"Menulis bagiku adalah cara membebaskan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu."
(Agus Noor dalam cerpen "Gerimis dalam E Minor")
"Menulis bagiku adalah cara membebaskan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu."
(Agus Noor dalam cerpen "Gerimis dalam E Minor")
“Menulis bagiku adalah cara menghindarkan diri dari kegilaan. Piano mengisi jiwaku yang hilang karena kegilaan itu.”
“Apakah hal itu yang terjadi padamu?” tanya temanku lagi.
“Kalimat itu bukan milikku, melainkan kubaca dalam cerpen 'Gerimis dalam E Minor' karya Agus Noor. Aku sungguh merasa terwakili dengan apa yang dia suratkan dalam cerpen itu.”
( dikutip dari cerpen nomor 200 )
Sepertinya aku mesti melewati banyak penderitaan, sehabis itu barulah aku bisa menulis kisah demi kisah,” sahutku setelah sempat bergeming sejenak.
(dikutip dari cerpen nomor 200)
Hidup mati sehat sakit itu takdir
Kau tahu, melukis adalah pekerjaan soliter. Mungkin sama dengan menulis. Diam sendirian berlama-lama, menekuri pikiran sendiri, jauh dari hiruk pikuk, larut dalam ruang sunyi.
(Alan TH dalam novel BUI)
"Ketika aku mulai menulis cerpen, energi negatif itu bagaikan mendapatkan jalan agar tersalurkan. Menjadi semacam ruang katarsis. Jika semua itu kupendam belaka, barangkali aku bisa jatuh sakit, baik raga maupun jiwaku."
(dikutip dari cerpen Nomor 200)
Dalam hidup ini aku tak bisa menjelma jadi orang lain, tapi dalam fiksi aku bisa menjadi siapa saja. Aku bisa membayangkan diriku menjadi orang lain. Bisa dibilang ini semacam terapi.
(Haruki Murakami dalam buku Seni Menulis Fiksi yang diterbitkan Penerbit CIRCA)
Rasanya bahagia sekali, bisa menikmati sensasi membuat cerita. Menjadi seorang dalang dengan kata-kata. Bermain-main dengan isi kepala. Rasanya hal seperti ini telah lama sekali tidak saya nikmati.
(Puthut EA dalam cerpen Usaha Menulis Sebuah Cerita Pendek)