Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2022

Mengenai Buku

 

Mengenai buku, tak ada jalan buntu

Ia selalu memiliki pintu, tempat

kita masuk dan keluar penuh tatu


(Kurnia Effendi dalam puisi "Boekenzolder")

Minggu, 24 April 2022

Buku dan Peradaban


Apabila ada manusia di zaman sekarang yang menyebut dirinya modern tetapi tidak mengindahkan buku, memilikinya, dan membacanya, maka dengan demikian manusia tersebut telah mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.

Tampaknya hanya buku yang paling pantas diceritakan dengan bangga oleh manusia beradab. Bukan BMW, Mercedas, atau Volvo.

Buku, bisa membaca, itulah yang membuktikan manusia punya kebanggaan, punya kebudayaan, punya peradaban.

(Remy Sylado)

Senin, 06 Desember 2021

Membaca Buku Menggugah Kesadaran

Membaca buku adalah membaca kemungkinan-kemungkinan, menafsir berbagai tanda dan pesan, bahkan peristiwa-peristiwa, yang kemudian dapat menggugah kesadaran akan penciptaan-penciptaan. Dan yang tak boleh ketinggalan, perihal kemanusiaan mestinya tetap mengisi di bentang-bentang kebudayaan.

(Budhi Setyawan - penyair) 

Jumat, 30 November 2018

Dakwah Itu Membahagiakan


Dikutip dari buku Mengislamikan Islam - Empat Puluh Catatan Candra Malik, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2018).

Minggu, 31 Desember 2017

Buku Bertanda Tangan Penulis

Ada perubahan yang terjadi pada 2017 ketika dalam sejumlah buku yang kumiliki ada tanda tangan penulis buku-buku tersebut. Kesempatan pertama kuperoleh di Bentara Budaya Yogyakarta pada 4 April. Malam itu kubeli kumpulan cerpen terbaru Indra Tranggono (Menebang Pohon Silisilah) dan Yuditeha (Balada Bidadari) sekaligus mendapat tanda tangan mereka. Selanjutnya, Sapardi Djoko Damono menorehkan tanda tangannya dalam novel Hujan Bulan Juni di Gramedia Sudirman pada 26 Agustus. Terakhir, Agus Noor menandatangani Lelucon Para Koruptor di Kafe Basabasi pada Desember. 

Cuma sayangnya aku tidak mendapat tanda tangan Iman Budhi Santosa dan Sinta Ridwan ketika mereka berada tak jauh dariku sehabis kubeli Profesi Wong Cilik dan Perempuan Berkepang Kenangan. Rada kecewa, tapi tak apalah. Aku mendapat banyak ilmu dan wawasan baru ketika menyimak Pak Iman dalam acara pembahasan bukunya di Rumah Maiyah. Demikian pula saat aku melihat Sinta bercerita soal buku puisinya bersama penyair lainnya di acara Tahun Baru di JBS. Meskipun akhirnya yang kubeli lebih dulu adalah buku kumpulan cerpennya, bukan buku puisinya. Aku lebih tertarik menyimak cerpennya, selain karena aku juga penulis cerpen, juga lantaran sampul Perempuan Berkepang Kenangan berwarna biru, warna favoritku yang senada dengan warna jaket yang kukenakan sore itu.

Senin, 27 Februari 2017

Menghadiri MocoSik Dua Pekan Lalu

Sebuah acara menarik sempat digelar di Yogyakarta, tepatnya berlangsung 12, 13, dan 14 Februari 2017. Namanya MocoSik, Festival Buku dan Musik, berlokasi di JEC (Jogja Expo Center). Saya menghadiri acara tersebut di hari kedua saja, Senin (13/2), dua pekan silam. Pada hari itu, sejak siang saya berada di sana untuk menyimak penampilan Jono Terbakar, Sanggar Bumi Menoreh, dan Kopibasi. Sebelum mereka membawakan karyanya, ada obrolan santai tentang proses kreatif mereka bersama Irwan Bajang dan seorang kawannya. Jono Terbakar membawakan lagu bertema santai dan serius : Atos, Sepatu Sporty, dan Tualang.

Menjelang Magrib saya pulang setelah sempat berbincang dengan keponakan saya, sehabis dia tampil sebagai salah salah satu pengisi acara. Ada lebih dari 100 judul buku yang bisa dipilih untuk menjadi tiket menonton pertunjukan musik dan talk show selama tiga hari. Sebuah buku tiket seharga 50 ribu akhirnya saya beli demi menyaksikan penyanyi favorit saya beberapa jam kemudian. Judul buku itu "Menulis Itu Indah - Pengalaman Para Penulis Dunia", diterbitkan oleh Octopus, diterjemahkan oleh Adhe Ma'ruf, dan penyuntingnya Dewi Kharisma Michellia. Kebetulan, hari itu saya berkali-kali berpapasan dengan sang penerjemah, sementara sang editor pernah saya temui bertahun-tahun lalu. Saat ini dia sudah menjadi penulis muda yang memiliki reputasi cemerlang di khazanah sastra Indonesia. Saya berencana membeli kumpulan cerpen terbarunya yang baru terbit dan berjudul "Elegi".



Malamnya saya datang lagi untuk menyaksikan secara langsung performa Tompi dan Glenn Fredly. Sejumlah lagu yang karib di telinga dibawakan oleh mereka dalam dua sesi berbeda. Keluar dari tempat pertunjukan, hujan ternyata tengah deras mengguyur Jogja. Namum, kaki saya sudah telanjur menginjak aspal halaman JEC, maka saya beranjak pergi saja dari tempat itu dengan menggunakan jas hujan. Berhubung hujan sudah berkurang kadar derasnya menjelang sampai tujuan, sepeda motor saya bawa belok kanan ke Jalan Tamansiswa, lalu saya pun singgah di warung dekat kampus FH UII untuk memesan teh panas (dengan sedikit gula) dan mie godhog. Cukuplah hari itu menjadi hari yang terasa berbeda dan menghadirkan impresi tersendiri. Tak masalah ketika hanya sehari saya mengikuti MocoSik karena adanya kesibukan di hari lainnya. Moga-moga acara serupa bisa hadir lagi di masa mendatang, baik di Jogja maupun di kota-kota lainnya.   



Selasa, 31 Mei 2016

Promosi Buku : Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Luhur Satya Pambudi)

Untuk semua teman maupun saudara yang ingin membeli buku kumpulan cerpen pertama saya, silakan langsung menghubungi saya melalui komentar di blog ini atau via email lou.satyabudi@gmail.com. Harganya 30 ribu rupiah (belum termasuk ongkos kirim). Terima kasih kepada yang sudah memesan dan memilikinya, mohon maaf jika masih ada yang belum menerima bukunya. Terima kasih pula kepada Anda semua calon peminat buku saya tersebut.