Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2015. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2022

Disharmoni Sebuah Keluarga


Sesiapa yang pernah melihat keluarga Pandu agaknya sepakat, keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan tersebut merupakan keluarga harmonis. Pandu adalah lelaki berwajah tampan dengan pekerjaan yang mampu membuatnya membeli sebuah rumah asri dan mobil bagus. Istri Pandu yang bernama Saras adalah perempuan ayu yang luwes. Ia sempat bekerja di tempat usaha kakaknya, tapi belakangan Saras memilih berkonsentrasi menjadi ibu rumah tangga, seraya mencoba berbisnis sendiri di rumah. Putri tunggal mereka, Mayra, yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar memiliki sejumlah prestasi. Ia menjadi juara kelas, pandai melukis, pintar bernyanyi, dan dikenal sebagai sosok penyayang di mata tetangganya.

Senyuman senantiasa tercurah dari orang-orang jika berjumpa dengan mereka. Seakan kebahagiaan sudah berkawan karib dengan Pandu beserta istri dan anaknya. Selayaknya jua andaikata banyak yang ingin merasakan keluarganya sempurna laksana mereka. Namun apa yang terlihat secara kasat mata ternyata tak selalu benar selamanya.

Pada sebuah malam, terdengarlah tangisan dan jeritan histeris seorang perempuan. Tetangga paling dekat di sekitar rumah Pandu bergegas keluar mencari asal suara. Ternyata itu suara Mayra! Apakah gerangan yang terjadi? Bu Joko, Bu Wirya, Pak Wirya, dan Andra bergegas menuju tempat tinggal keluarga Pandu. Sebuah prahara rupanya telah singgah di rumah tangga Pandu.

“Lho, ada apa ini?” tanya Bu Joko panik.
Pintu depan kebetulan terbuka dan mereka pun memasuki rumah Pandu. Di dalam rumah, tampaklah Mayra memeluk ibunya yang terkulai lemah di lantai. Sementara Pandu berdiri terpaku dengan napas terengah-engah, tak jauh dari situ.
“Tolong mama saya, Bude. Papa sudah jahat pada Mama!” teriak Mayra menuding ayahnya. Pak Wirya mengajak Pandu ke luar ruangan, sementara Bu Joko, Bu Wirya, dan Andra mengangkat tubuh Saras yang ternyata pingsan ke atas tempat tidur.

“Nak Pandu, apa yang sudah terjadi tadi?” tanya Pak Wirya di serambi rumah Pandu.
“Maaf, Pak Wirya. Ini urusan internal rumah tangga saya. Bapak tak usah turut campur!” sahut Pandu dengan raut wajah tegang dan tetap dalam posisi berdiri.
“Sebaiknya kamu duduk dulu, Nak Pandu. Bukannya kami turut campur, tapi siapa tahu kami bisa membantu sesuatu? Ini air putih diminum dulu, supaya kamu tenang.”

Pandu bersedia duduk dan meminum air putih yang dibawakan Andra, anak Pak Wirya yang disuruh ibunya keluar. Sekian menit pun berlalu dalam keheningan. Seraya mengatur napasnya, Pandu yang mulai tenang kembali berucap,
“Hmm, maukah Pak Wirya melihat kondisi istri saya? Katakan padanya, saya mengkhawatirkannya.”
“Baiklah. Andra, tolong temani Mas Pandu, ya.”
Pak Wirya berjalan memasuki kamar. Dilihatnya Saras yang wajahnya terlihat pucat sudah dalam keadaan sadar di atas dipan. Sementara Mayra sedang menceritakan apa yang terjadi kepada ibu-ibu tetangga yang biasa dipanggilnya dengan ’Bude’.
“Mama sudah tahu bahwa Papa selingkuh. Tapi, Papa tidak terima dibilang seperti itu. Dia marah dan menggampar Mama sampai jatuh lemas. Bude tahu kan, mama saya punya penyakit? Huh, Papa jahat sekali! Tega dia berbuat begitu pada istrinya, pada ibu anaknya sendiri!” tukas Mayra emosional.

Saras menangis melihat kemarahan anaknya, sementara Bu Joko dan Bu Wirya mencoba menenangkan Mayra, kendati berkaca-kaca pula mata mereka. Pak Wirya yang berdiri di dekat pintu menggeleng-gelengkan kepala, menghela napas seraya berzikir agar bisa lebih menyabarkan dirinya. Tak lama berselang, Pak Wirya kembali menemui Pandu yang berada di luar rumah.

“Nak Pandu, istrimu sudah sadar. Jika kondisimu tenang, tak ada salahnya menemuinya sekarang,” ujar Pak Wirya.
“Terima kasih, Pak. Mungkin lebih baik saya pergi dulu. Saya masih perlu waktu agar bisa menenangkan diri,” sahut Pandu yang segera beranjak menuju mobilnya dan membawanya pergi.

Pagi hari berikutnya, mobil Pandu telah terlihat lagi berada di depan rumahnya. Barangkali perdamaian sudah terjadi dan kerukunan kembali bersemi. Tetangga terdekat mereka, seperti keluarga Pak Wirya maupun Bu Joko merasa lega mengetahui kondisi rumah tangga Pandu yang agaknya harmonis kembali. Kendati demikian, mereka masih belum yakin, mengingat gonjang-ganjing keluarga tersebut -menurut cerita Mayra- berpangkal dari perselingkuhan Pandu. Sesuatu yang penting kemudian terjadi. Memang tiada kehebohan seperti tempo hari. Pandu serta merta pergi begitu saja pada sebuah malam. Suara mobilnya terdengar kencang melaju meninggalkan tempat tinggalnya.

“Mas Pandu sudah pergi, Bu. Kami akan bercerai secepatnya,” sahut Saras ketika esok paginya ditanya Bu Wirya.
“Apa kalian sudah pikir matang rencana itu? Bagaimana dengan masa depan Mayra? Kasihan dia, jika orangtuanya mesti berpisah.”
“Mas Pandu sudah tidak mencintai saya. Lagi pula saya sudah telanjur kecewa dengan sikapnya yang mendua. Dan percayalah, Mayra akan baik-baik saja bersama saya.”

***
Keluarga harmonis tinggal kenangan bagi Pandu, Saras, dan Mayra. Tanpa suaminya, Saras mesti menanggung sendiri biaya kehidupannya bersama putrinya. Apalagi kedua orangtuanya telah tiada. Biasanya Saras menjual kain dan perhiasan pada ibu-ibu tetangga maupun temannya arisan sebagai bisnisnya selama ini. Tapi terjadinya krisis ekonomi di masyarakat membuat laju bisnisnya terhambat jalannya.

Terpaksalah Saras meminjam uang pada tetangga dan teman-temannya guna membayar kebutuhan hidup kesehariannya. Proses perceraiannya dengan Pandu sendiri telah dimulai. Jika dikabulkan, tentu Saras akan mendapatkan harta gono-gini dari harta bersamanya dengan Pandu. Ia juga menuntut ayah Mayra membiayai keperluan hidup anak mereka satu-satunya. Namun proses yang dijalaninya ternyata tidak secepat harapannya. Maka Saras semakin menjadi-jadi dalam berhutang. Satu kesalahannya adalah tidak mengubah gaya hidupnya yang selama ini terbilang mewah. Padahal kakaknya semata wayang pun telah cukup membantu biaya hidupnya selama ini.

“Dulu, saat masih ada Pandu, wajarlah kalau gaya hidupnya seperti itu. Tapi sekarang, Saras sendiri tak punya pekerjaan, kok gayanya masih seperti orang kaya, ya?” keluh Bu Joko kepada Bu Wirya.
“Sebetulnya saya pernah mengimbau Nak Saras tentang hal itu, saat dia pinjam uang. Tapi, semua itu kembali pada yang menjalaninya, kan? Oh ya, apa Bu Joko meminjamkan uang pada Nak Saras juga?”
“Terus terang, saya tak sanggup membantunya. Untuk membiayai hidup anak-anak saya saja sudah pas-pasan.”
“Sayang ya, padahal dulu mereka keluarga paling harmonis di lingkungan ini dan menjadi kesayangan kita semua. Sekarang kok begitu nasibnya?” ujar Bu Wirya prihatin.

***
Ketika hutangnya terus bertambah dan bantuan dari saudaranya tak lagi mencukupi, Saras memutuskan menjual rumah yang ditinggalinya selama ini. Kebetulan, rumah itu sudah diatasnamakan Saras sejak semula. Bukan atas nama Pandu, lelaki yang pernah mencintainya dahulu, tapi telah mencampakkannya kini.

“Tolong ya, ibu-ibu. Kalau ada teman atau saudaranya yang mau membeli rumah saya, silakan segera menghubungi saya. Harganya berkisar seratus lima puluh juta rupiah dan jelas bisa dinegosiasikan,” pesan Saras di depan arisan ibu-ibu.

Tak berselang lama, berdatanganlah calon pembeli rumah Saras. Sayangnya, ia begitu teguh pendirian pada angka yang ditetapkannya. Memang berat baginya menurunkan harga karena hutangnya yang menggunung harus dilunasi segera. Terakhir, ada calon pembeli yang menawarkan harga seratus dua puluh lima juta rupiah, Saras tetap bergeming dan enggan melepasnya.

“Pokoknya, Mama baru mau melepas rumah kita, kalau ada yang membelinya minimal seratus empat puluh juta,” tegas Saras di depan putrinya.
“Ma, daripada rumah kita tidak laku, kenapa tidak segera dilepas saja, sih? Kita itu sedang perlu banyak uang, tidak hanya demi membayar hutang Mama, tapi juga membiayai keseharian kita. Dan buat kita, angka seratus dua puluh lima juta itu bukan angka yang kecil, kan?” Mayra begitu menyayangkan sikap ibunya.
“Mama masih yakin ada yang mau membeli rumah kita dengan harga yang Mama tetapkan. Tunggulah sebentar lagi, May.”

Ternyata sepekan sesudah Saras menolak calon pembeli terakhirnya, gempa yang begitu dahsyat melanda kota tempat tinggalnya. Kepanikan melanda semua orang pada hari itu. Korban jiwa berjatuhan dan banyak bangunan mengalami kerusakan, bahkan hancur berantakan. Rumah Saras termasuk kategori rusak berat, kendati masih beruntung karena belum sampai ambruk. Tapi Saras dan Mayra tidak berani kembali menempati rumah yang menjadi tak layak huni tersebut. Mereka pun mengungsi dan memilih menumpang di rumah kakak Saras.

Sementara itu, proses perceraian Saras dan Pandu telah sampai pada putusan hakim. Mereka akhirnya resmi berpisah. Saras mendapatkan haknya atas harta gono-gini. Mayra ditetapkan tinggal bersama ayahnya. Saras lantas menghilang dari kotanya demi menghindari orang-orang yang hendak menagih hutangnya. Hidupnya pun dilanda kecemasan tak berkesudahan. Sekiranya waktu itu Saras jadi menjual rumahnya sepekan sebelum gempa, barangkali ia masih dapat hidup lebih tenang, kendati tanpa Pandu dan Mayra lagi bersamanya.

TAMAT

# Cerpen ini pernah dimuat di Bangka Pos Minggu, 8 Februari 2015.

Minggu, 13 September 2020

Sebuah Riwayat Cinta Singkat


Dua bulan silam, Om Himawan datang ke rumah kami bersama Eyang Putri. Paman dan nenekku tinggal di Jakarta, sementara kami berada di Yogyakarta. Eyang Kakung sudah tutup usia sekian tahun silam. Om Himawan merupakan adik kandung bapakku. Dalam usianya yang hampir empat puluh lima, ia masih melajang. Tiga orang adiknya malah lebih dahulu berkeluarga. Bahkan keponakannya, termasuk kakak perempuanku, sudah ada yang menikah pula. Seorang perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengannya akan diperkenalkan kepada pamanku. Eyang Darsono, sahabat keluarga Eyang Kakung yang memiliki inisiatif untuk menjodohkan Om Himawan dengan keponakannya yang tinggal di Yogyakarta. Setahuku, Eyang Darsono sudah berteman karib dengan mendiang kakekku semenjak puluhan tahun silam. Hubungan beliau dengan keluarga besar kami memang terjalin dengan apik, termasuk sepeninggal Eyang Kakung. Om Himawan sendiri semula enggan dijodohkan dengan keponakan Eyang Darsono, namun ia mencoba menerimanya. Aku tak terlalu paham mengapa pamanku belum menikah, padahal ia memiliki karier pekerjaan yang cemerlang dan bahkan telah memiliki rumah sendiri. Mungkin lantaran masalah jodoh sejatinya memang rahasia Ilahi. Kendati demikian, Om Himawan memilih tinggal bersama ibu dan seorang adiknya yang telah berkeluarga. Rumah miliknya justru disewakan karena lokasinya jauh sekali dari tempatnya bekerja.

Bapak, Ibu, dan Eyang Putri yang mengantarkan Om Himawan mengunjungi rumah orangtua Tante Cemara, perempuan yang diharapkan menjadi istri pamanku. Yang penting, mereka berdua dipertemukan lebih dahulu. Andaikata mereka memiliki kecocokan, keluarga kedua belah pihak tentu siap mendukung sepenuhnya pernikahan mereka. Namun kami tak kuasa memaksa mereka berdua agar menjadi sepasang kekasih. Yang lantas terjadi, tampaknya Om Himawan maupun Tante Cemara bersedia serius saling menjajaki satu sama lain. Mereka berdua pun bertukar nomor telepon dan akan melakukan komunikasi intensif, meski kebersamaan mereka terpisah oleh jarak dua kota. Om Himawan bahkan berjanji kembali ke Yogyakarta selekasnya, supaya dapat berbicara dari hati ke hati secara empat mata dengan Tante Cemara yang telah resmi menjadi kekasihnya.

***

Sejak saat itu, hampir setiap akhir pekan Om Himawan berada di Yogyakarta untuk menemui Tante Cemara. Hubungan mereka berdua cenderung semakin akrab hari demi hari. Pamanku pun bercerita kepada kami soal riwayat cintanya yang terus berkembang dan terlihat indah.

“Saya dan Jeng Ara sudah makin mantap menuju pelaminan. Saya mohon dukungannya dari semua di sini, ya,” ujar pamanku di depan keluarga kami.
“Dik Wawan tak usah khawatir, kami justru senang sekali jika kamu akhirnya menikah dan bahagia bersamanya,” sahut ibuku dengan rona wajah sumringah.
“Iya, pokoknya semua di sini siap mendukung sepenuhnya, demi kebahagiaan Om Wawan,” ucapku yang serta-merta ikut berkomentar saja.
“Terima kasih, ya,” kata pamanku terharu.
”Lalu kapan rencanamu melamarnya?” tanya Bapak.
”Insya Allah, dua minggu mendatang saya akan membawa Ibu kemari lagi untuk secara resmi melamar Jeng Ara.”

Maka sebulan lalu, Om Himawan jadi melamar Tante Cemara. Rombongan keluarga besar kami terdiri dari sepuluh orang. Selain keluarga Bapak yang tinggal di Yogyakarta, ada adik Eyang Putri yang hadir, demikian pula paman dan bibiku termasuk dalam rombongan. Tante Cemara tak memiliki alasan apa pun untuk menolak lamaran itu. Tanggal pernikahan memang belum ditentukan kepastiannya, karena masih akan dibicarakan oleh pihak keluarga yang lebih berkompeten. Tapi jangka waktunya direncanakan dalam dua bulan sesudah acara lamaran tersebut.

Wajah Om Himawan tampak berseri-seri sekembalinya kami dari rumah Tante Cemara pada Sabtu malam itu. Sungguh berbeda dengan saat kami berangkat dari rumah, ia terlihat pucat pasi dan tegang sekali. Namun beberapa jam kemudian, tanpa sengaja kulihat pamanku melamun sendirian di teras rumah kami kala tengah malam. Kebetulan aku terjaga karena bermaksud ke kamar mandi. Kulihat pintu ruang depan yang terbuka, lantas kuhampiri pintu tanpa suara. Om Himawan ternyata tampak berada di luar sana. Aku bergeming belaka, tak ingin kuusik pamanku yang sedang menikmati kesendiriannya. Barangkali ia tengah membayangkan masa depannya, hidup bersukacita bersama kekasihnya. Aku pun memilih kembali ke tempat peraduanku.

***

Dua minggu setelah acara lamaran pamanku, sebuah kabar sangat mengejutkan kami terima dari Jakarta. Pagi hari itu pamanku tak kunjung bangun dari tidurnya. Sekitar jam sepuluh, Om Prasetyo yang tinggal serumah dengannya berinisiatif memanggil dokter dari klinik terdekat agar melihat kondisi Om Himawan. Setelah diperiksa oleh sang dokter, ternyata jasad pamanku semata yang terbujur kaku di atas dipan. Om Himawan divonis terkena serangan jantung dan nyawanya telah pergi dari raganya.

”Apakah Jeng Ara sudah diberitahu?” tanya Bapak setelah mendapat berita duka tersebut melalui telepon.
”Belum, Mas. Kami tidak tahu bagaimana caranya mengabarkan hal itu pada Mbak Ara. Jadi, kami minta tolong keluarga di Jogja yang menyampaikannya, ya,” jawab Om Prasetyo penuh harap.
”Tugas yang berat, Pras. Tapi kami memang mesti memberitahu Jeng Ara, apa pun risikonya. Semoga kami sudah sampai di Jakarta besok pagi.”

Bapak dan Ibu bergegas mendatangi rumah orangtua Tante Cemara siang itu. Kami belum memberitahunya bahwa Om Himawan sudah tiada, lantaran tidak tega dan tak bisa membayangkan bagaimana reaksinya menerima kabar sedih tersebut. Kami hanya diharapkan segera datang ke Jakarta karena kekasih Tante Cemara dikabarkan dalam kondisi kesehatan yang kritis. Sore harinya, kami meninggalkan Yogyakarta dengan kereta api. Aku ikut mendampingi bapak ibuku maupun calon istri mendiang pamanku dalam perjalanan itu. 

Semalaman aku tak bisa tidur, tapi terus saja kucoba memejamkan mata. Aku hanya berusaha agar tak sampai berbicara apa-apa dengan Tante Cemara. Tentu aku tak mau, jika sampai lepas kendali dan malah mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya soal Om Himawan. Sepertinya Bapak maupun Ibu melakukan hal yang sama denganku.
Fajar tengah merekah ketika kami naik taksi menuju rumah Eyang Putri, tempat jenazah Om Himawan disemayamkan. Aku duduk di sebelah sang pengemudi. Ibuku, yang berada di samping Bapak dan Tante Cemara, akhirnya berbicara terus terang.

”Tolong, Jeng Ara yang tegar, ya. Sebetulnya, Mas Wawan sudah meninggal siang kemarin. Kita hari ini datang ke Jakarta untuk menghadiri pemakamannya,” ucap Ibu terbata-bata seraya menahan emosinya.

Sempat hening sesaat. Pandanganku tetap tertuju ke arah jalan. Terdengarlah kemudian suara isak tangis Tante Cemara belaka. Ibu maupun Bapak berusaha menenangkan perasaannya yang jelas sangat terluka. Sementara diriku bergeming belaka. Kusimpan duka nan dalam nian, membuat sesak di dada terasa begitu dominan. Sekejap terlintas di benakku segala yang terjadi selama dua bulan berselang, termasuk ketika kulihat pamanku melamun di teras rumahku seusai ia melamar kekasihnya. Apakah hal itu sejatinya pertanda sesuatu? Entahlah. Yang jelas, betapa singkat ternyata riwayat cinta yang terjadi antara Om Himawan dan Tante Cemara pada akhirnya.

# Cerpen ini dimuat di Bangka Pos, 22 November 2015 dengan judul “Riwayat Cinta Himawan”.

Sabtu, 30 Mei 2020

Lebaran Terakhir Mama dan Ibunya


Nenek datang ke kota kami ditemani istri pamanku dan salah satu sepupuku, seminggu menjelang Idul Fitri. Beliau sudah tak kuasa membendung rindu dan begitu ingin menjumpai putri kesayangannya yang baru pulang setelah dua pekan dirawat di rumah sakit. Mereka menginap di rumah Kak Okta dan rencananya akan berlebaran bersama kami di sini. Pada hari itu, kakak sulungku tersebut mesti mengantarkan Mama kembali ke rumah sakit. Waktu pemeriksaan sebelumnya, dokter tidak mengatakan hal yang signifikan. Tapi saat pemeriksaan kedua, ternyata dokter mengharuskan Mama untuk cuci darah secara rutin. Menjelang diperbolehkan pulang tempo hari, beliau memang sempat sekali melakukan cuci darah. Divonis seperti itu, Mama malah memutuskan tidak mau kembali ke rumah sakit.

“Saya tentu saja mau sembuh dan bisa sehat lagi, Bu. Tapi saya tetap pada prinsip saya bahwa menjalani cuci darah cukup sekali seumur hidup. Dan pada sisi yang lain, jika sewaktu-waktu Allah memanggil, saya yakin sudah siap,” ujar Mama di depan Nenek yang merasa trenyuh mendengarkan kata-kata putrinya.
“Ya, semoga Allah mengabulkan keinginanmu, Nak. Ibu menghargai pilihanmu dan sebatas dapat mendoakan yang terbaik bagimu.”

Mama justru menerima tawaran adik iparnya dengan mencoba pengobatan alternatif. Lima hari menjelang lebaran, kami mencari tempatnya di sebuah desa, tak terlalu jauh dari kota kami. Setelah bertanya berkali-kali, akhirnya lokasi yang kami tuju barulah ketemu, sekitar dua jam kemudian. Selanjutnya, pada hari terakhir puasa kuantarkan Mama ke tempat itu kembali. Sepertinya beliau cukup percaya bahwa di situlah adanya sebersit asa demi kesembuhan penyakitnya.  

***  

Ketika Idul Fitri tiba, cerialah hati kami semua. Ada Nenek dan Mama beserta segenap anak cucunya berkumpul di rumah Kak Okta. Padahal sudah lama kami tidak berlebaran bersama Nenek di kotanya, tapi kali ini terasa istimewa karena justru beliau yang hadir kemari. Semoga masih bakal hadir kembali indahnya kebersamaan serupa itu pada tahun mendatang. Begitulah asaku dalam kalbu. Kendati masih dibayangi keprihatinan lantaran Mama belum sembuh benar, syukurlah bahwa kami masih bisa bercengkrama dan bersukacita di hari lebaran. Seminggu sehabis Idul Fitri, Mama yang sempat tinggal di rumah Kak Okta sepulangnya dari rumah sakit, akhirnya kembali ke rumahnya sendiri untuk tinggal bersamaku dan Kak April belaka. Nenek sudah lebih dahulu pulang ke kotanya, tiga hari sebelumnya.

Selama sekian pekan berselang, laksana ada harapan Mama bakal sembuh seperti sediakala, sesudah seminggu sekali menjalani pengobatan alternatif di desa. Aku tahu, beliau sungguh berat menjalaninya. Mama diharuskan diet sangat ketat dan minum jamu super pahit dari sang tabib. Tapi lambat laun, kondisi kesehatan Mama nyatanya kembali melemah. Bahkan untuk dibawa kembali ke rumah sang tabib sekalipun, beliau sudah tak lagi sanggup. Mama pun tergolek tanpa daya di tempat tidurnya semata. Sesekali saja matanya terbuka, sempat terucap sepatah dua patah kata, lalu mata itu terpejam lagi.



Berdua belaka diriku dan Kak April yang tengah menunggui Mama di dalam kamar malam itu. Sejak pagi hingga petang, kakak-kakakku telah datang dan pulang bergiliran. Mama sempat terjaga, lalu bicara dengan suara keras yang tak kami pahami kata-katanya, tatkala hari masih pagi. Sehabis itu, beliau kembali terlelap dan tak kunjung lagi membuka matanya. Kendati masih kuharap benar Mama akan pulih kembali, tapi melihat kondisi terakhirnya, aku mesti berani berpikir alternatif. Aku pun mengajak bicara kakakku.

“Seandainya Mama akhirnya dipanggil Allah, bagaimana sikap Kak April?”
“Jika memang itu yang terbaik untuk Mama, aku bakal ikhlas menerimanya. Kasihan, jika kondisi Mama terus begini.”

Takjub diriku mendengar jawaban Kak April. Kakakku yang satu ini hampir saban hari menangis terharu ketika menonton sinetron kesayangannya. Menghadapi kenyataan serupa itu, ternyata dia justru memperlihatkan ketegaran jiwanya yang luar biasa. Baru usai kami bicara, Mama membuka matanya dan mengisyaratkan ingin tahu apa yang kami perbincangkan.

“Mama masih punya semangat hidup, kan?” tanyaku serta merta tanpa rencana.
“Masih, dong,” sahut Mama cukup jelas, tapi lantas tertutup lagi matanya.

Entah apakah Mama sempat mendengar pembicaraan kami sebelumnya atau tidak. Tak lama berselang, Kak Okta datang dan bersedia tidur di rumah kami.
Akhirnya kami memutuskan membawa Mama kembali ke rumah sakit, setelah semalaman hingga pagi hari berikutnya beliau tak lagi membuka matanya. Kata dokter, jantungnya sudah terdeteksi sangat lemah. Dan seolah tiada lain pilihan, dokter memutuskan bahwa Mama wajib kembali menjalani cuci darah. Kami hanya pasrah serta terserah apa maunya dokter saja, tentu demi pulihnya kondisi kesehatan satu-satunya orangtua kami yang tersisa. Malam harinya aku bertugas menjaga Mama di rumah sakit sampai menjelang siang hari selanjutnya. Ketika aku bermaksud kembali ke rumah, Mama sempat membuka matanya sekejap belaka.

“Ma, saya pulang dulu, ya. Nanti sore saya kemari lagi,” ujarku.

Mama tersenyum tipis menanggapi pamitku. Tanpa suara, beliau mengatakan terima kasih. Begitu kuucapkan salam, Mama membalasnya dengan tidak bersuara pula. Ternyata itulah saat terakhir kutemui ibuku dalam kondisi sadar. Mama tak pernah kembali terjaga dari tidurnya. Proses cuci darah yang direncanakan dokter sebenarnya sempat dijalankan, tapi gagal total. Tuhan mengabulkan hasrat Mama yang tak sudi melakukan cuci darah lagi. Mama mengembuskan napas terakhirnya, setelah sempat bertemu dengan Nenek yang tiba-tiba secara khusus hadir lagi demi menemui putrinya. Tampaknya mereka berdua tahu apa yang akan terjadi dan mendapatkan izin-Nya untuk berjumpa terakhir kalinya. Mama padam nyawa tepat sehari sehabis Idul Adha. Dengan sukarela tak kuikuti shalat Id pada pagi sehari sebelumnya karena tak tega meninggalkan sendiri orangtuaku yang tinggal satu. Dan ternyata memang tinggal tersisa sedikit waktu merasakan kebersamaan dengan Mama tercinta. 

***  

Seseorang pernah berkata kepadaku, ketika kita kehilangan salah satu orangtua, dan sudah ada seseorang yang menjadi pasangan hidup, rasa kehilangan itu tak akan sedalam jika masih sendiri. Tapi menurutku, manakala itu terjadi dan salah satu orangtua kita ternyata masih ada, rasanya tak terlalu menyedihkan pula. Nah, jika orangtua kita tinggal satu dan dia pun pergi selamanya, seorang pasangan hidup menjadi alternatif pengobat rasa kehilangan yang mujarab. Mengapa dia hanya menjadi salah satunya, lantaran yang terpenting adalah keikhlasan hati dan kepasrahan jiwa kepada Ilahi menerima kenyataan. Demikianlah yang kualami. Tatkala belum ada perempuan yang berstatus sebagai istriku, mesti kuterima takdir-Nya bahwa Mama tutup usia, berselang lima belas tahun sepeninggal Papa. Syukurlah, sanggup tegar belaka kuhadapi segala yang ada.

Tepat seratus tujuh hari setelah wafatnya Mama, Allah SWT menghendaki Nenek kembali ke hadirat-Nya pula. Dalam waktu kurang dari empat bulan, harus kulepas kepergian selamanya dua perempuan yang sangat kusayangi dan kuhormati. Berkat keberadaan mereka jua, maka aku hadir di atas buana dan senantiasa mendapatkan doa restu dalam setiap langkah kehidupan. Idul Fitri tempo hari ternyata merupakan lebaran terakhirku bersama Mama dan ibunya. Apa yang menjadi ketentuan Ilahi adakalanya sungguh tak terduga. Senantiasa bersiagalah kita menghadapinya.


# Cerpen ini dimuat di Koran Merapi Minggu, 26 Juli 2015.