Tampilkan postingan dengan label peradaban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peradaban. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Mei 2022

Seni Pantulan Jujur Peradaban

 

Seni hampir selalu menjadi pantulan paling jujur dari pencapaian peradaban. Ia tidak bisa digantikan oleh politik dan ekonomi yang praktis, tidak bisa pula oleh agama yang dogmatis. Wilayah seni membentang jauh, sejak kehidupan dalam goa-goa arkeologis  di masa megalitikum sampai kemudian memasuki masa-masa kuantum yang menjadi dasar penemuan dalam dunia digital.

(Putu Fajar Arcana dalam  esai Berseni di Goa Peradaban - buku ePILOG)

Minggu, 24 April 2022

Buku dan Peradaban


Apabila ada manusia di zaman sekarang yang menyebut dirinya modern tetapi tidak mengindahkan buku, memilikinya, dan membacanya, maka dengan demikian manusia tersebut telah mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.

Tampaknya hanya buku yang paling pantas diceritakan dengan bangga oleh manusia beradab. Bukan BMW, Mercedas, atau Volvo.

Buku, bisa membaca, itulah yang membuktikan manusia punya kebanggaan, punya kebudayaan, punya peradaban.

(Remy Sylado)

Rabu, 24 Desember 2014

Dampak Televisi terhadap Budaya

Buruknya tayangan televisi berdampak pada perusakan budaya dan pola pikir masyarakat. 
Pada zaman sekarang justru tayangan televisi di Indonesia cenderung disetir oleh tingkat 
rating. Kita akan sulit menemukan tontonan yang mencerminkan unsur pembangun 
peradaban. Ketika tayangan televisi kita semakin melenceng dari pondasi kebudayaan, 
maka peradaban kita rawan hancur.
Masalah terbesarnya adalah budaya televisi yang tidak memberi ruang alternatif, membuat 
kita menjadi semakin dangkal. Dampaknya, pendidikan maupun apresiasi terhadap cara
 bercerita dan cara bertutur kita didominasi oleh televisi yang disajikan secara vulgar.
Oleh karena itu kesenian-kesenian lain yang tidak punya cara berpanutan dengan televisi, 
mengalami persoalan dengan pertumbuhannya. Untuk merebut ruang tersebut, harus timbul perlawanan karena atas keinginan kuat dari masyarakat mengenai tontonan di luar televisi. 
Masyarakat juga harus memproduksi dan membangun tontonan-tontonan yang keluar dari
 kultur televisi itu sendiri. 
(Garin Nugroho - dikutip dari news.indonesiakreatif.net)

Rabu, 16 April 2014

Doa, Harap, Usaha


Inilah hari-hari ketika kita mesti berdoa, berharap, berusaha, agar orang-orang baik mendapatkan tempat yang penting, dan kalaupun mereka tidak mendapatkannya, agar mereka selalu jadi tauladan di hati orang banyak. 
Semoga mereka yang ingin membuat kebaikan bagi rakyat dan gagal, atau masanya berakhir, akan selamat dari cemooh, fitnah, dan aniaya. 
Amin.
Sebab dengan itulah peradaban dirawat dan Indonesia layak dipertahankan.


(Goenawan Mohamad)