Tampilkan postingan dengan label leluhur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leluhur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2016

Berdebat dengan Sopan

Para leluhur kita di masa lalu bisa berbantahan penuh tata krama, berkata sopan tanpa merendahkan lawannya. Mereka menyebutnya adu wicara, terjemahan masa kini: berdebat dengan sopan. Sedangkan yang berdebat dengan kata-kata jorok, memaki, saling hina -dan tak jarang dilanjutkan dengan perkelahian- disebut adu cangkem atau ungkapan lain cangkem gembur. Nah, yang terakhir ini, entah sejak kapan, diterjemahkan: adu mulut.

Kita sudah banyak berubah. Keluhuran budaya dan tradisi (termasuk aksara dan sastra lokal) semakin sirna karena kita konon sudah maju. Tapi Jepang jauh lebih maju, produk industrinya menyerbu negeri kita, kok budaya dan kearifan lokal mereka masih jelas? Adakah tatanan masyarakat kita sudah tak harmonis lagi? Para ulama, pendeta, sesepuh sudah tak lagi didengarkan dan berjarak jauh dengan penguasa negeri? Di era kerajaan dulu, para ulama dijadikan purohito (ada istilah lain: bhagawanta) oleh penguasa untuk dimintai nasihat dan pertimbangan. Di masa Orde Baru, ada istilah "ulama dan umaroh tak bisa dipisahkan". Kini, di dewan pertimbangan presiden ada juragan kapal.

(Putu Setia dalam esai "Adu Mulut" di tempo.co)

Senin, 25 Januari 2016

Masa Puber dalam Beragama


Kata yang paling banyak disebut belakangan ini adalah radikal, selain teror. Kedua kata ini memiliki benang merah. Teror dilakukan sekelompok orang untuk melampiaskan nafsu radikal, memaksakan suatu paham dengan cara-cara kekerasan. Kata radikal juga kerap digandengkan dengan agama. Mungkin ajaran agama yang tidak ditafsirkan dengan benar, banyak menyimpan peluru untuk melakukan radikalisme.
Saya teringat Nurcholish Madjid. Pada akhir 1990-an, saya banyak berbincang dengan Cak Nur soal kekerasan dan gesekan yang berlatar agama. Kasusnya bisa sepele. Apa kata Cak Nur? "Kita masih beragama secara puber," kata yang tak bisa saya lupakan.
Penjelasan Cak Nur, puber itu adalah masa di mana kita sedang dimabuk semangat untuk belajar namun belum banyak ilmu yang dikuasai sudah melakukan aksi pembenaran dengan memaksakan kehendak. 
Teringat Cak Nur, saya jadi bertanya, kapankah masa puber itu berlalu? Justru sekarang malah bertambah—mungkin ini puber kedua atau ketiga. Benih kekerasan dan gesekan itu justru tumbuh melahirkan tindakan radikal.
"Kita kurang piknik", ini sindiran khas di media sosial. Betul, termasuk "piknik ke masa lalu". Sunan Kudus tidak merobohkan kuil Hindu dan malah dijadikan menara masjid. Sebagai bentuk penghormatan kepada "leluhurnya", Sunan berjanji tak akan menyembelih sapi di Kudus—janji yang (uniknya) sampai sekarang diwarisi masyarakat. Mungkin radikalisme bisa pula sedikit diredam kalau kita mau belajar dari masa lalu.

(Putu Setia dalam esai "Radikal" di tempo.co)