Tampilkan postingan dengan label mengenang yang tercinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenang yang tercinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2022

Tiga Dekade Berlalu Bapak Pergi


Hari ini tepat tiga dekade berlalu Bapak pergi. Untuk mengenangnya pernah tersurat cerpen berjudul The Day My Dad Passed Away.

Demi mengingatnya pula, maka terlantunlah lewat denting piano lagu-lagu bertema serupa : Ayah (Rinto Harahap), Ayah (Seventeen Band), Titip Rindu buat Ayah (Ebiet G. Ade), dan Yang Terbaik Bagimu/ Jangan Lupakan Ayah (ADA Band feat. Gita Gutawa). Demikian pula sejumlah lagu lainnya tentang cinta dan kerinduan kepada orangtua. 

(LSP)

Selasa, 01 Maret 2022

Sebelas Tahun Berlalu


Barangkali boleh dibilang Mas Adji itu seniman multibakat. Memang namanya lebih dikenal sebagai dramawan. Ia mendirikan sekaligus memimpin sebuah kelompok teater yang cukup terpandang di Jakarta. Namun, ia sesungguhnya merupakan pencipta lagu yang andal, cerpenis, penyair, dan aktor yang lumayan disegani pula oleh mereka yang mengakrabinya. Aku merupakan penggemar sejati karya-karyanya yang beraneka warna, baik itu pentas teaternya, lagunya, maupun karya tulisnya. Belakangan kudengar ia kerap berkeliling dari daerah ke daerah di seluruh penjuru Nusantara untuk berbagi ilmu serta pengalamannya selama puluhan tahun menjalani proses kreatif.

Satu hal yang khas dari Mas Adji adalah penampilannya yang begitu sederhana. Ia biasanya cukup mengenakan kemeja polos berwarna kalem dan celana jeans, dengan alas kaki sandal jepit berharga murah. Sebuah tas ransel selalu menyertai derap langkahnya ke mana saja. Mas Adji juga suka sekali berjalan kaki maupun naik angkutan umum.


Dikutip dari cerpen "Impresi tentang Dia" demi mengenang Agung Setyadji alias Ags. Arya Dipayana yang tutup usia pada 1 Maret 2011. Sebelas tahun telah berlalu.

Senin, 01 Maret 2021

Satu Dekade Berlalu

Hatinya bersih penuh welas asih, sikapnya tulus tanpa pernah berharap balasan, wawasan berpikirnya yang luas serta pengalaman hidupnya yang kompleks, tak pernah segan dibagikan pada siapa saja. Saya menyadari bahwa banyak orang yang menyayangi dirinya, ketika menghadiri acara pemakamannya di Jakarta.  (dikutip dari cerpen Mengikuti Jejak Sang Paman - dimuat di Tribun Jabar edisi Minggu, 19 Mei 2013) 

Mengikuti Jejak Sang Paman disuratkan sebagai sepercik kenangan tentang Ags. Arya Dipayana oleh sang keponakan. Hari ini tepat satu dekade berlalu dari hari tutup usianya (1 Maret 2011 - 1 Maret 2021). 


Satu dasawarsa kita tak lagi bersua 

Kuharap nyaman belaka kau di sana 

Bagaimana kabar ibu bapakku, kakek nenekku, juga saudara-saudaramu? 

Apakah kalian bisa saling menyapa atau barangkali malah sudah kerap berjumpa?

Sabtu, 27 Februari 2021

Bapak dan Teman-temannya

 


Bapak saya semasa muda bersama teman-temannya. Tidak ada keterangan waktu dan tempat dalam foto ini. Bapak saya menjadi satu-satunya orang yang terlihat sepatunya. 

Selasa, 22 Desember 2020

Ibuku dan Eyang Putriku



Tiga belas tahun silam 

Tak terbayangkan sama sekali 

Mereka hijrah ke alam berbeda 

Hanya berselang 107 hari 

Namun kasih sayang mereka tak jua sirna 

Tetap bersemayam 

Dalam sanubari 

Terima kasih tiada tara 

Untuk Ibu dan Ibu 


Selamat Hari Ibu untuk perempuan seluruh Indonesia.