Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Februari 2022

Budaya dan Sejarah

Keanekaragaman luar biasa realitas terkhayalkan yang diciptakan Sapiens, dan keanekaragaman pola perilaku yang dihasilkan, adalah komponen-komponen utama  dari apa yang kita sebut "budaya". Begitu muncul, budaya tidak pernah berhenti berubah dan berkembang, dan perubahan-perubahan tak terhentikan inilah yang kita sebut "sejarah."

(Yuval Noah Harari dalam Sapiens - Riwayat Singkat Umat Manusia) 

Rabu, 20 April 2016

Berdebat dengan Sopan

Para leluhur kita di masa lalu bisa berbantahan penuh tata krama, berkata sopan tanpa merendahkan lawannya. Mereka menyebutnya adu wicara, terjemahan masa kini: berdebat dengan sopan. Sedangkan yang berdebat dengan kata-kata jorok, memaki, saling hina -dan tak jarang dilanjutkan dengan perkelahian- disebut adu cangkem atau ungkapan lain cangkem gembur. Nah, yang terakhir ini, entah sejak kapan, diterjemahkan: adu mulut.

Kita sudah banyak berubah. Keluhuran budaya dan tradisi (termasuk aksara dan sastra lokal) semakin sirna karena kita konon sudah maju. Tapi Jepang jauh lebih maju, produk industrinya menyerbu negeri kita, kok budaya dan kearifan lokal mereka masih jelas? Adakah tatanan masyarakat kita sudah tak harmonis lagi? Para ulama, pendeta, sesepuh sudah tak lagi didengarkan dan berjarak jauh dengan penguasa negeri? Di era kerajaan dulu, para ulama dijadikan purohito (ada istilah lain: bhagawanta) oleh penguasa untuk dimintai nasihat dan pertimbangan. Di masa Orde Baru, ada istilah "ulama dan umaroh tak bisa dipisahkan". Kini, di dewan pertimbangan presiden ada juragan kapal.

(Putu Setia dalam esai "Adu Mulut" di tempo.co)