Tampilkan postingan dengan label concert hall. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label concert hall. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2024

ORKESTRA TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA - KUMANDANG KIDUNG BOCAH


orkestra taman budaya yogyakarta - kumandang kidung bocah di concert hall tby pada selasa, 23 juli 2024 menampilkan afc vokal tby, doni saputro, okky kumala, paksi raras alit, dll. 

konduktor :  guntur nur puspito. 

selamat hari anak nasional.

Minggu, 11 Desember 2022

Pekan Seni AFC 2022 : Fragmen Humor Bocah "Putri Manja" dan Operet Anak "Mahkota Raja Rimba"



Pekan Seni AFC (Art for Children) 2022 hari kedua di concert hall Taman Budaya Yogyakarta menampilkan dua pertunjukan pada Rabu petang, 7 Desember 2022. Bagian awal video menampilkan pameran seni rupa dari kelas seni rupa, batik, dan sastra di ruang pameran.
Pertunjukan pertama menampilkan Fragmen Humor Bocah berjudul "Putri Manja" merupakan hasil kerja sama kelas seni tari kreasi baru, karawitan, dan komedi anak. (35:50 - 1:26:10)
Pertunjukan kedua menampilkan Operet Anak "Mahkota Raja Rimba" merupakan hasil kerja sama kelas musik, vokal, tari klasik, dan pantomime. (1:34:30 - 2:05:30)

Selamat dan sukses untuk semua yang tampil beserta orang-orang di balik layar. Terima kasih untuk seluruh tim dari Taman Budaya Yogyakarta.


Rabu, 04 Januari 2012

Lebih Bersyukur Seusai Pentas Teman-teman Tunarungu



Beberapa hari menjelang pergantian tahun, tepatnya pada Rabu, 28 Desember 2011, ada sebuah pertunjukan seni yang tidak biasa tersaji di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah komunitas seni yang terdiri dari teman-teman kita yang tunarungu, yang bernama Deaf Art Community (DAC), memperingati hari jadinya yang ke-7 sekaligus membuat pementasan bertajuk ”Aku Ingin Menjadi Kupu-Kupu”. Menurut Broto Wijayanto –pendiri sekaligus pengasuh DAC- yang malam itu bertindak sebagai pembawa acara, pementasan tersebut dapat berlangsung atas kebaikan hati seseorang yang kaya raya, sehingga penonton tidak dipungut bayaran sepeser pun.

Ada beberapa hal yang tidak biasa mesti dilakukan oleh penonton malam itu. Jika kami bermaksud memberi apresiasi kepada teman-teman di atas panggung, kami tidak bertepuk tangan, tapi melambaikan kedua tangan yang diangkat ke atas. Jika kami menyukainya, kami bisa mengacungkan salam tiga jari (dikenal dengan sebutan ’salam metal’) yang sesungguhnya bermakna ’I love you’. Maka berkali-kali kami melambaikan tangan kami melihat penampilan mereka yang menari, menyampaikan puisi visual, sulap, dan pantomim. Semula saya tidak bisa membayangkan musik apa yang akan mengiringi penampilan mereka. Ternyata di sebelah kanan depan panggung terdapat sekelompok pemuda yang tergabung dalam kelompok ’Indonesian Beatbox Jogja’ alias BEJO, yang menampilkan musik yang dikeluarkan dari mulut. Mereka adalah musisi pengiring pentas malam itu.

Melihat teman-teman yang tuli tampil di atas pentas menimbulkan kekaguman tersendiri bagi kami. Terutama ketika mereka menari hip-hop dengan suasana amat nikmat dan mengasyikkan, padahal mereka sama sekali tidak mendengar suara musik apa pun! Ternyata meski mereka tidak dapat mendengar suara di luar mereka, namun mereka tetap mampu mengikuti irama dari detak jantung mereka sendiri. Apa yang disampaikan oleh dua ibu dosen seni sehabis pementasan cukup mewakili apa yang dirasakan oleh penonton. Semoga DAC akan terus berkarya dan semakin kreatif di masa mendatang.

Seusai menyimak aksi teman-teman DAC membuat saya lebih bersyukur atas segala karunia Ilahi, baik yang saya miliki maupun yang tidak saya punyai. Mereka yang tuli -sekaligus tak bisa bicara dengan suara mereka- saja sanggup menikmati hidup, tampil dengan sangat percaya diri, dan jelas sekali mereka adalah orang-orang yang sangat bersyukur. Benar kata Mas Broto bahwa mereka merupakan guru yang baik karena kita –yang merasa normal dan sempurna- ternyata justru bisa belajar banyak dari mereka bagaimana sebaiknya menyikapi hidup ini.

Foto : http://cekitdotfree.com

Rabu, 02 Desember 2009

Padz Jazz : Meriahnya Pentas Musik Jazz di Jogja


Untuk pertama kalinya pelajar SMA di Yogyakarta, yaitu SMA Negeri 3 mengadakan pertunjukan musik jazz dalam rangka ulang tahun sekolahnya. Acara bertajuk 'Padz Jazz - Ethnic Season' yang berlangsung pada hari Senin, 30 November 2009 di concert hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mendapatkan sambutan yang sangat baik dari para penikmat musik di kota pelajar, terbukti dari antusiasme penikmat musik yang memadati gedung pertunjukan terbesar di Jogja itu.

Yang tampil juga cukup banyak, total ada 9 artis/grup band, terdiri dari 3 band finalis festival jazz, 3 band jazz anak-anak SMA 3, kemudian 3 artis tingkat nasional : Aji Idol, Soulvibe, dan Rieka Roslan & Troubadours. Mungkin memang sengaja dibuat ada 3 sesi dengan masing-masing 3 penampil, sesuai dengan sang empunya acara. Okelah kalau begitu. Dimulai pada pukul 19.15, pentas jazz yang dihadiri ribuan penonton itu baru usai menjelang jam 12 malam.

Band pertama tampil dengan lagu jazz standar ‘Love’ dan medley lagu daerah, lumayan bagus sebagai pembuka acara. Band kedua menampilkan seorang gadis kecil yang suaranya sudah so jazzy. Rasanya lebih ada geregetnya menonton aksi band yang membawakan ‘Blue Moon’ dan sebuah lagu daerah, yang diawali dengan tembang pendek yang dikumandangkan dengan apik oleh si gadis kecil. Band ketiga membawakan ‘Spain’ yang rumit itu dengan aransemen yang ada nuansa Jawanya, apik juga! Sehabis itu mereka juga membawakan medley lagu daerah yang sudah di-jazz-kan.

Tiga band yang terdiri dari anak-anak SMA 3 tampil apik pula, yaitu : Rekoneko, Djhavoe, dan Koala. Salah satu band itu menampilkan seorang perempuan sebagai pemain bassnya. Rasanya di Indonesia masih sangat jarang ada bassis cewek, khususnya di band non-rock. Kalau di band rock sih sudah ada Chua ‘Kotak’, Ices ‘The Rock Indonesia’, dan Nisa ‘Omlette’.

Bagiku pribadi ‘Koala’ sangat istimewa karena gitarisnya, Nihan Anindyaputra Lanisy (alias Uta atau Jono) adalah keponakanku. Sebagai pamannya bisa banggalah aku menyaksikan aksi band sarat prestasi itu di concert hall. Setahun silam hanya suara kiborku yang berkumandang saat pentas operet ‘Pangeran yang Selalu Bahagia’, sementara tiga pekan lalu sosokku sekadar berdiri berterima kasih pada penonton -bersama teman-temanku- sehabis langen gita ’Cindelaras’. Malam itu giliran keponakanku yang secara utuh mengumandangkan suara gitarnya dan performanya dilihat ribuan pasang mata di tempat itu. Dua lagu ciptaan sendiri dibawakan oleh ’Koala’ ditambah sebuah hits Chrisye ’Juwita’ yang diaransemen ulang.

Menyimak penampilan 6 band tersebut membuatku terkenang pada masa kejayaan band-band fusion Indonesia era 80-an hingga awal 90-an, seperti : Karimata, Krakatau, Modulus, dan Emerald. Apalagi dalam sebulan terakhir aku baru saja mendengarkan dan menyukai kembali lagu-lagu Emerald yang kuunggah dari internet. (Trims buat Yudi Agung Nugroho yang membagi infonya yang sangat berharga).

Aji Idol yang merupakan mantan finalis Indonesian Idol sekian tahun silam menjadi artis nasional pertama yang tampil. Sebuah lagu dari Michael Jackson (sepertinya ketika masih kribo dan tergabung dalam ’The Jackson Five’) membuka penampilannya dengan impresif. Aji yang berambut super kribo tampil di lagu pertama bersama seorang temannya yang tak kalah kribo, lucu jadinya! Sehabis itu diselingi curhat Aji yang kocak, dia bersama band pengiringnya membawakan sebuah lagu Vierra dan dua lagu lagi, yang terakhir adalah ’Can’t Buy Me Love’ dari The Beatles yang dibawakan dengan sangat dinamis. Sayang, sebelum Aji berniat menyanyikan lagu pamungkasnya, waktu untuknya sudah habis.

Band ’Soulvibe’ mungkin kurang populer jika dibandingkan dengan ’Maliq n D’Essentials’ dan ’RAN’. Tapi ternyata penampilan mereka mampu memukau para pandemen jazz Jogja juga. Band beraliran RnB itu membawakan sejumlah lagu ciptaan sendiri, termasuk ’Biarlah (Hapuslah Cinta)’ dan ’Arti Hadirmu’ yang rupanya cukup ngetop buat penonton. Sejumlah penonton maju di depan panggung dan bebas bergoyang saat aksi terakhir Soulvibe. Yang jelas suasananya jadi makin meriah. Sayangnya, karena mungkin sudah lebih dari jam 11 malam, cukup banyak penonton yang meninggalkan gedung pertunjukan ketika performa Soulvibe belum tuntas.

Rieka Roslan dengan keempat sahabatnya dalam ’Troubadours’ menjadi artis pamungkas disaksikan sekitar 50% penonton yang masih setia menanti. Mbak Rieka bilang bahwa mereka akan menampilkan ragam jazz yang berbeda dengan artis-artis sebelumnya. Dan memang benar begitu adanya. Ada nuansa lain ketika perempuan asal Bandung itu menyanyikan ’Sepasang Mata Bola’ dengan gayanya sendiri yang khas, dilanjutkan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Juga berbeda dengan yang lain, Mbak Rieka sempat nyanyi sambil jalan-jalan di antara penonton, mengajak mereka bernyanyi dan menari pula bersamanya. Koor penonton terdengar ketika hits lama ’The Groove’ bertajuk ’Dahulu’ dibawakan oleh Rieka Roslan & Troubadours.

Padz Jazz akhirnya berakhir ketika tengah malam hampir tiba. Penonton pulang dengan puas rasa. Semoga pentas serupa dapat kembali terlaksana di saat mendatang. Tak lupa, salut dan selamat buat anak-anak Padmanaba!

Rabu, 05 Agustus 2009

Nonton Pekan Budaya Rusia di Yogyakarta





____________Pada hari Sabtu malam, 1 Agustus 2009 gedung kesenian kebanggaan warga Yogyakarta -concert hall TBY- mendapat kehormatan menampilkan aneka ragam kebudayaan dari Rusia. Acara tersebut merupakan bagian dari Russian Cultural Days yang berlangsung selama sekian hari di Jakarta dan Yogyakarta. Beruntunglah kami di Jogja yang berkesempatan menyaksikan pertunjukan langka dari mereka yang negara asalnya jauh nian dari Indonesia. Sebelum pentas, diputarlah sebuah film dokumenter tentang hubungan Indonesia-Rusia, yang ternyata telah berlangsung sejak hampir 60 tahun lalu. Bung Karno dan Nikita Kruyschev (pemimpin besar Uni Sovyet saat itu) terlihat begitu hangat dan bersahabat. Yang menarik, ketika Bung Karno menjamu Nikita di Istana Negara ada sebuah pertunjukan tari Jawa, yang salah satu penarinya adalah Megawati Soekarnoputri!
Hubungan Indonesia-Rusia/Uni Sovyet koyak setelah peristiwa G 30 S dan belum lama ini hubungan kedua negara baru mulai harmonis kembali. Presiden SBY telah berkunjung ke Rusia dan telah dibalas oleh PM Vladimir Putin yang datang pula ke Indonesia. Dalam rangka peringatan 60 tahun hubungan bilateral antara Indonesia dan Rusia itulah, maka Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Federasi Rusia menggelar Pekan Kebudayaan Rusia di Indonesia.
Puluhan seniman Rusia menampilkan berbagai bentuk kebudayaannya, seperti tarian tradisional dan kontemporer, sulap, dan pertunjukan musik. Penonton yang memadati concert hall seolah terhipnotis dengan berbagai penampilan yang memukau. Bermula dari empat orang penyanyi dengan suaranya yang powerfull, seolah kita sedang mendengar sebuah kelompok paduan suara yang bernyanyi. Dilanjutkan sebuah tari tradisional yang melibatkan penari lelaki dan perempuan. Lalu penonton tersenyum ketika menyaksikan sebuah tarian tradisional Rusia yang dipadukan dengan sulap. Sang penari dapat berganti kostum dengan sangat cepat hanya dengan ditutupi oleh sehelai kain. Ada pula sebuah pertunjukan balet dari sepasang penari yang sungguh elok dipandang.
Tak kalah menariknya adalah pertunjukan musik oleh string kuartet Rusia. Ada sedikit insiden ketika tiba-tiba sebagian listrik di concert hall mati, tapi keempat pemusik tetap memainkan alat musiknya penuh konsentrasi. Semakin riuh rendah tepuk tangan penonton bagi mereka ketika listrik menyala lagi. Kelompok musisi etnik Rusia ini lantas tampil bersama seorang pemain akordion. Selanjutnya ada kolaborasi sang pemain akordion dengan empat musisi muda Jogja yang masing-masing memainkan gitar, bass, gamelan, dan kendang. Satu kerja sama yang seru pula jadinya! Kemudian ada pertunjukan akrobat dari seorang lelaki dibantu dua orang perempuan. Disusul kemudian akrobat dari seorang perempuan cantik yang lincah memainkan sejumlah hulahoop dan sebuah benda yang berbentuk unik. Para penari tradisional kembali tampil dengan gerakan yang demikian cepat, kompak, dan tanpa lelah. Sangat menakjubkan!
Senyuman selalu tersungging di wajah para penari yang semuanya ganteng dan cantik itu.
Penonton pun makin terpukau ketika pada akhir acara, para seniman Rusia tersebut menyanyikan sebuah lagu tradisional Rusia, tetapi dinyanyikan dengan bahasa Indonesia. Karena logat yang berbeda, alhasil lagu tersebut pun jadi terdengar lucu di telinga para penonton Indonesia. Yang pasti, semua penonton puas sekali sehabis menikmati pertunjukan seni budaya Rusia tersebut.

Sumber foto : Kompas Images