Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juni 2017

Menikmati AriReda yang Mendadak Konser di Jogja

Sebuah acara yang relatif mendadak diselenggarakan ternyata tetap bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak. Demikianlah yang terjadi ketika AriReda (Ari Malibu dan Reda Gaudiamo) tampil dalam sebuah konser di Kedai Kebun Forum (KKF) Yogyakarta pada Minggu malam, 18 Juni 2017. Mereka sendiri mengistilahkan pertunjukan tersebut sebagai mendadak konser karena sebenarnya mereka berdua sedang berada di Jogja untuk proses rekaman album terbaru AriReda. Dari hasil perbincangan santai mereka tercetus kalimat, "Kayaknya asyik nih, kalau kita konser," dan terwujudlah pentas musik yang dipersiapkan hanya sekitar dua hari itu. Begitu mengetahui bahwa AriReda akan tampil, saya langsung berniat untuk menyaksikannya. Pada Mei 2016 mereka sempat konser di tempat yang sama, tapi tiketnya telah habis ketika saya bermaksud membelinya. Maka kesempatan kali ini tak boleh disia-siakan, apalagi konser di bulan Juni 2017 digelar secara gratis.


Konser berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan materi album terbaru AriReda yang bertajuk Suara dari Jauh, yang merupakan musikalisasi puisi karya Goenawan Mohamad. Seluruh lagu dalam album (hampir semua gubahan M. Umar Muslim) dibawakan dengan syahdu, antara lain Lagu Hujan, Surat Cinta, Z, Sajak Anak-anak Mati, dan Quatrain About A Pot (satu-satunya lagu berbahasa Inggris). Sesi kedua menampilkan musikalisasi puisi karya Sapardi Djoko Damono yang sebagian besar sudah dikenal oleh para penonton. Bahkan AriReda membawakan lagu-lagu tersebut berdasarkan permintaan para penggemarnya. Maka mengalunlah Nokturno, Hujan Bulan Juni, Di Restoran, Gadis Kecil, Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka, Kuhentikan Hujan, Pada Suatu Hari Nanti, Lanskap, dan Aku Ingin sebagai penutup konser. Lagu berjudul Lanskap sepertinya baru pertama kali saya dengar dan ternyata merupakan puisi karya Pak Sapardi pula. 

Sejak nomor pembuka, denting gitar Ari dan suara bening Reda langsung membuai kalbu. Seluruh komposisi dimainkan dengan penjiwaan yang dalam dan hasilnya begitu indah. Hati pun rasanya tersentuh. Setiap lagu berakhir, duo artis berusia 50-an tersebut selalu menyunggingkan senyuman lebar yang menebarkan aura kehangatan dan kedamaian. Kata pengantar di antara lagu sesekali membuat penonton tertawa. AriReda tetap tampil maksimal kendati persiapan konser singkat dan mereka pun sedang batuk. Bahkan keduanya sempat ngemil kencur di sela-sela pertunjukan.

Suasana konser AriReda di KKF (18/6/17). Foto @masgufi.

Bagi saya pribadi, lagu Aku Ingin menjadi nomor yang paling emosional karena pencipta melodi lagu tersebut, Ags. Arya Dipayana, adalah paman saya yang sudah tutup usia pada 2011 lalu. Begitu lagu itu dilantunkan, saya sempat membayangkan bagaimana keadaan Om Adji ketika menyusun komposisi lagu dengan melodi dan akor yang tidak biasa itu hingga menjadi karya yang istimewa dan bahkan abadi. Menjadi kegembiraan dan kebanggaan tersendiri saat seusai konser saya membeli CD Suara dari Jauh, lantas meminta tanda tangan dari sang artis seraya memperkenalkan diri, "Saya keponakan Mas Adji." Mas Ari dan Mbak Reda pun menjabat tangan saya dengan erat. Saya sengaja tidak meminta foto bersama mereka karena saya tidak memiliki akun Instagram dan ponsel saya terlalu sederhana untuk bisa membuat foto yang berkualitas. Yang jelas, saya pulang dengan suasana hati nyaman dan mensyukuri salah satu berkah di malam Ramadan tersebut.

Rabu, 10 Agustus 2016

Garuda Muda (Konser Musik Anak & Remaja "Save Our Children")



Lagu anak-anak "Garuda Muda" karya R. Sigit Eko Riyanto, dinyanyikan oleh Sasana Adisvara, PS SD Joannes Bosco, Art for Children, dan seluruh artis pendukung, dengan diiringi Ansamble Anak Nusantara asuhan Dwipa Hanggana Prabawa, dalam Konser Musik Anak & Remaja "Save Our Children" pada Sabtu, 30 Juli 2016 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Video musik dibuat dan diunggah di Youtube oleh Ira Pisundra.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pekan Seni Anak AFC Awal Oktober 2014



Penampilan bersama anak-anak musik dan vokal AFC di TBY (6/10).

Operet "Pinokio" di Concert Hall TBY (7/10).

Penampilan anak-anak vokal dalam operet "Cindelaras" di Concert Hall TBY (7/10).

Kolaborasi anak-anak teater, tari, dan vokal dalam operet "Cindelaras".



Para pengajar AFC : Pak Sigit, Mbak Yayuk, Mbak Tere, Mbak Utik, saya, dan Mas Broto.
Foto-foto karya M. Jauhar Al Hakimi.

Selasa, 15 November 2011

13 November 2011, Hari Istimewa bagi AFC TBY

Paduan Suara AFC Plus



Bagi lebih dari seratus anak-anak dan remaja yang aktif dalam Art for Children (AFC) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), hari Minggu, 13 November 2011 merupakan saat yang istimewa bagi mereka. Pada hari itu terdapat tiga mata acara bertajuk 'Gelar Seni Anak' di TBY, yaitu : Konser Ansambel Musik dan Paduan Suara di Gedung Sositet, Pembukaan Pameran Seni Rupa di Ruang Pameran, dan Operet 'Gadis Penjual Korek Api' di Concert Hall. Syukurlah, acara tersebut telah berlangsung dengan lancar dan melegakan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Konser Ansambel Musik dan Paduan Suara
Acara pertama Minggu sore itu dimulai pada pukul 16.30 di Gedung Sositet. Para musisi berusia muda yang diasuh oleh Mbak Dewi yang dibantu oleh Mas Ghana dan Mas Adi memainkan sejumlah nomor instrumentalia, yaitu : I Heart You, Kepompong, Bunda Piara (solo violin oleh Dheva), dan Lupa Lupa Ingat. Selanjutnya Dista (mantan murid vokal AFC) menjadi vokalis tamu membawakan Bendera, lagu perjuangan modern karya Eros Chandra yang dipopulerkan oleh band Cokelat. Setelah itu paduan suara AFC Plus asuhan Pak Sigit ER tampil menyanyikan sejumlah lagu perjuangan dan lagu daerah, yaitu : Tanah Air, Manuk Dadali, Indonesia Jaya, Padhang Bulan-Suwe Ora Jamu, dan diakhiri dengan Yamko Rambe Yamko yang rancak nian dibawakan oleh mereka.

Operet 'Gadis Penjual Korek Api'
Acara terakhir 'Gelar Seni Anak' pada 13 November 2011 dimulai pada pukul 18.50 di Concert Hall. Lakon yang menjadi hasil kerja bersama dari anak-anak teater, tari, dan vokal beserta para gurunya di tahun 2011 ini diangkat dari salah satu dongeng terkenal karya Hans Christian Andersen. Pak Nanang Arisona mengadaptasinya menjadi naskah drama bersama Mas Broto Wijayanto (yang juga bertindak sebagai sutradara operet), sementara Pak Sigit ER menciptakan sejumlah lagu berdasarkan naskah tersebut. Mas Bagus Mazasupa diberi kepercayaan untuk mengaransemen seluruh lagu yang ada sekaligus menjadi ilustrator musik operet 'Gadis Penjual Korek Api'. Mbak Yayuk, Mbak Tere, Mbak Utik, dan Mbak  Putria merupakan penata tari dalam pertunjukan tersebut. Satu hal yang baru dalam operet malam itu adalah sebuah film pendek yang dikemas secara menarik dan sangat layak menjadi hiburan bagi seluruh keluarga.

Sumber foto : akun fb Derrida R Oktadiona dan Theresia W.



Operet AFC 'Gadis Penjual Korek Api'