Tampilkan postingan dengan label Danarto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danarto. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Januari 2022

Penulis Fiksi Mencoba Memahami Kehidupan

Seorang penulis fiksi mencoba memahami kehidupan dengan menciptakan sebuah model. Orang menyebutnya juga sebuah dunia alternatif. Model atau dunia alternatif itu ia ciptakan agar ia dapat dengan leluasa mengembangkan kemungkinan-kemungkinan pola pemahaman tentang kehidupan. Maka tokoh-tokoh diadakan, berbagai situasi dikembangkan.

(Umar Kayam dalam Dunia Alternatif Danarto - Sebuah Pengantar kumpulan cerpen "Berhala")

Rabu, 03 November 2021

Manusia dan Pengetahuan Semesta

Manusia lahir seharusnya ia terus langsung berhadapan dengan alam semesta. Wajib baginya memeluk suatu pengetahuan semesta, tentang hakikat penciptaan, tentang ketuhanan. Sedang soal filsafat, tatanegara ataupun kesenian dalam genggaman tangan dengan sendirinya setelah pengetahuan semesta dicapai.

(Danarto dalam cerpen Nostalgia) 

Senin, 19 Juli 2021

Kata-Kata Sifatnya Luas Sekali

"Terserah sesukamu menggunakan kata-kata. Orang memang penuh kiasan untuk menjunjung atau mencela orang lain. Dan kata-kata sifatnya luas sekali. Hingga aku akan merasa senang kalau sindiran itu aku tafsirkan sanjungan dan sanjungan biarlah kutafsirkan sindiran biar aku tidak merasa sombong. Di sini sesungguhnya manusia tidak pernah ketemu satu sama lain." 

(Danarto dalam cerpen Sandiwara atas Sandiwara)

Sabtu, 28 April 2018

Hakikat Kesenian dan Keadilan

"Hakikat dari kesenian adalah keindahan. Para seniman mengejar keindahan seperti para pemimpin mengejar keadilan bagi seluruh rakyat." 

(dialog Bung Karno dengan para pemuda dalam cerpen "Si Denok" karya Danarto)

Rabu, 11 April 2018

Sebuah Pesan dari Danarto

Kau kejar ke sana, jangan hanya raga. Kau kejar kemari, jangan hanya surga. Tuhan menyembunyikan semua. Supaya kita tidak rakus dan manja. Para rasul meminta kita, jadilah penanda.
(Danarto dalam cerpen "O, Yerusalem")

Danarto lahir di Sragen pada 27 Juni 1940 dan tutup usia di Jakarta pada 10 April 2018.

Selasa, 25 Juli 2017

Musim Panas yang Menyengat

Musim panas yang menyengat. Kalajengking terperanjat. Melengkung ekor tajam ke depan merambat. Siap menusuk siapa saja dengan kesumat. 

(Danarto dalam cerpen "Pohon Rambutan")

Rabu, 06 Januari 2010

Risalah Apresiasi Tahun 2009


Tak banyak catatan yang kutulis di tahun 2009. Untuk memenuhi ruang kosong blog ini dan sekaligus wujud apresiasiku terhadap karya para seniman/budayawan yang telah lama berkiprah dalam dunia kesenian, maka sekadar kukutip kata-kata mutiara yang senantiasa mengandung hikmah, misalnya kutipan dari puisi WS Rendra dan novel Iwan Simatupang.

Pada bulan Desember kuhadiri tiga acara pembukaan, yakni : pameran foto di toko buku Togamas (1/12), pameran desain grafis Diskomplet di Bentara Budaya (4/12), dan pameran seni rupa Biennale X Jogja - 2009 (11/12). Acara pembukaan pertama tidak mengesankan, bahkan melihat foto yang dipamerkan saja tidak bisa leluasa. Yang kedua meriah, pengunjungnya banyak, yang dipamerkan menarik sekali, dan hiburan oleh dua penyanyi dangdut cukup menyegarkan. Sementara pembukaan Biennale Jogja X sangat meriah dan riuh rendah.


Sepanjang tahun 2009 sempat kuhadiri sejumlah acara seni : malam sastra 50 tahun Sanggar Bambu, Yogyakarta Gamelan Festival, sebuah pertunjukan teater, Pentas Budaya Rusia, dan Padz Jazz di TBY; pertunjukan puisi di Teater Garasi, bedah buku sastra di YUK, pemanggungan sastra di LIP, juga mengenang WS Rendra di pendapa Tamansiswa. Dalam acara terakhir kudengarkan kisah seniman-seniman sepuh Jogja yang pernah menjadi orang-orang terdekat dalam hidup Rendra. Salut bagi mereka yang mencintai seni dengan sejati dan total dalam berproses kreatif, sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas tinggi.

Aktivitasku bersama AFC TBY tidak sekencang tahun sebelumnya. Hanya dua kali kuiringi anak-anak nyanyi di Saphir Square dan panggung Sekaten. Pentas besar AFC di awal November, aku hanya terlibat dalam persiapannya, jadi tidak ikut tampil. Tapi yang penting tetap ada aktivitas dan rezeki pun mengalir saja. Mesti kusyukuri jua hal itu.

Peningkatan signifikan terjadi di tahun 2009 ketika cerpenku yang dimuat di media cetak jumlahnya ada lima buah. Dua cerpen dimuat di majalah Hai, sementara tiga cerpen lainnya dimuat di koran Batam Pos. Semoga tahun depan nasib karyaku bisa lebih baik lagi dan honornya juga lancar. Sampai awal Desember silam, honor dari Batam Pos belum kuterima.

Selama setahun kutambah koleksi buku yang kumiliki, yaitu : Bon Suwung (Gunawan Maryanto), Kacapiring (Danarto), Tangan Untuk Utik (Bamby Cahyadi) yang merupakan kumpulan cerpen. Lalu ada lagi On/Off Proses Kreatif (I Saraswati dkk), Psikologi Kematian (Komarrudin Hidayat), Living In Harmony (Fariz RM), dan Kiat Sukses Mengarang Novel (Saut Poltak Tambunan). Buku dengan judul terakhir kubeli karena aku penasaran, bagaimana sih sebenarnya mengarang novel itu? Semoga bisa kucoba mewujudkannya di tahun yang baru.

Tahun 2009 menjadi saat kepergian selamanya dua tokoh besar Indonesia : WS Rendra (6 Agustus) dan KH.Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (30 Desember). Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka dan mengampuni dosa kesalahan beliau berdua. Semoga kita yang masih ada di dunia dapat belajar banyak dari beragam karya besar, ide-ide cemerlang, maupun catatan perjalanan hidup Rendra dan Gus Dur sepanjang hayat mereka. Amin.