Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 Juli 2020
Resital Piano Lagu-Lagu Tamansiswa
Alhamdulillah, acara Resital Piano persembahan untuk 98 tahun Perguruan Tamansiswa pada 3 Juli 2020 telah berjalan dengan baik. Bertempat di Museum Dewantara Kirti Griya di salah satu ruangan yang dahulu merupakan ruang kerja Ki Hadjar Dewantara, lagu-lagu Tamansiswa dimainkan menggunakan piano milik Ki Hadjar. Dentingan khas piano yang sudah berusia 82 tahun ini semakin memperindah lagu-lagu karya dan gubahan Ki Hadjar Dewantara, juga karya para empu Tamansiswa lainnya. Sekitar dua minggu mempelajari kembali lagu-lagu bermakna mendalam ini, mengulangnya berkali-kali, mencoba melukiskan isi lagu melalui alunan melodinya. Mendekati satu minggu hampir setiap hari berlatih di museum supaya lebih akrab dengan piano bersejarah milik Ki Hadjar dan membiasakan diri memainkannya di dalam ruang kerja beliau.
Tibalah hari yang dinantikan. Setelah mengawalinya dengan doa bersama, resital pun dimulai. Lagu demi lagu dimainkan dengan pembacaan narasi untuk memperkuat makna setiap lagu yang akan dipersembahkan. Sempat ada sedikit gangguan teknis, namun alhamdulillah tidak mengurangi konsentrasi permainan tuts hitam putih. Denting terakhir menjadi penutup Resital Piano yang penuh dengan nuansa bersejarah ini.
Maturnuwun, Ki Hadjar dan Nyi Hadjar Maturnuwun, Ki Narwan Sutarmas, Ki Hadisoekatno, Ki Soeratman, Ki Nayono, Ki Oengki Soekirno, Nyi Margono, dan Ki Priyo Dwiarso. Maturnuwun semua yang sudah mendukung acara ini. Semoga barokah.
Dirgahayu Tamansiswa! Salam dan bahagia.
Silakan menyaksikan Resital Piano KHD di YouTube channel Dewantara Museum, jangan lupa Like & Subscribe.
(Hapsari Satya Lestari)
Selasa, 26 Desember 2017
Pada Sebuah Jumat
Jumat pekan lalu, 22 Desember 2017, menjadi hari yang sibuk dan mengesankan bagiku. Saat pagi aku mendapat amanat untuk berbagi pengalaman sebagai penulis cerpen dalam sesi Bincang Para Penulis yang merupakan hari ketiga acara Festival Sastra Museum Dewantara 2017 di Museum Dewantara Kirti Griya (MDKG) Tamansiswa Yogyakarta. Bersama denganku terdapat dua penulis senior dari Balai Bahasa Yogyakarta dan seorang guru Bahasa Indonesia berprestasi yang produktif dalam menulis cerita. Kami semua yang hadir lantas dijamu panitia dengan nasi sop ayam seraya menikmati alunan lagu Bunda dari Aya (salah satu peserta pelatihan) dan pembacaan cerkak (cerita cekak) dari peserta lainnya. Para pembicara mendapatkan sertifikat beserta buah tangan berupa mug dan gantungan kunci yang dihiasi ajaran Ki Hadjar Dewantara.
Malam harinya aku mendampingi anak-anak vokal AFC (Art for Children) asuhan Pak Sigit Eko Riyanto yang tampil bersama Teater Nincha mementaskan operet anak inklusi bertajuk Bhumi : Setangkai Mawar untuk Ibu di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Operet tersebut disutradarai oleh Mas Broto Wijayanto, salah satu tokoh muda berprestasi dalam bidang kebudayaan di Yogyakarta yang sudah kerap mendapat penghargaan dari banyak pihak. Oh ya, Dwipa Hanggana Prabawa (penata musik) dan Theresia Wulandari (penata gerak) juga turut terlibat dalam pementasan tersebut.
Pentas yang diinisiasi oleh salah satu UKM di Fakultas Psikologi UGM tersebut sekaligus menjadi acara penggalangan dana bagi Panti Asuhan Bina Siwi yang terletak di Pajangan Bantul. Mereka yang diasuh di sana adalah saudara-saudara kita yang difabel. Sebelum operet dipentaskan, mereka sempat unjuk kebolehan memainkan alat musik di depan penonton. Sementara itu, pemeran utama operet adalah Udana, seorang bocah tuna rungu, yang mampu bermain dan bekerja sama dengan baik bersama teman-temannya yang bisa mendengar dan berbicara biasa. Pak Tedjo Badut dan anak buahnya ikut memeriahkan panggung pertunjukan malam itu.
Malam harinya aku mendampingi anak-anak vokal AFC (Art for Children) asuhan Pak Sigit Eko Riyanto yang tampil bersama Teater Nincha mementaskan operet anak inklusi bertajuk Bhumi : Setangkai Mawar untuk Ibu di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Operet tersebut disutradarai oleh Mas Broto Wijayanto, salah satu tokoh muda berprestasi dalam bidang kebudayaan di Yogyakarta yang sudah kerap mendapat penghargaan dari banyak pihak. Oh ya, Dwipa Hanggana Prabawa (penata musik) dan Theresia Wulandari (penata gerak) juga turut terlibat dalam pementasan tersebut.
Pentas yang diinisiasi oleh salah satu UKM di Fakultas Psikologi UGM tersebut sekaligus menjadi acara penggalangan dana bagi Panti Asuhan Bina Siwi yang terletak di Pajangan Bantul. Mereka yang diasuh di sana adalah saudara-saudara kita yang difabel. Sebelum operet dipentaskan, mereka sempat unjuk kebolehan memainkan alat musik di depan penonton. Sementara itu, pemeran utama operet adalah Udana, seorang bocah tuna rungu, yang mampu bermain dan bekerja sama dengan baik bersama teman-temannya yang bisa mendengar dan berbicara biasa. Pak Tedjo Badut dan anak buahnya ikut memeriahkan panggung pertunjukan malam itu.
Langganan:
Postingan (Atom)




