Rabu, 04 Januari 2012

Lebih Bersyukur Seusai Pentas Teman-teman Tunarungu



Beberapa hari menjelang pergantian tahun, tepatnya pada Rabu, 28 Desember 2011, ada sebuah pertunjukan seni yang tidak biasa tersaji di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah komunitas seni yang terdiri dari teman-teman kita yang tunarungu, yang bernama Deaf Art Community (DAC), memperingati hari jadinya yang ke-7 sekaligus membuat pementasan bertajuk ”Aku Ingin Menjadi Kupu-Kupu”. Menurut Broto Wijayanto –pendiri sekaligus pengasuh DAC- yang malam itu bertindak sebagai pembawa acara, pementasan tersebut dapat berlangsung atas kebaikan hati seseorang yang kaya raya, sehingga penonton tidak dipungut bayaran sepeser pun.

Ada beberapa hal yang tidak biasa mesti dilakukan oleh penonton malam itu. Jika kami bermaksud memberi apresiasi kepada teman-teman di atas panggung, kami tidak bertepuk tangan, tapi melambaikan kedua tangan yang diangkat ke atas. Jika kami menyukainya, kami bisa mengacungkan salam tiga jari (dikenal dengan sebutan ’salam metal’) yang sesungguhnya bermakna ’I love you’. Maka berkali-kali kami melambaikan tangan kami melihat penampilan mereka yang menari, menyampaikan puisi visual, sulap, dan pantomim. Semula saya tidak bisa membayangkan musik apa yang akan mengiringi penampilan mereka. Ternyata di sebelah kanan depan panggung terdapat sekelompok pemuda yang tergabung dalam kelompok ’Indonesian Beatbox Jogja’ alias BEJO, yang menampilkan musik yang dikeluarkan dari mulut. Mereka adalah musisi pengiring pentas malam itu.

Melihat teman-teman yang tuli tampil di atas pentas menimbulkan kekaguman tersendiri bagi kami. Terutama ketika mereka menari hip-hop dengan suasana amat nikmat dan mengasyikkan, padahal mereka sama sekali tidak mendengar suara musik apa pun! Ternyata meski mereka tidak dapat mendengar suara di luar mereka, namun mereka tetap mampu mengikuti irama dari detak jantung mereka sendiri. Apa yang disampaikan oleh dua ibu dosen seni sehabis pementasan cukup mewakili apa yang dirasakan oleh penonton. Semoga DAC akan terus berkarya dan semakin kreatif di masa mendatang.

Seusai menyimak aksi teman-teman DAC membuat saya lebih bersyukur atas segala karunia Ilahi, baik yang saya miliki maupun yang tidak saya punyai. Mereka yang tuli -sekaligus tak bisa bicara dengan suara mereka- saja sanggup menikmati hidup, tampil dengan sangat percaya diri, dan jelas sekali mereka adalah orang-orang yang sangat bersyukur. Benar kata Mas Broto bahwa mereka merupakan guru yang baik karena kita –yang merasa normal dan sempurna- ternyata justru bisa belajar banyak dari mereka bagaimana sebaiknya menyikapi hidup ini.

Foto : http://cekitdotfree.com

Senin, 05 Desember 2011

Risiko Orang Terkenal


Salah satu risiko menjadi orang terkenal adalah mendapatkan perhatian banyak orang. Pada umumnya, siapa saja akan suka diperhatikan. Namun wujud perhatian tersebut ternyata tak selamanya menyenangkan. (opini pribadi)

Selasa, 15 November 2011

13 November 2011, Hari Istimewa bagi AFC TBY

Paduan Suara AFC Plus



Bagi lebih dari seratus anak-anak dan remaja yang aktif dalam Art for Children (AFC) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), hari Minggu, 13 November 2011 merupakan saat yang istimewa bagi mereka. Pada hari itu terdapat tiga mata acara bertajuk 'Gelar Seni Anak' di TBY, yaitu : Konser Ansambel Musik dan Paduan Suara di Gedung Sositet, Pembukaan Pameran Seni Rupa di Ruang Pameran, dan Operet 'Gadis Penjual Korek Api' di Concert Hall. Syukurlah, acara tersebut telah berlangsung dengan lancar dan melegakan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Konser Ansambel Musik dan Paduan Suara
Acara pertama Minggu sore itu dimulai pada pukul 16.30 di Gedung Sositet. Para musisi berusia muda yang diasuh oleh Mbak Dewi yang dibantu oleh Mas Ghana dan Mas Adi memainkan sejumlah nomor instrumentalia, yaitu : I Heart You, Kepompong, Bunda Piara (solo violin oleh Dheva), dan Lupa Lupa Ingat. Selanjutnya Dista (mantan murid vokal AFC) menjadi vokalis tamu membawakan Bendera, lagu perjuangan modern karya Eros Chandra yang dipopulerkan oleh band Cokelat. Setelah itu paduan suara AFC Plus asuhan Pak Sigit ER tampil menyanyikan sejumlah lagu perjuangan dan lagu daerah, yaitu : Tanah Air, Manuk Dadali, Indonesia Jaya, Padhang Bulan-Suwe Ora Jamu, dan diakhiri dengan Yamko Rambe Yamko yang rancak nian dibawakan oleh mereka.

Operet 'Gadis Penjual Korek Api'
Acara terakhir 'Gelar Seni Anak' pada 13 November 2011 dimulai pada pukul 18.50 di Concert Hall. Lakon yang menjadi hasil kerja bersama dari anak-anak teater, tari, dan vokal beserta para gurunya di tahun 2011 ini diangkat dari salah satu dongeng terkenal karya Hans Christian Andersen. Pak Nanang Arisona mengadaptasinya menjadi naskah drama bersama Mas Broto Wijayanto (yang juga bertindak sebagai sutradara operet), sementara Pak Sigit ER menciptakan sejumlah lagu berdasarkan naskah tersebut. Mas Bagus Mazasupa diberi kepercayaan untuk mengaransemen seluruh lagu yang ada sekaligus menjadi ilustrator musik operet 'Gadis Penjual Korek Api'. Mbak Yayuk, Mbak Tere, Mbak Utik, dan Mbak  Putria merupakan penata tari dalam pertunjukan tersebut. Satu hal yang baru dalam operet malam itu adalah sebuah film pendek yang dikemas secara menarik dan sangat layak menjadi hiburan bagi seluruh keluarga.

Sumber foto : akun fb Derrida R Oktadiona dan Theresia W.



Operet AFC 'Gadis Penjual Korek Api'





Rabu, 12 Oktober 2011

Jalan Penulis adalah Kreativitas (SGA)


Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada. 
(Seno Gumira Ajidarma dalam ”Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”)

Anda Penulis Cerita Luar Biasa (M. Houlahan)

Jika Anda ingin hidup Anda menjadi cerita yang luar biasa, mulailah dengan menyadari bahwa Anda adalah penulisnya, dan setiap hari Anda punya peluang untuk menulis satu halaman baru. (Mark Houlahan)

Kamis, 06 Oktober 2011

Sedikit Panduan Menulis Fiksi untuk Pemula

Berikut ini merupakan sejumlah kalimat penting yang dikutip dari buku berjudul 
“PANDUAN MENULIS FIKSI UNTUK PEMULA” yang disusun oleh Niko Silvester dan 
Rafa Alexander. Buku tersebut dirilis oleh Penerbit Platinum Yogyakarta pada 
tahun 2004. Semoga ada manfaatnya kendati sedikit belaka.

Tiga aturan untuk sukses menulis adalah : 1)Banyak membaca; 2)Banyak menulis; 
3)Banyak membaca lagi, banyak menulis lagi. (Robert Silverberg)

Satu hal manis yang perlu Anda lakukan adalah menghargai kemampuan Anda sendiri. 
Akan sangat bagus ketika Anda menciptakan sebuah tulisan, 
lalu Anda menyadari telah berhasil menuliskannya. (Steven Burst)

Semua fiksi merupakan proses membayangkan. 
Apa saja yang Anda tulis, dalam genre atau media apa pun, 
tugas Anda adalah menyusun segala sesuatunya dengan cara meyakinkan, 
menarik, dan baru. (Neil Gaiman)

Cerita pendek dirancang untuk menyampaikan gagasan dalam jumlah halaman 
sesedikit mungkin. Jumlah yang terlalu banyak sudah ketinggalan dan seorang penulis cerpen yang 
bagus belajar hanya memasukkan informasi yang paling penting. (Orson Scott Card)

Anda dapat melakukan pendekatan menulis dengan sikap grogi, penuh gairah, atau 
bahkan putus asa – perasaan bahwa Anda tidak pernah mampu menuangkan apa yang 
Anda dalam benak dan hati Anda ke dalam tulisan. Menulislah dengan cara apa pun, 
tetapi dengan cara yang lembut. (Stephen King)

Jika anda tidak punya nyali untuk menulis sesuatu yang sangat-sangat buruk, maka akan sangat sulit untuk menulis sesuatu yang sangat bagus.
(Steven Galloway)

Lebih baik menulis sebuah draft tulisan yang buruk ketimbang tidak pernah menulis 
draft sama sekali.(Will Shetterly)

Kamis, 08 September 2011

Sastra Mengasah Kepekaan Nurani dan Kelembutan Hati (Moh. Mahfud MD)

Sastra mengasah kepekaan nurani dan kelembutan hati kita. Sastra mempertajam empati kita atas kehidupan orang lain. Ketenangan dan kebahagiaan hidup bukan terletak pada kedudukan dan uang, melainkan pada rasa kemanusiaan, empati, dan kejujuran. (Moh. Mahfud MD dalam 'Kompas Kita')