Pendidikan tak melulu pamrih memuja rasionalitas dan menuruti embusan modernisasi.
Pendidikan adalah urusan adab, iman, identitas, seni, bahasa, dan karakter.
(Rabindranath Tagore)
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 Januari 2020
Senin, 04 November 2019
Ujung Tombak Budi Pekerti
Inilah harapanku : bahwa bahasa sastra seni adalah ujung tombak budi pekerti. Berbudi sekaligus berpekerti. Budi pekerti itu berwatak moral dan operasional sekaligus. Jadi dengan kesenian, seseorang tak hanya harus bisa hidup secara layak, tapi harus menjadi penggerak masyarakatnya.
(Prie GS)
(Prie GS)
Rabu, 20 April 2016
Pujangga Mendapat "Beasiswa"
Mpu Tantular, yang hidup di era Majapahit Raja Hayam Wuruk abad ke-14, diminta menulis karya yang bisa dijadikan sesuluh kerajaan. Lahirlah Kekawin Sutasoma yang di dalamnya terdapat "kata sakti": bhinneka tunggal ika - kata yang kini jadi sesanti negeri ini. Meski dibiayai hidupnya untuk menulis, pujangga ini tak terpengaruh oleh pesanan, bahkan nama yang dipakai, Tantular, artinya tak terpengaruh.
Tak cuma Tantular yang diberi "beasiswa" oleh Hayam Wuruk. Ada pujangga lain, Mpu Prapanca, yang kemudian melahirkan Kekawin Negarakertagama yang termasyhur itu. Kisah ini memang sejenis reportase kerajaan, namun dengan keindahan bahasa, kekawin dengan 98 pupuh (sajak bertembang) ini begitu indah, melampaui zamannya.
(Putu Setia dalam esai "Pujangga" di tempo.co)
Sabtu, 29 November 2014
Fungsi Hakiki Bahasa
Fungsi bahasa yang khas dan sangat hakiki ada dua, yaitu untuk mengembangkan akal budi dan untuk memelihara kerja sama. Revolusi mental dimungkinkan kalau orang kembali menyadari fungsi hakiki bahasa.
Kalau kita kaitkan bahasa, lalu pengembangan akal budi, memelihara kerja sama, itu semua memungkinkan terciptanya kebudayaan. Jejak dan langkah manusia demi penghidupan dan kehidupannya itulah kebudayaan.
(Sudaryanto - doktor linguistik UGM)
Kalau kita kaitkan bahasa, lalu pengembangan akal budi, memelihara kerja sama, itu semua memungkinkan terciptanya kebudayaan. Jejak dan langkah manusia demi penghidupan dan kehidupannya itulah kebudayaan.
(Sudaryanto - doktor linguistik UGM)
Langganan:
Postingan (Atom)