Tampilkan postingan dengan label mengenang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Maret 2024

Cerpen Satu Dekade Berselang di parewa.co

 

Sekitar enam bulan lalu ternyata ada cerpen saya yang dimuat di sebuah situs.

Kendati tiada honornya pun tak mengapa.

Tetap kusyukuri dan cukup menghibur hati.

Cerpen itu bisa dibaca di
https://parewa.co/satu-dekade-berselang/

Sabtu, 10 Desember 2022

Mas Iman adalah Manusia Agung

 

Mas Iman adalah manusia agung yang suci hatinya, penuh iman dan cinta sejati jiwanya, serta senantiasa jujur berpikirnya. Sejarah hidupnya sangat memenuhi kandungan makna dari tiga kata yang disematkan orang tua beliau sebagai nama atau pertanda keberadaannya : iman dan budi dan sentosa.

(Emha Ainun Nadjib tentang Iman Budhi Santosa dalam esai Keindahan Namanya Adalah Kemuliaan Hidupnya - buku Mereka yang Tak Pernah Mati)

Sabtu, 20 Maret 2021

Mengenang Sapardi : Kutipan Cerpen Joko Pinurbo

Mengenang Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020) :

Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan. 

(Joko Pinurbo dalam cerpen Sebotol Hujan untuk Sapardi)


Kamis, 27 Agustus 2020

Mengenang Sapardi : Apa Sebenarnya Makna Sejarah


"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," ujar pemimpin negara waktu itu. Dan ia terguling. Apakah sebenarnya makna sejarah? Apa pula makna meninggalkan sejarah? Kita ini sedang menciptakan sejarah atau terbawa dalam arus? Yang sangat deras. Apakah orang bisa berada di luar sejarah agar bisa menciptakannya? Dengan kekerasan? 
"Bangsa-bangsa primitif di dunia ketiga harus belajar," kata profesornya yang suka omong seenaknya itu. Yang suka menyulut ribut-ribut di ruang kuliah dan suka mengajaknya ngobrol di kafetaria kampus. Tapi belajar apa? Dan bagaimana? Masyarakat mana pun, yang sudah memiliki tata cara bertindak dan berpikir sendiri, untuk apa belajar dari orang bangsa lain? Pikirnya. Untuk apa mengukur semuanya berdasarkan konsep-konsep asing? Ia mendadak khawatir akan cara berpikirnya sendiri. 

(Sapardi Djoko Damono dalam Pengarang Telah Mati) 



Pertama kali membaca Pengarang Telah Mati pada 2010, tak lama setelah membelinya bersama Pengarang Belum Mati dan Nokturno di Studio Teater Garasi. Itulah momentum pertama saya melihat Pak Sapardi hanya beberapa meter di depan mata. Kembali membacanya ketika sang pengarang telah tutup usia dan menemukan kalimat-kalimat mengesankan yang disuratkannya. 
Semoga Pak Sapardi baik-baik belaka hidupnya di alam sana. 

Kamis, 30 Juli 2020

Selamat Jalan, Pak Ajip Rosidi


Buku ini sudah menjadi koleksi milik orangtua sejak saya masih bayi. Ada tanda tangan mendiang Ibu, tanggal pembelian 6/6'77, harga buku Rp 4000; dan dibeli di Toko Buku dan Alat Tulis "Merbabu" Semarang. Sejujurnya saya baru menemukan buku ini dan mulai membacanya sejak saya tertarik menulis cerpen, kurang dari 15 tahun lalu. Sedari awal saya sungguh kagum dan respek kepada penyusun buku yang luar biasa ini. Hingga kini saya belum tuntas membacanya dan masih terus mempelajari isinya. 


Kuteliti tanganku : urat-uratnya, tulang-tulangnya... 
Bisa saja lenyap tiba-tiba. Tak satu pun kupunya. 
Selain doa. 
(dikutip dari puisi Memandang Kehidupan karya Ajip Rosidi, 1968) 

Selamat jalan, Pak Ajip Rosidi (1938-2020).


Jumat, 24 Juli 2020

Sajak bagi SDD dan Sajak untuk AGS


Sajak karya Ags. Arya Dipayana bagi Sapardi Djoko Damono dimuat di buku Sehingga Kabut yang diterbitkan oleh Hutan Karet Depok (1990). Sang guru kemudian menulis Sajak untuk AGS yang menutup buku Tetapi Waktu, kumpulan tulisan tentang Ags. Arya Dipayana yang diterbitkan oleh Teater Tetas Jakarta (2011). 

Maut, katamu, tak bisa sombong karena tak bisa lagi membunuhmu. Dan kau pun terus menyanyi tanpa berpikir tentang tepuk tangan dalam lakon yang kaupimpin sendiri tengah malam itu. Maka sempurnalah pementasan itu dalam sebuah nyanyian, 
perjamuan telah digenapkan, 
ke mana lagi kau harus menuju? 
(dikutip dari bait terakhir Sajak untuk AGS)

Mengharamkan Kata 'Liyan'

Selama mendengarkan khotbah di Masjid Gedhe ia tetap mendengar kata-kata Pingkan di sela-sela pengkhotbah untuk tidak memanfaatkan agama sebagai alat untuk mencapai apa pun, kecuali untuk mendekatkan diri dengan Allah. Itu perintah Allah, itu perintah Muhammad SAW, itu yang menjadi dasar keyakinannya sebagai orang yang harus menghargai keyakinan orang lain, yang selalu mengharamkan kata 'liyan' dalam cara berpikirnya. Biarlah kata itu tetap ada di kamus, tetapi tidak perlu digunakan untuk mencibir, apa lagi menyiksa orang lain.

(Sapardi Djoko Damono dalam novel Hujan Bulan Juni)

Senin, 20 Juli 2020

Mengenang Sapardi : Kesederhanaan Sesuatu yang Indah


Meskipun sudah mengenal beliau sebagai penyair kondang, tapi buku karya beliau yang pertama kali saya miliki adalah kumpulan cerpen Membunuh Orang Gila. Saya membelinya di Gramedia Sudirman pada 2006. Setelah itu barulah saya mengoleksi Nokturno : Lirik Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Damono. Buku ini memuat puisi-puisi yang sangat dikenal publik, seperti Aku Ingin, Di Restoran, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta, dan Yang Fana Adalah Waktu. Saya membeli buku bersampul biru tersebut di Studio Teater Garasi pada 2010. 

Mengutip kata pengantar dalam Membunuh Orang Gila : Lewat kata-kata dalam karya-karyanya, Sapardi bisa memainkan logika dengan amat piawai. Lebih dari itu, Sapardi telah membuktikan bahwa kesederhanaan masih tetap sesuatu yang indah, dan keindahan itu abadi.

Minggu, 19 Juli 2020

Mengenang Sapardi : 19-7-20


Hening adalah 
ketika aku 
tak lagi 
mampu 
mengeja 
apa pun 
yang baru saja 
kuucapkan.  
(Hening Gendis, halaman 19 Kitab Puisi Perihal Gendis) . 

Penyair memilih kata-kata dan menyusunnya sedemikian rupa agar bisa menimbulkan perasaan tertentu bagi yang membacanya.  
(Bagian Pertama, halaman 7 Bilang Begini, Maksudnya Begitu) 

Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap, tetapi takdir harus ditandatangani di atas meterai dan tidak boleh diganggu gugat kalau nanti terjadi apa-apa, baik atau buruk. Kata yang ada di Langit sana, kalau baik ya alhamdulilah, kalau buruk ya disyukuri saja.  
(Bab Dua, halaman 20 novel Hujan Bulan Juni)



Senin, 18 Mei 2020

Glenn Fredly Peduli Literasi


"Dunia literasi harus sama bertumbuhnya dengan dunia kreatif." 

Glenn Fredly tampaknya tidak puas jika musik hanya menjadi media berkarya. Glenn memanfaatkan musik lebih dari itu-musik adalah alat baginya untuk mengangkat isu-isu sosial. 

Sikap kritis Glenn tidak terlepas dari peran buku-buku yang dibacanya. Lewat membaca, Glenn jadi suka berdiskusi. Bacaannya kemudian meluas pada tema-tema sosial, politik, dan budaya. Bagi Glenn, buku dapat memberikan inspirasi yang beragam pada pembacanya. Karya-karya sastra dari Franz Kafka, Sapardi Djoko Damono, dan W.S. Rendra turut memberikan sumbangsih bagi penciptaan musik-musiknya. Selain membaca dan berdiskusi, Glenn juga gemar menulis. 

Banyak masalah di negeri ini timbul karena kurangnya budaya literasi dalam komunitas masyarakat. 



Tentang Glenn Fredly ketika tampil di acara Mocosik Festival 2018, ditulis oleh Fitriana Hadi. Terdapat dalam buku MOCOSIK FESTIVAL 2018 Merayakan Buku & Musik karya Adi Yuhana dkk. Diterbitkan Radio Buku bekerja sama dengan Rajawali Indonesia Communication. Cetakan 1, November 2018. . 

Mengenang Glenn Fredly tidak hanya sebagai musisi hebat dan aktivis sosial, tapi juga sebagai seorang yang peduli literasi di negerinya. Semoga jejak-jejak kebaikan Bung Glenn menjadi ilmu yang bermanfaat dan masih bisa kita lanjutkan di muka bumi.

Selasa, 31 Desember 2019

Mengenang 2019 Ala Instagram


Pada tahun 2019 : 
Ada puisi terakhir pamanku menjelang tutup usianya 
Mengenang eksistensi mendiang Ibu lewat sejumlah cerpenku 
Mengenang kasih sayang seorang bapak kepada anak bungsunya 
melalui sebuah foto zaman dahulu 
Ada hangatnya kebersamaan bertemu sanak saudara yang lama tak dijumpa 
Ada panggung sederhana yang menjadi ajang anak-anak berekspresi 
seni suara menjelang buka puasa 
Memajang koleksi bukuku yang ditandatangani para penulisnya 
Memajang sejumlah buku yang kuperoleh dalam sebuah pameran 
Ada puisi Candra Malik yang bertajuk Itukah Kita?

Minggu, 29 April 2018

Mengenang Seseorang di Hari Lahirnya

Hatinya bersih penuh welas asih, sikapnya tulus tanpa pernah berharap balasan, wawasan berpikirnya yang luas serta pengalaman hidupnya yang kompleks, tak pernah segan dibagikan pada siapa saja. Saya menyadari bahwa banyak orang yang menyayangi dirinya, ketika menghadiri acara pemakamannya di Jakarta. Malah terlihat ada sejumlah figur publik yang mengenali sosok paman saya dengan sangat dekat. Mereka bahkan bermuram durja seperti saya yang merupakan kerabat dekatnya. (mengenang Ags. Arya Dipayana di hari lahirnya, dikutip dari cerpen "Mengikuti Jejak Sang Paman")

Kamis, 06 Oktober 2016

Mengenang Pentas Musik AFC 2015

Tepat setahun silam, 6 Oktober 2015, Pekan Seni Art for Children 2015 dibuka oleh Kepala Taman Budaya Yogyakarta. Anak-anak kelas seni tari mengawali acara pembukaan yang berlangsung di lobi ruang pameran TBY. Mereka dibimbing oleh Putria Dewi, Anastasia Yayuk, Theresia Wulandari, dan beberapa guru lainnya. Anak-anak kelas seni rupa memamerkan karyanya yang berupa lukisan, seni kriya, maupun seni instalasi di ruang pameran. Mereka dibimbing Yuswantoro Adi dan Dwi Winarsih yang dibantu oleh Imam. Pameran berlangsung hingga 11 Oktober 2015 dan pada hari terakhir dipentaskan pula operet kolaborasi "Bumiku Indah" karya sutradara Broto Wijayanto (pembimbing kelas teater) di Concert Hall.



Sehabis acara pembukaan, anak-anak kelas vokal dan ensembel musik unjuk gigi di Concert Hall. Mereka menyanyikan lagu-lagu karya R. Sigit Eko Riyanto (pembimbing kelas vokal), seperti Burung Kenari, Riang-Riang, Ke Sekolah, dan Liburanku. Mereka pun membawakan sejumlah lagu nasional, lagu anak-anak yang akrab di telinga, maupun lagu-lagu daerah. Dwipa Hanggana Prabawa, sebagai arranger dan dirigen orkestra mini yang tampil malam itu, dibantu oleh sejumlah musisi profesional lulusan ISI. Ayah dari putri kecil bernama Damai tersebut merupakan pembimbing kelas musik bersama sang istri, Dewi Kurniawati, dan Adi Darmawan.   



Sejumlah lagu dinyanyikan anak-anak vokal dengan iringan piano -secara bergantian- oleh Luhur Satya Pambudi dan Haryo Praptomo. Beberapa lagu lainnya dibawakan secara instrumentalia oleh anak-anak musik. Ada pula lagu yang merupakan hasil kolaborasi anak vokal dan musik. Gabriela Vibra, Cynthia Zhafira, dan Silmi Fasya menjadi solis tiga lagu dengan iringan orkestra.



Daftar lagu yang dibawakan : Jingle AFC, Masha and The Bear, Burung Kenari, Riang-Riang, Ke Sekolah, Liburanku, Desaku, Lelo Ledhung, Bungong Jeumpa, Soleram, Medley Ondel-Ondel dan Sang Kodok, Lir-Ilir, Bermain, Menyanyi dan Menari, Rek Ayo Rek, Rame-Rame, Yamko Rambe Yamko, Sekuntum Mawar, You'll Be In My Heart, Tanah Air, Indonesia Jaya, Kapan-Kapan.

Terima kasih secara khusus saya ucapkan kepada Saudara Moh. Jauhar al-Hakimi yang membuat video acara malam itu dan diunggah di Youtube dengan tajuk "Pekan Seni AFC 2015" serta membuat reportase keren yang tersaji di situs Satu Harapan.

Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi (satuharapan.com)