Tampilkan postingan dengan label WS Rendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WS Rendra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2022

Yang Kita Punyai Saat Ini


Rendra telah diterima Allah untuk bergabung dalam keabadian. Kelabakanlah kita, sebab yang kita punyai saat ini adalah budaya instan, pola berpikir sepenggal. perhatian terlalu rendah pada sejarah, serta kefakiran yang luar biasa terhadap kualitas hidup.

(Emha Ainun Nadjib dalam esai Bulan Purnama Rendra - buku Mereka yang Tak Pernah Mati) 

Kamis, 17 Oktober 2019

Menapaki Jejak Rendra di Tembi


Musikalisasi puisi yang dibawakan dengan syahdu oleh Tatyana dan Umar Muslim menjadi penutup acara Menapaki Jejak Rendra di Tembi Rumah Budaya pada Rabu malam, 16 Oktober 2019. Seniman senior Yogyakarta seperti Untung Basuki dan Landung Simatupang tampil lebih dahulu. 

Empat putra-putri Rendra secara bergantian membaca karya ayahnya dengan gayanya masing-masing. Yang juga menarik, Rowan Lintang Raina Mataram yang merupakan cucu Rendra membawakan puisi kakeknya dalam bahasa Inggris.


Rabu, 06 Januari 2010

Risalah Apresiasi Tahun 2009


Tak banyak catatan yang kutulis di tahun 2009. Untuk memenuhi ruang kosong blog ini dan sekaligus wujud apresiasiku terhadap karya para seniman/budayawan yang telah lama berkiprah dalam dunia kesenian, maka sekadar kukutip kata-kata mutiara yang senantiasa mengandung hikmah, misalnya kutipan dari puisi WS Rendra dan novel Iwan Simatupang.

Pada bulan Desember kuhadiri tiga acara pembukaan, yakni : pameran foto di toko buku Togamas (1/12), pameran desain grafis Diskomplet di Bentara Budaya (4/12), dan pameran seni rupa Biennale X Jogja - 2009 (11/12). Acara pembukaan pertama tidak mengesankan, bahkan melihat foto yang dipamerkan saja tidak bisa leluasa. Yang kedua meriah, pengunjungnya banyak, yang dipamerkan menarik sekali, dan hiburan oleh dua penyanyi dangdut cukup menyegarkan. Sementara pembukaan Biennale Jogja X sangat meriah dan riuh rendah.


Sepanjang tahun 2009 sempat kuhadiri sejumlah acara seni : malam sastra 50 tahun Sanggar Bambu, Yogyakarta Gamelan Festival, sebuah pertunjukan teater, Pentas Budaya Rusia, dan Padz Jazz di TBY; pertunjukan puisi di Teater Garasi, bedah buku sastra di YUK, pemanggungan sastra di LIP, juga mengenang WS Rendra di pendapa Tamansiswa. Dalam acara terakhir kudengarkan kisah seniman-seniman sepuh Jogja yang pernah menjadi orang-orang terdekat dalam hidup Rendra. Salut bagi mereka yang mencintai seni dengan sejati dan total dalam berproses kreatif, sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang berkualitas tinggi.

Aktivitasku bersama AFC TBY tidak sekencang tahun sebelumnya. Hanya dua kali kuiringi anak-anak nyanyi di Saphir Square dan panggung Sekaten. Pentas besar AFC di awal November, aku hanya terlibat dalam persiapannya, jadi tidak ikut tampil. Tapi yang penting tetap ada aktivitas dan rezeki pun mengalir saja. Mesti kusyukuri jua hal itu.

Peningkatan signifikan terjadi di tahun 2009 ketika cerpenku yang dimuat di media cetak jumlahnya ada lima buah. Dua cerpen dimuat di majalah Hai, sementara tiga cerpen lainnya dimuat di koran Batam Pos. Semoga tahun depan nasib karyaku bisa lebih baik lagi dan honornya juga lancar. Sampai awal Desember silam, honor dari Batam Pos belum kuterima.

Selama setahun kutambah koleksi buku yang kumiliki, yaitu : Bon Suwung (Gunawan Maryanto), Kacapiring (Danarto), Tangan Untuk Utik (Bamby Cahyadi) yang merupakan kumpulan cerpen. Lalu ada lagi On/Off Proses Kreatif (I Saraswati dkk), Psikologi Kematian (Komarrudin Hidayat), Living In Harmony (Fariz RM), dan Kiat Sukses Mengarang Novel (Saut Poltak Tambunan). Buku dengan judul terakhir kubeli karena aku penasaran, bagaimana sih sebenarnya mengarang novel itu? Semoga bisa kucoba mewujudkannya di tahun yang baru.

Tahun 2009 menjadi saat kepergian selamanya dua tokoh besar Indonesia : WS Rendra (6 Agustus) dan KH.Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (30 Desember). Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka dan mengampuni dosa kesalahan beliau berdua. Semoga kita yang masih ada di dunia dapat belajar banyak dari beragam karya besar, ide-ide cemerlang, maupun catatan perjalanan hidup Rendra dan Gus Dur sepanjang hayat mereka. Amin.

Senin, 17 Agustus 2009

Apakah Gunanya Pendidikan? (WS Rendra)



Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran
atau apa saja,
ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

(dari “Sajak Seonggok Jagung” – WS Rendra)