Tampilkan postingan dengan label iman budhi santosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iman budhi santosa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2022

Mas Iman adalah Manusia Agung

 

Mas Iman adalah manusia agung yang suci hatinya, penuh iman dan cinta sejati jiwanya, serta senantiasa jujur berpikirnya. Sejarah hidupnya sangat memenuhi kandungan makna dari tiga kata yang disematkan orang tua beliau sebagai nama atau pertanda keberadaannya : iman dan budi dan sentosa.

(Emha Ainun Nadjib tentang Iman Budhi Santosa dalam esai Keindahan Namanya Adalah Kemuliaan Hidupnya - buku Mereka yang Tak Pernah Mati)

Rabu, 30 Maret 2022

Jagad Kehidupan Wong Cilik

Jagad kehidupan wong cilik sesungguhnya adalah gudang yang menyimpan sekian banyak bukti nyata mengenai akar budaya kita yang sebenarnya dan menjadi ciri khas yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain.

(Iman Budhi Santosa dalam buku Profesi Wong Cilik)

Sabtu, 26 Februari 2022

Yogya Tak Lepas dari Globalisasi

Ketika globalisasi dan modernisasi kian merasuk ke seluruh sendi kehidupan, Yogya pun tak mungkin terlepas dari pengaruh pelbagai nilai dan kebudayaan yang menjadi arus besar. Mau tak mau, Yogya juga berubah. Dan tentu saja tak bisa diramalkan. Seperti apa, dan bagaimana ia sekian dekade mendatang.

(Iman Budhi Santosa dalam esai Tentang Sebuah Mitos yang Bernama Yogyakarta - buku Kalakanji) 

Senin, 07 Februari 2022

Menghargai Spiritualisme Wong Cilik

Mengenang, menghormati, dan menghargai spiritualisme kerja wong cilik bukanlah hal yang mudah karena zaman dan kebudayaan terus berubah dan jutaan orang cenderung tak memperhatikan mereka yang di bawah.

(Iman Budhi Santosa dalam Epilog : Mata Pencaharian Wong Cilik yang Tercecer) 

Senin, 17 Januari 2022

Nyaris Sepi Dikisahkan

Bagaimana rakyat jelata membangun desa/kampung (permukiman) secara nyata jarang dicatat dan diungkapkan. Bagaimana rakyat menemukan rebung hingga dapat diolah menjadi sayur, menemukan daun sembukan sebagai obat sakit perut atau daun dadap serep untuk obat sakit panas, nyaris sepi dikisahkan.

(Iman Budhi Santosa dalam Prolog : Spiritualisme Kerja Wong Cilik)

Selasa, 06 April 2021

Selamat Jalan Umbu Landu Paranggi



Maka tanpa rikuh prekewuh dan ragu-ragu lagi masyarakat sastra Indonesia di Yogyakarta dan Bali menyebut Umbu Landu Paranggi : SANG GURU. 

(Iman Budhi Santosa) 

Setiap ingat Umbu, saya suka membayangkan sabana yang membentang antara tanah perbukitan dan laut yang batasnya cakrawala. 

(Sapardi Djoko Damono) 


Selamat jalan Sang Guru Umbu Landu Paranggi (10 Agustus 1943 - 6 April 2021).

Kamis, 17 Desember 2020

Toleransi Antar Individu dan Kelompok Sosial

Oleh sebab itulah, di Jawa, toleransi antar individu dan kelompok sosial sangat dipandang perlu dipujikan dan dianjurkan. Sebab, kenyamanan, keserasian, dan equilibrium adalah dambaan semua orang. Keberbedaan harus diupayakan jangan sampai berubah menjadi energi destruktif yang membahayakan kehidupan.

(Iman Budhi Santosa dalam buku Kalakanji)

Jumat, 11 Desember 2020

Sastra Terbesar

Sastra terbesar adalah azan, sebuah puisi yang menggema, menggugah setiap orang mendekat kepada Yang Maha Indah. 

(Iman Budhi Santosa)

Kamis, 10 Desember 2020

Selamat Jalan Pak Iman Budhi Santosa

 


"Hidup perlu berbagi karena selama menempuh perjalanan di dunia ini, kita tak pernah benar-benar bisa sendiri." 

(kalimat penutup Profesi Wong Cilik) 

Kapan pun kematian tidak sia-sia 

jika si mati sempat mewariskan kebenaran 

dan kejujuran di dunia 

(puisi Pengorbanan Jatayu dalam Asam Garam Ramayana-Mahabharata) 

Untuk sementara ini hanya empat buku inilah karya beliau yang saya miliki. Namun, ternyata banyak hal bermanfaat yang menambah wawasan, pengalaman, ilmu dan pengetahuan. Demikian pula ketika menyimak ujaran beliau dalam pelbagai acara yang kerap memantik kesadaran berpikir yang baru. 

Selamat jalan menuju alam kelanggengan, Pak Iman Budhi Santosa. Terima kasih untuk semua hal yang sudah Bapak bagikan. Semoga tenang dan tenteram di alam sana dalam berkah Allah

Sabtu, 19 September 2020

Kebudayaan Tak Ubahnya Pulau Kecil

Di Indonesia, sastra, seni, dan kebudayaan tak ubahnya sebuah pulau kecil, sebuah enclave, atau sekadar zarrah di tengah gebalau zaman yang riuh rendah oleh politik, ekonomi, perebutan kekuasaan, korupsi, dan selanjutnya.

(Iman Budhi Santosa dalam majalah Sabana)


Rabu, 02 September 2020

Kasih Sayang Mencari Kasih Sayang

Kasih sayang mencari kasih sayang, kasih sayang menciptakan persatuan.
Kasih sayang menimbulkan suasana keakraban, dan dengan keakraban tersebut memudahkan terciptanya persatuan dalam masyarakat.

Demikianlah arti peribahasa Batak : 
"Holong manjalak holong, holong manjalak domu."

(Iman Budhi Santosa dalam majalah Sabana)

Minggu, 05 April 2020

Peluncuran Sabana No.12



"Karya sastra sesungguhnya bukan hanya menyajikan seni berbahasa dan keindahan bercerita belaka, tetapi juga memaparkan berbagai pati-sari nilai kemanusiaan yang tersembunyi di balik kehidupan masyarakat lokal di Tanah Air kita." (Iman Budhi Santosa dalam Sabana No.11) 

"Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya." (Umi Kulsum mengutip Hafiz Ibrahim dalam Sabana No.12) 




Tepat sebulan silam, Kamis (5/3/20), menghadiri peluncuran majalah Sabana No.12 di Rumah Maiyah. Waktu itu suasana Yogyakarta masih normal belaka, jadi berkumpul bersama merupakan hal yang menyenangkan. Apalagi menyimak apa yang disampaikan Cak Nun dan teman-teman sastrawan justru terasa menenteramkan jiwa, menenangkan hati, dan mencerahkan pikiran. 

Sesuatu yang istimewa dalam Sabana edisi terbaru adalah semua pengisi materinya perempuan. Mereka yang hadir malam itu di antaranya adalah Mutia Sukma (penyair) dan Marciana Sarwi (Kepala SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta). Lukisan karya Ratih Alsaira yang menghiasi sampul majalah dan ilustrasi cerpen memberi warna tersendiri. 

Masih bisa membaca majalah anyar pada masa kiwari menjadi hal yang terasa istimewa pula. Jika tertarik memilikinya, silakan menuju @majalahsabana di Instagram.

Rabu, 06 November 2019

Majalah Sabana Terbit Kembali



"Lantas, mengapa kini banyak kalangan lebih suka menggunakan bahasa asing (terutama bahasa Inggris) untuk menyampaikan ide, merek dagang, reklame, identitas, serta wacana yang dibuat?" (Iman Budhi Santosa) 

"Sastra wajib hadir dan/atau dihadirkan kembali untuk membasuh, melebur, sekaligus meretas kekotoran dan kekerasan pikiran yang menyekat-sekat mengkotak-kotakkan itu supaya kembali ke hakikat "ke-menjadi-an" kita sebagai makhluk spiritual yang amat lentur dalam mendapatkan pengalaman kemanusiaan." (Umbu Landu Paranggi)  

"Dan karena cinta yang melahirkan kerinduan untuk bermesraan membuat Tuhan berinisiatif untuk menciptakan makhluk-makhluk, yang puncaknya adalah manusia. Tetapi manusia tidak sungguh-sungguh cinta kepada-Nya. Manusia lebih cinta kepada dirinya sendiri dan harta benda." (Emha Ainun Nadjib) 

Setelah sempat berhenti sekitar tiga tahun, majalah Sabana terbit kembali. Selasa (5/11/19) tadi malam menjadi momentumnya. Semua yang hadir bisa menyimak langsung kisah di balik layar penerbitan kembali Sabana dan diskusi bersama Pak Iman, Cak Nun, Pak Mustofa W. Hasyim, Latief S. Nugraha, dan lain-lain di Rumah Maiyah yang terasa hangat dalam kebersamaan. Hari ini saatnya mulai membuka lembar demi lembar Sabana No.10, Oktober 2019 untuk belajar lagi tentang lelikuan kehidupan. Selamat datang kembali Sabana, semoga bakal terus mengalir dan tidak berhenti lagi.

Kamis, 12 September 2019

Kematian Tidak Sia-Sia


Kapan pun kematian tidak sia-sia 
jika si mati sempat mewariskan 
kebenaran dan kejujuran di dunia. 

(Iman Budhi Santosa dalam salah satu puisinya)

Minggu, 31 Desember 2017

Buku Bertanda Tangan Penulis

Ada perubahan yang terjadi pada 2017 ketika dalam sejumlah buku yang kumiliki ada tanda tangan penulis buku-buku tersebut. Kesempatan pertama kuperoleh di Bentara Budaya Yogyakarta pada 4 April. Malam itu kubeli kumpulan cerpen terbaru Indra Tranggono (Menebang Pohon Silisilah) dan Yuditeha (Balada Bidadari) sekaligus mendapat tanda tangan mereka. Selanjutnya, Sapardi Djoko Damono menorehkan tanda tangannya dalam novel Hujan Bulan Juni di Gramedia Sudirman pada 26 Agustus. Terakhir, Agus Noor menandatangani Lelucon Para Koruptor di Kafe Basabasi pada Desember. 

Cuma sayangnya aku tidak mendapat tanda tangan Iman Budhi Santosa dan Sinta Ridwan ketika mereka berada tak jauh dariku sehabis kubeli Profesi Wong Cilik dan Perempuan Berkepang Kenangan. Rada kecewa, tapi tak apalah. Aku mendapat banyak ilmu dan wawasan baru ketika menyimak Pak Iman dalam acara pembahasan bukunya di Rumah Maiyah. Demikian pula saat aku melihat Sinta bercerita soal buku puisinya bersama penyair lainnya di acara Tahun Baru di JBS. Meskipun akhirnya yang kubeli lebih dulu adalah buku kumpulan cerpennya, bukan buku puisinya. Aku lebih tertarik menyimak cerpennya, selain karena aku juga penulis cerpen, juga lantaran sampul Perempuan Berkepang Kenangan berwarna biru, warna favoritku yang senada dengan warna jaket yang kukenakan sore itu.

Senin, 25 Desember 2017

Spiritualisme Pekerja Tradisional

Dengan memahami kembali spiritualisme para pekerja tradisional di Jawa sama halnya mewujudkan filosofi 'sangkan paraning dumadi' : dari mana, mau ke mana, dan sudah sampai di mana saat ini. 

(Iman Budhi Santosa dalam buku "Profesi Wong Cilik")

Kamis, 30 April 2015

Setia Berikrar, Berkata Benar

Sampai hari ini ia masih berakar
masih setia berikrar, hidup akan tetap bersinar
ketika mulut dan hati serempak berkata benar

(Iman Budhi Santosa dalam puisi 'Kisah Sebatang Pohon Akasia di Pusat Bencana')

Rabu, 15 Januari 2014

Luka Hati Karena Kata

Luka hati karena kata lebih parah, menyakitkan, dan berbahaya ketimbang luka terkena parang.

Demikianlah makna peribahasa yang berbunyi "Bahimang lenge awi pisau, bahimang arei awi pander" (Dayak Ngaju - Kalimantan Tengah). Artinya luka di tangan karena parang, luka di hati karena kata.

(Iman Budhi S dalam rubrik Ragam majalah Sabana Edisi 3 - Desember 2013)