Tampilkan postingan dengan label pengarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengarang. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2025

tak ada yang baru

 

"Kau ingin jadi pembaru?"

"Sama sekali tak ingin. Tak ada yang baru. Sebagaimana kata Julia Kristeva, kita hidup dalam dunia kutipan bukan? Pengarang pembaru itu tidak ada. Yang ada adalah mereka yang mampu memanfaatkan apa pun yang sudah ada di semesta."

(Triyanto Triwikromo dalam novel Surga Sungsang)

Senin, 07 Oktober 2024

karya yang rumit bukan karya yang baik

 

Karya yang rumit dan sukar dipahami walaupun telah dibaca berkali-kali, bukanlah karya yang baik. Karangan itu rumit karena pengarangnya tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, karyanya juga keruh. 
Nah, sekarang ini banyak orang yang tidak lagi dapat berpikir jernih, termasuk pengarang, sehingga karangan-karangan yang super sulit sangat banyak beredar. Pesan moralnya tidak jelas dan apa sebenarnya yang diinginkan pengarang tidak ada yang tahu.

(Sori Siregar dalam cerpen "Saran Seorang Pengarang")

Minggu, 22 Mei 2022

Suasana Sesaat Pengaruhi Kreativitas

 

Dalam proses kreativitas, tema mengalami metamosphose. Latar belakang kehidupan pengarang, antara lain bakatnya, suasana lingkungannya, bacaannya, dan lain-lain sangat berpengaruh terhadap metamosphose tema. Bahkan suasana sesaat juga dapat mempengaruhi kreativitas.

(Budi Darma dalam esai Persoalan Proses Kreatif)

Sabtu, 19 Maret 2022

Hakikat Hidup Pengarang

Pengarang menjabarkan hakikat hidup bukan melalui konsepnya, akan tetapi visinya. Seperti halnya bakat, visi adalah intuitif dan terbawa sejak lahir. Dengan visinya pengarang dapat mempunyai kepekaan. Dan dengan kepekaannya pengarang dapat menilai hal-hal yang tidak terlihat atau terasakan oleh orang lain.

(Budi Darma dalam esai Beberapa Gejala dalam Penulisan Prosa) 

Rabu, 01 September 2021

Tema dan Obsesi Pengarang

Masing-masing pengarang memiliki konsep sendiri-sendiri, sesuai dengan kepribadiannya masing-masing. Akan tetapi, konsep tidak akan lengkap manakala tidak diikuti oleh obsesi pengarang. Obsesi inilah, langsung atau tidak langsung, setidaknya bagi saya, akan mewarnai karya pengarang melalui tema-tema berbagai ragam tulisannya. Karena itu, tema sebagai kepanjangan obsesi akan datang terlebih dahulu, sementara plot, konflik, setting, dan lain-lain, menyusul kemudian dengan sendirinya tanpa bisa diramalkan terlebih dahulu.

(Budi Darma dalam esai Pengarang dan Obsesinya)

Kamis, 24 Juni 2021

Karya Sastra yang Jujur dan Berambisi

Kalau kamu sering membaca karya sastra, kamu pasti merasakan mana karya sastra yang ditulis dengan jujur dan sepenuh hati dan mana yang berambisi untuk menjadi perintis atau pelopor. Karya yang baik tidak harus karya perintis atau pelopor itu. Pramoedya itu bukan pelopor, tapi siapa yang berani membantah bahwa karyanya baik. "Pulang" karangan Toha Mochtar tetap menyentuh, mengharukan, indah dan enak dibaca karena ditulis dengan jujur lebih dari 50 tahun lalu. "Mercy" tulisan pemenang Hadiah Nobel, Toni Morrison, yang berkisah tentang penderitaan warga kulit hitam di Amerika tidak membuat pembaca mengerutkan kening, begitu pula karya para pemenang Nobel lainnya.

(Sori Siregar dalam cerpen Saran Seorang Pengarang)


Selamat jalan untuk Pak Sori Siregar (12 November 1939 - 21 Juni 2021).

Minggu, 14 Maret 2021

Kehalusan Jiwa

Tanpa kehalusan jiwa, pengarang tidak mungkin menulis cerpen dengan banyak dimensi. Kehalusan jiwa adalah juga salah satu modal penting kepengarangan.

(Budi Darma dalam buku Pelajaran Mengarang)