Kamis, 04 Juli 2024
Rabu, 03 Juli 2024
Kamis, 05 Mei 2022
Sabtu, 04 Juli 2020
Resital Piano Lagu-Lagu Tamansiswa
Alhamdulillah, acara Resital Piano persembahan untuk 98 tahun Perguruan Tamansiswa pada 3 Juli 2020 telah berjalan dengan baik. Bertempat di Museum Dewantara Kirti Griya di salah satu ruangan yang dahulu merupakan ruang kerja Ki Hadjar Dewantara, lagu-lagu Tamansiswa dimainkan menggunakan piano milik Ki Hadjar. Dentingan khas piano yang sudah berusia 82 tahun ini semakin memperindah lagu-lagu karya dan gubahan Ki Hadjar Dewantara, juga karya para empu Tamansiswa lainnya. Sekitar dua minggu mempelajari kembali lagu-lagu bermakna mendalam ini, mengulangnya berkali-kali, mencoba melukiskan isi lagu melalui alunan melodinya. Mendekati satu minggu hampir setiap hari berlatih di museum supaya lebih akrab dengan piano bersejarah milik Ki Hadjar dan membiasakan diri memainkannya di dalam ruang kerja beliau.
Tibalah hari yang dinantikan. Setelah mengawalinya dengan doa bersama, resital pun dimulai. Lagu demi lagu dimainkan dengan pembacaan narasi untuk memperkuat makna setiap lagu yang akan dipersembahkan. Sempat ada sedikit gangguan teknis, namun alhamdulillah tidak mengurangi konsentrasi permainan tuts hitam putih. Denting terakhir menjadi penutup Resital Piano yang penuh dengan nuansa bersejarah ini.
Maturnuwun, Ki Hadjar dan Nyi Hadjar Maturnuwun, Ki Narwan Sutarmas, Ki Hadisoekatno, Ki Soeratman, Ki Nayono, Ki Oengki Soekirno, Nyi Margono, dan Ki Priyo Dwiarso. Maturnuwun semua yang sudah mendukung acara ini. Semoga barokah.
Dirgahayu Tamansiswa! Salam dan bahagia.
Silakan menyaksikan Resital Piano KHD di YouTube channel Dewantara Museum, jangan lupa Like & Subscribe.
(Hapsari Satya Lestari)
Jumat, 03 Juli 2020
Musik Media Pendidikan
Rabu, 03 Juli 2019
Senin, 24 Juni 2019
Satu Dekade Reuni SD
Puluhan tahun silam kami pernah menimba ilmu di sekolah yang sama. Sempat sekali kami bereuni pada tahun 1992 dan setelah itu hanya sedikit yang masih sesekali bertemu. Pada tahun 2009 kami dapat kembali menjalani reuni SD berkat adanya media sosial.
Satu dekade kemudian masih ada di antara kami yang kadangkala berjumpa. Sejenak masa bercengkrama bersama, bercerita tentang apa saja. Tetap bisa bahagia, kendati dengan segelintir peserta.
Rabu, 23 Juli 2008
Anak-anak Pentas Berbahasa Jawa
Jumat malam lalu, 18 Juli 2008, pendapa Tamansiswa Yogyakarta kembali menjadi ajang sebuah pentas seni. Yang tampil malam itu adalah Sanggar Anak Rengganis dan Taman Kesenian Tamansiswa Yogyakarta. Dari beragam nomor pertunjukan yang dipentaskan, mayoritas berbahasa Jawa. Ada deklamasi geguritan dan drama pendek dalam bahasa Jawa, juga ada deklamasi puisi yang dibawakan secara teatrikal dan sebuah tari tradisional Sumatera. Mereka yang tampil adalah anak-anak kecil usia SD dan beberapa remaja SMP-SMA. Menjadi sangat menarik karena mereka berbahasa Jawa di atas pentas, dengan gamelan sebagai musik pengiringnya. Padahal anak-anak sekarang, di Jogja sekalipun, tidak selalu berbahasa Jawa dalam berkomunikasi, kendati hanya bicara dalam keluarganya atau bersama teman-temannya pun. Yang juga istimewa, anak-anak itu berakting secara natural, tampil percaya diri, dan sangat hafal pada naskahnya. Padahal anak-anak yang sama tampil minimal dalam dua kali kesempatan. Salutlah bagi anak-anak dan para remaja itu, juga selamat untuk para pengajar dan orang tua mereka yang pasti sangat bangga. Tema-tema yang diangkat malam itu, antara lain tentang baik-buruknya televisi, tentang pentingnya menjaga kebersihan, dan tentang hitam-putihnya negeri kita ini. Kendati situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini cenderung membuat kita selalu berpikir negatif dan pesimis, tapi mestinya kita tetap selalu berpikir positif dan optimis, bahwa masih ada masa depan yang lebih apik nantinya. Mungkin begitulah salah satu intisari pentas malam itu.
Beberapa hari sebelumnya, dalam Festival Teater Anak yang berlangsung di kampung Pakel Mulyo, sebuah kelompok seni anak-anak dari pinggir kota Yogyakarta (termasuk Bantul/Sleman) menampilkan ketoprak singkat yang kocak dan menghibur, tentunya dalam bahasa Jawa pula. Lalu hari Minggu lalu, 20 Juli 2008, berlangsung sebuah pentas tari di TBY yang menampilkan sanggar-sanggar tari se-Yogyakarta, mayoritas pendukungnya adalah para pemuda pemudi yang tampil atraktif dan sangat dinamis. Barangkali kami di Yogyakarta bolehlah berlega hati bahwa masih banyak tunas harapan yang akan terus melestarikan dan mengembangkan seni budaya tradisi daerah kami. Semoga demikian pula yang terjadi di daerah-daerah lainnya di Indonesia. Karena sejatinya begitu banyak pelajaran berharga dan kearifan lokal yang terkandung dalam beragam jenis seni budaya tradisi kita.
Rabu, 14 Mei 2008
Sejumlah Pertunjukan Menarik























