Tampilkan postingan dengan label paduan suara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paduan suara. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

Semaraknya ‘Gelar Seni Anak 2012 - Art for Children’ di Taman Budaya Yogyakarta


Pekan terakhir bulan November 2012 menjadi saat yang mengesankan bagi anak-anak dan remaja peserta program Art for Children (AFC). Taman Budaya Yogyakarta (TBY) telah menggelar Gelar Seni Anak 2012 pada 25 - 30 November 2012. Kegiatan yang merupakan puncak acara program AFC tersebut melibatkan lebih dari 200 peserta. Program AFC bertujuan agar anak bisa bekerja sama, mengenal toleransi, dan kritis. Pendidikan kesenian dan pengalaman berkesenian sangat penting untuk pertumbuhan yang sehat bagi anak-anak, baik pertumbuhan mental maupun jiwa. Sri Eka Kusumaningayu -sebagai ketua panitia- menjelaskan acara ini digelar untuk lebih menciptakan ruang ekspresi dan kreativitas anak-anak di Yogyakarta.

Karya seni rupa anak-anak AFC (jogjanews.com).
Gelar Seni Anak program AFC ini diisi dengan berbagai acara, yaitu : workshop dolanan anak, lomba pidato bahasa Jawa, lomba dolanan bocah, dan lomba membaca aksara Jawa, yang merupakan kerja sama TBY dengan pihak swasta yang peduli kepada anak-anak dan kebudayaan Jawa. Pentas musik dan paduan suara menjadi acara pembukaannya, sedangkan operet anak 'Petuah Sang Garuda' menjadi puncak acaranya. Sementara itu di lobi concert hall dipamerkan hasil karya seni rupa dari anak-anak AFC.

Pentas Musik dan Paduan Suara AFC
Pentas musik dan paduan suara AFC diselenggarakan pada Minggu sore, 25 November 2012 di concert hall. Sesi pertama dan ketiga menampilkan paduan suara AFC di bawah pimpinan R.Sigit Eko Riyanto membawakan sejumlah lagu bertema nasionalisme, yaitu : Di Timur Matahari, Indonesia Subur, Garuda Pancasila, Pada Pahlawan, Bangun Pemudi-Pemuda, Berkibarlah Benderaku, dan Maju Tak Gentar. Musik yang mengiringinya adalah musik yang telah diprogram (MIDI) dengan apik oleh Haryo yang pernah belajar di Jurusan Musik UNY. Beberapa puisi yang dibawakan oleh empat remaja peserta teater AFC menjadi semacam pengantar untuk lagu-lagu patriotik, yang diharapkan mampu menggugah kembali semangat dan cinta kita kepada tanah air Indonesia.  

Pentas musik dan paduan suara AFC di concert hall (jogjanews.com).
Setelah itu ansambel musik AFC yang diasuh oleh Dewi Kurniawati (sebagai dirigen), Dwipa Hanggana, dan Adi Dharmawan membawakan sejumlah lagu secara instrumentalia, yaitu :  Anak Gembala, Paman Datang, Papaya Chacha, Beautiful, Rasa Sayange, Ambilkan Bulan, dan Medley Transportasi (Becak, Delman, Kereta Api). Sesi terakhir, dengan seluruhnya diiringi musik orkestra, disenandungkanlah lagu Untuk Mama dan Laskar Pelangi yang dinyanyikan secara solo oleh M.Talza Prayoga dan Josi Aspratiwi. Selanjutnya lagu-lagu nasional : Satu Nusa Satu Bangsa, Dari Sabang Sampai Merauke, dan Indonesia Pusaka dinyanyikan oleh paduan suara, serta Meraih Mimpi yang dinyanyikan oleh Gabriela Vibra menjadi lagu penutupnya.

“Kami cinta kau, kami cinta kau sepanjang umur, ya umur.” (Indonesia Subur – Moh.Safei)


Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (Pritameani).
Operet AFC ’Petuah Sang Garuda’
Pementasan operet kolaborasi anak 'Petuah Sang Garuda' yang menampilkan sekitar 150 anak peserta program AFC digelar pada Jumat malam, 30 November 2012 di concert hall. Untuk mementasakan operet tersebut, mereka telah berlatih bersama selama satu bulan di TBY. Operet merupakan hasil kerja sama para peserta seni tari, seni vokal, dan seni drama. Broto Wijayanto, sang sutradara operet menjelaskan bahwa selain untuk menguji mental anak didik AFC, operet tersebut juga sebagai ruang berapresiasi kepada masyarakat. 


Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (jogjanews.com).
Operet yang berlangsung sekitar 40 menit ini mengisahkan tingkah laku para hewan di hutan yang sudah saling tidak rukun. Bermula dari kawanan singa yang lcik, sombong, dam mulai bertindak kasar terhadap hewan lain yang mereka anggap lemah. Lalu ketika singa mengalami kesusahan, hewan-hewan lain tidak ingin membantunya karena merasa dendam. Mereka pun akhirnya adar dan bersedia membantu singa terlepas dari masalahnya. Pesan dari kisah 'Petuah Sang Garuda' adalah jangan sombong dan suka menang sendiri, lantaran kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang/makhluk lain.

Selain tema ceritanya yang mendidik, ada sejumlah adegan yang menimbulkan riuh rendah suara penonton. Seperti halnya ketika bocah-bocah cilik yang memerankan kawanan tikus tiba-tiba datang mengikuti si tikus wirog (diperankan oleh Pak Broto) untuk membantu membebaskan singa dari perangkap. Tingkah laku mereka yang susah diatur dan spontan membuat para penonton tertawa. Lagu-lagu yang mewarnai operet (Lagu Sunyi, Garuda Muda, Kancil dan Singa, Belajar dari Air, Setia pada Janji, Nyanyian Binatang, dan Kupu-kupu) diciptakan oleh Pak Sigit (berperan sebagai sang garuda), kecuali Gembira Berkumpul yang menjadi lagu pembuka sekaligus penutup operet. Yang jelas, semua pihak akhirnya merasa puas dan gembira, baik kami yang tampil di panggung dan berada di belakang layar, orang tua serta keluarga anak-anak AFC, serta semoga demikian pula segenap penonton yang hadir malam itu.

"Burung Garuda pemersatunya, dengan semboyan saktinya. Bhinneka Tunggal Ika bunyinya, meski berbeda satu jua. Marilah kawan, bergandeng tangan. Kita menjaga kerukunan." (Garuda Muda - Sigit ER)

# Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.
Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (jogjanews.com).

Selasa, 15 November 2011

13 November 2011, Hari Istimewa bagi AFC TBY

Paduan Suara AFC Plus



Bagi lebih dari seratus anak-anak dan remaja yang aktif dalam Art for Children (AFC) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), hari Minggu, 13 November 2011 merupakan saat yang istimewa bagi mereka. Pada hari itu terdapat tiga mata acara bertajuk 'Gelar Seni Anak' di TBY, yaitu : Konser Ansambel Musik dan Paduan Suara di Gedung Sositet, Pembukaan Pameran Seni Rupa di Ruang Pameran, dan Operet 'Gadis Penjual Korek Api' di Concert Hall. Syukurlah, acara tersebut telah berlangsung dengan lancar dan melegakan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Konser Ansambel Musik dan Paduan Suara
Acara pertama Minggu sore itu dimulai pada pukul 16.30 di Gedung Sositet. Para musisi berusia muda yang diasuh oleh Mbak Dewi yang dibantu oleh Mas Ghana dan Mas Adi memainkan sejumlah nomor instrumentalia, yaitu : I Heart You, Kepompong, Bunda Piara (solo violin oleh Dheva), dan Lupa Lupa Ingat. Selanjutnya Dista (mantan murid vokal AFC) menjadi vokalis tamu membawakan Bendera, lagu perjuangan modern karya Eros Chandra yang dipopulerkan oleh band Cokelat. Setelah itu paduan suara AFC Plus asuhan Pak Sigit ER tampil menyanyikan sejumlah lagu perjuangan dan lagu daerah, yaitu : Tanah Air, Manuk Dadali, Indonesia Jaya, Padhang Bulan-Suwe Ora Jamu, dan diakhiri dengan Yamko Rambe Yamko yang rancak nian dibawakan oleh mereka.

Operet 'Gadis Penjual Korek Api'
Acara terakhir 'Gelar Seni Anak' pada 13 November 2011 dimulai pada pukul 18.50 di Concert Hall. Lakon yang menjadi hasil kerja bersama dari anak-anak teater, tari, dan vokal beserta para gurunya di tahun 2011 ini diangkat dari salah satu dongeng terkenal karya Hans Christian Andersen. Pak Nanang Arisona mengadaptasinya menjadi naskah drama bersama Mas Broto Wijayanto (yang juga bertindak sebagai sutradara operet), sementara Pak Sigit ER menciptakan sejumlah lagu berdasarkan naskah tersebut. Mas Bagus Mazasupa diberi kepercayaan untuk mengaransemen seluruh lagu yang ada sekaligus menjadi ilustrator musik operet 'Gadis Penjual Korek Api'. Mbak Yayuk, Mbak Tere, Mbak Utik, dan Mbak  Putria merupakan penata tari dalam pertunjukan tersebut. Satu hal yang baru dalam operet malam itu adalah sebuah film pendek yang dikemas secara menarik dan sangat layak menjadi hiburan bagi seluruh keluarga.

Sumber foto : akun fb Derrida R Oktadiona dan Theresia W.



Operet AFC 'Gadis Penjual Korek Api'





Rabu, 14 Mei 2008

Sejumlah Pertunjukan Menarik



Selama kurun waktu dua minggu, pada bulan April hingga awal Mei 2008 lalu, sempat kusaksikan sejumlah pertunjukan seni yang menarik dan layak menjadi catatan tersendiri. Pentas Teater Tetas bertajuk ‘Republik Anthurium’ karya/sutradara Ags.Arya Dipayana di Gedung Sositet TBY merupakan pertunjukan pertama yang kulihat. Selama dua hari berturut-turut (22-23/4) kelompok teater dari Jakarta itu pentas di Jogja, setelah sebelumnya di Solo pun demikian. Dan selama dua hari itu pula, dengan setia aku selalu hadir. Selain sebagai penghormatanku pada sang sutradara, aku ingin menjalani pengalaman baru sebagai seorang penonton. Untuk itu, di hari pertama aku melihat pertunjukan dari salah satu sisi panggung. Jadi dapat kulihat kondisi para pemain sebelum tampil serta begitu hangatnya kebersamaan segenap pendukung pentas, termasuk kru panggung dan pemusik. Selama pentas jadi lebih kuhargai kerja keras para pemain, bagaimana ngos-ngosannya mereka setelah mengeluarkan banyak energi di atas panggung, kemudian mereka sejenak dapat mengatur nafas dengan tetap berkonsentrasi pada jalannya lakon, dan kembali tampil dengan energi yang tetap terjaga. Tidak sekadar mesti menghafalkan naskah, mereka juga harus memiliki kebugaran fisik yang luar biasa karena banyak koreografi yang mesti mereka tampilkan pula. Sang sutradara-yang sempat tampil hanya berolah gerak/tanpa dialog- kulihat dengan seksama terus-menerus mengikuti anak-anak asuhannya beraksi di sisi panggung yang lain. Perlu berbulan-bulan untuk mempersiapkan pementasan tersebut. Salut untuk kerja keras segenap awak Teater Tetas. Pada hari kedua kusaksikan pertunjukan dari balkon selatan bersama beberapa orang dan penonton lain yang mungkin mengisi 90% kursi yang tersedia di gedung tersebut. Kutemui hal-hal yang berbeda ketika kulihat pertunjukan seperti layaknya penonton biasa dari depan. Ada koreografi menawan yang lebih utuh kunikmati, juga penataan artistik dan cahaya yang minimalis, tapi enak diilihat. Yang jelas ada hikmah yang bisa dipetik dari pentas teater itu.
Minggu malam(27/4) kuikuti acara Bincang-Bincang Sastra di ruang seminar TBY yang menghadirkan pembacaan cerpen dan diskusi karya penulis Isti Wuryani. Yang menarik adalah saat acara pembacaan cerpen. Setelah penulisnya membaca cerpen pertama dengan cara konvensional, pada cerpen kedua seorang perupa bernama Bung Cokro tampil berbeda. Ia menafsirkan cerpen dengan membuat sebuah lukisan, dengan didampingi seorang model perempuan ayu bersahaja (yang katanya diambil spontan dari penonton) dan diiringi petikan gitar akustik. Seorang aktor (Dinar Setyawan) kemudian bermonolog menampilkan cerpen ketiga ‘Perempuan Bertato Naga’ dengan atraktif, interaktif, dan sangat menghibur. Salut untuk Isti Wuryani dan segenap pendukung acara malam itu. Selanjutnya Joni Ariadinata, sastrawan yang juga menjadi redaktur majalah sastra Horison mengulas karya-karya Isti diikuti acara dialog interaktif yang menambah wawasan berpikirku. Pernah menjadi niatku untuk menyapa Bung Joni jika bisa bertemu dengannya. Apalagi sesudah tempo hari cerpenku pernah dimuat di Horison. Maka seusai acara kusalami dia sembari memperkenalkan diri. Ternyata Bung Joni cukup mengingat sosokku yang fotonya terpasang di majalah yang ada cerpenku itu.
“Lho, kok kamu kelihatan beda ya? Aku pikir kamu itu orang PKS,” kata Bung Joni. Aku tersenyum dengan menjawab bahwa aku bukan seperti yang dipikirnya. Memang di foto aku tampil dengan potongan rambut cepak, jenggot tipis, dan kemeja yang dikancingkan sampai atas, ya pantas saja dikira aktivis partai Islam itu. Sementara malam itu rambutku rada berantakan, tanpa jenggot, serta berjaket hitam dan kaos saja.
“Ternyata orang PKS bisa bikin cerpen bagus juga ya?” canda Bung Joni sebelum kami berpisah. Yah, begitulah jika sudah menjadi penulis kawakan, dengan melihat foto saja sudah mengimajinasikan sebuah cerita sendiri. Sayangnya aku lupa minta nomor ponselnya karena bisa jadi ada seribu pertanyaan ingin kuajukan padanya.
Pertunjukan seni berikutnya adalah Pertunjukan Paduan Suara ‘Balada Pendidikan Nasional’ karya Ki Priyo Dwiarso di Balai Persatuan Tamansiswa Yogyakarta pada hari Sabtu, 3 Mei 2008. Acara tersebut dalam rangka memeringati Hari Pendidikan Nasional dan mengenang Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional, pendiri Tamansiswa, yang ternyata juga seorang seniman sejati. Kebetulan ada sejumlah orang yang kukenal terlibat dalam acara tersebut, antara lain mbakku yang menjadi salah satu pengiring lagu dan beberapa teman mudaku yang tampil menyanyi solo. Tiga kelompok paduan suara tampil memukau, demikian pula beberapa solis muda maupun yang dewasa. Dua ibu jari layak diacungkan pada Cindy yang begitu percaya diri, suaranya jernih, nada tingginya sempurna, penjiwaannya bagus, dan tampil cantik dengan kebaya hijaunya. Tyas dan Khaleydia, dua penyanyi muda lainnya juga tampil bagus, tapi masih di bawah Cindy yang mampu menunjukkan kedewasaannya malam itu.
Sumber foto : http://matanesia.net (karya Budi'Bobo'Irawan)