Tampilkan postingan dengan label pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pameran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juli 2019

Mengapresiasi Pameran di TBY


Sejenak menyimak dan mengapresiasi pameran seni rupa karya Timbul Raharjo pada Minggu (30/6/19) kemarin. Pameran berlangsung hingga Minggu (7/7) mendatang.







Selasa, 15 November 2011

13 November 2011, Hari Istimewa bagi AFC TBY

Paduan Suara AFC Plus



Bagi lebih dari seratus anak-anak dan remaja yang aktif dalam Art for Children (AFC) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), hari Minggu, 13 November 2011 merupakan saat yang istimewa bagi mereka. Pada hari itu terdapat tiga mata acara bertajuk 'Gelar Seni Anak' di TBY, yaitu : Konser Ansambel Musik dan Paduan Suara di Gedung Sositet, Pembukaan Pameran Seni Rupa di Ruang Pameran, dan Operet 'Gadis Penjual Korek Api' di Concert Hall. Syukurlah, acara tersebut telah berlangsung dengan lancar dan melegakan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Konser Ansambel Musik dan Paduan Suara
Acara pertama Minggu sore itu dimulai pada pukul 16.30 di Gedung Sositet. Para musisi berusia muda yang diasuh oleh Mbak Dewi yang dibantu oleh Mas Ghana dan Mas Adi memainkan sejumlah nomor instrumentalia, yaitu : I Heart You, Kepompong, Bunda Piara (solo violin oleh Dheva), dan Lupa Lupa Ingat. Selanjutnya Dista (mantan murid vokal AFC) menjadi vokalis tamu membawakan Bendera, lagu perjuangan modern karya Eros Chandra yang dipopulerkan oleh band Cokelat. Setelah itu paduan suara AFC Plus asuhan Pak Sigit ER tampil menyanyikan sejumlah lagu perjuangan dan lagu daerah, yaitu : Tanah Air, Manuk Dadali, Indonesia Jaya, Padhang Bulan-Suwe Ora Jamu, dan diakhiri dengan Yamko Rambe Yamko yang rancak nian dibawakan oleh mereka.

Operet 'Gadis Penjual Korek Api'
Acara terakhir 'Gelar Seni Anak' pada 13 November 2011 dimulai pada pukul 18.50 di Concert Hall. Lakon yang menjadi hasil kerja bersama dari anak-anak teater, tari, dan vokal beserta para gurunya di tahun 2011 ini diangkat dari salah satu dongeng terkenal karya Hans Christian Andersen. Pak Nanang Arisona mengadaptasinya menjadi naskah drama bersama Mas Broto Wijayanto (yang juga bertindak sebagai sutradara operet), sementara Pak Sigit ER menciptakan sejumlah lagu berdasarkan naskah tersebut. Mas Bagus Mazasupa diberi kepercayaan untuk mengaransemen seluruh lagu yang ada sekaligus menjadi ilustrator musik operet 'Gadis Penjual Korek Api'. Mbak Yayuk, Mbak Tere, Mbak Utik, dan Mbak  Putria merupakan penata tari dalam pertunjukan tersebut. Satu hal yang baru dalam operet malam itu adalah sebuah film pendek yang dikemas secara menarik dan sangat layak menjadi hiburan bagi seluruh keluarga.

Sumber foto : akun fb Derrida R Oktadiona dan Theresia W.



Operet AFC 'Gadis Penjual Korek Api'





Kamis, 08 April 2010

Dua Malam Meriah di Bentara Budaya Yogyakarta

'Jazz Mben Senen' Edisi Khusus

Ada dua malam berurutan terdapat suasana meriah di Bentara Budaya Yogyakarta. Senin, 5 April 2010 acara mingguan ’Jazz Mben Senen’ jauh lebih riuh rendah ketimbang biasanya. Penonton yang hadir nyaris tidak menyisakan ruang kosong di halaman BBY. Ada yang duduk lesehan, banyak juga yang berdiri, dan sebagian lagi berada di luar pagar. Malam itu memang ada tema khusus bertajuk ”Umbul Donga” bagi Singgih Sanjaya, musisi Yogyakarta berkaliber internasional yang sekitar tiga pekan silam terkena stroke. Maka hadirlah nama-nama kondang yang merupakan teman baik beliau sebagai pengisi acara, seperti penyanyi keroncong Waljinah, Dwiki Dharmawan, Iga Mawarni, dan Trie Utami, juga penyanyi jazz muda dari Jakarta, Farah Dibaj Fuadi alias Farah Di. Selain mereka, ada nama Djaduk Ferianto, pelopor aksi solidaritas bagi sang sahabat serta anggota Komunitas Jazz Yogyakarta yang biasa tampil dalam ’Jazz Mben Senen’. Ada sesi berdoa bersama yang dipimpin oleh ustad Anant –yang aslinya dulu rocker- bagi kesembuhan kembali Singgih Sanjaya. Semoga beliau segera sehat dan mampu menghasilkan karya hebat lagi. Amin.

Farah Di tampil menawan diiringi big band –dengan dominasi brass section- membawakan sejumlah nomor lagu jazz standar. Dwiki Dharmawan dengan sekadar pianika memainkan lagu yang dibuatnya secara spontan, judulnya ’Blues For Today’ bersama dengan musisi Jogja pengiringnya tanpa latihan sekalipun, tapi asyik sekali lagunya disimak.

Ibu Waljinah lantas menyanyikan dua lagu keroncong ’Ayo Ngguyu’ dan ’Tanjung Perak’ dengan iringan sebuah orkes keroncong yang personelnya masih muda semua.Berikutnya Iga Mawarni membawakan ’Simfoni yang Indah’, ’Esok kan Masih Ada’, dan lagunya sendiri yang paling terkenal ’Kasmaran’. Putri Solo tersebut tampak ayu dan anggun dengan suaranya yang menyejukkan hati. Trie Utami kemudian lebih banyak berimprovisasi dengan Djaduk Ferianto dkk. Dia mengajak sejumlah vokalis jazz perempuan yang hadir malam itu mengekspresikan diri semaunya bersama dirinya. Di tengah-tengah improvisasi, Trie Utami serta merta bisa menyanyikan ’Girl from Ipanema’ dan juga ’Terajana’. Penonton bertepuk tangan riuh penuh kekaguman menikmati aksi mereka.

Para musisi jazz Jogja kemudian menutup Senin malam yang meriah itu. Di antara mereka ada Rika, putri tetanggaku yang menjadi satu-satunya pemain saksofon perempuan yang ikut bermain. Aksi kocak Bambang Gundul dan Lusy Laksita sebagai duet pembawa acara juga layak sekali diapresiasi. Kata-kata mereka membuat malam itu menjadi terasa begitu hangat.

Foto : Erson Padapiran/wartajazz.com



Pembukaan 'Benny & Mice Expo'

Selasa malam, 6 April 2010 BBY kembali kedatangan orang-orang yang apresiatif terhadap karya seni. Acaranya adalah pembukaan ’Benny & Mice Expo’ yang diisi dengan dialog bersama Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad (Mice), duet kartunis jenius pencipta karakter tokoh Benny dan Mice. Ketika ditantang untuk membuat komik dengan tema khusus Jogja, mereka bilang bahwa perlu tinggal di Jogja selama sekitar dua bulan untuk bisa melakukan ekplorasi habis-habisan. Terdapat dua meja penuh makanan dan minuman yang bisa dinikmati dengan bebas oleh para hadirin di halaman, sementara acara pameran dimulai. ’Benny & Mice Expo’ menampilkan Pameran Kartun Benny & Mice 1997-2010, Pameran Peduli Pemanasan Global, Bazar Komik Pilihan, dan dua acara workshop yang telah berlangsung 7 April 2010. Sementara acara pameran berlangsung 6-15 April 2010. Dalam Pameran Peduli Pemanasan Global terdapat pula karya Benny & Mice yang menghiasi buku populer ’Hidup Hirau Hijau’ yang baru diterbitkan oleh Gramedia. Bagi para penggemar kartun dan mereka yang peduli masalah sosial politik maupun lingkungan hidup pasti tak akan melewatkan acara menarik tersebut. Benny & Mice tidak hanya membuat kita terhibur, tapi juga bisa membuat kita bertambah wawasan dan berpikir cerdas.

Foto : Facebook Benny & Mice



Selasa, 24 Juni 2008

Melihat Akrobat dari Eropa di FKY 2008


Festival Kesenian Yogyakarta XX 2008 (FKY) telah berlangsung sejak 7 Juni 2008, tapi aku sekali saja belum menikmatinya. Padahal sudah banyak pertunjukan digelar, selain ada pasar raya yang berlangsung di Benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Sudah ada pentas beragam jenis musik maupun tari dan ada pemutaran sejumlah film dalam program Mari Menonton di Bioskop Pasar Raya FKY. Baru Jumat (20/6) pekan lalu kusempatkan melihat sebuah pertunjukan yang kurasa menarik untuk disimak. Berlokasi di amphiteater atau teater terbuka TBY, malam itu digelar sebuah pertunjukan akrobat tari kontemporer dari seniman Eropa, artis Portugal bernama João Paulo Pereira dos Santos (dan Rui Horta sebagai koreografer) dari Compagnie O Ultimo Momento.

Aku tertarik setelah membaca acara pentas hari itu ada pertunjukan tari dengan tiang dan sorenya kebetulan kulihat langsung persiapannya. Ada sebuah tiang putih tinggi menjulang dipasang di tengah panggung, sementara lantainya dipasangi terpal hitam putih. Kemudian ada suara musik kontemporer yang didominasi biola disetel keras-keras. Menjelang aku pulang sore itu, ada seorang lelaki bule -yang posturnya tak terlalu tinggi tapi atletis- memasang sebuah kamera di bagian teratas tempat duduk penonton. Dia kemudian kulihat berdiskusi dengan orang-orang Indonesia yang bertugas sebagai panitia. Begitu kulihat pertunjukan berlangsung, ternyata dialah sang artis yang tampil solo dengan akrobatnya. Jika sebelumnya aku tahu, bisa saja kutanyakan hal-hal yang akhirnya bisa memperkaya tulisan ini. Ketika aku datang malam menjelang pentas dimulai, penonton sudah terlihat begitu sarat di amphiteater TBY. Selain tempat duduknya sudah sesak, di antara tiang-tiang besi di kanan kiri panggung dan tempat duduk, sudah banyak pula orang di situ, yang tentu dengan antusias hendak menyaksikan pertunjukan.

Menjelang jam 8 malam pertunjukan berjudul ‘Contigo’ itu dimulai. João Paulo tampil dengan kostum serba hitam membalut tubuh atletisnya. Dengan tiang, kursi, bola kecil, dan tongkat, dia lantas membuat gerakan-gerakan akrobatis yang berbahaya, sekaligus indah dan asyik dilihat. Aksi-aksi João Paulo kerap membuat penonton menahan nafas, lalu bertepuk tangan dengan decak kekaguman. Aku sendiri kagum dengan keberaniannya, kelenturan, dan daya tahan tubuhnya yang luar biasa. Sama sekali tak terlihat kelelahannya sepanjang 45 menit pertunjukan. Ternyata sang artis bukan orang baru dalam dunia akrobatik internasional. Dia pernah menempuh pendidikan di sekolah sirkus Portugal dan Prancis. Di antara penonton malam itu cukup banyak terlihat orang-orang kulit putih di antara mayoritas warga negara Indonesia yang sedang berada di Yogyakarta. Setelah itu aku melihat ‘Jogja Art Fair #1’ yang memajang karya-karya seni rupa yang unik di ruang pameran TBY dan sejenak melintasi pasar raya di seputar Vredeburg.

Informasi lebih lanjut tentang FKY 2008 dapat disimak di www.festivalkesenianyogyakarta.com

Sumber Foto : http://joaquim.emf.org/vj.works_dance.htm