Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2022

Drama Musikal "Ki Pamong" - Pergelaran Puncak Seabad Tamansiswa




Bilakah Ki Pamong telah kehilangan ajian Ing Ngarsa Sung Tuladha dan Ing Madya Mangun Karsa? Tenggelam dalam larutan keruh kemajuan zaman dan pusaran beliung gelimang duniawi? Maka tinggallah satu azimat Tutwuri Handayani .....

Namun apa gunanya bila para cantrik-mentriknya seolah hilang ditelan bumi? Lalu kepada siapa lagi azimat terakhir itu harus ditujukan? Mampukah Ki Pamong berdiri lagi, merdeka, mandiri tak terperintah dan tegak dg tertib dirinya, guna meraih wujud pusaka Salam & Bahagia?

Sabtu, 26 Februari 2022

Yogya Tak Lepas dari Globalisasi

Ketika globalisasi dan modernisasi kian merasuk ke seluruh sendi kehidupan, Yogya pun tak mungkin terlepas dari pengaruh pelbagai nilai dan kebudayaan yang menjadi arus besar. Mau tak mau, Yogya juga berubah. Dan tentu saja tak bisa diramalkan. Seperti apa, dan bagaimana ia sekian dekade mendatang.

(Iman Budhi Santosa dalam esai Tentang Sebuah Mitos yang Bernama Yogyakarta - buku Kalakanji) 

Senin, 19 Juni 2017

Menikmati AriReda yang Mendadak Konser di Jogja

Sebuah acara yang relatif mendadak diselenggarakan ternyata tetap bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak. Demikianlah yang terjadi ketika AriReda (Ari Malibu dan Reda Gaudiamo) tampil dalam sebuah konser di Kedai Kebun Forum (KKF) Yogyakarta pada Minggu malam, 18 Juni 2017. Mereka sendiri mengistilahkan pertunjukan tersebut sebagai mendadak konser karena sebenarnya mereka berdua sedang berada di Jogja untuk proses rekaman album terbaru AriReda. Dari hasil perbincangan santai mereka tercetus kalimat, "Kayaknya asyik nih, kalau kita konser," dan terwujudlah pentas musik yang dipersiapkan hanya sekitar dua hari itu. Begitu mengetahui bahwa AriReda akan tampil, saya langsung berniat untuk menyaksikannya. Pada Mei 2016 mereka sempat konser di tempat yang sama, tapi tiketnya telah habis ketika saya bermaksud membelinya. Maka kesempatan kali ini tak boleh disia-siakan, apalagi konser di bulan Juni 2017 digelar secara gratis.


Konser berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan materi album terbaru AriReda yang bertajuk Suara dari Jauh, yang merupakan musikalisasi puisi karya Goenawan Mohamad. Seluruh lagu dalam album (hampir semua gubahan M. Umar Muslim) dibawakan dengan syahdu, antara lain Lagu Hujan, Surat Cinta, Z, Sajak Anak-anak Mati, dan Quatrain About A Pot (satu-satunya lagu berbahasa Inggris). Sesi kedua menampilkan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono yang sebagian besar sudah dikenal oleh para penonton. Bahkan AriReda membawakan lagu-lagu tersebut berdasarkan permintaan para penggemarnya. Maka mengalunlah Nokturno, Hujan Bulan Juni, Di Restoran, Gadis Kecil, Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka, Kuhentikan Hujan, Pada Suatu Hari Nanti, Lanskap, dan Aku Ingin sebagai penutup konser. Lagu berjudul Lanskap sepertinya baru pertama kali saya dengar dan ternyata merupakan puisi karya Pak Sapardi pula. 

Sejak nomor pembuka, denting gitar Ari dan suara bening Reda langsung membuai kalbu. Seluruh komposisi dimainkan dengan penjiwaan yang dalam dan hasilnya begitu indah. Hati pun rasanya tersentuh. Setiap lagu berakhir, duo artis berusia 50-an tersebut selalu menyunggingkan senyuman lebar yang menebarkan aura kehangatan dan kedamaian. Kata pengantar di antara lagu sesekali membuat penonton tertawa. AriReda tetap tampil maksimal kendati persiapan konser singkat dan mereka pun sedang batuk. Bahkan keduanya sempat ngemil kencur di sela-sela pertunjukan.

Suasana konser AriReda di KKF (18/6/17). Foto @masgufi.

Bagi saya pribadi, lagu Aku Ingin menjadi nomor yang paling emosional karena pencipta melodi lagu tersebut, Ags. Arya Dipayana, adalah paman saya yang sudah tutup usia pada 2011 lalu. Begitu lagu itu dilantunkan, saya sempat membayangkan bagaimana keadaan Om Adji ketika menyusun komposisi lagu dengan melodi dan akor yang tidak biasa itu hingga menjadi karya yang istimewa dan bahkan abadi. Menjadi kegembiraan dan kebanggaan tersendiri saat seusai konser saya membeli CD Suara dari Jauh, lantas meminta tanda tangan dari sang artis seraya memperkenalkan diri, "Saya keponakan Mas Adji." Mas Ari dan Mbak Reda pun menjabat tangan saya dengan erat. Saya sengaja tidak meminta foto bersama mereka karena saya tidak memiliki akun Instagram dan ponsel saya terlalu sederhana untuk bisa membuat foto yang berkualitas. Yang jelas, saya pulang dengan suasana hati nyaman dan mensyukuri salah satu berkah di malam Ramadan tersebut.

Kamis, 06 Oktober 2016

Konsep Art for Children TBY

Konsep AFC (Art for Children) meletakkan seni bukan semata-mata sebagai ekspresi estetika, tetapi seni sebagai media pembelajaran bersama. Seni sebagai jalan untuk menemukan potensi lain yang ada pada anak. Pendekatan pembelajaran semacam itu, akan menekankan pada proses belajar melalui seni. Seni adalah cara membuka kemungkinan-kemungkinan bagi tumbuh kembangnya pribadi anak yang unik. Sesuatu yang murni ekspresi anak-anak. Oleh karena itu, tidak ada tempat bagi penyeragaman berekspresi. 
Metode pembelajaran mengedepankan partisipasi anak secara maksimal. Pembimbing bukan sebagai guru, melainkan sebagai teman bermain bersama. Dalam proses bermain bersama-sama itulah, pembimbing membuka katup-katup ekspresi kreatif anak-anak. Pembimbing memberikan dasar-dasar berolah seni sebagai cara membuka katup-katup itu. Di mana akhirnya anak-anak diantarkan pada keunikan masing-masing dalam berekspresi.
Cara-cara di atas ditempuh agar AFC tidak saja berbeda dengan sanggar-sanggar seni yang lain. Sanggar-sanggar yang semata-mata memberikan keterampilan teknis dalam berekspresi. Lebih penting dari itu, AFC memilih menyemai, memupuk, dan merawat bibit-bibit yang kelak diharapkan tumbuh menjadi tanaman yang beraneka. Demikianlah pembelajaran seni yang diangankan AFC. 

Seni vokal memiliki mekanisme dan tahapan pembelajaran yang telah digariskan. Anak-anak harus menguasai teknik pernafasan dan teknik vokal yang benar sebelum menyanyi. Anak-anak juga harus mampu melakukan interpretasi terhadap lagu agar makna lagu terjaga. Artikulasi dan pembawaan mendapatkan prioritas agar penampilan terjaga. Melalui pembelajaran semacam ini, secara tidak langsung anak-anak mengenal karakter suaranya. Memupuk empati ketika bersentuhan dengan lirik dan nada-nada yang diekspresikan.

Seni menjadi sebuah cara mengenal yang tersimpan dalam setiap anak. Termasuk dalam memupuk kepekaan dan keterampilan mengolah unsur-unsur visual. Sejak awal telah diangankan bahwa pembelajaran seni di AFC menolak penyeragaman. Seni rupa dapat di jadikan contoh tentang penolakan penyeragaman dengan cara mengenal, merespon, mengeksplorasi, dan mengkreasikan bermacam-macam media. Proses pembelajaran seni rupa menanamkan sejak dini, bahwa seni rupa memiliki lingkup yang luas.

(Nanang Arizona dalam "Art for Children : Merawat Dunia Seni Anak-Anak")

Selasa, 26 April 2016

Ke Sekolah (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak "Ke Sekolah" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal (asuhan Pak Sigit) dengan diiringi anak-anak ensembel musik (asuhan Mas Ghana dan Mbak Dewi) dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Menyanyi dan Menari (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak berjudul "Menyanyi dan Menari" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Sabtu, 19 Maret 2016

Liburanku (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak "Liburanku" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal (asuhan Pak Sigit) dengan diiringi anak-anak ensembel musik (asuhan Mas Ghana dan Mbak Dewi) dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Bermain (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak berjudul "Bermain" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Selasa, 19 Januari 2016

Anak Merdeka ( Art for Children TBY)



Lagu anak-anak berjudul "Anak Merdeka" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam acara Pekan Budaya Tionghoa 2012 yang berlangsung pada Februari 2012 di Kampung Ketandan Yogyakakarta. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh Peny Wirawati.


Selasa, 12 Januari 2016

Burung Kenari (Art for Children TBY)



Lagu anak-anak berjudul "Burung Kenari" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam pentas musik Pekan Seni AFC 2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Riang-Riang (Art for Children TBY)




Lagu anak-anak berjudul "Riang-Riang" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh anak-anak vokal AFC (Art for Children) TBY dalam pentas musik Pekan Seni AFC  2015 yang berlangsung pada 6 Oktober 2015 di Concert Hall TBY. Lagu diiringi oleh Luhur Satya Pambudi. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh M. Jauhar al-Hakimi.

Jumat, 04 Februari 2011

Ngayogjazz 2011 : Menikmati Jazz dengan Cara Unik di Jogja


# sebuah catatan kesan pada bulan Januari 2011

Jogja memang istimewa. Bukan lantaran saya warga Jogja lalu mengatakan hal itu. Glenn Fredly pun menyatakannya di atas panggung saat menjadi penampil terakhir dalam acara ’Ngayogjazz 2011’ yang berlangsung hari Sabtu, 15 Januari 2011 di pelataran tempat tinggal Djoko Pekik, pelukis legendaris Jogja, di sebelah barat Pabrik Gula Madukismo Bantul.

Ketika saya sampai di lokasi pertunjukan jam 9 malam bersama banyak orang yang juga baru datang, terdapat dua panggung yang sama-sama sedang bersuara. Di panggung satu ada Chaseiro, sebuah grup vokal jaman dulu yang dipimpin oleh Chandra Darusman, salah satu pentolan musik jazz Indonesia yang pernah berjaya dengan grup band Karimata. Sementara di panggung yang lain tampil penyanyi ayu dari Solo, Iga Mawarni yang tampaknya lebih menarik bagi penonton muda, termasuk saya tentunya. Sehabis Iga Mawarni, giliran Danny Bass Project dari Jogja yang naik panggung. Saya melihatnya sebentar, lalu pindah ke panggung satu untuk menyaksikan Syaharani & The Queenfireworks (ESQI:EF) dengan lagu-lagu yang terdapat dalam album Anytime. Ada Trias (kibor) dan Didit Saad (gitar), wajah-wajah yang tak asing yang menjadi personel band itu. Lalu di panggung lain mulai terdengar alunan musik dari Tohpati Bertiga yang terdiri dari Tohpati (gitar), Indro Hardjodikoro (bass), dan Bowie (drum) membawakan sejumlah nomor instrumentalia dengan teknik tinggi. Decak kagum serta tepuk tangan yang riuh dari penonton menyertai setiap lagu.

Sebenarnya total ada tiga panggung dengan nama-nama alat musik tradisional Jawa : Siter, Slompret, dan Tambur. Namun ketika malam tiba hanya panggung Siter dan Slompret yang tetap mementaskan para musisi jazz. Pertunjukan sudah digelar sejak siang hari, namun banyak yang baru datang saat sudah malam karena hujan sebelumnya berkali-kali turun.

Glenn Fredly menjadi artis pamungkas pergelaran malam Minggu itu. Kendati sekian kali hujan kembali turun, namun penonton tetap antusias menikmati penampilan ekspresif Glenn dan band pengiringnya, yang antara lain diperkuat oleh musisi senior Harry Anggoman (kibor) dan Rayendra Sunito (drum). Glenn membuka aksinya dengan ’Kala Cinta Menggoda’ milik mendiang Chrisye. Selanjutnya ada banyak lagu yang sebagian besar pernah menjadi hits dinyanyikan Glenn, seperti : Cukup Sudah, Akhir Cerita Cinta, Kisah Romantis, dan Kugadaikan Cintaku yang pernah populer dibawakan oleh Gombloh, juga dua lagu dari album terakhirnya : Pelangi dan Timur.

Acara ’Nyayogjazz’ pernah beberapa kali diadakan dengan Djaduk Ferianto sebagai kreatornya. Yang diadakan pada 15 Januari 2011 kemarin sesungguhnya merupakan rencana pentas tahun 2010 yang ditunda akibat erupsi Merapi tempo hari. Untuk saya pribadi, tahun 2011 adalah pengalaman pertama saya turut memberikan apresiasi terhadap ’Ngayogjazz’. Konsepnya yang tidak berubah dari tahun ke tahun adalah pertunjukan musik jazz yang merakyat, artinya lokasinya di desa, panggungnya terbuka, dan penontonnya tidak dipungut biaya sama sekali (kecuali parkir motor/mobil). Oleh karena itu layaklah saya menyebut ’Ngayogjazz 2011’ adalah menikmati jazz dengan cara unik, yang mungkin hanya di Jogja adanya acara musik semacam itu. Silakan dibayangkan saja, kita bisa menikmati sekaligus aksi para musisi berkualitas, seperti : Chaseiro, Gugun Blues Shelters, Tohpati, Simakdialog, Syaharani, Iga Mawarni, Glenn Fredly, dan komunitas jazz dari beberapa kota dalam satu hari saja dengan gratis. Padahal yang namanya pertunjukan musik jazz di mana-mana –khususnya di negara kita- pastilah diadakan di tempat-tempat eksklusif dengan harga tiket relatif mahal kan? Itulah, salah satu bukti bahwa Jogja memang istimewa!




Rabu, 05 Agustus 2009

Nonton Pekan Budaya Rusia di Yogyakarta





____________Pada hari Sabtu malam, 1 Agustus 2009 gedung kesenian kebanggaan warga Yogyakarta -concert hall TBY- mendapat kehormatan menampilkan aneka ragam kebudayaan dari Rusia. Acara tersebut merupakan bagian dari Russian Cultural Days yang berlangsung selama sekian hari di Jakarta dan Yogyakarta. Beruntunglah kami di Jogja yang berkesempatan menyaksikan pertunjukan langka dari mereka yang negara asalnya jauh nian dari Indonesia. Sebelum pentas, diputarlah sebuah film dokumenter tentang hubungan Indonesia-Rusia, yang ternyata telah berlangsung sejak hampir 60 tahun lalu. Bung Karno dan Nikita Kruyschev (pemimpin besar Uni Sovyet saat itu) terlihat begitu hangat dan bersahabat. Yang menarik, ketika Bung Karno menjamu Nikita di Istana Negara ada sebuah pertunjukan tari Jawa, yang salah satu penarinya adalah Megawati Soekarnoputri!
Hubungan Indonesia-Rusia/Uni Sovyet koyak setelah peristiwa G 30 S dan belum lama ini hubungan kedua negara baru mulai harmonis kembali. Presiden SBY telah berkunjung ke Rusia dan telah dibalas oleh PM Vladimir Putin yang datang pula ke Indonesia. Dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan bilateral antara Indonesia dan Rusia itulah, maka Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Federasi Rusia menggelar Pekan Kebudayaan Rusia di Indonesia.
Puluhan seniman Rusia menampilkan berbagai bentuk kebudayaannya, seperti tarian tradisional dan kontemporer, sulap, dan pertunjukan musik. Penonton yang memadati concert hall seolah terhipnotis dengan berbagai penampilan yang memukau. Bermula dari empat orang penyanyi dengan suaranya yang powerfull, seolah kita sedang mendengar sebuah kelompok paduan suara yang bernyanyi. Dilanjutkan sebuah tari tradisional yang melibatkan penari lelaki dan perempuan. Lalu penonton tersenyum ketika menyaksikan sebuah tarian tradisional Rusia yang dipadukan dengan sulap. Sang penari dapat berganti kostum dengan sangat cepat hanya dengan ditutupi oleh sehelai kain. Ada pula sebuah pertunjukan balet dari sepasang penari yang sungguh elok dipandang.
Tak kalah menariknya adalah pertunjukan musik oleh string kuartet Rusia. Ada sedikit insiden ketika tiba-tiba sebagian listrik di concert hall mati, tapi keempat pemusik tetap memainkan alat musiknya penuh konsentrasi. Semakin riuh rendah tepuk tangan penonton bagi mereka ketika listrik menyala lagi. Kelompok musisi etnik Rusia ini lantas tampil bersama seorang pemain akordion. Selanjutnya ada kolaborasi sang pemain akordion dengan empat musisi muda Jogja yang masing-masing memainkan gitar, bass, gamelan, dan kendang. Satu kerja sama yang seru pula jadinya! Kemudian ada pertunjukan akrobat dari seorang lelaki dibantu dua orang perempuan. Disusul kemudian akrobat dari seorang perempuan cantik yang lincah memainkan sejumlah hulahoop dan sebuah benda yang berbentuk unik. Para penari tradisional kembali tampil dengan gerakan yang demikian cepat, kompak, dan tanpa lelah. Sangat menakjubkan!
Senyuman selalu tersungging di wajah para penari yang semuanya ganteng dan cantik itu.
Penonton pun makin terpukau ketika pada akhir acara, para seniman Rusia tersebut menyanyikan sebuah lagu tradisional Rusia, tetapi dinyanyikan dengan bahasa Indonesia. Karena logat yang berbeda, alhasil lagu tersebut pun jadi terdengar lucu di telinga para penonton Indonesia. Yang pasti, semua penonton puas sekali sehabis menikmati pertunjukan seni budaya Rusia tersebut.

Sumber foto : Kompas Images

Selasa, 24 Juni 2008

Melihat Akrobat dari Eropa di FKY 2008


Festival Kesenian Yogyakarta XX 2008 (FKY) telah berlangsung sejak 7 Juni 2008, tapi aku sekali saja belum menikmatinya. Padahal sudah banyak pertunjukan digelar, selain ada pasar raya yang berlangsung di Benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Sudah ada pentas beragam jenis musik maupun tari dan ada pemutaran sejumlah film dalam program Mari Menonton di Bioskop Pasar Raya FKY. Baru Jumat (20/6) pekan lalu kusempatkan melihat sebuah pertunjukan yang kurasa menarik untuk disimak. Berlokasi di amphiteater atau teater terbuka TBY, malam itu digelar sebuah pertunjukan akrobat tari kontemporer dari seniman Eropa, artis Portugal bernama João Paulo Pereira dos Santos (dan Rui Horta sebagai koreografer) dari Compagnie O Ultimo Momento.

Aku tertarik setelah membaca acara pentas hari itu ada pertunjukan tari dengan tiang dan sorenya kebetulan kulihat langsung persiapannya. Ada sebuah tiang putih tinggi menjulang dipasang di tengah panggung, sementara lantainya dipasangi terpal hitam putih. Kemudian ada suara musik kontemporer yang didominasi biola disetel keras-keras. Menjelang aku pulang sore itu, ada seorang lelaki bule -yang posturnya tak terlalu tinggi tapi atletis- memasang sebuah kamera di bagian teratas tempat duduk penonton. Dia kemudian kulihat berdiskusi dengan orang-orang Indonesia yang bertugas sebagai panitia. Begitu kulihat pertunjukan berlangsung, ternyata dialah sang artis yang tampil solo dengan akrobatnya. Jika sebelumnya aku tahu, bisa saja kutanyakan hal-hal yang akhirnya bisa memperkaya tulisan ini. Ketika aku datang malam menjelang pentas dimulai, penonton sudah terlihat begitu sarat di amphiteater TBY. Selain tempat duduknya sudah sesak, di antara tiang-tiang besi di kanan kiri panggung dan tempat duduk, sudah banyak pula orang di situ, yang tentu dengan antusias hendak menyaksikan pertunjukan.

Menjelang jam 8 malam pertunjukan berjudul ‘Contigo’ itu dimulai. João Paulo tampil dengan kostum serba hitam membalut tubuh atletisnya. Dengan tiang, kursi, bola kecil, dan tongkat, dia lantas membuat gerakan-gerakan akrobatis yang berbahaya, sekaligus indah dan asyik dilihat. Aksi-aksi João Paulo kerap membuat penonton menahan nafas, lalu bertepuk tangan dengan decak kekaguman. Aku sendiri kagum dengan keberaniannya, kelenturan, dan daya tahan tubuhnya yang luar biasa. Sama sekali tak terlihat kelelahannya sepanjang 45 menit pertunjukan. Ternyata sang artis bukan orang baru dalam dunia akrobatik internasional. Dia pernah menempuh pendidikan di sekolah sirkus Portugal dan Prancis. Di antara penonton malam itu cukup banyak terlihat orang-orang kulit putih di antara mayoritas warga negara Indonesia yang sedang berada di Yogyakarta. Setelah itu aku melihat ‘Jogja Art Fair #1’ yang memajang karya-karya seni rupa yang unik di ruang pameran TBY dan sejenak melintasi pasar raya di seputar Vredeburg.

Informasi lebih lanjut tentang FKY 2008 dapat disimak di www.festivalkesenianyogyakarta.com

Sumber Foto : http://joaquim.emf.org/vj.works_dance.htm