Senin, 10 Januari 2022

Catatan Kecil Awal 2022


Pandemi covid-19 masih belum berakhir pada tahun 2021. Vaksinasi sudah dilaksanakan dan saya sendiri sudah mendapatkannya. Sempat ada periode buruk terjadi, ketika setiap harinya jumlah mereka yang dinyatakan positif terinfeksi covid-19 dan bahkan mereka yang tutup usia, terbilang besar angkanya. Salah satu kakak saya pun sempat dinyatakan positif, tapi syukurlah masih dalam fase ringan dan akhirnya dinyatakan sembuh. Beberapa kerabat, teman, dan kenalan pun sempat mengalaminya. Ada pula yang hingga padam nyawa. Namun, lambat laun hal-hal baik mulai kembali bersama kita hingga akhir tahun.

Alhamdulillah, diri ini masih bisa mengalami tahun baru lagi. Saudara-saudara terdekat masih utuh biarpun sempat terusik kesehatannya. Kesulitan finansial cukup mendominasi karena tiadanya pekerjaan dan penghasilan tetap selama pandemi. Namun, beruntunglah masih ada tujuh buah cerpen yang dimuat serta menghasilkan rezeki. Masih bisa pula menuntaskan 10 cerpen anyar dan pergi ke toko buku demi mendapatkan 10 buku baru dalam setahun. Terima kasih tentu saja tak terlupa untuk orang-orang baik yang memberi bantuan dalam pelbagai rupa hingga diri ini tetap bertahan dalam kesabaran dan dalam segala keterbatasan. Ternyata masih ada pula sejumlah kegembiraan di antara banyak kedukaan maupun kekecewaan. Semoga semakin banyak hal apik becik terjadi pada tahun 2022. Aamiin...

(LSP)

Mengutip salah satu puisi Joko Pinurbo dalam buku Surat Kopi : 

Aku belum lupa cara berbahagia
Dompet boleh padam 
Rezeki tetap menyala



Minggu, 09 Januari 2022

Sugeng Tindak Eyang Moeradi



Seminggu yang lalu mengantar kepergian belahan jiwa sahabat kami. Menyaksikan betapa banyak yang kehilangan dan mendoakan seseorang yang baik, perhatian dengan siapa saja, dan selalu berusaha mempersembahkan yang terbaik dalam setiap langkah kehidupannya. 

Hari ini kembali kami kehilangan sosok seseorang yang baik, sesepuh warga di kampung, yang menjadi 'eyang' bagi anak-anak di lingkungan kami. Beliau lah eyang Muradi kakung. Eyang Muradi kakung dan putri tinggal di ujung kompleks perumahan. Sejak kami tinggal di Jogja, beliau sekeluarga sudah terlebih dahulu menempati kompleks perumahan. Saya dan adik sebaya dengan dua putera beliau. Setiap bapak ibu 'kagungan kersa', eyang Muradi kakung putri selalu mendampingi. Ibu suwargi kompak menggiatkan kampung dan tindak haji berdua dengan eyang Muradi putri. 

Setelah saya menikah, selalu ada masa saat anak-anak kami dimomong oleh eyang Muradi kakung. Anak cucu tetangga pun dekat dengan beliau. Saat anak cucu tetangga masih bayi, eyang ikut mendorong kereta keliling kompleks. Saat mereka berusia balita, eyang mengajak main lempar bola atau jalan-jalan. Saat anak-anak sudah sekolah, eyang menyiapkan raket dan kok untuk bermain bulutangkis di lapangan kosong yang sekarang sudah menjadi bangunan. 

Eyang Muradi kakung juga rajin sekali. Saat masih sehat, setiap pagi menyusuri jalan dan membersihkan sampah dengan sapunya, mengelilingi kampung sambil menyapa para tetangga yang sedang bersih-bersih rumah atau pulang dari pasar. Tak lupa beliau membawa permen untuk dibagikan pada tetangga yang ditemui saat menyusuri jalan. 

Hari ini eyang Muradi kakung kondur untuk selamanya. Berbagai kenangan tentang kebaikan eyang Muradi kakung pun muncul di memori eyang Muradi putri dan putra wayah, keluarga, para tetangga, juga siapa saja yang mengenal beliau. 

Sugeng tindak, Eyang Muradi ... Semoga husnul khotimah ... 

Semoga eyang Muradi putri dan putra wayah ikhlas dan sabar melepas kepergian eyang Muradi kakung. Maturnuwun atas segala kebaikan Eyang. 

Innalillahi wa innailaihi roji'un ...

(Hapsari Satya Lestari)

Senin, 03 Januari 2022

Penulis Fiksi Mencoba Memahami Kehidupan

Seorang penulis fiksi mencoba memahami kehidupan dengan menciptakan sebuah model. Orang menyebutnya juga sebuah dunia alternatif. Model atau dunia alternatif itu ia ciptakan agar ia dapat dengan leluasa mengembangkan kemungkinan-kemungkinan pola pemahaman tentang kehidupan. Maka tokoh-tokoh diadakan, berbagai situasi dikembangkan.

(Umar Kayam dalam Dunia Alternatif Danarto - Sebuah Pengantar kumpulan cerpen "Berhala")

Sabtu, 01 Januari 2022

Tiga Kuda dan Ratu Nefertiti

 

Tiga ekor kuda nan gagah tampak berlarian di padang rumput dengan langit  merah di kejauhan. Seekor kuda putih paling muka, sedangkan sepasang kuda coklat menyertainya di sebelah kanan kirinya. Barangkali si kuda putih pemimpin dua ekor kuda lainnya. Di depan mereka terdapat bunga berona merah jambu, sementara di belakang terlihat padang rumput lapang dengan sebuah pohon di samping kanan. 

Aku tak mengerti siapa nama seniman yang membuat karya seni tersebut. Namun, siapa saja yang pernah memasuki rumah kami pasti akan melihat pemandangan yang terhampar dalam permadani itu, terpajang elegan di dinding ruang tamu.

Awalnya, lukisan dalam permadani tersebut dipasang di dinding sebelah utara, tapi aku lantas memindahkannya ke sisi selatan sehabis rumah kami direnovasi akibat gempa yang melanda Yogyakarta sekian tahun silam. Tiada maksud tertentu selain ingin berganti suasana belaka niatku. 

Permadani berukuran 150 cm x 120 cm itu dibeli oleh Om Dono pamanku di Arab Saudi pada akhir tahun 80-an. Aku masih bocah berseragam putih merah ketika pamanku membawanya kemari sekaligus menjadikannya hiasan dinding rumah kami. Om Dono dahulu pernah bekerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak bumi di Arab Saudi sekitar dua tahun lamanya. Ia bahkan berkesempatan menunaikan ibadah haji di sela-sela pekerjaannya.

Sekarang Om Dono menjadi satu-satunya adik kandung ibuku yang tersisa. Satu hal yang kusukai dari beliau adalah kemurahan hatinya dan kisah-kisah humor yang tiada habisnya diungkapkan saban kali kami berjumpa. Selain Om Dono hanya ada kakak perempuan ibuku yang bisa kutemui lewat piranti tekonologi belaka, lantaran beliau tinggal jauh di Prancis sana bersama suami, sepasang anak, dan sejumlah cucunya. Beliau masih sehat dan hidup bahagia di masa lanjut usianya.

Menjelang tutup usianya nenekku, aku bersama empat orang pamanku menunggui beliau pada masa terakhirnya. Peristiwa itu terjadi 14 tahun silam. Kini keempat pamanku sudah padam nyawa semuanya : Om Dipo, Om Gatot, Om Bekti, dan Om Ragil. Waktu itu Om Dono masih berada di luar kota untuk menjalani pekerjaannya dan baru bisa datang sesaat sehabis jasad nenekku dikebumikan. Kuharap Om Dono masih tetap sehat, merasakan kebahagiaan, dan mampu menikmati kehidupan bersama istri, anak-anak, dan cucunya yang baru seorang.




***

Tepat di sebelah gambar pemandangan tiga ekor kuda, terpajang gambar Ratu Nefertiti berwarna coklat tampak samping dalam pigura berukuran 30 cm x 40 cm. Gambar permaisuri Raja Firaun itu merupakan hadiah dari sahabat Om Dipo, adik Om Dono yang telah tutup usia. 

Sekian tahun silam sahabat pamanku baru pulang dari Mesir dan ternyata secara khusus memberi buah tangan untuk kami. Sesungguhnya perempuan tersebut tidak sekadar sahabat Om Dipo, tapi pernah menjadi kekasih paman di masa remajanya. Ia pernah beberapa kali mendatangi rumah kami, baik ketika masih lajang maupun setelah akhirnya menikah dengan lelaki lain. 

Perempuan tersebut bahkan sempat menginap di rumah kami membawa putra pertamanya yang masih berusia beberapa bulan. Seorang lelaki berkumis dan berambut gondrong, yang waktu itu sudah dikenal sebagai budayawan, pernah datang menemuinya di rumah kami. Peristiwa pertemuan sepasang sahabat itu telah berlangsung sekitar 25 tahun silam.

Suatu ketika aku jatuh hati pada seorang gadis yang ternyata putri sahabatnya. Awalnya kukenal gadis itu sebagai teman Om Dipo. Dari dirinya aku mendapat sejumlah kisah rahasia tentang mantan kekasih paman tersebut. Namun, aku dan gadis itu akhirnya sebatas berteman biasa dalam masa yang tak terlalu lama. Padahal aku sempat memiliki asa memilikinya sebagai kekasih terakhirku. Ya, sudahlah.

“Ibumu perempuan yang bermanfaat bagi banyak orang. Beliau orang baik. Saya menjadi saksi untuk hal itu,” kata sahabat Om Dipo kepadaku tak lama sehabis ibuku wafat, lewat sebuah pesan singkat. Waktu itu kami masih saling menyimpan nomor telepon dan bahkan terkadang saling menyapa. Sungguh aku menghargai simpati yang diberikannya untukku dan saudara-saudaraku. Terakhir kali kami bertatap muka tatkala Om Dipo tutup usia sekian tahun silam.

Sayang sekali, ia lantas menjadi tokoh kontroversial ketika riuh rendah pemilihan presiden tempo hari. Terus terang, kami yang dahulu mengenalnya sebagai pribadi ramah dan menyenangkan hanya bisa bertanya-tanya secara retorika. Ia laksana menjelma figur yang sungguh berbeda. Kebetulan aku tak lagi menyimpan nomor teleponnya pula. Namun, pigura bergambar Ratu Nefertiti buah tangannya dari Mesir masih tetap terpajang anggun di ruang tamu rumah kami.


# Cerpen ini dimuat di Minggu Pagi Nomor 38 Tahun 73 Minggu IV Desember 2021.