Tampilkan postingan dengan label majalah sabana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label majalah sabana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Mei 2024

manusia lebih cinta dirinya


Dan karena cinta yang melahirkan kerinduan untuk bermesraan membuat Tuhan berinisiatif untuk menciptakan makhluk-makhluk, yang puncaknya adalah manusia. Tetapi manusia tidak sungguh-sungguh cinta kepada-Nya. Manusia lebih cinta kepada dirinya sendiri dan harta benda. 

(Emha Ainun Nadjib dalam majalah sabana) 

Selasa, 06 April 2021

Selamat Jalan Umbu Landu Paranggi



Maka tanpa rikuh prekewuh dan ragu-ragu lagi masyarakat sastra Indonesia di Yogyakarta dan Bali menyebut Umbu Landu Paranggi : SANG GURU. 

(Iman Budhi Santosa) 

Setiap ingat Umbu, saya suka membayangkan sabana yang membentang antara tanah perbukitan dan laut yang batasnya cakrawala. 

(Sapardi Djoko Damono) 


Selamat jalan Sang Guru Umbu Landu Paranggi (10 Agustus 1943 - 6 April 2021).

Sabtu, 19 September 2020

Kebudayaan Tak Ubahnya Pulau Kecil

Di Indonesia, sastra, seni, dan kebudayaan tak ubahnya sebuah pulau kecil, sebuah enclave, atau sekadar zarrah di tengah gebalau zaman yang riuh rendah oleh politik, ekonomi, perebutan kekuasaan, korupsi, dan selanjutnya.

(Iman Budhi Santosa dalam majalah Sabana)


Kamis, 03 September 2020

Puncak Kesadaran Harmoni

Jazz itu puncak kesadaran 'Mizan', keseimbangan, harmoni.
Harmoni adalah kejujuran atas diri, letaknya, dan lelakunya. 
Kejujuran adalah keikhlasan menjadi 'diri tempat Tuhan menjelma', serta kerelaan berada di maqam atau wilayah yang telah disusun ditata oleh sunnah-Nya.

(Emha Ainun Nadjib dalam majalah Sabana)

Rabu, 02 September 2020

Kasih Sayang Mencari Kasih Sayang

Kasih sayang mencari kasih sayang, kasih sayang menciptakan persatuan.
Kasih sayang menimbulkan suasana keakraban, dan dengan keakraban tersebut memudahkan terciptanya persatuan dalam masyarakat.

Demikianlah arti peribahasa Batak : 
"Holong manjalak holong, holong manjalak domu."

(Iman Budhi Santosa dalam majalah Sabana)

Minggu, 05 April 2020

Peluncuran Sabana No.12



"Karya sastra sesungguhnya bukan hanya menyajikan seni berbahasa dan keindahan bercerita belaka, tetapi juga memaparkan berbagai pati-sari nilai kemanusiaan yang tersembunyi di balik kehidupan masyarakat lokal di Tanah Air kita." (Iman Budhi Santosa dalam Sabana No.11) 

"Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya." (Umi Kulsum mengutip Hafiz Ibrahim dalam Sabana No.12) 




Tepat sebulan silam, Kamis (5/3/20), menghadiri peluncuran majalah Sabana No.12 di Rumah Maiyah. Waktu itu suasana Yogyakarta masih normal belaka, jadi berkumpul bersama merupakan hal yang menyenangkan. Apalagi menyimak apa yang disampaikan Cak Nun dan teman-teman sastrawan justru terasa menenteramkan jiwa, menenangkan hati, dan mencerahkan pikiran. 

Sesuatu yang istimewa dalam Sabana edisi terbaru adalah semua pengisi materinya perempuan. Mereka yang hadir malam itu di antaranya adalah Mutia Sukma (penyair) dan Marciana Sarwi (Kepala SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta). Lukisan karya Ratih Alsaira yang menghiasi sampul majalah dan ilustrasi cerpen memberi warna tersendiri. 

Masih bisa membaca majalah anyar pada masa kiwari menjadi hal yang terasa istimewa pula. Jika tertarik memilikinya, silakan menuju @majalahsabana di Instagram.

Rabu, 06 November 2019

Majalah Sabana Terbit Kembali



"Lantas, mengapa kini banyak kalangan lebih suka menggunakan bahasa asing (terutama bahasa Inggris) untuk menyampaikan ide, merek dagang, reklame, identitas, serta wacana yang dibuat?" (Iman Budhi Santosa) 

"Sastra wajib hadir dan/atau dihadirkan kembali untuk membasuh, melebur, sekaligus meretas kekotoran dan kekerasan pikiran yang menyekat-sekat mengkotak-kotakkan itu supaya kembali ke hakikat "ke-menjadi-an" kita sebagai makhluk spiritual yang amat lentur dalam mendapatkan pengalaman kemanusiaan." (Umbu Landu Paranggi)  

"Dan karena cinta yang melahirkan kerinduan untuk bermesraan membuat Tuhan berinisiatif untuk menciptakan makhluk-makhluk, yang puncaknya adalah manusia. Tetapi manusia tidak sungguh-sungguh cinta kepada-Nya. Manusia lebih cinta kepada dirinya sendiri dan harta benda." (Emha Ainun Nadjib) 

Setelah sempat berhenti sekitar tiga tahun, majalah Sabana terbit kembali. Selasa (5/11/19) tadi malam menjadi momentumnya. Semua yang hadir bisa menyimak langsung kisah di balik layar penerbitan kembali Sabana dan diskusi bersama Pak Iman, Cak Nun, Pak Mustofa W. Hasyim, Latief S. Nugraha, dan lain-lain di Rumah Maiyah yang terasa hangat dalam kebersamaan. Hari ini saatnya mulai membuka lembar demi lembar Sabana No.10, Oktober 2019 untuk belajar lagi tentang lelikuan kehidupan. Selamat datang kembali Sabana, semoga bakal terus mengalir dan tidak berhenti lagi.

Rabu, 15 Januari 2014

Luka Hati Karena Kata

Luka hati karena kata lebih parah, menyakitkan, dan berbahaya ketimbang luka terkena parang.

Demikianlah makna peribahasa yang berbunyi "Bahimang lenge awi pisau, bahimang arei awi pander" (Dayak Ngaju - Kalimantan Tengah). Artinya luka di tangan karena parang, luka di hati karena kata.

(Iman Budhi S dalam rubrik Ragam majalah Sabana Edisi 3 - Desember 2013)