Tampilkan postingan dengan label suara merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suara merdeka. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

Menjelang Kepergian Ibunda

Untuk memperingati satu dekade tutup usianya Ibunda tercinta, maka saya mengunggah cerpen yang pernah dimuat di Suara Merdeka edisi 3 Januari 2016 di blog ini.

SABAN tiba menjelang pergantian warsa, hingga menjelmalah angka tahun yang baru, senantiasa aku terkenang pada mendiang Ibunda. Sembilan tahun sudah tak dapat kutemui ibuku dalam keseharian di atas buana. Benakku beranjak menuju masa silam, pada sejumlah hari sebelum kepergian selamanya perempuan yang sungguh kusayangi. Ketika itu sebenarnya Ibu telah berada di rumah kembali selama hampir dua bulan. Beliau sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit sekitar dua pekan lantaran mengalami gangguan jantung dan ginjal. Sebagai upaya memulihkan kesehatannya, kata dokter tiada pilihan lain bagi Ibu kecuali menjalani cuci darah secara rutin seminggu dua kali.

Sesungguhnya tak mudah bagi ibuku menuruti saran dokter. Aku paham, beliau pernah memiliki pengalaman buruk dengan masalah cuci darah. Beberapa tahun sebelum Ibu diopname, seorang paman beliau sakit keras dan mesti menjalani cuci darah berkali-kali. Akhirnya sang paman padam nyawa. Masalahnya, Ibu adalah orang yang selalu mendampingi pamannya berhubung almarhum tidak berkeluarga. Lagi pula keluarga kami merupakan kerabatnya yang paling dekat. Ibu akhirnya bersedia darahnya dicuci, tapi cukup sekali, tak sudi andaikata lebih lagi. Alasan Ibu sederhana saja, beliau tak ingin terlalu merepotkan anak-anaknya yang mesti mengantarnya ke rumah sakit. Belum lagi biayanya pun besar untuk melakukan hal itu. Tentu saja sebenarnya kami tak akan keberatan, termasuk berupaya menyediakan berapa pun dananya. Kami toh melakukannya demi ibu yang sungguh kami sayangi, apalagi Bapak sudah lama tiada. Tapi aku beserta kakak-kakakku menghargai pilihan beliau. Pengalaman buruk cuci darah mendiang sang paman pasti belum sirna dari benak Ibu.

Sesudah cuci darah yang hanya sekali itu, beliau mencoba melakukan pengobatan alternatif. Saban tiba akhir pekan, kuantarkan Ibu ke sebuah desa dalam rangka berobat pada seseorang yang memiliki keterampilan menyembuhkan berbagai penyakit. Kondisi tubuh Ibu tampak sempat membaik selama beberapa saat. Indikasinya terlihat ketika beliau mengeceknya di laboratorium umum kesehatan. Aktivitasnya pun sempat berjalan biasa, misalnya mengikuti acara pengajian atau menghadiri pertemuan keluarga besar. Namun hal tersebut nyatanya tak berlangsung lama. Yang terjadi sehabis itu malah penurunan kondisi tubuh yang sangat drastis. Ibu kemudian hanya bisa terbaring lemah di atas dipan. Akhirnya kami memutuskan membawa orangtua kami yang tinggal satu kembali ke rumah sakit. Masih lekat kuingat, hari itu Jumat pagi, tanggal 29 Desember.
***
Malam tahun baru, seorang diri di serambi lantai kesekian rumah sakit aku berdiri. Kusaksikan langit terang benderang oleh nyala kembang api dari beragam penjuru kota. Seingatku, baru sekali itu dapat kutatap secara leluasa kemeriahan malam pergantian tahun. Sayang sekali, di sampingku tiada sesiapa yang kukenal, apalagi orang-orang yang kusayangi. Dalam hati aku bersyukur masih diberi waktu mengalami satu lagi tahun baru. Secara khusus kumohon pada Tuhan, agar di tahun yang baru ibuku masih diberi anugerah berupa kesembuhan dari segala sakitnya dan kembali sehat seperti sediakala. Sudah memasuki malam ketiga aku menunggui Ibu di rumah sakit. Sehari setelah masuk rumah sakit dalam kondisi tidak sadar, beliau sempat membuka matanya dan mengatakan sesuatu tanpa suara. Setelah itu Ibu kembali terlelap, tanpa kami tahu kapan akan terjaga kembali. Kerabat kami yang menjadi dokter menyatakan bahwa harapan kesembuhan Ibu masih ada, tapi ia menganjurkan kami agar lebih banyak berdoa.

Pagi hari pertama tahun baru, Ibu mesti menjalani cuci darah. Sesungguhnya sejak masuk rumah sakit lagi, dokter sudah memutuskan akan melakukannya, tapi baru bisa terlaksana tiga hari kemudian berhubung harus mengantri. Ternyata cuci darah gagal dilaksanakan. Tubuh Ibu menolak proses medis tersebut. Terus terang, aku tak punya firasat apa-apa. Sekadar kucoba memahami bahwa Tuhan mungkin sedang mengabulkan keinginan Ibu yang enggan melakukan cuci darah lagi. Justru Mbak Atik, kakakku, yang wajahnya tampak memucat, ketika memberitahuku—yang menunggu di luar ruangan—tentang gagalnya proses cuci darah itu.

Tak lama berselang, Eyang Putri hadir dari Jakarta ditemani Om Adi, pamanku yang paling muda. Beliau duduk di kursi roda karena masih lelah seusai menempuh perjalanan darat Jakarta-Yogyakarta, namun wajah beliau tampak sangat tegar. Jujur saja, rada aneh aku menyaksikannya. Aku dan Mbak Atik kemudian menemani Eyang Putri beserta Om Adi menemui Ibu. Ada sesuatu yang tak terduga terjadi. Ibu membuka matanya dan meneteskan air mata, ketika Eyang Putri tepat berada di sampingnya. Entah pertanda apakah, aku tak berani berpikir lebih lanjut.

Kami meninggalkan rumah sakit sewaktu kakakku yang lain berdatangan, kendati belum semuanya. Kondisi Ibu sendiri relatif stabil dan tubuhnya yang bergeming dibawa kembali ke kamar rawat inapnya, sesudah proses cuci darahnya tidak berhasil dilakukan. Aku pulang bersama Eyang Putri dan Om Adi yang kuturunkan di rumah mertua Mbak Tari, kakakku lainnya. Aku diminta kakakku melakukannya karena aku sendiri belaka di rumah. Sementara ada Mbak Tari dan ibu mertuanya yang bisa melayani nenekku.


Telah kumiliki sejumlah rencana setibaku di rumah. Langsung kujalankan satu demi satu, dimulai dari menyiram tanaman, lalu kucukur kumis dan jenggotku yang sudah beberapa hari tumbuh memenuhi wajahku. Sehabis itu aku berencana mandi, makan siang, lantas kembali ke rumah sakit. Tapi kemudian Mbak Tari meneleponku, katanya kondisi fisik Ibu melemah. Aku sekadar sempat cuci muka, mengenakan baju bersih, dan bergegas pergi ke rumah mertua kakakku. Begitu aku sampai, Mbak Tari ternyata baru mendapat kabar lagi dari suaminya bahwa keadaan Ibu sudah membaik. Kami pun sepakat menunda rencana ke rumah sakit. Aku malah diajak makan siang bersama Eyang Putri dan juga Om Adi.

“Ibumu itu sosok yang begitu baik. Mungkin hanya satu di antara seribu orang yang seperti ibumu,” kata Eyang Putri.

Tubuhku bergeming belaka menyimak ucapan nenekku tentang putri kesayangannya, namun hatiku bergetar mendengarnya. Kuingat kondisi terakhir Ibu yang lemah tanpa daya di rumah sakit. Tinggal keajaiban Tuhan belaka yang kuharap bakal datang menyelamatkan nyawa perempuan yang melahirkanku ke dunia. Tiba-tiba kakakku menerima telepon dari suaminya yang memberitahukan bahwa kondisi Ibu kembali memburuk. Kali ini aku, Mbak Tari dan Om Adi segera bergegas menuju rumah sakit tanpa menundanya lagi. Eyang Putri memilih tetap berada di rumah mertua kakakku.

Kami bertiga datang terlambat ternyata. Begitu memasuki bangsal tempat ibuku dirawat, kakak iparku menyambut kedatangan kami dan mengatakan sesuatu dengan lirih.

“Baru saja Ibu sudah pergi. Kalian yang tegar ya, Dik.”

Aku dan Mbak Tari memasuki kamar menemui kakak-kakak kami yang berurai air mata. Kami pun saling berpelukan, berpadu dalam kesedihan yang sama. Seseorang yang sangat berarti sepanjang hidupku telah pergi untuk kembali ke hadirat Ilahi. Mesti berupaya keras diriku agar ikhlas menerima ketentuan-Nya. Maka sejak saat itu, sebatas menjadi kenanganlah segala hal tentang Ibunda. Hanya mampu kurasakan rindu, tanpa tahu bila waktunya dapat bertemu lagi dengan dirinya. Kadangkala sosok mungilnya hadir belaka dalam sejumlah bunga tidurku, tanpa kami bisa berkata-kata. 

Selasa, 26 Juli 2016

Riwayat Harjuna dan Teman Perempuan

Cerpen Luhur Satya Pambudi (Suara Merdeka, 17 Juli 2016)

Sudah sampai Juli lagi kini. Semenjak ada situs jejaring sosial, kita jadi selalu mampu memantau siapa saja yang berganti usia saban harinya. Mungkin sebagian sudah kita mengerti tanggal berapa hari lahirnya sejak dulu, namun ada juga yang baru ketahuan setelah terhubung Facebook. Setidaknya, jika kita lupa pun jadi mengingatnya dan mengucapkan selamat ulang tahun, tentu disertai sejumlah doa istimewa kala tiba masanya. Sesuatu yang baru belakangan disadari Harjuna–yang akrab dipanggil Juna—adalah  beberapa perempuan yang pernah dekat dengannya sama-sama memiliki tanggal lahir pada bulan ketujuh. Inilah sedikit riwayat yang pernah terjadi antara Juna dengan mereka.

***
Perempuan yang pertama berulang tahun setiap tanggal 4 Juli. Ia adalah adik kelas Harjuna sewaktu kuliah belasan tahun silam. Perlu waktu rada lama baginya hingga terasa ada yang berbeda di relung kalbu melihat gadis manis bernama Evalina. Sampai akhirnya Juna memutuskan mendatangi rumahnya, mengajaknya berkenalan, dan mereka sempat cukup dekat sebagai teman. Eva berparas menawan dengan rambut panjangnya nan indah biasa dibiarkannya tergerai secara alami. Sosoknya kadang mengingatkan Juna pada aktris favoritnya, Sandra Bullock, terutama ketika bermain dalam film “While You Were Sleeping”. Eva sangat rajin kuliah dan cerdas pula, terbukti dari buku catatannya yang lengkap dan rapi, lantas ujiannya lebih banyak mendapatkan nilai A. Tidak sedikit teman kuliahnya yang meminjam buku catatannya untuk difotokopi menjelang tiba masa ujian, termasuk Juna pun demikian.
Semakin kerap berjumpa dan berbincang dengan Evalina, Harjuna paham telah luluh hatinya pada seorang adik kelasnya yang cerdas semata. Namun ia tak mau tergesa menyatakan apa sejatinya kata sanubari. Juna ingin pertemanannya dengan Eva berjalan kira-kira setahun, sehabis itu barulah ia menjadikan sang gadis sebagai kekasihnya. Namun ketika momentumnya tiba, Juna mesti gigit jari dan malah patah hati. Perempuan pujaannya ternyata telah menerima cinta lelaki yang lebih dulu berkawan dekat dengannya. Satu kejutan bagi Juna, lantaran hubungannya dengan Eva terasa kian hangat selama beberapa bulan terakhir. Koyaklah segala asa yang sempat Harjuna angankan, yaitu menjalani masa membahagiakan bersama Evalina seorang.



***
Perempuan yang lahir 8 Juli merupakan kakak kelas Harjuna di bangku SMA. Wajah Jullya mirip dengan aktris senior Neni Triana dalam versi mudanya, cantiklah tentu saja. Di masa lalu, sepertinya belum menjadi sesuatu yang lazim bagi seorang remaja lelaki mencintai lawan jenisnya yang berusia lebih tua. Tentu berbeda dengan apa yang terjadi kini. Maka Juna hanya sanggup menjadi pemuja rahasia Jullya, siswi yang terpandang di sekolah lantaran kecantikannya. Demi menunjukkan kekagumannya, Juna sebatas mengirimkan kartu ulang tahun ke alamat rumah Jullya, selama mereka menuntut ilmu di SMA yang sama. Selebihnya, Juna menulis sejumlah puisi berisi sanjungan yang hanya pernah dibacanya sendiri. Ketiadaan tanggapan dari sang dara membuat Juna berhenti menyukainya ketika kakak kelasnya tersebut lulus SMA. Sehabis itu, tiada satu pun kabar yang ia tahu tentang gadis pujaannya.
Tujuh belas tahun kemudian, Harjuna mendapati profil Jullya di Facebook. Justru perempuan cantik tersebut suatu ketika menyapa dirinya lebih dulu. Juna merasa tersanjung diajak bicara idolanya pada zaman baheula, kendati lewat tulisan belaka. Ia cukup terperanjat ketika mengetahui bahwa status Jullya adalah janda. Juna—yang masih lajang—membuka kemungkinan berhubungan serius dengan mantan kakak kelas favoritnya. Ia mengajaknya bertatap muka dan gayung pun bersambut. Hasrat terpendam Juna yang ingin merasakan kedekatan ragawi dengan Jullya—sejak masa silam—akhirnya menjadi kenyataan. Ia berusaha menelusuri jejak perasaan yang dulu pernah ada untuk perempuan itu, tapi tak kunjung ditemukannya. Di sisi lain, Jullya malah memilih kembali menjalin hubungan dengan lelaki yang sempat memutuskan hubungan kekasihnya, sebelum ia bertemu Juna. Namun demikian, lelaki itu jadi bisa menyampaikan selamat ulang tahun lagi pada perempuan pujaannya, setelah belasan tahun tak pernah dilakukannya.

***
Perempuan ketiga yang lahir 22 Juli laksana bidadari yang membumi bagi Harjuna selama beberapa saat. Namanya Zahra, seorang dara elok keturunan Arab dengan alis tebal, mata cemerlang, hidung mancung, dan bibir merekah. Raut mukanya laksana Kareena Kapoor, aktris kondang dari India yang waktu itu mulai terkenal namanya di Indonesia. Ketika pertama menatapnya, Juna langsung terpukau dan tak mampu berkata apa-apa. Zahra merupakan teman kerabat Juna yang datang dari luar kota dan menjadi perantara perkenalan mereka berdua.
Relasi antara Juna dan Zahra menjadi kian akrab berhubung mereka tinggal di kota yang sama. Sesudah saling berkirim pesan melalui telepon seluler semata, mereka akhirnya berjumpa kembali di alam nyata. Zahra yang senang bicara dan punya banyak cerita sungguh menarik hati Juna. Sejujurnya, Juna begitu terpesona dan tak ingin sebatas berteman biasa dengan Zahra yang kecantikannya bagaikan bidadari. Sayang sekali, gadis rupawan itu telah memiliki tambatan hati sendiri. Harjuna pun hanya mampu bermuram durja kembali.

***
Ada perempuan lain yang sesungguhnya masih memiliki hubungan dekat dengan Harjuna di masa kini. Namanya Ivana. Ia lahir pada 12 Juli. Tapi Juna sadar benar, mereka tak mungkin lebih dekat lagi karena Ivana telah memiliki sebuah keluarga nan bahagia. Juna sudah bersyukur dan cukup bersukacita memiliki sahabat baik yang rona wajahnya sekilas seperti Cathy Sharon itu. Mereka berkenalan kira-kira empat tahun silam sebagai rekan bekerja, hingga berjalannya waktu membuat mereka berdua menjadi kawan karib. Ketika tiba hari ulang tahunnya setahun silam, Juna mengatakan selamat seraya mencium pipi kanan dan kiri sang perempuan untuk pertama kalinya sejak perkenalan mereka tempo hari. Harjuna sudah telanjur menganggap Ivana ibarat adik kandungnya sendiri. Ia melakukannya sekadar pertanda sayang dari seorang kakak laki-laki. (92)


Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media massa, di antaranya Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jabar, Lampung Post, dan Horison. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku.