Tampilkan postingan dengan label sujiwo tejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sujiwo tejo. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2020

Proses Pemurnian Kembali

"Azab" bukanlah siksaan, melainkan proses pemurnian kembali. Seperti halnya emas dalam proses pemurniannya, manusia pun membutuhkan proses pemurnian menuju kebersatuan kembali. Betapa pun deritanya, tetaplah sebuah kenikmatan manakala prosesnya adalah menuju kebersatuan dan kemanunggalan abadi

(Sujiwo Tejo & Dr. M.N. Kamba dalam buku Tuhan Maha Asyik)

Senin, 03 Agustus 2020

Yang Ada Cuma Hari Ini

Yang ada cuma hari ini. Kenangan adalah hari ini yang merenungkan kemarin. Harapan adalah hari ini yang mengkhayalkan esok.

(Sujiwo Tejo)

Minggu, 18 Agustus 2019

Buku Merah Putih 2019


Untuk ikut menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI ke-74, sejenak saya menengok koleksi buku yang ada. Ternyata terdapat sejumlah buku yang sampulnya dari samping berwarna merah dan putih. Maka jadilah tumpukan buku merah putih sesuai warna bendera Indonesia.

Beberapa pernyataan menarik dalam sebuah esai di buku Talijiwo karya Sujiwo Tejo : 

"Dosa terbesar orang-orang yang kena Operasi Tangkap Tangan oleh KPK adalah mereka membuat kita semua merasa suci..." 
"Inkonsistensi sedang mengancam bangsa ini. Banyak yang ngakunya suka persatuan. Giliran makan soto, nasinya minta dipisah." 

Hal penting tentang agama dan kemanusiaan, dikutip dari salah satu esai dalam buku Gus Dur Santri Par Excellence yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas : Memaknai ajaran agama, di mata Gus Dur, juga tidak dapat dilepaskan dari sisi kemanusiaannya. Untuk menjadi penganut agama yang baik, selain meyakini kebenaran ajaran agamanya, juga harus menghargai kemanusiaan. "Jika kemanusiaan diabaikan, itu adalah pangkal hilangnya nilai-nilai keagamaan yang benar," katanya.  

Dirgahayu Indonesiaku! Semoga kian cerdas kehidupan bangsaku.

Senin, 06 Agustus 2018

Mencintai Itu Takdir

Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi kau tak bisa merencanakan cintamu untuk siapa. 
(Sujiwo Tejo dalam #Talijiwo)

Minggu, 04 Februari 2018

Rangkuman Apresiasi Januari 2018

Senyampang baru melewati satu bulan di tahun 2018 ini, aku ingin mulai membuat rangkuman tentang hal-hal baik yang kulewati sepanjang Januari kemarin. Apa yang tersurat di sini menjadi wujud apresiasi yang -setidaknya- bagiku pribadi mampu menjadi inspirasi dan menghadirkan motivasi dalam melanjutkan proses kreatif dalam menjalani kehidupan. Hari pertama 2018 kulewati dengan beberapa jam berada di acara Tahun Baru di JBS. Selain mengikuti dua sesi diskusi sejumlah buku, aku berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa orang, seperti Ibed Surgana Yuga, Eka Nusa Pertiwi, Andika Ananda, Gunawan Maryanto (Cindhil),  Latief S. Nugraha, dan Kris Budiman. Menyenangkan rasanya untuk sesaat berada di situ. Kubawa pulang buku-buku baru, yang dua di antaranya mendapat tanda tangan penulisnya yang kutemui di tempat itu.


Pementasan "Dongeng Prajurit" oleh Gunawan Maryanto dkk di Teater Garasi.
Teater Garasi/Garasi Performance Institute mengadakan acara Buka Studio 7 Hari 7 Malam : Jalan Tikus. Acara yang berlangsung 14-20 Januari 2018 tersebut menandai dibukanya studio baru TG/GPI yang baru selesai direnovasi. Aku hanya sempat dua kali hadir pada hari Rabu malam (17/1) dan Kamis sore (18/1). Yang pertama, Open Lab yang menampilkan "Macapatan Kontemporer" (Paksi Raras Alit) dan "Dongeng Prajurit" (Gunawan Maryanto, Prihatmoko Moki, dkk). Paksi adalah musisi Jogja yang sedang giat mengangkat sastra Jawa dengan medium musik modern. Pada masa sekolahnya di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa, dia pernah memenangkan lomba macapat dalam PORSENI. Setelah bertahun-tahun jadi anak band, dia ingin generasi muda saat ini mengenal karya luhur nenek moyangnya, apalagi dia pun pernah berkuliah di Sastra Jawa UGM. Apa yang ditampilkan dalam "Dongeng Prajurit" berawal dari proyek kerja sama Cindhil yang membuat puisi/narasi untuk komik prajurit kraton karya Moki. Keduanya merasakan kegelisahan yang sama melihat situasi Jogja yang tambah semrawut dengan menjamurnya hotel yang membawa dampak negatif lainnya. Kisah jatuhnya Kraton Yogyakarta di tangan Inggris pada masa pemerintahan HB II menjadi tema sentral pertunjukan, yang semula berwujud komik "Prajurit Kalah Tanpa Raja" yang sudah dipamerkan di Europalia Arts Festival 2017 di Belgia. Yang jelas, sepulang dari sana aku jadi penasaran dengan kisah tersebut dan lantas berkesempatan membaca buku "Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa" karya Tim Hannigan milik keponakanku yang penggemar sejarah. Sudah kubaca bagian jatuhnya Jogja di buku itu. 

Yang kedua, Blocknot Forum yang menampilkan peluncuran buku "Gentayangan" karya Intan Paramaditha. Ada acara ngobrol dengan penulisnya yang dipandu oleh Alia Swastika. Leilani Hermiasih dan Yudi Ahmad Tajudin ikut tampil membaca beberapa bagian dari karya terbaru Intan yang sudah mendapat penghargaan dari Majalah Tempo. Duet "Pemuda Setempat" yang terdiri dari Ugoran Prasad dan Yennu Ariendra membawakan beberapa lagu yang terinspirasi dari novel tersebut.

Bincang-Bincang Sastra edisi 148 yang berlangsung Sabtu (27/1) di Ruang Seminar TBY berbeda dari biasanya karena dihadiri oleh banyak orang. Dengan tema "Yogya yang Puitis, Yogya yang Prosais" BBS menampilkan Gunawan Maryanto dan Agus Noor sebagai pembicara, Latief S. Nugraha sebagai moderator. Andika Ananda membaca cerpen Agus Noor dengan kocak dan Dinar Setiyawan mendeklamasikan puisi Gunawan Maryanto dengan syahdu. Agus Noor merasakan banyak hal yang hilang di Jogja masa kini. Salah satu contohnya, jika dulu para mahasisiwa pendatang mengontrak sebuah rumah untuk menjadi ruang berkesenian, maka saat ini mereka mengontraknya untuk dijadikan tempat bisnis, entah kafe atau mungkin yang lain. Cindhil mengingatkan bahwa dari awal berdirinya Jogja memang penuh dengan dinamika dan hal itulah yang membuat inspirasi bagi seniman terus mengalir. Membicarakan Jogja dahulu dan saat ini menyadarkan kita bahwa sudah begitu banyak terjadi perubahan, baik maupun buruk. Ketika banyak hal hilang, maka ada hal-hal baru lainnya yang hadir.


Bincang-Bincang Sastra edisi 148 di TBY yang menarik perhatian banyak orang.
Senin malam (29/1) kudatangi dua kerumunan yang berbeda. Awalnya aku berada di Kafe Basabasi yang penuh sesak karena menghadirkan Sujiwo Tejo. Terus terang aku kurang jelas menyimak apa kata Mbah Tejo saking riuh rendahnya suasana. Maka aku lantas memutuskan beranjak ke Bentara Budaya Yogyakarta untuk menyaksikan Jazz Mben Senen yang sedang merayakan 8 tahun eksistensinya. Dulu aku sempat kerap menyaksikan acara tersebut, bahkan pernah sekali ikut tampil mengiringi seorang penyanyi remaja, yang entah sekarang dia masih suka bernyanyi atau tidak. Romo Sindhunata mengatakan bahwa Jazz Mben Senen bisa menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan sarana prasarana tidak membatasi ruang berkesenian. Djaduk Ferianto mengingatkan para seniman muda agar tetap rendah hati dan sabar dalam menjalani proses.

Oh ya, menghadiri acara mantunya Pak Tedjo Badut pada Minggu (21/1) di Pendopo SMKI (SMKN 2 Kasihan) menjadi sesuatu yang berkesan pula. Tidak seperti resepsi pernikahan umumnya, siang itu para tamu bagaikan menghadiri pesta kesenian rakyat yang begitu semarak dan menghibur tentu saja. Tempat mengisi buku tamu berbentuk ticket box. Seraya antre untuk menyalami kedua mempelai dan orangtuanya, kami bisa menyaksikan pertunjukan sulap, tarian humor, dan lain-lain. Panggung pelaminan dihias bagaikan panggung ketoprak/wayang orang. Lalu kursi untuk para tamu menikmati hidangan adalah bangku-bangku seperti di warung angkringan. Berada di situ, kendati sesaat saja menggembirakan jugalah rasanya. 

Foto : Akun Facebook Teater Garasi dan SPS Yogyakarta

Jumat, 05 Mei 2017

Dalam Negara yang Berketuhanan

Karena anugerah-Nya yang tak terbatas, karena pemberiannya yang tiada henti, maka Allah Mahabbah. Tuhan adalah Cinta. Karena Dia Maha Pemberi tanpa pamrih, maka bertuhan adalah memiliki cinta. Hanyalah kesia-siaan belaka berketuhanan tanpa berkecintaan.
Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti kecintaan absolut, yang menjadi asas tunggal berbangsa dan bernegara. Dalam negara yang berketuhanan, tidak ada tempat bagi mereka yang tidak memiliki rasa cinta, tidak berperilaku memberi, dan tidak memiliki semangat pengorbanan. Dalam negara yang berketuhanan, tidak ada tempat bagi mereka yang mementingkan diri sendiri dan kelompok. Dalam negara yang berketuhanan, tidak ada toleransi bagi mereka yang suka menebar kebencian karena semua itu bertentangan dengan asas berkecintaan. 
(Sujiwo Tejo & Dr. M.N. Kamba dalam buku "Tuhan Maha Asyik) 

Sabtu, 18 Maret 2017

Ilmu Berfungsi Menemukan

Boleh jadi, ilmu atau sains merupakan salah satu cara Tuhan mencahayai wujud-wujud potensial agar menjadi aktual. Maka ilmu berfungsi menemukan, bukan menciptakan. Tuhan mencipta, manusia menemukan. Sungguh menarik pernyataan Kanjeng Nabi : "Ilmu adalah cahaya".
(Sujiwo Tejo & Dr. M.N. Kamba dalam buku "Tuhan Maha Asyik")

Jumat, 03 Maret 2017

Setiap Peristiwa

Setiap peristiwa bukanlah awal, bukan pula akhir segalanya. Setiap peristiwa bisa merupakan pendahuluan atau akibat dari peristiwa lain.
(Sujiwo Tejo & Dr. M.N. Kamba dalam buku "Tuhan Maha Asyik")