.

Satu nama lagi adalah Pak Purwo. Beliau adalah suami kakak sulungku yang telah menghadap Ilahi lebih dahulu, tapi berhubung usianya lebih tua daripada Ibu, maka kami tidak pernah memanggilnya dengan ‘Mas’. Pak Purwo dijemput malaikat Izrail sekitar lima tahun silam, setelah menderita komplikasi berbagai penyakit. Usianya mungkin sudah 75 tahun lebih saat itu.

Ada sebuah benang merah yang menghubungkan Eyang Rahmat, Ibu, Eyang Putri, dan Pak Purwo. Mereka semua telah berusia 60 tahun ke atas ketika tutup usia. Maka dapat dipastikan mereka telah mengalami lelikuan kisah nan panjang sepanjang hayatnya. Serta-merta tebersit sebuah retorika, apakah nasibku bakal seperti mereka? Jika memang demikian, bolehlah aku sedikit berlega hati karena jatah hidupku di atas buana berarti masih tersisa sekitar dua dekade lagi. Tentu aku sebatas mampu berdoa, agar memperoleh karunia panjang usia nan mulia dan menjalani sukacita hidup sejahtera. Aku toh tetap tak mengerti, kapan akhir takdirku di muka bumi tiba. Peristiwa mobil mogok di Magelang saat ini sudah satu dekade berlalu. Tinggal mampu kukenang mereka yang bersamaku ketika itu. Mereka yang secara ragawi telah tiada seluruhnya. Yang tersisa adalah diriku belaka yang masih mampu menyuratkan kisah ini. 

(cerpen ini dimuat di parewa.co pada 26 agustus 2023)

Senin, 23 September 2024

menulis dan piano

 

“Menulis bagiku adalah cara menghindarkan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu.”

“Apakah hal itu yang terjadi padamu?” tanya temanku lagi.

“Kalimat itu bukan milikku, melainkan kubaca dalam cerpen 'Gerimis dalam E Minor' karya Agus Noor. Aku sungguh merasa terwakili dengan apa yang dia suratkan dalam cerpen itu.”


( dikutip dari cerpen nomor 200 )

Senin, 02 September 2024

menjadi makhluk bermakna

 

 Bukankah yang signifikan dalam kehidupan manusia adalah bagaimana dirinya menjadi makhluk bermakna, bisa bersukacita, dan mampu mensyukuri karunia Tuhan?

( dikutip dari cerpen pengakuan prasojo )

Senin, 26 Agustus 2024

mesti melewati penderitaan

 

Sepertinya aku mesti melewati banyak penderitaan, sehabis itu barulah aku bisa menulis kisah demi kisah,” sahutku setelah sempat bergeming sejenak.

(dikutip dari cerpen nomor 200)

Senin, 29 Juli 2024

kematian adalah pintu gerbang

 

Demi menenangkan diri mesti kurenungkan kembali satu nasihat orang bijak. Menurutnya, kematian sejatinya adalah pintu gerbang untuk memasuki kehidupan yang lebih indah dan berkualitas karena kenikmatan ruhani derajatnya lebih tinggi ketimbang kenikmatan jasmani di muka bumi.

(dikutip dari cerpen mereka yang lebih dulu pergi)

Senin, 22 Juli 2024

ini semacam terapi

 

 Aku cenderung setuju dengan apa yang dikatakan Haruki Murakami, penulis asal Jepang itu. Menurutnya, dalam hidup aku tak bisa menjadi orang lain, tapi dalam fiksi aku bisa menjadi siapa saja. Aku bisa membayangkan diriku menjadi orang lain. Bisa dibilang ini semacam terapi.”

(dikutip dari cerpen nomor 200)

Senin, 08 Juli 2024

pikiran bening dan seimbang

 

Pikiran bening dan seimbang, tak bakal terguncang meski oleh badai teramat kencang. Sebab angin paling dahsyat yang harus ditaklukkan, terletak dalam jiwa setiap orang. 

(Emha Ainun Nadjib dalam cerpen "Padang Kurusetra")

Sabtu, 27 April 2024

pengagum puisi joko pinurbo

 

Sekiranya aku tidak pernah mendapat pinjaman sejumlah buku dari dirinya, barangkali aku tidak pernah mengenal nama Paulo Coelho dengan karya fenomenalnya Sang Alkemis atau hanya mengetahui Jostein Gaarder sebatas Dunia Sophie. Bahkan jika belakangan aku menjadi pengagum puisi-puisi Joko Pinurbo dan mengoleksi buku-bukunya, hal itu jelas tak lepas dari kebaikan hatinya meminjamiku Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung.


(dikutip dari cerpen gadis yang suka meminjamkan buku -  dimuat di kompas.id pada 2021)

Selasa, 05 Maret 2024

status di facebook saya pada hari selasa, 5 maret 2024

hari ini cukup lama aku bergeming di basabasidotco untuk membaca sejumlah cerpen keren karya mashdar zainal, gunawan tri atmodjo, t agus khaidir, rumadi, aveus har, dan linggar rimbawati. sehabis itu kubaca pula esai wahyudin dan hibernasi bandung mawardi yang menarik pula.

di youtube sekadar kusimak obrolan abu marlo dan sabrang mdp plus sport77official yang menghadirkan coach nova arianto.

Sabtu, 02 Maret 2024

Cerpen Satu Dekade Berselang di parewa.co

 

Sekitar enam bulan lalu ternyata ada cerpen saya yang dimuat di sebuah situs.

Kendati tiada honornya pun tak mengapa.

Tetap kusyukuri dan cukup menghibur hati.

Cerpen itu bisa dibaca di
https://parewa.co/satu-dekade-berselang/

Jumat, 09 Juni 2023

Sepasang Kenangan Dimuat di kompas.id

 


Kedua puisi itu lantas menjelma sebagai lirik lagu yang dahulu kerap kunyanyikan sendiri dengan iringan gitar akustik yang kini telah jebol dan tak bisa dimainkan lagi. Kucoba menggali memori yang lama terpendam dalam relung sanubari berdasarkan tempat tinggal mereka.

Cerpen Sepasang Kenangan bisa dibaca dihttps://www.kompas.id/baca/sastra/2023/06/07/sepasang-kenangan

 

Minggu, 30 April 2023

Pengakuan Prasojo di ayobandung.com

 


Bukankah yang signifikan dalam kehidupan manusia adalah bagaimana dirinya menjadi makhluk bermakna, bisa bersukacita, dan mampu mensyukuri karunia Tuhan? Oh ya, bisa jadi hal itu memang pemikiranku belaka yang terlampau sederhana, sebagaimana nama pemberian orangtuaku.

Masih awal Syawal 1444 H ternyata ada cerpen saya dimuat. Alhamdulillah.

Hatur nuhun, Ayo Bandung.

Cerpennya bisa dibaca di https://www.ayobandung.com/bandung-baheula/798608913/cerita-pendek-pengakuan-prasojo