Tampilkan postingan dengan label umbu landu paranggi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umbu landu paranggi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 April 2021

Penyair Kehidupan, Guru Paling Setia


Tetapi, itulah Umbu Landu Paranggi, Presiden Malioboro, yang sesudah kepergiannya tidak seorang pun mampu menggantinya. Seorang "penyair kehidupan" yang tata nilai kepenyairannya tak mampu kita hitung. Seorang guru paling setia, yang kemungkinan tidak pernah dilahirkan lagi oleh Indonesia. Seorang penggali, penumbuh, pemacu, pelecut, tukang bakar, dan tukang bikin gila, yang di Yogyakarta selalu lahir kembali sebagai fenomena - terutama ketika lingkungan kesusastraan menggelisahkan kemandekan kreatitivitas.

(Emha Ainun Nadjib dalam esai Ustad Umbu - 26 Februari 1983; dimuat di buku Slilit Sang Kiai) 

Kamis, 08 April 2021

Restu dari Umbu untuk Emha

Kekuasaan tunggal Umbu Landu Paranggi sebagai pengasuh rubrik sastra "Sabana" dan "Persada" di mingguan Pelopor Yogya dan PSK (Persada Studi Klub) memiliki kekuatan untuk memberikan legitimasinya kepada Emha Ainun Nadjib sebagai penyair di usianya yang masih 16 tahun. Status penyair dinilai oleh masyarakat sebagai status yang tinggi di dunia sastra. Modal simbolis dan kharisma yang dimiliki Umbu membuat banyak seniman Yogyakarta, termasuk Emha dan anggota PSK lainnya, segan kepadanya.

(dikutip dari buku Sepotong Dunia Emha karya Latief S. Nugraha)

Selasa, 06 April 2021

Selamat Jalan Umbu Landu Paranggi



Maka tanpa rikuh prekewuh dan ragu-ragu lagi masyarakat sastra Indonesia di Yogyakarta dan Bali menyebut Umbu Landu Paranggi : SANG GURU. 

(Iman Budhi Santosa) 

Setiap ingat Umbu, saya suka membayangkan sabana yang membentang antara tanah perbukitan dan laut yang batasnya cakrawala. 

(Sapardi Djoko Damono) 


Selamat jalan Sang Guru Umbu Landu Paranggi (10 Agustus 1943 - 6 April 2021).

Rabu, 06 November 2019

Majalah Sabana Terbit Kembali



"Lantas, mengapa kini banyak kalangan lebih suka menggunakan bahasa asing (terutama bahasa Inggris) untuk menyampaikan ide, merek dagang, reklame, identitas, serta wacana yang dibuat?" (Iman Budhi Santosa) 

"Sastra wajib hadir dan/atau dihadirkan kembali untuk membasuh, melebur, sekaligus meretas kekotoran dan kekerasan pikiran yang menyekat-sekat mengkotak-kotakkan itu supaya kembali ke hakikat "ke-menjadi-an" kita sebagai makhluk spiritual yang amat lentur dalam mendapatkan pengalaman kemanusiaan." (Umbu Landu Paranggi)  

"Dan karena cinta yang melahirkan kerinduan untuk bermesraan membuat Tuhan berinisiatif untuk menciptakan makhluk-makhluk, yang puncaknya adalah manusia. Tetapi manusia tidak sungguh-sungguh cinta kepada-Nya. Manusia lebih cinta kepada dirinya sendiri dan harta benda." (Emha Ainun Nadjib) 

Setelah sempat berhenti sekitar tiga tahun, majalah Sabana terbit kembali. Selasa (5/11/19) tadi malam menjadi momentumnya. Semua yang hadir bisa menyimak langsung kisah di balik layar penerbitan kembali Sabana dan diskusi bersama Pak Iman, Cak Nun, Pak Mustofa W. Hasyim, Latief S. Nugraha, dan lain-lain di Rumah Maiyah yang terasa hangat dalam kebersamaan. Hari ini saatnya mulai membuka lembar demi lembar Sabana No.10, Oktober 2019 untuk belajar lagi tentang lelikuan kehidupan. Selamat datang kembali Sabana, semoga bakal terus mengalir dan tidak berhenti lagi.