Tampilkan postingan dengan label mocosik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mocosik. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2020

Glenn Fredly Peduli Literasi


"Dunia literasi harus sama bertumbuhnya dengan dunia kreatif." 

Glenn Fredly tampaknya tidak puas jika musik hanya menjadi media berkarya. Glenn memanfaatkan musik lebih dari itu-musik adalah alat baginya untuk mengangkat isu-isu sosial. 

Sikap kritis Glenn tidak terlepas dari peran buku-buku yang dibacanya. Lewat membaca, Glenn jadi suka berdiskusi. Bacaannya kemudian meluas pada tema-tema sosial, politik, dan budaya. Bagi Glenn, buku dapat memberikan inspirasi yang beragam pada pembacanya. Karya-karya sastra dari Franz Kafka, Sapardi Djoko Damono, dan W.S. Rendra turut memberikan sumbangsih bagi penciptaan musik-musiknya. Selain membaca dan berdiskusi, Glenn juga gemar menulis. 

Banyak masalah di negeri ini timbul karena kurangnya budaya literasi dalam komunitas masyarakat. 



Tentang Glenn Fredly ketika tampil di acara Mocosik Festival 2018, ditulis oleh Fitriana Hadi. Terdapat dalam buku MOCOSIK FESTIVAL 2018 Merayakan Buku & Musik karya Adi Yuhana dkk. Diterbitkan Radio Buku bekerja sama dengan Rajawali Indonesia Communication. Cetakan 1, November 2018. . 

Mengenang Glenn Fredly tidak hanya sebagai musisi hebat dan aktivis sosial, tapi juga sebagai seorang yang peduli literasi di negerinya. Semoga jejak-jejak kebaikan Bung Glenn menjadi ilmu yang bermanfaat dan masih bisa kita lanjutkan di muka bumi.

Kamis, 09 April 2020

Selamat Jalan Glenn Fredly



Yang asyik, ada kejutan besar ketika Glenn Fredly duduk di antara penonton dan diajak naik panggung oleh Mas Djaduk. 
(Konser Musik Djaduk Ferianto & Kuaetnika : Nusaswara di TBY, 31/8/2010)
Meski kehujanan sekitar jam 12 malam, namun hati senang menikmati aksi Glenn Fredly. (Ngayogjazz di Pelataran Djoko Pekik, 15/1/2011)
Malamnya saya datang lagi untuk menyaksikan secara langsung performa Tompi dan Glenn Fredly. Sejumlah lagu yang karib di telinga dibawakan oleh mereka dalam dua sesi berbeda. (Mocosik di JEC, 13/2/2017)

Itulah sedikit yang kucatat di masa lalu tentang pengalamanku menonton langsung salah satu musisi favoritku yang baru saja tutup usia dalam usia yang relatif muda.

Selamat menempuh perjalanan baru, Bung Glenn.
Doa dan cinta kami iringi kepergianmu...

Selasa, 27 Agustus 2019

Dua Hari di Mocosik Festival 2019

Baru datang pertama kali pada Sabtu siang (24/8) langsung menyimak obrolan tentang puisi cinta bersama Agus Noor dan Joko Pinurbo dengan dipandu Vika  Aditya nan ayu. Sehabis itu berkeliling melihat begitu banyak buku dan akhirnya membawa pulang tiga buku yang dijual sepuluh ribuan. Ketika aku membayar 30 ribu saja, di kasir sebelah ada seorang lelaki yang mengeluarkan lebih dari satu juta dari saku celananya. 

Aku kembali berada di Mocosik Festival 2019 pada Minggu petang (25/8) yang merupakan hari pamungkas. Seusai membeli tiket dan sejumlah buku, aku pun menyaksikan Ine Febriyanti dan Whani Darmawan membaca salah satu bab dalam buku Bumi Manusia. Semoga masih sempat kutonton akting dua aktor hebat itu dalam film garapan Hanung Bramantyo tersebut di bioskop.  Menghadirkan impresi tersendiri kala menyimak obrolan bersama keluarga Pramoedya Ananta Toer dan juga salah satu tokoh Mocosik yang menjadi pelopor terbitnya kembali karya Pram pada era reformasi. Setelah mendengarkan sejenak obrolan tentang dokumentasi musik di Indonesia, aku pun beranjak ke lokasi pertunjukan untuk menyaksikan Pusakata dan Tulus. Semua orang pun pulang dengan bahagia pada malam itu. Terima kasih, Mocosik Festival 2019.

Minggu, 30 Juni 2019

Musik Itu Berbagi


"Saya yakin penciptaan lagu bukan hanya kepandaian saya, tetapi memang ada pemberian Tuhan di sana. Inspirasi menjadi sebuah kekuatan ketika ditangkap dengan hati yang penuh ketulusan." 

"Musik itu berbagi. Musik itu persahabatan, persaudaraan, dan cinta. Itulah semangat bermusik." 

Tentang Yovie Widianto terdapat dalam buku MOCOSIK FESTIVAL 2018 Merayakan Buku & Musik, ditulis oleh Adi Yuhana, dkk. Diterbitkan oleh Radio Buku bekerja sama dengan Rajawali Indonesia Communication. Cetakan 1, November 2018. 

Rabu, 22 Mei 2019

Kalau Tidak Punya Facecook Atau Twitter


"Banyak realitas yang tidak dialami secara empiris, hanya diketahui lewat media sosial. Kita melihat realitas itu kacau, padahal secara empiris tidak. Kalau tidak berhubungan dengan media sosial, dunia akan baik-baik saja." 

"Menulis adalah mencurahkan perasaan dengan terlebih dahulu direnungkan. Kata-kata akan berbicara lebih bila direnungkan dahulu : itu yang disebut proses kreatif."  

Tentang Seno Gumira Ajidarma ketika tampil di Mocosik Festival 2018, ditulis oleh Prima Hidayah. Terdapat dalam buku MOCOSIK FESTIVAL 2018 Merayakan Buku & Musik karya Adi Yuhana dkk, diterbitkan oleh Radio Buku bekerja sama dengan Rajawali Indonesia Communication. Cetakan 1, November 2018.

Senin, 27 Februari 2017

Menghadiri MocoSik Dua Pekan Lalu

Sebuah acara menarik sempat digelar di Yogyakarta, tepatnya berlangsung 12, 13, dan 14 Februari 2017. Namanya MocoSik, Festival Buku dan Musik, berlokasi di JEC (Jogja Expo Center). Saya menghadiri acara tersebut di hari kedua saja, Senin (13/2), dua pekan silam. Pada hari itu, sejak siang saya berada di sana untuk menyimak penampilan Jono Terbakar, Sanggar Bumi Menoreh, dan Kopibasi. Sebelum mereka membawakan karyanya, ada obrolan santai tentang proses kreatif mereka bersama Irwan Bajang dan seorang kawannya. Jono Terbakar membawakan lagu bertema santai dan serius : Atos, Sepatu Sporty, dan Tualang.

Menjelang Magrib saya pulang setelah sempat berbincang dengan keponakan saya, sehabis dia tampil sebagai salah salah satu pengisi acara. Ada lebih dari 100 judul buku yang bisa dipilih untuk menjadi tiket menonton pertunjukan musik dan talk show selama tiga hari. Sebuah buku tiket seharga 50 ribu akhirnya saya beli demi menyaksikan penyanyi favorit saya beberapa jam kemudian. Judul buku itu "Menulis Itu Indah - Pengalaman Para Penulis Dunia", diterbitkan oleh Octopus, diterjemahkan oleh Adhe Ma'ruf, dan penyuntingnya Dewi Kharisma Michellia. Kebetulan, hari itu saya berkali-kali berpapasan dengan sang penerjemah, sementara sang editor pernah saya temui bertahun-tahun lalu. Saat ini dia sudah menjadi penulis muda yang memiliki reputasi cemerlang di khazanah sastra Indonesia. Saya berencana membeli kumpulan cerpen terbarunya yang baru terbit dan berjudul "Elegi".



Malamnya saya datang lagi untuk menyaksikan secara langsung performa Tompi dan Glenn Fredly. Sejumlah lagu yang karib di telinga dibawakan oleh mereka dalam dua sesi berbeda. Keluar dari tempat pertunjukan, hujan ternyata tengah deras mengguyur Jogja. Namum, kaki saya sudah telanjur menginjak aspal halaman JEC, maka saya beranjak pergi saja dari tempat itu dengan menggunakan jas hujan. Berhubung hujan sudah berkurang kadar derasnya menjelang sampai tujuan, sepeda motor saya bawa belok kanan ke Jalan Tamansiswa, lalu saya pun singgah di warung dekat kampus FH UII untuk memesan teh panas (dengan sedikit gula) dan mie godhog. Cukuplah hari itu menjadi hari yang terasa berbeda dan menghadirkan impresi tersendiri. Tak masalah ketika hanya sehari saya mengikuti MocoSik karena adanya kesibukan di hari lainnya. Moga-moga acara serupa bisa hadir lagi di masa mendatang, baik di Jogja maupun di kota-kota lainnya.