Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2022

Sejarah Melahirkan Kita

 

Sejarah telah melahirkan kita, dan kita

akan melahirkan sejarah. Namun sang pemberani

tak pernah kita tahu kapan diumumkan.


(Kurnia Effendi dalam puisi "Di Museum Bronbeek")

Senin, 15 Agustus 2022

Air Menjelma Makhluk Antagonis


Dalam sejarahnya, air tak pernah diperlakukan sebagai penjahat terkejam, kecuali di masa modern Jakarta dan sekitarnya, ia menjadi makhluk antagonis, seperti monster Hydra dan naga yang nyaris mengalahkan Hercules dan Bima.

(Putu Fajar Arcana dalam esai Antagonisme Air Banjir - buku ePILOG) 

Kamis, 24 Maret 2022

Mungkin Adalah Fantasi

Sangat mungkin bahwa secara harfiah setiap kata dalam buku-buku sejarah, bahkan termasuk hal-hal yang ditelan begitu saja oleh orang tanpa mempertanyakannya, adalah fantasi sepenuhnya.

(George Orwell dalam novel 1984) 

Selasa, 15 Februari 2022

Budaya dan Sejarah

Keanekaragaman luar biasa realitas terkhayalkan yang diciptakan Sapiens, dan keanekaragaman pola perilaku yang dihasilkan, adalah komponen-komponen utama  dari apa yang kita sebut "budaya". Begitu muncul, budaya tidak pernah berhenti berubah dan berkembang, dan perubahan-perubahan tak terhentikan inilah yang kita sebut "sejarah."

(Yuval Noah Harari dalam Sapiens - Riwayat Singkat Umat Manusia) 

Rabu, 26 Januari 2022

Sejarah Manusia Diolah


Sejarah manusia diolah dengan pendayagunaan akal dan nurani. Zaman berlangsung dengan upaya manusia untuk berijtihad secara dinamis, belajar dari pengalaman dan kejadian-kejadian. Dinamika pembelajaran membuat manusia mestinya menjadi lebih dewasa, lebih matang, lebih menep, dan punya ilmu keseimbangan dalam diri serta penyeimbangan secara sosial.

(Emha Ainun Nadjib dalam buku Apa yang Benar, Bukan Siapa yang Benar) 

Kamis, 27 Agustus 2020

Mengenang Sapardi : Apa Sebenarnya Makna Sejarah


"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," ujar pemimpin negara waktu itu. Dan ia terguling. Apakah sebenarnya makna sejarah? Apa pula makna meninggalkan sejarah? Kita ini sedang menciptakan sejarah atau terbawa dalam arus? Yang sangat deras. Apakah orang bisa berada di luar sejarah agar bisa menciptakannya? Dengan kekerasan? 
"Bangsa-bangsa primitif di dunia ketiga harus belajar," kata profesornya yang suka omong seenaknya itu. Yang suka menyulut ribut-ribut di ruang kuliah dan suka mengajaknya ngobrol di kafetaria kampus. Tapi belajar apa? Dan bagaimana? Masyarakat mana pun, yang sudah memiliki tata cara bertindak dan berpikir sendiri, untuk apa belajar dari orang bangsa lain? Pikirnya. Untuk apa mengukur semuanya berdasarkan konsep-konsep asing? Ia mendadak khawatir akan cara berpikirnya sendiri. 

(Sapardi Djoko Damono dalam Pengarang Telah Mati) 



Pertama kali membaca Pengarang Telah Mati pada 2010, tak lama setelah membelinya bersama Pengarang Belum Mati dan Nokturno di Studio Teater Garasi. Itulah momentum pertama saya melihat Pak Sapardi hanya beberapa meter di depan mata. Kembali membacanya ketika sang pengarang telah tutup usia dan menemukan kalimat-kalimat mengesankan yang disuratkannya. 
Semoga Pak Sapardi baik-baik belaka hidupnya di alam sana. 

Minggu, 16 Agustus 2020

Berterima Kasih kepada Sejarah


Yang tak tahu apa arti sebuah tanah air tak akan tahu bagaimana berterima kasih kepada sejarah.

(Goenawan Mohamad)

Rabu, 25 April 2018

Sejarah Keluarga Sejarah Politik

Sejarah keluarga ternyata tidak hanya mengungkap dari mana kita berasal atau berakar, tetapi memperlihatkan bagaimana kekuatan di luar rumah kita membentuk, menyatukan, atau memisahkan individu-individu di dalamnya. Sejarah keluarga adalah sejarah politik.  

(Linda Christanty dalam esai "Sejarah Keluarga adalah Sejarah Politik" di buku "Para Raja dan Revolusi")

Kamis, 14 Desember 2017

Sejarah Ditulis Banyak Orang


Sejarah sebaiknya ditulis oleh banyak orang, jangan hanya ditulis oleh sebagian orang saja. 

(Kuntowijoyo)

Rabu, 31 Desember 2014

Menjaga Kebudayaan

Bangsa-bangsa yang beradab di tengah krisis besar ekonomi tidak hanya bicara ekonomi, tetapi juga menjaga kehidupan dengan seluruh aspeknya yang paling marjinal sekalipun : pengetahuan, teknologi, seni, hingga daya hidup pangan dan lingkungan.
Pada gilirannya, sesungguhnya mereka menjaga kebudayaan, yakni cara berpikir, bertindak, dan bereaksi terhadap dunia sekitar, tidak saja lewat membaca sejarah masa lampau, hari ini, tetapi juga masa depan.

(Garin Nugroho)

Kamis, 01 Agustus 2013

Mutlaknya Perubahan


Film, komik, legenda, bahkan teks-teks sakral bisa diulang, bisa diberi versi baru, atau sekadar dibaca lagi. Tapi tiap kali ia berubah. Manusia, dalam ruang dan waktu, tak bisa kembali persis ke situasi yang telah lewat, juga dalam tafsirnya.

Maka cerita dan sejarah jadi hidup dan hidup jadi sejarah. Dan saat, tempat, dan orang-orang pun berubah. Dan yang beradab dan yang biadab (dan entah apa lagi) berganti-ganti.

(Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir : Kemosabi)