Mengenai buku, tak ada jalan buntu
Ia selalu memiliki pintu, tempat
kita masuk dan keluar penuh tatu
(Kurnia Effendi dalam puisi "Boekenzolder")
Mengenai buku, tak ada jalan buntu
Ia selalu memiliki pintu, tempat
kita masuk dan keluar penuh tatu
(Kurnia Effendi dalam puisi "Boekenzolder")
Di negeri yang warganya meninggalkan
rumah ibadah, cinta terasa lebih ramah
Kepada pundak anak-anak mereka wariskan
kearifan memuliakan manusia, sebab
masa depan tak lagi milik orang tua
(Kurnia Effendi dalam puisi "Maarsenplein")
Sejarah telah melahirkan kita, dan kita
akan melahirkan sejarah. Namun sang pemberani
tak pernah kita tahu kapan diumumkan.
(Kurnia Effendi dalam puisi "Di Museum Bronbeek")
Puisi, mungkin serupa sketsa bagi pelukis, saat ditulis awal. Menangkap kesan, menyerap dengan cepat, menggumuli dengan genangan pengalaman, lalu membariskan kata dan membaitkan baris. Impresi-impresi saat merasakan suatu tempat yang saya temui memberikan denyut baru pada nadi dan degup jantung.
(Kurnia Effendi dalam Langkah Awal buku kumpulan puisi "Mencari Raden Saleh")