Rabu, 06 November 2019

Majalah Sabana Terbit Kembali



"Lantas, mengapa kini banyak kalangan lebih suka menggunakan bahasa asing (terutama bahasa Inggris) untuk menyampaikan ide, merek dagang, reklame, identitas, serta wacana yang dibuat?" (Iman Budhi Santosa) 

"Sastra wajib hadir dan/atau dihadirkan kembali untuk membasuh, melebur, sekaligus meretas kekotoran dan kekerasan pikiran yang menyekat-sekat mengkotak-kotakkan itu supaya kembali ke hakikat "ke-menjadi-an" kita sebagai makhluk spiritual yang amat lentur dalam mendapatkan pengalaman kemanusiaan." (Umbu Landu Paranggi)  

"Dan karena cinta yang melahirkan kerinduan untuk bermesraan membuat Tuhan berinisiatif untuk menciptakan makhluk-makhluk, yang puncaknya adalah manusia. Tetapi manusia tidak sungguh-sungguh cinta kepada-Nya. Manusia lebih cinta kepada dirinya sendiri dan harta benda." (Emha Ainun Nadjib) 

Setelah sempat berhenti sekitar tiga tahun, majalah Sabana terbit kembali. Selasa (5/11/19) tadi malam menjadi momentumnya. Semua yang hadir bisa menyimak langsung kisah di balik layar penerbitan kembali Sabana dan diskusi bersama Pak Iman, Cak Nun, Pak Mustofa W. Hasyim, Latief S. Nugraha, dan lain-lain di Rumah Maiyah yang terasa hangat dalam kebersamaan. Hari ini saatnya mulai membuka lembar demi lembar Sabana No.10, Oktober 2019 untuk belajar lagi tentang lelikuan kehidupan. Selamat datang kembali Sabana, semoga bakal terus mengalir dan tidak berhenti lagi.

Senin, 04 November 2019

Ujung Tombak Budi Pekerti

Inilah harapanku : bahwa bahasa sastra seni adalah ujung tombak budi pekerti. Berbudi sekaligus berpekerti. Budi pekerti itu berwatak moral dan operasional sekaligus. Jadi dengan kesenian, seseorang tak hanya harus bisa hidup secara layak, tapi harus menjadi penggerak masyarakatnya. 
(Prie GS)

Kamis, 31 Oktober 2019

Sepekan Terakhir di TBY


Dalam sepekan terakhir, lima hari di antaranya aku berada di TBY. Tiga kali menjalani latihan bersama anak asuh Pak Sigit sebagai persiapan awal pementasan operet November mendatang.  Sabtu (26/10) siang lebih dulu kutemui Latief untuk mengambil hadiah dari Studio Pertunjukan Sastra (SPS) Yogyakarta dan @yogya.kata Terima kasih atas kaus baru yang kudapatkan di hari Sabtu yang bertepatan dengan Hari Bersastra Yogya.

Siang itu kuikuti Sarasehan Komunitas Sastra DIY dan malamnya aku kembali di ruang seminar guna menyimak Bincang-Bincang Sastra Edisi 169. Ada sejumlah teman kusapa di tempat itu. Menjelang tengah malam aku baru pulang sehabis diajak panitia mencicipi nasi tumpeng. Selamat ulang tahun untuk SPS. Semoga panjang umur dan terus mewarnai dunia sastra maupun kesenian di Yogyakarta. 


Selasa (29/10) dan Rabu (30/10) malam aku menyaksikan Parade Teater Linimasa #2 "Toleransi & Regenerasi" di concert hall. Pada hari pertama yang menampilkan Dag-Dig-Gerr..!! (PMY) dan Mak Comblang (Teater Bosa), kursi penonton cukup banyak yang kosong. Namun, pada hari kedua yang menampilkan Cinta Dalam Sepotong Tahu (Kelompok QQ) dan Cintraka (Roemah Kreatif Sastro Mbeling), penonton memenuhi gedung pertunjukan. 

Rabu, 30 Oktober 2019

Orang yang Tercerahkan

Orang yang tercerahkan mencari kebenaran pada makna, bukan pada kata. Orang yang tak tercerahkan akan melakukan sebaliknya : mencari kebenaran dari kata, bukan makna. (Iman Ghazali)

Sabtu, 19 Oktober 2019

Menikmati Sore dengan Membaca dan Ngopi

"Hari ini pemikiran seorang doktor bahkan bisa dipecundangi tanpa ampun oleh satu kalimat dari sosok entah yang menggunakan nama akun keislaman. Cukup dengan mendamprat 'liberal, Syi'ah, kufur' atau doa yang penuh arogansi macam 'semoga kamu dapat hidayah', selesailah itu sebuah tulisan panjang yang dihasilkan dari proses yang serius dan berdarah-darah..." 
(Edi AH Iyubenu dalam esai Tergusurnya Para Ahli) 


Menikmati sebuah sore dengan menyimak buku baru Pak Edi Mulyono yang berjudul Tuhan Itu 'Maha Santai', Maka Selowlah... ditemani secangkir kopi susu. 

Kamis, 17 Oktober 2019

Menapaki Jejak Rendra di Tembi


Musikalisasi puisi yang dibawakan dengan syahdu oleh Tatyana dan Umar Muslim menjadi penutup acara Menapaki Jejak Rendra di Tembi Rumah Budaya pada Rabu malam, 16 Oktober 2019. Seniman senior Yogyakarta seperti Untung Basuki dan Landung Simatupang tampil lebih dahulu. 

Empat putra-putri Rendra secara bergantian membaca karya ayahnya dengan gayanya masing-masing. Yang juga menarik, Rowan Lintang Raina Mataram yang merupakan cucu Rendra membawakan puisi kakeknya dalam bahasa Inggris.


Kamis, 10 Oktober 2019

Satu Kata


Puisi di atas ditulis oleh Adryan Ardan yang waktu itu masih kelas V SD dan dimuat di rubrik Kompas Anak "Kompas Minggu". Puisi itu menjadi bagian dari esai berjudul Jamu (Jaga Mulut) dalam buku Menjaga Api karya Agung Adiprasetyo, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, 2014.