Tampilkan postingan dengan label Gunawan Maryanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunawan Maryanto. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2022

Percakapan dengan Alam


Latihan meditasi yang ditaja Mas Cindhil merupakan kombinasi latihan olah tubuh dan olah batin. Salah satu bentuk latihannya ialah melakukan percakapan dengan alam dan benda -misalnya langit, hujan (kalau ada), pohon, tanaman dalam pot, kursi, jam dinding- dan selanjutnya bercakap-cakap dengan diri sendiri melalui cermin. Tentu saja semua percakapan itu dilakukan secara bisu.

(Joko Pinurbo dalam novel Srimenanti)

Senin, 15 November 2021

Jarak

                                                      puisi karya Gunawan Maryanto


jarak hanya bisa membuatmu melihat

jangan harap bisa terlibat

kebahagiaan--kesedihan berlangsung di kejauhan

--tak lagi mendebarkan

di tempat ini kau tak perlu jam tangan

hanya ingatan, sedikit ingatan


(Jogja, 2005)

Senin, 18 Oktober 2021

Yang Tepat Tak Pernah Ada

 

tapi yang tepat itu tak pernah ada, kan? dunia hanya 

menyediakan kira-kira. rangkaian kekeliruan demi

kekeliruan--dan kita selalu keliru menangkapnya.


(Gunawan Maryanto dalam puisi Cinta yang Mencurigakan)

Rabu, 06 Oktober 2021

Selamat Jalan Gunawan Maryanto

 

Masih kuingat malam itu, sehabis sebuah pementasan wayang kulit alternatif di kampusku yang melibatkanmu, kita berdua lantas makan secara lesehan di trotoar jalan Solo bersama ia dan istri cantiknya yang tengah hamil tua. Sekian tahun kemudian, kawan karibmu malah bagaikan menapaktilasi langkahmu, yaitu berpisah dari sang istri dan anak lelakinya.

Belasan tahun sudah berlalu. Sahabatmu pada masa kini menjadi figur yang kian dihormati dan diapresiasi berbagai kalangan di seluruh penjuru negeri. Banyak pihak yang mengakui kemampuannya sebagai aktor berkualitas hebat, hingga layaklah ketika sejumlah penghargaan pun telah diterimanya. Karya-karya barunya terus bermunculan dan semakin beragam wujudnya, tapi ia tetaplah lelaki yang ramah dan rendah hati. Buktinya, saban aku dan ia berjumpa tanpa rencana, salah satu di antara kami pasti akan lebih dahulu menyapa. Dalam dua kali pertemuan terakhir kami, aku bisa berbincang dengannya lebih lama ketimbang sebelumnya yang seperti berbasa-basi belaka. Ada kebahagiaan tersendiri yang rasanya menjelma.

Om Adji, kawan karibmu itu hari ini menyusulmu ke alam berikutnya.


Selamat jalan, Mas Gunawan Maryanto (10 April 1976 - 6 Oktober 2021). 

Semoga terang dan nyaman kehidupanmu di sana.

Minggu, 04 Februari 2018

Rangkuman Apresiasi Januari 2018

Senyampang baru melewati satu bulan di tahun 2018 ini, aku ingin mulai membuat rangkuman tentang hal-hal baik yang kulewati sepanjang Januari kemarin. Apa yang tersurat di sini menjadi wujud apresiasi yang -setidaknya- bagiku pribadi mampu menjadi inspirasi dan menghadirkan motivasi dalam melanjutkan proses kreatif dalam menjalani kehidupan. Hari pertama 2018 kulewati dengan beberapa jam berada di acara Tahun Baru di JBS. Selain mengikuti dua sesi diskusi sejumlah buku, aku berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa orang, seperti Ibed Surgana Yuga, Eka Nusa Pertiwi, Andika Ananda, Gunawan Maryanto (Cindhil),  Latief S. Nugraha, dan Kris Budiman. Menyenangkan rasanya untuk sesaat berada di situ. Kubawa pulang buku-buku baru, yang dua di antaranya mendapat tanda tangan penulisnya yang kutemui di tempat itu.


Pementasan "Dongeng Prajurit" oleh Gunawan Maryanto dkk di Teater Garasi.
Teater Garasi/Garasi Performance Institute mengadakan acara Buka Studio 7 Hari 7 Malam : Jalan Tikus. Acara yang berlangsung 14-20 Januari 2018 tersebut menandai dibukanya studio baru TG/GPI yang baru selesai direnovasi. Aku hanya sempat dua kali hadir pada hari Rabu malam (17/1) dan Kamis sore (18/1). Yang pertama, Open Lab yang menampilkan "Macapatan Kontemporer" (Paksi Raras Alit) dan "Dongeng Prajurit" (Gunawan Maryanto, Prihatmoko Moki, dkk). Paksi adalah musisi Jogja yang sedang giat mengangkat sastra Jawa dengan medium musik modern. Pada masa sekolahnya di SD Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa, dia pernah memenangkan lomba macapat dalam PORSENI. Setelah bertahun-tahun jadi anak band, dia ingin generasi muda saat ini mengenal karya luhur nenek moyangnya, apalagi dia pun pernah berkuliah di Sastra Jawa UGM. Apa yang ditampilkan dalam "Dongeng Prajurit" berawal dari proyek kerja sama Cindhil yang membuat puisi/narasi untuk komik prajurit kraton karya Moki. Keduanya merasakan kegelisahan yang sama melihat situasi Jogja yang tambah semrawut dengan menjamurnya hotel yang membawa dampak negatif lainnya. Kisah jatuhnya Kraton Yogyakarta di tangan Inggris pada masa pemerintahan HB II menjadi tema sentral pertunjukan, yang semula berwujud komik "Prajurit Kalah Tanpa Raja" yang sudah dipamerkan di Europalia Arts Festival 2017 di Belgia. Yang jelas, sepulang dari sana aku jadi penasaran dengan kisah tersebut dan lantas berkesempatan membaca buku "Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa" karya Tim Hannigan milik keponakanku yang penggemar sejarah. Sudah kubaca bagian jatuhnya Jogja di buku itu. 

Yang kedua, Blocknot Forum yang menampilkan peluncuran buku "Gentayangan" karya Intan Paramaditha. Ada acara ngobrol dengan penulisnya yang dipandu oleh Alia Swastika. Leilani Hermiasih dan Yudi Ahmad Tajudin ikut tampil membaca beberapa bagian dari karya terbaru Intan yang sudah mendapat penghargaan dari Majalah Tempo. Duet "Pemuda Setempat" yang terdiri dari Ugoran Prasad dan Yennu Ariendra membawakan beberapa lagu yang terinspirasi dari novel tersebut.

Bincang-Bincang Sastra edisi 148 yang berlangsung Sabtu (27/1) di Ruang Seminar TBY berbeda dari biasanya karena dihadiri oleh banyak orang. Dengan tema "Yogya yang Puitis, Yogya yang Prosais" BBS menampilkan Gunawan Maryanto dan Agus Noor sebagai pembicara, Latief S. Nugraha sebagai moderator. Andika Ananda membaca cerpen Agus Noor dengan kocak dan Dinar Setiyawan mendeklamasikan puisi Gunawan Maryanto dengan syahdu. Agus Noor merasakan banyak hal yang hilang di Jogja masa kini. Salah satu contohnya, jika dulu para mahasisiwa pendatang mengontrak sebuah rumah untuk menjadi ruang berkesenian, maka saat ini mereka mengontraknya untuk dijadikan tempat bisnis, entah kafe atau mungkin yang lain. Cindhil mengingatkan bahwa dari awal berdirinya Jogja memang penuh dengan dinamika dan hal itulah yang membuat inspirasi bagi seniman terus mengalir. Membicarakan Jogja dahulu dan saat ini menyadarkan kita bahwa sudah begitu banyak terjadi perubahan, baik maupun buruk. Ketika banyak hal hilang, maka ada hal-hal baru lainnya yang hadir.


Bincang-Bincang Sastra edisi 148 di TBY yang menarik perhatian banyak orang.
Senin malam (29/1) kudatangi dua kerumunan yang berbeda. Awalnya aku berada di Kafe Basabasi yang penuh sesak karena menghadirkan Sujiwo Tejo. Terus terang aku kurang jelas menyimak apa kata Mbah Tejo saking riuh rendahnya suasana. Maka aku lantas memutuskan beranjak ke Bentara Budaya Yogyakarta untuk menyaksikan Jazz Mben Senen yang sedang merayakan 8 tahun eksistensinya. Dulu aku sempat kerap menyaksikan acara tersebut, bahkan pernah sekali ikut tampil mengiringi seorang penyanyi remaja, yang entah sekarang dia masih suka bernyanyi atau tidak. Romo Sindhunata mengatakan bahwa Jazz Mben Senen bisa menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan sarana prasarana tidak membatasi ruang berkesenian. Djaduk Ferianto mengingatkan para seniman muda agar tetap rendah hati dan sabar dalam menjalani proses.

Oh ya, menghadiri acara mantunya Pak Tedjo Badut pada Minggu (21/1) di Pendopo SMKI (SMKN 2 Kasihan) menjadi sesuatu yang berkesan pula. Tidak seperti resepsi pernikahan umumnya, siang itu para tamu bagaikan menghadiri pesta kesenian rakyat yang begitu semarak dan menghibur tentu saja. Tempat mengisi buku tamu berbentuk ticket box. Seraya antre untuk menyalami kedua mempelai dan orangtuanya, kami bisa menyaksikan pertunjukan sulap, tarian humor, dan lain-lain. Panggung pelaminan dihias bagaikan panggung ketoprak/wayang orang. Lalu kursi untuk para tamu menikmati hidangan adalah bangku-bangku seperti di warung angkringan. Berada di situ, kendati sesaat saja menggembirakan jugalah rasanya. 

Foto : Akun Facebook Teater Garasi dan SPS Yogyakarta

Rabu, 06 Januari 2010

Risalah Apresiasi Tahun 2009


Tak banyak catatan yang kutulis di tahun 2009. Untuk memenuhi ruang kosong blog ini dan sekaligus wujud apresiasiku terhadap karya para seniman/budayawan yang telah lama berkiprah dalam dunia kesenian, maka sekadar kukutip kata-kata mutiara yang senantiasa mengandung hikmah, misalnya kutipan dari puisi WS Rendra dan novel Iwan Simatupang.

Pada bulan Desember kuhadiri tiga acara pembukaan, yakni : pameran foto di toko buku Togamas (1/12), pameran desain grafis Diskomplet di Bentara Budaya (4/12), dan pameran seni rupa Biennale X Jogja - 2009 (11/12). Acara pembukaan pertama tidak mengesankan, bahkan melihat foto yang dipamerkan saja tidak bisa leluasa. Yang kedua meriah, pengunjungnya banyak, yang dipamerkan menarik sekali, dan hiburan oleh dua penyanyi dangdut cukup menyegarkan. Sementara pembukaan Biennale Jogja X sangat meriah dan riuh rendah.


Sepanjang tahun 2009 sempat kuhadiri sejumlah acara seni : malam sastra 50 tahun Sanggar Bambu, Yogyakarta Gamelan Festival, sebuah pertunjukan teater, Pentas Budaya Rusia, dan Padz Jazz di TBY; pertunjukan puisi di Teater Garasi, bedah buku sastra di YUK, pemanggungan sastra di LIP, juga mengenang WS Rendra di pendapa Tamansiswa. Dalam acara terakhir kudengarkan kisah seniman-seniman sepuh Jogja yang pernah menjadi orang-orang terdekat dalam hidup Rendra. Salut bagi mereka yang mencintai seni dengan sejati dan total dalam berproses kreatif, sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas tinggi.

Aktivitasku bersama AFC TBY tidak sekencang tahun sebelumnya. Hanya dua kali kuiringi anak-anak nyanyi di Saphir Square dan panggung Sekaten. Pentas besar AFC di awal November, aku hanya terlibat dalam persiapannya, jadi tidak ikut tampil. Tapi yang penting tetap ada aktivitas dan rezeki pun mengalir saja. Mesti kusyukuri jua hal itu.

Peningkatan signifikan terjadi di tahun 2009 ketika cerpenku yang dimuat di media cetak jumlahnya ada lima buah. Dua cerpen dimuat di majalah Hai, sementara tiga cerpen lainnya dimuat di koran Batam Pos. Semoga tahun depan nasib karyaku bisa lebih baik lagi dan honornya juga lancar. Sampai awal Desember silam, honor dari Batam Pos belum kuterima.

Selama setahun kutambah koleksi buku yang kumiliki, yaitu : Bon Suwung (Gunawan Maryanto), Kacapiring (Danarto), Tangan Untuk Utik (Bamby Cahyadi) yang merupakan kumpulan cerpen. Lalu ada lagi On/Off Proses Kreatif (I Saraswati dkk), Psikologi Kematian (Komarrudin Hidayat), Living In Harmony (Fariz RM), dan Kiat Sukses Mengarang Novel (Saut Poltak Tambunan). Buku dengan judul terakhir kubeli karena aku penasaran, bagaimana sih sebenarnya mengarang novel itu? Semoga bisa kucoba mewujudkannya di tahun yang baru.

Tahun 2009 menjadi saat kepergian selamanya dua tokoh besar Indonesia : WS Rendra (6 Agustus) dan KH.Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (30 Desember). Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka dan mengampuni dosa kesalahan beliau berdua. Semoga kita yang masih ada di dunia dapat belajar banyak dari beragam karya besar, ide-ide cemerlang, maupun catatan perjalanan hidup Rendra dan Gus Dur sepanjang hayat mereka. Amin.