Tampilkan postingan dengan label koleksi buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koleksi buku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Maret 2023

Sore Mengesankan di Gramedia Sudirman



Turunnya hujan tak menyurutkan langkahku menuju Gramedia Sudirman Yogyakarta untuk mengikuti Bincang Buku : Fiksi tentang Apa-apa yang Non-Fiksi pada sore hari terakhir Februari. Kendati mesti berdiri -karena tak kebagian kursi- sekitar dua jam pun tak terasa melelahkan, saking asyiknya mengikuti perbincangan di antara para pengisi acara. Kebebasan berbicara sungguh mendapat tempat, termasuk dari para penanya yang luar biasa. 



Sehabis acara diskusi, niatku membeli novel "Bui" karya Kak Alan T H yang merupakan pengalaman hidup Mas Tyo Pakusadewo dan novel "Re : dan peRempuan" karya Kang Maman Suherman  pun kesampaian. 

Beruntunglah diriku akhirnya berkesempatan berfoto bersama mereka setelah ketiga pembicara memberikan tanda tangan pada kedua buku yang diterbitkan oleh Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia.

Hujan kembali menemani perjalanan pulangku dan aku menikmatinya belaka.



Kamis, 19 Agustus 2021

Buku Merah Putih 2021



Indonesia adalah suatu negara yang telah berhasil menjadikan kelemahan potensialnya -kebinekaan- sebagai suatu kekuatan. Baik secara historis maupun sosiologis dan ideologis (di dalam Pancasila), bangsa ini telah mampu menciptakan sistem identitas multilapis nan inklusif: ada ruang untuk identitas lokal, religius, nasional, dan bahkan lintas bangsa. 

(Kolom Udar Rasa Jean Couteau INDONESIAKU Suara dari Tepi Ayung) 


"Saya menghormati Mas Yok dan saudara-saudaranya serta Pak Koeswoyo Senior sebagaimana saya menghormati Sutan Sjahrir, Chairil Anwar, HOS Tjokroaminoto, serta orang-orang yang telah berbuat kebaikan bagi bangsa dan negara Indonesia," kata Cak Nun yang mengakui bahwa karya-karya Koes Plus banyak memberi inspirasi kepadanya. 

(Kisah dari Hati KOES PLUS Tonggak Industri Musik Indonesia oleh Ais Suhana)  

Kamis, 10 Desember 2020

Selamat Jalan Pak Iman Budhi Santosa

 


"Hidup perlu berbagi karena selama menempuh perjalanan di dunia ini, kita tak pernah benar-benar bisa sendiri." 

(kalimat penutup Profesi Wong Cilik) 

Kapan pun kematian tidak sia-sia 

jika si mati sempat mewariskan kebenaran 

dan kejujuran di dunia 

(puisi Pengorbanan Jatayu dalam Asam Garam Ramayana-Mahabharata) 

Untuk sementara ini hanya empat buku inilah karya beliau yang saya miliki. Namun, ternyata banyak hal bermanfaat yang menambah wawasan, pengalaman, ilmu dan pengetahuan. Demikian pula ketika menyimak ujaran beliau dalam pelbagai acara yang kerap memantik kesadaran berpikir yang baru. 

Selamat jalan menuju alam kelanggengan, Pak Iman Budhi Santosa. Terima kasih untuk semua hal yang sudah Bapak bagikan. Semoga tenang dan tenteram di alam sana dalam berkah Allah

Senin, 19 Oktober 2020

Membaca Kembali yang Lama Tersimpan


 

Ketika membeli buku baru tak lagi menjadi kebiasaan lantaran keadaan, maka membaca kembali mereka yang sekian masa tersimpan menjadi pilihan.

Senin, 17 Agustus 2020

Buku Merah Putih 2020



Harapan itu tersembunyi di dalam kedalaman batin manusia yang terdalam. 

Nikmatilah perubahan itu dengan cara berkesenian. Rasa berkesenian akan mengajak manusia masuk ke dalam pengalaman, bahwa, kendati dan justru karena penderitaan, manusia sesungguhnya selalu mempunyai optimisme dan harapan. 

(Sindhunata dalam novel Menyusu Celeng) 

Dari wajah-wajahnya 
Yang terbakar matahari 
Yang tersaput garam lautan 
Aku melihat belasan ribu pulau 
Terhampar di samudera luas 
Jutaan Merah-Putih Berkibar di langitnya 

(Maman Suherman dalam puisi Bhinneka Tunggal Cinta) 

Dirgahayu Indonesiaku! 
Semoga senantiasa berlimpah berkah rahmat-Nya bangsa dan negaraku tercinta.

Senin, 20 Juli 2020

Mengenang Sapardi : Kesederhanaan Sesuatu yang Indah


Meskipun sudah mengenal beliau sebagai penyair kondang, tapi buku karya beliau yang pertama kali saya miliki adalah kumpulan cerpen Membunuh Orang Gila. Saya membelinya di Gramedia Sudirman pada 2006. Setelah itu barulah saya mengoleksi Nokturno : Lirik Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Damono. Buku ini memuat puisi-puisi yang sangat dikenal publik, seperti Aku Ingin, Di Restoran, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta, dan Yang Fana Adalah Waktu. Saya membeli buku bersampul biru tersebut di Studio Teater Garasi pada 2010. 

Mengutip kata pengantar dalam Membunuh Orang Gila : Lewat kata-kata dalam karya-karyanya, Sapardi bisa memainkan logika dengan amat piawai. Lebih dari itu, Sapardi telah membuktikan bahwa kesederhanaan masih tetap sesuatu yang indah, dan keindahan itu abadi.

Minggu, 19 Juli 2020

Mengenang Sapardi : 19-7-20


Hening adalah 
ketika aku 
tak lagi 
mampu 
mengeja 
apa pun 
yang baru saja 
kuucapkan.  
(Hening Gendis, halaman 19 Kitab Puisi Perihal Gendis) . 

Penyair memilih kata-kata dan menyusunnya sedemikian rupa agar bisa menimbulkan perasaan tertentu bagi yang membacanya.  
(Bagian Pertama, halaman 7 Bilang Begini, Maksudnya Begitu) 

Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap, tetapi takdir harus ditandatangani di atas meterai dan tidak boleh diganggu gugat kalau nanti terjadi apa-apa, baik atau buruk. Kata yang ada di Langit sana, kalau baik ya alhamdulilah, kalau buruk ya disyukuri saja.  
(Bab Dua, halaman 20 novel Hujan Bulan Juni)



Jumat, 12 Juni 2020

Kembali ke Toko Buku


Aku 
belajar dari buku 
berguru dari pengalaman 
bercermin dari kesalahan

(Kang Maman dalam buku Bhinneka Tunggal Cinta) 


Setelah sekian bulan berlalu, akhirnya sejenak kembali ke toko buku yang kini berwajah baru pada Selasa (9/6/20) sore nan cerah. Perlu masa hampir dua jam sebelum bisa menentukan pilihan dan membawa pulang tiga buah buku plus sebuah majalah yang tetap setia terbit di masa pandemi. 


Sabtu, 06 Juni 2020

Mencoba Mengenal Bung Karno


Mencoba lebih mengenal figur Bung Karno dengan menyimak buku Dunia dalam Genggaman Bung Karno karya Sigit Aris Prasetyo dan A Magic Gecko - Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno karya Horst Henry Geerken. Kedua buku tersebut saya pinjam dari keponakan yang mahasiswa Ilmu Sejarah UNY. Sebelumnya pernah membaca Bung Karno Putera Fajar (Solihin Salam) dan Bung Karno Bapakku Kawanku Guruku (Guntur Soekarno) yang merupakan koleksi buku lawas milik keluarga.


Sabtu, 23 Mei 2020

Kehilangan dan Menemukan

Hidup 
adalah 
perjalanan 
kehilangan. 
Hidup adalah 
kumpulan perpisahan. 

Awal Maret lalu aku mengutip kalimat dalam puisi Jalan Minnah karya Joko Pinurbo tersebut. Sekitar tiga bulan kemudian -saat ini-- hal itu menjadi bagian dari keseharian kita sejak covid-19 memasuki kehidupan kita. Sudah banyak hal yang hilang dan berkumpul bersama menjadi sesuatu yang sungguh kita rindukan. Namun, hidup juga adalah perjalanan menemukan/mendapatkan dan hidup adalah kumpulan perjumpaan.


Hingga Mei kini koleksi buku milikku memang baru bertambah tiga. Beruntunglah aku yang tinggal bersama orang-orang yang gemar membaca. Aku bisa meminjam novel-novel milik kakakku dan buku-buku sejarah koleksi keponakanku. Masih ada pula koleksi buku lawas milik mendiang orangtuaku. Membaca kembali Belajar dari Rumi (Haidar Bagir), Semesta Maulana Rumi (Abdul Hadi W.M), Membaca Sejarah Nusantara (Abdurrahman Wahid), dan buku lainnya membuat hari-hari di rumah saja menjadi tetap bermakna. 

Minggu, 17 Mei 2020

Hari Buku Nasional 2020


"Aku masih bisa menikmati sensasi membaca dengan membuka lembaran kertas buku, koran, atau majalah. Kebiasaan membaca tulisan berkualitas lambat laun dapat memperbaiki cara berpikirku dan sikapku menanggapi segala sesuatu." Dikutip dari cerpen Berbincang Menunggu Giliran (2016) dan masih menjadi harapanku hingga kini. 

Selamat Hari Buku Nasional. 

Sabtu, 11 Januari 2020

Koleksi Buku 2019


Sebenarnya tidak pernah ada target pribadi, misalnya dalam setahun mesti membaca berapa buku. Namun, ketika saya mencoba menghitungnya ternyata sepanjang tahun 2019 lalu ada lebih dari 80 buku yang saya baca. Padahal pada tahun sebelumnya mungkin maksimal 40 buku saja bisa dituntaskan. Barangkali keberadaan kacamata baca membuat saya bisa lebih tekun membaca buku. 

Di antara sekian banyak buku itu tentu ada buku yang saya pinjam, pemberian orang, atau merupakan bonus dari pembelian buku lainnya. Tempat membeli buku yang paling kerap saya datangi adalah toko buku Togamas Kotabaru dan Gramedia Sudirman Yogyakarta. Kedai JBS, Kafe Basabasi, dan Bentara Budaya Yogyakarta merupakan tempat lainnya. Selain itu ada acara-acara literasi di Jogja, seperti Bincang-Bincang Sastra, Patjar Merah, Mocosik, dan Kampung Buku Jogja yang menambah koleksi buku di rumah saya. 

Yang terpajang di foto merupakan perwakilan buku-buku yang saya baca, antara lain terdiri dari buku puisi, prosa, esai kebudayaan, agama, dan sepak bola. Ada Asam Garam Ramayana-Mahabharata (Iman Budhi Santosa), Aku Radio Bagi Mamaku (Abinaya Ghina Jamela), Jungkir Balik Jagat Jawa (Triyanto Triwikromo), Tuhan yang Tersembunyi (Hairus Salim), Digitalisme (Prof. Dr. Ema Utami), Nusantara Tidak Akan Bubar (Gus Muwafiq), Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? (Luciano Wernicke), dan Playing On (Alessandro Del Piero). 

Senin, 09 September 2019

Mengikuti Kampung Buku Jogja 5


adalah literasi 
cahaya kesadaran budi 
setia menyinari akal dan hati 
menjaga takhta kuasa nurani 
merawat kejernihan pikiran insani 
di pelataran kehidupan bersama 
agar kemanusiaan terjaga
(Djoko Saryono dalam buku Literasi : Episentrum Kemajuan dan Peradaban) . 

Dua kali mendatangi Kampung Buku Jogja 5 di PKKH UGM yang berlangsung pekan lalu, 2-5 September 2019. Pada kesempatan pertama sekalian menyimak obrolan antara Iqbal Aji Daryono dan Sabrang Mowo Damar Panuluh. Lantas, pada kesempatan berikutnya lebih dahulu menikmati pertunjukan bersahaja yang mengesankan dari Reda Gaudiamo. Jadi bertambah lagi koleksi bukuku bulan ini.


Minggu, 18 Agustus 2019

Buku Merah Putih 2019


Untuk ikut menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI ke-74, sejenak saya menengok koleksi buku yang ada. Ternyata terdapat sejumlah buku yang sampulnya dari samping berwarna merah dan putih. Maka jadilah tumpukan buku merah putih sesuai warna bendera Indonesia.

Beberapa pernyataan menarik dalam sebuah esai di buku Talijiwo karya Sujiwo Tejo : 

"Dosa terbesar orang-orang yang kena Operasi Tangkap Tangan oleh KPK adalah mereka membuat kita semua merasa suci..." 
"Inkonsistensi sedang mengancam bangsa ini. Banyak yang ngakunya suka persatuan. Giliran makan soto, nasinya minta dipisah." 

Hal penting tentang agama dan kemanusiaan, dikutip dari salah satu esai dalam buku Gus Dur Santri Par Excellence yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas : Memaknai ajaran agama, di mata Gus Dur, juga tidak dapat dilepaskan dari sisi kemanusiaannya. Untuk menjadi penganut agama yang baik, selain meyakini kebenaran ajaran agamanya, juga harus menghargai kemanusiaan. "Jika kemanusiaan diabaikan, itu adalah pangkal hilangnya nilai-nilai keagamaan yang benar," katanya.  

Dirgahayu Indonesiaku! Semoga kian cerdas kehidupan bangsaku.

Sabtu, 25 Mei 2019

Koleksi Buku Gramedia Pustaka Utama Milikku


Selamat ulang tahun, buku. 
Anggap saja aku kekasih atau pacar malangmu. 
Selamat panjang umur, cetak ulang selalu. 

(Joko Pinurbo)

Jumat, 17 Mei 2019

Selamat Hari Buku Nasional 2019



Beraneka warna 
Beragam tema 
Buku-buku yang kubaca 
Pastilah berguna 
Tak bakal sia-sia 

Selamat Hari Buku Nasional 2019.

Rabu, 27 Maret 2019

Pengalaman Mendapat Tanda Tangan Penulis


Ada sesuatu yang baru di dalam sejumlah buku milikku pada 2017-2018, yaitu tanda tangan para penulisnya. Awalnya kutemui Mas Yuditeha dan Mas Indra Tranggono di Bentara Budaya Yogyakarta. Lantas, aku kudu ikut antre sebelum mendapat tanda tangan Pak Sapardi Djoko Damono di Gramedia Sudirman. Pada kesempatan berbeda dapat kujumpai Mas Agus Noor di Kafe Basabasi. 



Kubeli buku sekaligus kuperoleh tanda tangan Mas Kris Budiman dan Ibed Surgana Yuga ketika acara Tahun Baru di JBS. Akhirnya kumiliki juga tanda tangan Gunawan Maryanto kala bertemu di TBY. Oh ya, jauh sebelum itu ternyata ada tanda tangan Dewi Kharisma Michellia pada novel perdananya saat diluncurkan di Gramedia Plasa Ambarukmo. 

Senin, 18 Maret 2019

Agar Tidak Menjadi Penimbun Buku


Agar tidak menjadi sebatas penimbun buku, maka hari ini telah terbukalah semua pembungkus buku yang kubeli di @patjarmerah_id pada Kamis (7/3) dan Minggu (10/3) pekan lalu. Sudah kuberi tanda tangan dan tanggal pembelian pada semua buku pula sebagaimana tradisi selama ini. Empat buku yang tuntas kubaca, yaitu Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis (Rusdi Mathari), Jungkir Balik Jagat Jawa (Triyanto Triwikromo), Rubaiyat (Maulana Rumi), dan komik Nasruddin Si Pandir yang Bijak. Separuh cerpen dalam Bu Guru Cantik (Hasta Indriyana), lantas sebagian materi Orang Jawa Naik Haji+Umrah (Danarto) dan Inilah Esai (Muhidin M. Dahlan) sudah kusimak.

Jumat, 18 Mei 2018

Hari Buku Nasional 2018

Hari Buku Nasional jatuh pada 17 Mei kemarin. Sebagaimana setahun silam, saya ingin berbagi informasi tentang buku-buku baru yang saya beli Januari-April 2018. Kebetulan, jumlahnya 17 buah dan seluruhnya hasil karya penulis Indonesia. Inilah senarai judul buku sesuai masa pembeliannya, yaitu : Dari Dee ke Leo Kristi (Kris Budiman), Kintir (Ibed Surgana Yuga), Bersampan ke Seberang (Satmoko Budi Santoso), Persada Studi Klub dalam Arena Sastra Indonesia (Saeful Anwar), Sepak Bola Seribu Tafsir (Eddward S. Kennedy), Kembang Sepasang (Gunawan Maryanto), Tafsir Al-Qur'an di Medsos (Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D), Iblis Tak Butuh Pengikut/Daur II (Emha Ainun Nadjib), Republik Ken Arok (Candra Malik), Adam Ma'rifat (Danarto), Surat Cinta dari Rindu (Candra Malik), JRENG (Putu Wijaya), Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (Eko Triono), Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran (Mashdar Zainal), Air Mata Bola (Sindhunata), Para Raja dan Revolusi (Linda Christanty), dan Berhala (Danarto).

Hampir semua buku tersebut sudah tuntas saya baca. Tentu saja seluruhnya menarik dan saya merasa beruntung bisa menyimaknya. Namun, jika saya membuat senarai buku favorit, maka setidaknya terdapat tujuh buah yang diurutkan dari waktu membacanya. Mereka adalah Kembang Sepasang, Tafsir Al-Qur'an di Medsos, Surat Cinta dari Rindu, JRENG, Para Raja dan Revolusi, Air Mata Bola, serta Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran.