Tampilkan postingan dengan label anak-anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak-anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2019

Sistem Among Menyokong Kodrat Alam Anak-anak



"Amongsysteem (Sistem Among) yaitu menyokong kodrat alamnya anak-anak yang kita didik agar dapat mengembangkan hidupnya lahir dan batin menurut kodratnya sendiri-sendiri. 
Pengetahuan, kepandaian janganlah dianggap maksud tujuan, tetapi hanyalah alat, perkakas, lain tidak! 
Bunganya yang kelak akan jadi buah itulah yang harus kita utamakan, buahnya pendidikan yaitu matangnya jiwa, yang dapat mewujudkan hidup dan penghidupannya yang tertib dan suci serta bermanfaat bagi orang lain." 

(Ki Hadjar Dewantara dalam Almanak-Perguruan 1942) 

Minggu, 08 Mei 2016

Anak-anak Tumbuh Sesuai Kodratnya

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. 
Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

(Ki Hadjar Dewantara)

Sabtu, 30 Januari 2016

Hidup dan Tumbuhnya Anak-anak

Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.

(Ki Hadjar Dewantara)

Jumat, 29 Januari 2016

Ruang Alternatif Anak-anak Berkesenian

AFC (Art for Children) digagas sebagai ruang alternatif bagi anak-anak untuk kembali menemukan dunianya. Semacam ruang dimana terdapat mata air kecil bagi anak-anak membasuh diri agar memperoleh sedikit kejernihan dan kesejukan. Ruang di mana anak-anak bergembira dan nyaman mengekspresikan dirinya melalui media seni. Anak-anak dituntun pulang ke dalam dirinya untuk merawat kembali imajinasinya. 
(Nanang Arizona dalam "Art for Children : Merawat Dunia Seni Anak-anak")

Senin, 10 Desember 2012

Semaraknya ‘Gelar Seni Anak 2012 - Art for Children’ di Taman Budaya Yogyakarta


Pekan terakhir bulan November 2012 menjadi saat yang mengesankan bagi anak-anak dan remaja peserta program Art for Children (AFC). Taman Budaya Yogyakarta (TBY) telah menggelar Gelar Seni Anak 2012 pada 25 - 30 November 2012. Kegiatan yang merupakan puncak acara program AFC tersebut melibatkan lebih dari 200 peserta. Program AFC bertujuan agar anak bisa bekerja sama, mengenal toleransi, dan kritis. Pendidikan kesenian dan pengalaman berkesenian sangat penting untuk pertumbuhan yang sehat bagi anak-anak, baik pertumbuhan mental maupun jiwa. Sri Eka Kusumaningayu -sebagai ketua panitia- menjelaskan acara ini digelar untuk lebih menciptakan ruang ekspresi dan kreativitas anak-anak di Yogyakarta.

Karya seni rupa anak-anak AFC (jogjanews.com).
Gelar Seni Anak program AFC ini diisi dengan berbagai acara, yaitu : workshop dolanan anak, lomba pidato bahasa Jawa, lomba dolanan bocah, dan lomba membaca aksara Jawa, yang merupakan kerja sama TBY dengan pihak swasta yang peduli kepada anak-anak dan kebudayaan Jawa. Pentas musik dan paduan suara menjadi acara pembukaannya, sedangkan operet anak 'Petuah Sang Garuda' menjadi puncak acaranya. Sementara itu di lobi concert hall dipamerkan hasil karya seni rupa dari anak-anak AFC.

Pentas Musik dan Paduan Suara AFC
Pentas musik dan paduan suara AFC diselenggarakan pada Minggu sore, 25 November 2012 di concert hall. Sesi pertama dan ketiga menampilkan paduan suara AFC di bawah pimpinan R.Sigit Eko Riyanto membawakan sejumlah lagu bertema nasionalisme, yaitu : Di Timur Matahari, Indonesia Subur, Garuda Pancasila, Pada Pahlawan, Bangun Pemudi-Pemuda, Berkibarlah Benderaku, dan Maju Tak Gentar. Musik yang mengiringinya adalah musik yang telah diprogram (MIDI) dengan apik oleh Haryo yang pernah belajar di Jurusan Musik UNY. Beberapa puisi yang dibawakan oleh empat remaja peserta teater AFC menjadi semacam pengantar untuk lagu-lagu patriotik, yang diharapkan mampu menggugah kembali semangat dan cinta kita kepada tanah air Indonesia.  

Pentas musik dan paduan suara AFC di concert hall (jogjanews.com).
Setelah itu ansambel musik AFC yang diasuh oleh Dewi Kurniawati (sebagai dirigen), Dwipa Hanggana, dan Adi Dharmawan membawakan sejumlah lagu secara instrumentalia, yaitu :  Anak Gembala, Paman Datang, Papaya Chacha, Beautiful, Rasa Sayange, Ambilkan Bulan, dan Medley Transportasi (Becak, Delman, Kereta Api). Sesi terakhir, dengan seluruhnya diiringi musik orkestra, disenandungkanlah lagu Untuk Mama dan Laskar Pelangi yang dinyanyikan secara solo oleh M.Talza Prayoga dan Josi Aspratiwi. Selanjutnya lagu-lagu nasional : Satu Nusa Satu Bangsa, Dari Sabang Sampai Merauke, dan Indonesia Pusaka dinyanyikan oleh paduan suara, serta Meraih Mimpi yang dinyanyikan oleh Gabriela Vibra menjadi lagu penutupnya.

“Kami cinta kau, kami cinta kau sepanjang umur, ya umur.” (Indonesia Subur – Moh.Safei)


Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (Pritameani).
Operet AFC ’Petuah Sang Garuda’
Pementasan operet kolaborasi anak 'Petuah Sang Garuda' yang menampilkan sekitar 150 anak peserta program AFC digelar pada Jumat malam, 30 November 2012 di concert hall. Untuk mementasakan operet tersebut, mereka telah berlatih bersama selama satu bulan di TBY. Operet merupakan hasil kerja sama para peserta seni tari, seni vokal, dan seni drama. Broto Wijayanto, sang sutradara operet menjelaskan bahwa selain untuk menguji mental anak didik AFC, operet tersebut juga sebagai ruang berapresiasi kepada masyarakat. 


Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (jogjanews.com).
Operet yang berlangsung sekitar 40 menit ini mengisahkan tingkah laku para hewan di hutan yang sudah saling tidak rukun. Bermula dari kawanan singa yang lcik, sombong, dam mulai bertindak kasar terhadap hewan lain yang mereka anggap lemah. Lalu ketika singa mengalami kesusahan, hewan-hewan lain tidak ingin membantunya karena merasa dendam. Mereka pun akhirnya adar dan bersedia membantu singa terlepas dari masalahnya. Pesan dari kisah 'Petuah Sang Garuda' adalah jangan sombong dan suka menang sendiri, lantaran kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang/makhluk lain.

Selain tema ceritanya yang mendidik, ada sejumlah adegan yang menimbulkan riuh rendah suara penonton. Seperti halnya ketika bocah-bocah cilik yang memerankan kawanan tikus tiba-tiba datang mengikuti si tikus wirog (diperankan oleh Pak Broto) untuk membantu membebaskan singa dari perangkap. Tingkah laku mereka yang susah diatur dan spontan membuat para penonton tertawa. Lagu-lagu yang mewarnai operet (Lagu Sunyi, Garuda Muda, Kancil dan Singa, Belajar dari Air, Setia pada Janji, Nyanyian Binatang, dan Kupu-kupu) diciptakan oleh Pak Sigit (berperan sebagai sang garuda), kecuali Gembira Berkumpul yang menjadi lagu pembuka sekaligus penutup operet. Yang jelas, semua pihak akhirnya merasa puas dan gembira, baik kami yang tampil di panggung dan berada di belakang layar, orang tua serta keluarga anak-anak AFC, serta semoga demikian pula segenap penonton yang hadir malam itu.

"Burung Garuda pemersatunya, dengan semboyan saktinya. Bhinneka Tunggal Ika bunyinya, meski berbeda satu jua. Marilah kawan, bergandeng tangan. Kita menjaga kerukunan." (Garuda Muda - Sigit ER)

# Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.
Operet AFC 'Petuah Sang Garuda' di concert hall (jogjanews.com).

Rabu, 23 Juli 2008

Anak-anak Pentas Berbahasa Jawa

Jumat malam lalu, 18 Juli 2008, pendapa Tamansiswa Yogyakarta kembali menjadi ajang sebuah pentas seni. Yang tampil malam itu adalah Sanggar Anak Rengganis dan Taman Kesenian Tamansiswa Yogyakarta. Dari beragam nomor pertunjukan yang dipentaskan, mayoritas berbahasa Jawa. Ada deklamasi geguritan dan drama pendek dalam bahasa Jawa, juga ada deklamasi puisi yang dibawakan secara teatrikal dan sebuah tari tradisional Sumatera. Mereka yang tampil adalah anak-anak kecil usia SD dan beberapa remaja SMP-SMA. Menjadi sangat menarik karena mereka berbahasa Jawa di atas pentas, dengan gamelan sebagai musik pengiringnya. Padahal anak-anak sekarang, di Jogja sekalipun, tidak selalu berbahasa Jawa dalam berkomunikasi, kendati hanya bicara dalam keluarganya atau bersama teman-temannya pun. Yang juga istimewa, anak-anak itu berakting secara natural, tampil percaya diri, dan sangat hafal pada naskahnya. Padahal anak-anak yang sama tampil minimal dalam dua kali kesempatan. Salutlah bagi anak-anak dan para remaja itu, juga selamat untuk para pengajar dan orang tua mereka yang pasti sangat bangga. Tema-tema yang diangkat malam itu, antara lain tentang baik-buruknya televisi, tentang pentingnya menjaga kebersihan, dan tentang hitam-putihnya negeri kita ini. Kendati situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini cenderung membuat kita selalu berpikir negatif dan pesimis, tapi mestinya kita tetap selalu berpikir positif dan optimis, bahwa masih ada masa depan yang lebih apik nantinya. Mungkin begitulah salah satu intisari pentas malam itu.

Beberapa hari sebelumnya, dalam Festival Teater Anak yang berlangsung di kampung Pakel Mulyo, sebuah kelompok seni anak-anak dari pinggir kota Yogyakarta (termasuk Bantul/Sleman) menampilkan ketoprak singkat yang kocak dan menghibur, tentunya dalam bahasa Jawa pula. Lalu hari Minggu lalu, 20 Juli 2008, berlangsung sebuah pentas tari di TBY yang menampilkan sanggar-sanggar tari se-Yogyakarta, mayoritas pendukungnya adalah para pemuda pemudi yang tampil atraktif dan sangat dinamis. Barangkali kami di Yogyakarta bolehlah berlega hati bahwa masih banyak tunas harapan yang akan terus melestarikan dan mengembangkan seni budaya tradisi daerah kami. Semoga demikian pula yang terjadi di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Karena sejatinya begitu banyak pelajaran berharga dan kearifan lokal yang terkandung dalam beragam jenis seni budaya tradisi kita.