Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Februari 2025
Kamis, 03 Oktober 2024
Selasa, 01 Oktober 2024
Rabu, 14 Agustus 2024
Kamis, 11 Juli 2024
Rabu, 27 Maret 2024
Selasa, 11 April 2023
Senin, 16 Januari 2023
Senin, 10 Oktober 2022
Rabu, 26 Januari 2022
Sejarah Manusia Diolah
Sejarah manusia diolah dengan pendayagunaan akal dan nurani. Zaman berlangsung dengan upaya manusia untuk berijtihad secara dinamis, belajar dari pengalaman dan kejadian-kejadian. Dinamika pembelajaran membuat manusia mestinya menjadi lebih dewasa, lebih matang, lebih menep, dan punya ilmu keseimbangan dalam diri serta penyeimbangan secara sosial.
(Emha Ainun Nadjib dalam buku Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar)
Sabtu, 15 Mei 2021
Belajar Filsafat, Belajar Menertawai Diri Sendiri
Belajar filsafat berarti kita belajar tertawa, gembira, menertawai hidup, dan menertawai diri sendiri. Di situlah fungsi introspeksi sekaligus katarsis dari filosofi humor.
(Fahruddin Faiz dalam buku Menjadi Manusia Menjadi Hamba)
Senin, 11 Desember 2017
Menulis Tak Pernah Usai
Pada akhirnya, menulis adalah proses belajar yang tak pernah usai. Dan itu jugalah yang membuat menulis begitu memikat.
(DEE)
Rabu, 09 November 2016
Penulis Harus Rendah Hati
Seorang penulis harus memiliki kerendahan hati dan seorang calon penulis harus belajar memiliki sikap ini. Namun sikap yang fatal bagi seorang calon penulis adalah sikap putus asa.
(Ismail Marahimin)
Senin, 25 Januari 2016
Masa Puber dalam Beragama
Kata yang paling banyak disebut belakangan ini adalah radikal, selain teror. Kedua kata ini memiliki benang merah. Teror dilakukan sekelompok orang untuk melampiaskan nafsu radikal, memaksakan suatu paham dengan cara-cara kekerasan. Kata radikal juga kerap digandengkan dengan agama. Mungkin ajaran agama yang tidak ditafsirkan dengan benar, banyak menyimpan peluru untuk melakukan radikalisme.
Saya teringat Nurcholish Madjid. Pada akhir 1990-an, saya banyak berbincang dengan Cak Nur soal kekerasan dan gesekan yang berlatar agama. Kasusnya bisa sepele. Apa kata Cak Nur? "Kita masih beragama secara puber," kata yang tak bisa saya lupakan.
Penjelasan Cak Nur, puber itu adalah masa di mana kita sedang dimabuk semangat untuk belajar namun belum banyak ilmu yang dikuasai sudah melakukan aksi pembenaran dengan memaksakan kehendak.
Teringat Cak Nur, saya jadi bertanya, kapankah masa puber itu berlalu? Justru sekarang malah bertambah—mungkin ini puber kedua atau ketiga. Benih kekerasan dan gesekan itu justru tumbuh melahirkan tindakan radikal.
"Kita kurang piknik", ini sindiran khas di media sosial. Betul, termasuk "piknik ke masa lalu". Sunan Kudus tidak merobohkan kuil Hindu dan malah dijadikan menara masjid. Sebagai bentuk penghormatan kepada "leluhurnya", Sunan berjanji tak akan menyembelih sapi di Kudus—janji yang (uniknya) sampai sekarang diwarisi masyarakat. Mungkin radikalisme bisa pula sedikit diredam kalau kita mau belajar dari masa lalu.
(Putu Setia dalam esai "Radikal" di tempo.co)
Selasa, 23 Desember 2014
Belajar Seni Sejak Kecil
Seni budaya sangat bermakna ketika ditanamkan sejak kecil. Orang yang belajar seni pasti ada sesuatu yang nggondeli (menarik ke belakang ---> mengontrol rasa). Mempelajari seni sejak kecil itu penting, karena walaupun dia tidak menjadi pelaku seni, sikapnya dalam hidup pasti lain.
(Didik Nini Thowok)
(Didik Nini Thowok)
Jumat, 14 November 2014
Kemampuan Bergerak dan Berhubungan Baik
Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang produktif.
Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian.
(Rhenald Kasali)
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)
.jpg)