Tampilkan postingan dengan label rumah maiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah maiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2020

Peluncuran Sabana No.12



"Karya sastra sesungguhnya bukan hanya menyajikan seni berbahasa dan keindahan bercerita belaka, tetapi juga memaparkan berbagai pati-sari nilai kemanusiaan yang tersembunyi di balik kehidupan masyarakat lokal di Tanah Air kita." (Iman Budhi Santosa dalam Sabana No.11) 

"Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya." (Umi Kulsum mengutip Hafiz Ibrahim dalam Sabana No.12) 




Tepat sebulan silam, Kamis (5/3/20), menghadiri peluncuran majalah Sabana No.12 di Rumah Maiyah. Waktu itu suasana Yogyakarta masih normal belaka, jadi berkumpul bersama merupakan hal yang menyenangkan. Apalagi menyimak apa yang disampaikan Cak Nun dan teman-teman sastrawan justru terasa menenteramkan jiwa, menenangkan hati, dan mencerahkan pikiran. 

Sesuatu yang istimewa dalam Sabana edisi terbaru adalah semua pengisi materinya perempuan. Mereka yang hadir malam itu di antaranya adalah Mutia Sukma (penyair) dan Marciana Sarwi (Kepala SD Kanisius Kintelan I Yogyakarta). Lukisan karya Ratih Alsaira yang menghiasi sampul majalah dan ilustrasi cerpen memberi warna tersendiri. 

Masih bisa membaca majalah anyar pada masa kiwari menjadi hal yang terasa istimewa pula. Jika tertarik memilikinya, silakan menuju @majalahsabana di Instagram.

Rabu, 06 November 2019

Majalah Sabana Terbit Kembali



"Lantas, mengapa kini banyak kalangan lebih suka menggunakan bahasa asing (terutama bahasa Inggris) untuk menyampaikan ide, merek dagang, reklame, identitas, serta wacana yang dibuat?" (Iman Budhi Santosa) 

"Sastra wajib hadir dan/atau dihadirkan kembali untuk membasuh, melebur, sekaligus meretas kekotoran dan kekerasan pikiran yang menyekat-sekat mengkotak-kotakkan itu supaya kembali ke hakikat "ke-menjadi-an" kita sebagai makhluk spiritual yang amat lentur dalam mendapatkan pengalaman kemanusiaan." (Umbu Landu Paranggi)  

"Dan karena cinta yang melahirkan kerinduan untuk bermesraan membuat Tuhan berinisiatif untuk menciptakan makhluk-makhluk, yang puncaknya adalah manusia. Tetapi manusia tidak sungguh-sungguh cinta kepada-Nya. Manusia lebih cinta kepada dirinya sendiri dan harta benda." (Emha Ainun Nadjib) 

Setelah sempat berhenti sekitar tiga tahun, majalah Sabana terbit kembali. Selasa (5/11/19) tadi malam menjadi momentumnya. Semua yang hadir bisa menyimak langsung kisah di balik layar penerbitan kembali Sabana dan diskusi bersama Pak Iman, Cak Nun, Pak Mustofa W. Hasyim, Latief S. Nugraha, dan lain-lain di Rumah Maiyah yang terasa hangat dalam kebersamaan. Hari ini saatnya mulai membuka lembar demi lembar Sabana No.10, Oktober 2019 untuk belajar lagi tentang lelikuan kehidupan. Selamat datang kembali Sabana, semoga bakal terus mengalir dan tidak berhenti lagi.