Tampilkan postingan dengan label mengenang ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenang ibu. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 Desember 2022
Selasa, 22 Desember 2020
Ibuku dan Eyang Putriku
Tiga belas tahun silam
Tak terbayangkan sama sekali
Mereka hijrah ke alam berbeda
Hanya berselang 107 hari
Namun kasih sayang mereka tak jua sirna
Tetap bersemayam
Dalam sanubari
Terima kasih tiada tara
Untuk Ibu dan Ibu
Selamat Hari Ibu untuk perempuan seluruh Indonesia.
Sabtu, 30 Mei 2020
Lebaran Terakhir Mama dan Ibunya
“Saya tentu saja mau sembuh dan bisa sehat lagi, Bu. Tapi saya tetap pada prinsip saya bahwa menjalani cuci darah cukup sekali seumur hidup. Dan pada sisi yang lain, jika sewaktu-waktu Allah memanggil, saya yakin sudah siap,” ujar Mama di depan Nenek yang merasa trenyuh mendengarkan kata-kata putrinya.
“Ya, semoga Allah mengabulkan keinginanmu, Nak.
Ibu menghargai pilihanmu dan sebatas dapat mendoakan yang terbaik bagimu.”
Mama justru menerima tawaran adik iparnya dengan mencoba pengobatan alternatif. Lima hari menjelang lebaran, kami mencari tempatnya di sebuah desa, tak terlalu jauh dari kota kami. Setelah bertanya berkali-kali, akhirnya lokasi yang kami tuju barulah ketemu, sekitar dua jam kemudian. Selanjutnya, pada hari terakhir puasa kuantarkan Mama ke tempat itu kembali. Sepertinya beliau cukup percaya bahwa di situlah adanya sebersit asa demi kesembuhan penyakitnya.
***
Ketika Idul Fitri tiba, cerialah hati kami semua.
Ada Nenek dan Mama beserta segenap anak cucunya berkumpul di rumah Kak Okta.
Padahal sudah lama kami tidak berlebaran bersama Nenek di kotanya, tapi kali
ini terasa istimewa karena justru beliau yang hadir kemari. Semoga masih bakal
hadir kembali indahnya kebersamaan serupa itu pada tahun mendatang. Begitulah
asaku dalam kalbu. Kendati masih dibayangi keprihatinan lantaran Mama belum
sembuh benar, syukurlah bahwa kami masih bisa bercengkrama dan bersukacita di
hari lebaran. Seminggu sehabis Idul Fitri, Mama yang sempat tinggal di rumah
Kak Okta sepulangnya dari rumah sakit, akhirnya kembali ke rumahnya sendiri
untuk tinggal bersamaku dan Kak April belaka. Nenek sudah lebih dahulu pulang
ke kotanya, tiga hari sebelumnya.
Selama sekian pekan berselang, laksana ada harapan Mama bakal sembuh seperti sediakala, sesudah seminggu sekali menjalani pengobatan alternatif di desa. Aku tahu, beliau sungguh berat menjalaninya. Mama diharuskan diet sangat ketat dan minum jamu super pahit dari sang tabib. Tapi lambat laun, kondisi kesehatan Mama nyatanya kembali melemah. Bahkan untuk dibawa kembali ke rumah sang tabib sekalipun, beliau sudah tak lagi sanggup. Mama pun tergolek tanpa daya di tempat tidurnya semata. Sesekali saja matanya terbuka, sempat terucap sepatah dua patah kata, lalu mata itu terpejam lagi.
Berdua belaka diriku dan Kak April yang tengah menunggui Mama di dalam kamar malam itu. Sejak pagi hingga petang, kakak-kakakku telah datang dan pulang bergiliran. Mama sempat terjaga, lalu bicara dengan suara keras yang tak kami pahami kata-katanya, tatkala hari masih pagi. Sehabis itu, beliau kembali terlelap dan tak kunjung lagi membuka matanya. Kendati masih kuharap benar Mama akan pulih kembali, tapi melihat kondisi terakhirnya, aku mesti berani berpikir alternatif. Aku pun mengajak bicara kakakku.
“Seandainya Mama akhirnya dipanggil Allah, bagaimana sikap Kak April?”
“Jika memang itu yang terbaik untuk Mama, aku
bakal ikhlas menerimanya. Kasihan, jika kondisi Mama terus begini.”
Takjub diriku mendengar jawaban Kak April. Kakakku yang satu ini hampir saban hari menangis terharu ketika menonton sinetron kesayangannya. Menghadapi kenyataan serupa itu, ternyata dia justru memperlihatkan ketegaran jiwanya yang luar biasa. Baru usai kami bicara, Mama membuka matanya dan mengisyaratkan ingin tahu apa yang kami perbincangkan.
“Mama masih punya semangat hidup, kan?” tanyaku serta merta tanpa rencana.
“Masih, dong,” sahut Mama cukup jelas, tapi lantas
tertutup lagi matanya.
Entah apakah Mama sempat mendengar pembicaraan
kami sebelumnya atau tidak. Tak lama berselang, Kak Okta datang dan bersedia
tidur di rumah kami.
Akhirnya kami memutuskan membawa Mama kembali ke
rumah sakit, setelah semalaman hingga pagi hari berikutnya beliau tak lagi
membuka matanya. Kata dokter, jantungnya sudah terdeteksi sangat lemah. Dan
seolah tiada lain pilihan, dokter memutuskan bahwa Mama wajib kembali menjalani
cuci darah. Kami hanya pasrah serta terserah apa maunya dokter saja, tentu demi
pulihnya kondisi kesehatan satu-satunya orangtua kami yang tersisa. Malam
harinya aku bertugas menjaga Mama di rumah sakit sampai menjelang siang hari
selanjutnya. Ketika aku bermaksud kembali ke rumah, Mama sempat membuka matanya
sekejap belaka.
“Ma, saya pulang dulu, ya. Nanti sore saya kemari
lagi,” ujarku.
Mama tersenyum tipis menanggapi pamitku. Tanpa suara, beliau mengatakan terima kasih. Begitu kuucapkan salam, Mama membalasnya dengan tidak bersuara pula. Ternyata itulah saat terakhir kutemui ibuku dalam kondisi sadar. Mama tak pernah kembali terjaga dari tidurnya. Proses cuci darah yang direncanakan dokter sebenarnya sempat dijalankan, tapi gagal total. Tuhan mengabulkan hasrat Mama yang tak sudi melakukan cuci darah lagi. Mama mengembuskan napas terakhirnya, setelah sempat bertemu dengan Nenek yang tiba-tiba secara khusus hadir lagi demi menemui putrinya. Tampaknya mereka berdua tahu apa yang akan terjadi dan mendapatkan izin-Nya untuk berjumpa terakhir kalinya. Mama padam nyawa tepat sehari sehabis Idul Adha. Dengan sukarela tak kuikuti shalat Id pada pagi sehari sebelumnya karena tak tega meninggalkan sendiri orangtuaku yang tinggal satu. Dan ternyata memang tinggal tersisa sedikit waktu merasakan kebersamaan dengan Mama tercinta.
***
Seseorang pernah berkata kepadaku, ketika kita
kehilangan salah satu orangtua, dan sudah ada seseorang yang menjadi pasangan
hidup, rasa kehilangan itu tak akan sedalam jika masih sendiri. Tapi menurutku,
manakala itu terjadi dan salah satu orangtua kita ternyata masih ada, rasanya
tak terlalu menyedihkan pula. Nah, jika orangtua kita tinggal satu dan dia pun
pergi selamanya, seorang pasangan hidup menjadi alternatif pengobat rasa
kehilangan yang mujarab. Mengapa dia hanya menjadi salah satunya, lantaran yang
terpenting adalah keikhlasan hati dan kepasrahan jiwa kepada Ilahi menerima
kenyataan. Demikianlah yang kualami. Tatkala belum ada perempuan yang berstatus
sebagai istriku, mesti kuterima takdir-Nya bahwa Mama tutup usia, berselang
lima belas tahun sepeninggal Papa. Syukurlah, sanggup tegar belaka kuhadapi
segala yang ada.
Tepat seratus tujuh hari setelah wafatnya Mama, Allah SWT menghendaki Nenek
kembali ke hadirat-Nya pula. Dalam waktu kurang dari empat bulan, harus kulepas
kepergian selamanya dua perempuan yang sangat kusayangi dan kuhormati. Berkat
keberadaan mereka jua, maka aku hadir di atas buana dan senantiasa mendapatkan
doa restu dalam setiap langkah kehidupan. Idul Fitri tempo hari ternyata
merupakan lebaran terakhirku bersama Mama dan ibunya. Apa yang menjadi
ketentuan Ilahi adakalanya sungguh tak terduga. Senantiasa bersiagalah kita
menghadapinya.
# Cerpen ini dimuat di Koran Merapi Minggu, 26
Juli 2015.
Selasa, 12 Maret 2019
Sejumlah Cerpenku Tentang Ibu
Setidaknya terdapat enam buah cerpenku yang pernah dimuat di sejumlah media cetak/daring yang menjadi sarana bagiku mengenang almarhumah Ibu. Kaos Hitam, Bahagia tanpa Rencana, Lebaran Terakhir Mama dan Ibunya, Menjelang Kepergian Ibunda, Menjelang Tiba Ujung Senja, serta Membaca Jalan Pikiran Ibu adalah judul cerpen-cerpen tersebut. Kendati tidak menjadi peran utama, beliau sebenarnya kuhadirkan pula dalam cerpen lainnya, seperti Lelikuan Pernikahan Kedua, Meraih Percaya Kembali, dan Testimoni Sebelas Tahun. Aku percaya bahwa Ibu masih akan tetap menjadi salah satu sumber inspirasiku dalam membuat karya berikutnya biarpun sudah lewat 12 tahun beliau tiada. Hari ini adalah hari ulang tahun beliau yang ke-75. Kuharap Ibu bahagia selalu dalam berkah kasih sayang-Nya. Aamiin...
Selasa, 12 Juni 2018
Mengenang Masa Silam Menjelang Lebaran
Kendati nenekku waktu itu masih bersatu jiwa
raganya, Ibu yang tinggal di Yogyakarta memilih tidak sowan kepada ibunda tercinta di Jakarta saban Idul Fitri tiba. Atas seizin
Eyang Putri, ibuku mengambil langkah berbeda untuk menemani salah seorang
pamannya berlebaran di rumah peninggalan orangtuanya di sebuah kota kecil di
Jawa Tengah. (Kebiasaan Berlebaran Tempo Hari)
Selasa, 02 Januari 2018
Tepat Sebelas Tahun Silam
Tepat sebelas tahun silam mengantarkan Ibu ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Setelah tutup usia di RS Panti Rapih pada senja hari pertama tahun 2007, maka keesokan harinya jasad Ibu dibawa pergi menuju makam Karangkajen dari tempat tinggalnya selama lebih dari 20 tahun menjalani kehidupan di Yogyakarta - di Prawirotaman.
Semoga Ibunda senantiasa beristirahat dengan tenang dan damai dalam berkah kasih sayang Ilahi. Aamiin...
Setelah tutup usia di RS Panti Rapih pada senja hari pertama tahun 2007, maka keesokan harinya jasad Ibu dibawa pergi menuju makam Karangkajen dari tempat tinggalnya selama lebih dari 20 tahun menjalani kehidupan di Yogyakarta - di Prawirotaman.
Semoga Ibunda senantiasa beristirahat dengan tenang dan damai dalam berkah kasih sayang Ilahi. Aamiin...
Senin, 02 Januari 2017
Menjelang Kepergian Ibunda
Untuk memperingati satu dekade tutup usianya Ibunda tercinta, maka saya mengunggah cerpen yang pernah dimuat di Suara Merdeka edisi 3 Januari 2016 di blog ini.
SABAN tiba menjelang pergantian warsa, hingga menjelmalah angka tahun yang baru, senantiasa aku terkenang pada mendiang Ibunda. Sembilan tahun sudah tak dapat kutemui ibuku dalam keseharian di atas buana. Benakku beranjak menuju masa silam, pada sejumlah hari sebelum kepergian selamanya perempuan yang sungguh kusayangi. Ketika itu sebenarnya Ibu telah berada di rumah kembali selama hampir dua bulan. Beliau sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit sekitar dua pekan lantaran mengalami gangguan jantung dan ginjal. Sebagai upaya memulihkan kesehatannya, kata dokter tiada pilihan lain bagi Ibu kecuali menjalani cuci darah secara rutin seminggu dua kali.
Sesungguhnya tak mudah bagi ibuku menuruti saran dokter. Aku paham, beliau pernah memiliki pengalaman buruk dengan masalah cuci darah. Beberapa tahun sebelum Ibu diopname, seorang paman beliau sakit keras dan mesti menjalani cuci darah berkali-kali. Akhirnya sang paman padam nyawa. Masalahnya, Ibu adalah orang yang selalu mendampingi pamannya berhubung almarhum tidak berkeluarga. Lagi pula keluarga kami merupakan kerabatnya yang paling dekat. Ibu akhirnya bersedia darahnya dicuci, tapi cukup sekali, tak sudi andaikata lebih lagi. Alasan Ibu sederhana saja, beliau tak ingin terlalu merepotkan anak-anaknya yang mesti mengantarnya ke rumah sakit. Belum lagi biayanya pun besar untuk melakukan hal itu. Tentu saja sebenarnya kami tak akan keberatan, termasuk berupaya menyediakan berapa pun dananya. Kami toh melakukannya demi ibu yang sungguh kami sayangi, apalagi Bapak sudah lama tiada. Tapi aku beserta kakak-kakakku menghargai pilihan beliau. Pengalaman buruk cuci darah mendiang sang paman pasti belum sirna dari benak Ibu.
Sesudah cuci darah yang hanya sekali itu, beliau mencoba melakukan pengobatan alternatif. Saban tiba akhir pekan, kuantarkan Ibu ke sebuah desa dalam rangka berobat pada seseorang yang memiliki keterampilan menyembuhkan berbagai penyakit. Kondisi tubuh Ibu tampak sempat membaik selama beberapa saat. Indikasinya terlihat ketika beliau mengeceknya di laboratorium umum kesehatan. Aktivitasnya pun sempat berjalan biasa, misalnya mengikuti acara pengajian atau menghadiri pertemuan keluarga besar. Namun hal tersebut nyatanya tak berlangsung lama. Yang terjadi sehabis itu malah penurunan kondisi tubuh yang sangat drastis. Ibu kemudian hanya bisa terbaring lemah di atas dipan. Akhirnya kami memutuskan membawa orangtua kami yang tinggal satu kembali ke rumah sakit. Masih lekat kuingat, hari itu Jumat pagi, tanggal 29 Desember.
***
Malam tahun baru, seorang diri di serambi lantai kesekian rumah sakit aku berdiri. Kusaksikan langit terang benderang oleh nyala kembang api dari beragam penjuru kota. Seingatku, baru sekali itu dapat kutatap secara leluasa kemeriahan malam pergantian tahun. Sayang sekali, di sampingku tiada sesiapa yang kukenal, apalagi orang-orang yang kusayangi. Dalam hati aku bersyukur masih diberi waktu mengalami satu lagi tahun baru. Secara khusus kumohon pada Tuhan, agar di tahun yang baru ibuku masih diberi anugerah berupa kesembuhan dari segala sakitnya dan kembali sehat seperti sediakala. Sudah memasuki malam ketiga aku menunggui Ibu di rumah sakit. Sehari setelah masuk rumah sakit dalam kondisi tidak sadar, beliau sempat membuka matanya dan mengatakan sesuatu tanpa suara. Setelah itu Ibu kembali terlelap, tanpa kami tahu kapan akan terjaga kembali. Kerabat kami yang menjadi dokter menyatakan bahwa harapan kesembuhan Ibu masih ada, tapi ia menganjurkan kami agar lebih banyak berdoa.
Pagi hari pertama tahun baru, Ibu mesti menjalani cuci darah. Sesungguhnya sejak masuk rumah sakit lagi, dokter sudah memutuskan akan melakukannya, tapi baru bisa terlaksana tiga hari kemudian berhubung harus mengantri. Ternyata cuci darah gagal dilaksanakan. Tubuh Ibu menolak proses medis tersebut. Terus terang, aku tak punya firasat apa-apa. Sekadar kucoba memahami bahwa Tuhan mungkin sedang mengabulkan keinginan Ibu yang enggan melakukan cuci darah lagi. Justru Mbak Atik, kakakku, yang wajahnya tampak memucat, ketika memberitahuku—yang menunggu di luar ruangan—tentang gagalnya proses cuci darah itu.
Tak lama berselang, Eyang Putri hadir dari Jakarta ditemani Om Adi, pamanku yang paling muda. Beliau duduk di kursi roda karena masih lelah seusai menempuh perjalanan darat Jakarta-Yogyakarta, namun wajah beliau tampak sangat tegar. Jujur saja, rada aneh aku menyaksikannya. Aku dan Mbak Atik kemudian menemani Eyang Putri beserta Om Adi menemui Ibu. Ada sesuatu yang tak terduga terjadi. Ibu membuka matanya dan meneteskan air mata, ketika Eyang Putri tepat berada di sampingnya. Entah pertanda apakah, aku tak berani berpikir lebih lanjut.
Kami meninggalkan rumah sakit sewaktu kakakku yang lain berdatangan, kendati belum semuanya. Kondisi Ibu sendiri relatif stabil dan tubuhnya yang bergeming dibawa kembali ke kamar rawat inapnya, sesudah proses cuci darahnya tidak berhasil dilakukan. Aku pulang bersama Eyang Putri dan Om Adi yang kuturunkan di rumah mertua Mbak Tari, kakakku lainnya. Aku diminta kakakku melakukannya karena aku sendiri belaka di rumah. Sementara ada Mbak Tari dan ibu mertuanya yang bisa melayani nenekku.
Telah kumiliki sejumlah rencana setibaku di rumah. Langsung kujalankan satu demi satu, dimulai dari menyiram tanaman, lalu kucukur kumis dan jenggotku yang sudah beberapa hari tumbuh memenuhi wajahku. Sehabis itu aku berencana mandi, makan siang, lantas kembali ke rumah sakit. Tapi kemudian Mbak Tari meneleponku, katanya kondisi fisik Ibu melemah. Aku sekadar sempat cuci muka, mengenakan baju bersih, dan bergegas pergi ke rumah mertua kakakku. Begitu aku sampai, Mbak Tari ternyata baru mendapat kabar lagi dari suaminya bahwa keadaan Ibu sudah membaik. Kami pun sepakat menunda rencana ke rumah sakit. Aku malah diajak makan siang bersama Eyang Putri dan juga Om Adi.
“Ibumu itu sosok yang begitu baik. Mungkin hanya satu di antara seribu orang yang seperti ibumu,” kata Eyang Putri.
Tubuhku bergeming belaka menyimak ucapan nenekku tentang putri kesayangannya, namun hatiku bergetar mendengarnya. Kuingat kondisi terakhir Ibu yang lemah tanpa daya di rumah sakit. Tinggal keajaiban Tuhan belaka yang kuharap bakal datang menyelamatkan nyawa perempuan yang melahirkanku ke dunia. Tiba-tiba kakakku menerima telepon dari suaminya yang memberitahukan bahwa kondisi Ibu kembali memburuk. Kali ini aku, Mbak Tari dan Om Adi segera bergegas menuju rumah sakit tanpa menundanya lagi. Eyang Putri memilih tetap berada di rumah mertua kakakku.
Kami bertiga datang terlambat ternyata. Begitu memasuki bangsal tempat ibuku dirawat, kakak iparku menyambut kedatangan kami dan mengatakan sesuatu dengan lirih.
“Baru saja Ibu sudah pergi. Kalian yang tegar ya, Dik.”
Aku dan Mbak Tari memasuki kamar menemui kakak-kakak kami yang berurai air mata. Kami pun saling berpelukan, berpadu dalam kesedihan yang sama. Seseorang yang sangat berarti sepanjang hidupku telah pergi untuk kembali ke hadirat Ilahi. Mesti berupaya keras diriku agar ikhlas menerima ketentuan-Nya. Maka sejak saat itu, sebatas menjadi kenanganlah segala hal tentang Ibunda. Hanya mampu kurasakan rindu, tanpa tahu bila waktunya dapat bertemu lagi dengan dirinya. Kadangkala sosok mungilnya hadir belaka dalam sejumlah bunga tidurku, tanpa kami bisa berkata-kata.
Langganan:
Postingan (Atom)




