"Kau ingin jadi pembaru?"
"Kau ingin jadi pembaru?"
Dalam proses kreativitas, tema mengalami metamosphose. Latar belakang kehidupan pengarang, antara lain bakatnya, suasana lingkungannya, bacaannya, dan lain-lain sangat berpengaruh terhadap metamosphose tema. Bahkan suasana sesaat juga dapat mempengaruhi kreativitas.
(Budi Darma dalam esai Persoalan Proses Kreatif)
Pengarang menjabarkan hakikat hidup bukan melalui konsepnya, akan tetapi visinya. Seperti halnya bakat, visi adalah intuitif dan terbawa sejak lahir. Dengan visinya pengarang dapat mempunyai kepekaan. Dan dengan kepekaannya pengarang dapat menilai hal-hal yang tidak terlihat atau terasakan oleh orang lain.
(Budi Darma dalam esai Beberapa Gejala dalam Penulisan Prosa)
Kalau kamu sering membaca karya sastra, kamu pasti merasakan mana karya sastra yang ditulis dengan jujur dan sepenuh hati dan mana yang berambisi untuk menjadi perintis atau pelopor. Karya yang baik tidak harus karya perintis atau pelopor itu. Pramoedya itu bukan pelopor, tapi siapa yang berani membantah bahwa karyanya baik. "Pulang" karangan Toha Mochtar tetap menyentuh, mengharukan, indah dan enak dibaca karena ditulis dengan jujur lebih dari 50 tahun lalu. "Mercy" tulisan pemenang Hadiah Nobel, Toni Morrison, yang berkisah tentang penderitaan warga kulit hitam di Amerika tidak membuat pembaca mengerutkan kening, begitu pula karya para pemenang Nobel lainnya.
(Sori Siregar dalam cerpen Saran Seorang Pengarang)
Selamat jalan untuk Pak Sori Siregar (12 November 1939 - 21 Juni 2021).
Tanpa kehalusan jiwa, pengarang tidak mungkin menulis cerpen dengan banyak dimensi. Kehalusan jiwa adalah juga salah satu modal penting kepengarangan.
(Budi Darma dalam buku Pelajaran Mengarang)