Tampilkan postingan dengan label masa lalu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masa lalu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2019

Foto Keluarga Masa Lalu


Foto ini dibuat sekitar 40 tahun silam. Si bungsu -lelaki satu-satunya- waktu itu bahkan belum bersekolah. 

Rabu, 08 Februari 2017

Konsekuensi dan Penebusan

Sesuatu yang dilakukan di masa kini membawa konsekuensi di masa depan dan menjadi penebusan atas masa lalu. 

(Paulo Coelho)

Senin, 25 Januari 2016

Masa Puber dalam Beragama


Kata yang paling banyak disebut belakangan ini adalah radikal, selain teror. Kedua kata ini memiliki benang merah. Teror dilakukan sekelompok orang untuk melampiaskan nafsu radikal, memaksakan suatu paham dengan cara-cara kekerasan. Kata radikal juga kerap digandengkan dengan agama. Mungkin ajaran agama yang tidak ditafsirkan dengan benar, banyak menyimpan peluru untuk melakukan radikalisme.
Saya teringat Nurcholish Madjid. Pada akhir 1990-an, saya banyak berbincang dengan Cak Nur soal kekerasan dan gesekan yang berlatar agama. Kasusnya bisa sepele. Apa kata Cak Nur? "Kita masih beragama secara puber," kata yang tak bisa saya lupakan.
Penjelasan Cak Nur, puber itu adalah masa di mana kita sedang dimabuk semangat untuk belajar namun belum banyak ilmu yang dikuasai sudah melakukan aksi pembenaran dengan memaksakan kehendak. 
Teringat Cak Nur, saya jadi bertanya, kapankah masa puber itu berlalu? Justru sekarang malah bertambah—mungkin ini puber kedua atau ketiga. Benih kekerasan dan gesekan itu justru tumbuh melahirkan tindakan radikal.
"Kita kurang piknik", ini sindiran khas di media sosial. Betul, termasuk "piknik ke masa lalu". Sunan Kudus tidak merobohkan kuil Hindu dan malah dijadikan menara masjid. Sebagai bentuk penghormatan kepada "leluhurnya", Sunan berjanji tak akan menyembelih sapi di Kudus—janji yang (uniknya) sampai sekarang diwarisi masyarakat. Mungkin radikalisme bisa pula sedikit diredam kalau kita mau belajar dari masa lalu.

(Putu Setia dalam esai "Radikal" di tempo.co)