"Menulis bagiku adalah cara membebaskan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu."
(Agus Noor dalam cerpen "Gerimis dalam E Minor")
"Menulis bagiku adalah cara membebaskan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu."
(Agus Noor dalam cerpen "Gerimis dalam E Minor")
"Kau ingin jadi pembaru?"
Tema selalu abstrak, berkisar pada cinta-kasih, kebahagiaan, kesendirian, kesengsaraan, pengkhianatan, keterbatasan kemampuan manusia, dan sebagainya. Masing-masing pokok dapat berkembang menjadi pokok-pokok yang lebih terperinci, persoalan-persoalan yang lebih terbatas, lingkungan yang lebih sempit, dan seterusnya.
(Budi Darma dalam esai Persoalan Proses Kreatif)
Yang paling utama : jangan kehilangan harapan.
( dikutip dari novel Life of Pi karya yann martel)
"Tatkala menyaksikan para tukang merubuhkannya, saya sekadar membatin bahwa betapa mudahnya kita menghancurkan sesuatu, padahal ketika membangunnya tempo hari pasti dengan susah payah."
( dikutip dari cerpen rumah belakang )
Negara, seperti halnya rumah, seharusnya adalah tempat perlindungan. Di mana seseorang merasa aman untuk tinggal di dalamnya, merasakan yang baik dan nyata dalam hidup mereka. Bumi memiliki manusia, bukan manusia yang memiliki bumi, itu pasti tidak sama dengan konsep negara dengan warganya. Sebab bukan negara yang memiliki kita, kitalah yang memiliki negara. Seharusnya begitu, bukan?
(Herlinatiens dalam novel Maria Tsabat)
"Berbagai macam penduduk akan pengaruh-mempengaruhi sampai-sampai pada dapurnya. Tuan sendiri mungkin sudah menyukai kecap, tahu, taoco, bakmi, bakso, hungkwee tanpa Tuan rasakan sebagai pengaruh penduduk bangsa lain. Bukan hanya Pribumi di sini, juga bangsa Eropa di sana. Orang menggunakan sendok dan garpu, orang makan spaghetti dan macaroni, juga pengaruh dapur Tionghoa. Semua yang menyenangkan umat manusia, semua yang mengurangi penderitaannya, semua yang mengurangi kepayahannya, di jaman sekarang ini akan ditiru di seluruh dunia."
Manusia memang aneh. Meski mengaku hamba Tuhan, terus saja berperilaku seperti tuan. Mereka bilang menirukan firman Allah, Tuhan menciptakan kita semata-mata untuk menyembah-Nya, sementara untuk urusan rezeki, Dia-lah yang menjamin. Namun rezeki yang sudah dijamin Tuhan diburu, penyembahan yang dituntut oleh-Nya diabaikan.
(dikutip dari cerpen di jakarta karya gus mus)
Tulisan bukan sekadar ekspresi dari pemikiran, tetapi juga sebuah cara merefleksikan arti setiap kata.
(Paulo Coelho dalam novel Penyihir dari Portobello)