Tampilkan postingan dengan label Ags.Arya Dipayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ags.Arya Dipayana. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2022

Sebelas Tahun Berlalu


Barangkali boleh dibilang Mas Adji itu seniman multibakat. Memang namanya lebih dikenal sebagai dramawan. Ia mendirikan sekaligus memimpin sebuah kelompok teater yang cukup terpandang di Jakarta. Namun, ia sesungguhnya merupakan pencipta lagu yang andal, cerpenis, penyair, dan aktor yang lumayan disegani pula oleh mereka yang mengakrabinya. Aku merupakan penggemar sejati karya-karyanya yang beraneka warna, baik itu pentas teaternya, lagunya, maupun karya tulisnya. Belakangan kudengar ia kerap berkeliling dari daerah ke daerah di seluruh penjuru Nusantara untuk berbagi ilmu serta pengalamannya selama puluhan tahun menjalani proses kreatif.

Satu hal yang khas dari Mas Adji adalah penampilannya yang begitu sederhana. Ia biasanya cukup mengenakan kemeja polos berwarna kalem dan celana jeans, dengan alas kaki sandal jepit berharga murah. Sebuah tas ransel selalu menyertai derap langkahnya ke mana saja. Mas Adji juga suka sekali berjalan kaki maupun naik angkutan umum.


Dikutip dari cerpen "Impresi tentang Dia" demi mengenang Agung Setyadji alias Ags. Arya Dipayana yang tutup usia pada 1 Maret 2011. Sebelas tahun telah berlalu.

Senin, 01 Maret 2021

Satu Dekade Berlalu

Hatinya bersih penuh welas asih, sikapnya tulus tanpa pernah berharap balasan, wawasan berpikirnya yang luas serta pengalaman hidupnya yang kompleks, tak pernah segan dibagikan pada siapa saja. Saya menyadari bahwa banyak orang yang menyayangi dirinya, ketika menghadiri acara pemakamannya di Jakarta.  (dikutip dari cerpen Mengikuti Jejak Sang Paman - dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 19 Mei 2013) 

Mengikuti Jejak Sang Paman disuratkan sebagai sepercik kenangan tentang Ags. Arya Dipayana oleh sang keponakan. Hari ini tepat satu dekade berlalu dari hari tutup usianya (1 Maret 2011 - 1 Maret 2021). 


Satu dasawarsa kita tak lagi bersua 

Kuharap nyaman belaka kau di sana 

Bagaimana kabar ibu bapakku, kakek nenekku, juga saudara-saudaramu? 

Apakah kalian bisa saling menyapa atau barangkali malah sudah kerap berjumpa?

Jumat, 24 Juli 2020

Sajak bagi SDD dan Sajak untuk AGS


Sajak karya Ags. Arya Dipayana bagi Sapardi Djoko Damono dimuat di buku Sehingga Kabut yang diterbitkan oleh Hutan Karet Depok (1990). Sang guru kemudian menulis Sajak untuk AGS yang menutup buku Tetapi Waktu, kumpulan tulisan tentang Ags. Arya Dipayana yang diterbitkan oleh Teater Tetas Jakarta (2011). 

Maut, katamu, tak bisa sombong karena tak bisa lagi membunuhmu. Dan kau pun terus menyanyi tanpa berpikir tentang tepuk tangan dalam lakon yang kaupimpin sendiri tengah malam itu. Maka sempurnalah pementasan itu dalam sebuah nyanyian, 
perjamuan telah digenapkan, 
ke mana lagi kau harus menuju? 
(dikutip dari bait terakhir Sajak untuk AGS)

Jumat, 06 September 2019

Menyimak Reda Menyanyi Sendiri


Menyimak Reda Gaudiamo menyanyikan sendiri lagu puisi yang biasanya beliau bawakan bersama Ari Malibu, setiap lagu terasa syahdu dan menjadi sendu. Aku ingin ikut menyanyikan Aku Ingin, tapi dadaku malah rada sesak dan tanganku bergetar mengingat sang pencipta lagu yang telah tiada, Ags. Arya Dipayana. Tiba-tiba aku rindu padamu, Om Adji. 

Rabu, 06 Maret 2019

Siang Hari Itu


Siang hari itu, 2 Maret 2011, dengan tegar jiwa kau ucapkan salam perpisahan bagi kakak tercintamu sesaat setelah jasadnya dikebumikan. Tak kuasa kutahan gejolak dalam dada hingga meneteslah kembali air mata. 

Siang hari itu, 2 Maret 2019, dengan sendu kalbu aku datangi tempat peristirahatan terakhirmu yang bersatu dengan kakekku dan bersebelahan dengan kakakmu, yang delapan tahun silam kita antarkan kepulangannya bersama-sama. 

Karena tak dapat kuungkapkan 
Kata yang paling cinta
Kupasrahkan saja dalam doa 

(dikutip dari puisi Karena Kata karya Ags. Arya Dipayana) 

Minggu, 29 April 2018

Mengenang Seseorang di Hari Lahirnya

Hatinya bersih penuh welas asih, sikapnya tulus tanpa pernah berharap balasan, wawasan berpikirnya yang luas serta pengalaman hidupnya yang kompleks, tak pernah segan dibagikan pada siapa saja. Saya menyadari bahwa banyak orang yang menyayangi dirinya, ketika menghadiri acara pemakamannya di Jakarta. Malah terlihat ada sejumlah figur publik yang mengenali sosok paman saya dengan sangat dekat. Mereka bahkan bermuram durja seperti saya yang merupakan kerabat dekatnya. (mengenang Ags. Arya Dipayana di hari lahirnya, dikutip dari cerpen "Mengikuti Jejak Sang Paman")

Senin, 19 Juni 2017

Menikmati AriReda yang Mendadak Konser di Jogja

Sebuah acara yang relatif mendadak diselenggarakan ternyata tetap bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak. Demikianlah yang terjadi ketika AriReda (Ari Malibu dan Reda Gaudiamo) tampil dalam sebuah konser di Kedai Kebun Forum (KKF) Yogyakarta pada Minggu malam, 18 Juni 2017. Mereka sendiri mengistilahkan pertunjukan tersebut sebagai mendadak konser karena sebenarnya mereka berdua sedang berada di Jogja untuk proses rekaman album terbaru AriReda. Dari hasil perbincangan santai mereka tercetus kalimat, "Kayaknya asyik nih, kalau kita konser," dan terwujudlah pentas musik yang dipersiapkan hanya sekitar dua hari itu. Begitu mengetahui bahwa AriReda akan tampil, saya langsung berniat untuk menyaksikannya. Pada Mei 2016 mereka sempat konser di tempat yang sama, tapi tiketnya telah habis ketika saya bermaksud membelinya. Maka kesempatan kali ini tak boleh disia-siakan, apalagi konser di bulan Juni 2017 digelar secara gratis.


Konser berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan materi album terbaru AriReda yang bertajuk Suara dari Jauh, yang merupakan musikalisasi puisi karya Goenawan Mohamad. Seluruh lagu dalam album (hampir semua gubahan M. Umar Muslim) dibawakan dengan syahdu, antara lain Lagu Hujan, Surat Cinta, Z, Sajak Anak-anak Mati, dan Quatrain About A Pot (satu-satunya lagu berbahasa Inggris). Sesi kedua menampilkan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono yang sebagian besar sudah dikenal oleh para penonton. Bahkan AriReda membawakan lagu-lagu tersebut berdasarkan permintaan para penggemarnya. Maka mengalunlah Nokturno, Hujan Bulan Juni, Di Restoran, Gadis Kecil, Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka, Kuhentikan Hujan, Pada Suatu Hari Nanti, Lanskap, dan Aku Ingin sebagai penutup konser. Lagu berjudul Lanskap sepertinya baru pertama kali saya dengar dan ternyata merupakan puisi karya Pak Sapardi pula. 

Sejak nomor pembuka, denting gitar Ari dan suara bening Reda langsung membuai kalbu. Seluruh komposisi dimainkan dengan penjiwaan yang dalam dan hasilnya begitu indah. Hati pun rasanya tersentuh. Setiap lagu berakhir, duo artis berusia 50-an tersebut selalu menyunggingkan senyuman lebar yang menebarkan aura kehangatan dan kedamaian. Kata pengantar di antara lagu sesekali membuat penonton tertawa. AriReda tetap tampil maksimal kendati persiapan konser singkat dan mereka pun sedang batuk. Bahkan keduanya sempat ngemil kencur di sela-sela pertunjukan.

Suasana konser AriReda di KKF (18/6/17). Foto @masgufi.

Bagi saya pribadi, lagu Aku Ingin menjadi nomor yang paling emosional karena pencipta melodi lagu tersebut, Ags. Arya Dipayana, adalah paman saya yang sudah tutup usia pada 2011 lalu. Begitu lagu itu dilantunkan, saya sempat membayangkan bagaimana keadaan Om Adji ketika menyusun komposisi lagu dengan melodi dan akor yang tidak biasa itu hingga menjadi karya yang istimewa dan bahkan abadi. Menjadi kegembiraan dan kebanggaan tersendiri saat seusai konser saya membeli CD Suara dari Jauh, lantas meminta tanda tangan dari sang artis seraya memperkenalkan diri, "Saya keponakan Mas Adji." Mas Ari dan Mbak Reda pun menjabat tangan saya dengan erat. Saya sengaja tidak meminta foto bersama mereka karena saya tidak memiliki akun Instagram dan ponsel saya terlalu sederhana untuk bisa membuat foto yang berkualitas. Yang jelas, saya pulang dengan suasana hati nyaman dan mensyukuri salah satu berkah di malam Ramadan tersebut.

Rabu, 12 Oktober 2016

Lalu Angin

Lalu angin ?
Apa katamu tentang angin
yang tak henti-henti berkisar
di antara siang dan malam ?
Tidak. Angin hanya diam. Tapi
siang dan malam begitu cepat bertukar tempat
sehingga angin, kita selalu saja alpa
menerjemahkannya.


(Ags. Arya Dipayana)

Jumat, 29 April 2016

Kepada Kesangsian

Kalau pun hidup ini samudra
Kita punya gelora
Kalau pun hidup ini angkasa
Kita pun tahu luasnya

Kalau pun hidup ini duka
Kita punya luka
Kalau pun hidup ini cinta
Kita telah bertegur sapa

Lalu kenapa kita berhenti
Sedang matahari pun bergegas
Mengejar mimpi


(Ags. Arya Dipayana)

Tiba-Tiba

tiba-tiba
kau pun mendengar seperti suara tawa
ketika duka tak tertampung
dalam Duka
begitu tiba-tiba

(Ags. Arya Dipayana)

Selasa, 26 Juli 2011

Karena Kata (Ags. Arya Dipayana)


Karena tak dapat kutemukan
Kata yang paling sepi
Kutelantarkan hati sendiri

Karena tak dapat kuucapkan
Kata yang paling rindu
Kubiarkan hasrat terbelenggu

Karena tak dapat kuungkapkan
Kata yang paling cinta
Kupasrahkan saja dalam doa

(ags arya dipayana)

Selasa, 15 Maret 2011

Sehabis Duka (Ags.Arya Dipayana)


Tundukkan kepalamu, dan teruslah melangkah.

Berusahalah tidak mendengar setiap makian, setiap

ejekan yang sesungguhnya memang ditujukan pada kita.

Tak ada perlunya berkata-kata. Kita bergegas pergi.

Awas! Berpalinglah dari cahaya

agar sama sekali tak sempat mereka tegaskan

luka di Wajah kita.


*Agung Setyadji bin Darjono Hadiwijojo atau Ags. Arya Dipayana.

Lahir di Tulungagung, 29 April 1961, dan wafat di Purwakarta, 1 Maret 2011. Adalah seorang penulis (puisi, cerpen, naskah drama, esai), sutradara, aktor, musisi, guru, dan sahabat begitu banyak orang. Menjadi pendiri dan pemimpin Teater Tetas Jakarta. Menciptakan lagu religi ”Dengan Menyebut Nama Allah” dan menciptakan lagu dari puisi Sapardi Djoko Damono ”Aku Ingin” serta seabrek karya seni lainnya dalam beragam wujud. Dimakamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta.